
Pertemuan tak sengaja dengan Pak Zain membuat aku senang sekaligus malu. Apalagi melihat wajah Pak Zain membuat jantung deg-degan. Rasanya itu seperti sedang sport jantung saja. Atau mungkin jantungku memang perlu di periksakan agar enggak terus berdetak dengan cepat saat bertemu Pak Zain.
Sedang dalam mode detak jantung yang masih berdetak kencang. Sesuatu terjadi, dan itu lebih membuat jantung kembali berdetak cepat karena kaget. Seseorang menarik tanganku dan memojokkan aku ke dinding kampus. Tentu aku enggak nyaman bagaimana tidak, posisi aku dan orang yang menarik ku begitu dekat bahkan nyaris menempel.
"Kau! Lepaskan! Kenapa kau suka sekali menarik tangan aku!" bentak ku pada orang yang ada di hadapanku, Keanu.
"Aku enggak akan kaya gini jika kamu enggak menghindar terus!" jawab Keanu dengan menatap ke arahku. Aku langsung menundukkan kepala, seraya berusaha melepaskan diri.
"Bagaimana aku enggak menghindar jika sikap kamu saja seperti ini? Kau tahu? Jika kau seperti ini membuat aku takut," jawabku dengan jujur dan apa adanya.
"Aku bukan hantu, Aisyila. Untuk apa kamu takut?"
"Yang bilang kamu hantu siapa? Aku hanya bilang takut sama kamu."
"Kau ini. Baiklah, sekarang dengarkan aku baik-baik...."
"Lepaskan dulu! Aku enggak suka, ya, sama pria pemaksa!"
Keanu terlihat menggeram kesal, akhirnya Keanu melepaskan pegangan tangannya. Aku langsung memegang pergelangan tangan yang terasa sakit, akibat terlalu keras Keanu memeganginya.
"Kau tadi mau berbicara apa? Jangan terlalu lama aku harus segera ke kelas."
"Di mana rumahmu?"
"Apa?! Rr-rumah?" Aku kaget sampai bicaraku pun begitu gelagapan.
"Iya, coba kasih tahu alamat rumahmu!"
"Untuk apa?"
"Tentu saja untuk bertemu orang tuamu! Untuk apa lagi coba, Hah."
"Mmaksudku, untuk apa kkau mau ke rumah dan bertemu orangtuaku?"
"Untuk meminta mu jadi istriku!"
"Aapa?!"
Demi Allah, aku begitu kaget dengan perkataan Keanu. Apa dia serius dengan perkataannya? Dia enggak lagi sakit 'kan? Dia waras 'Kan? Kenapa jadi begini. Jujur saja bukannya aku enggak senang, dari dulu memang aku menginginkan seperti ini. Tiba-tiba ada orang yang lamar aku dan meminta pada kedua orangtuaku, tapi, ini... ah, sudahlah aku benar-benar enggak bisa berkata apa-apa lagi.
"Tunggu! Aku mau tanya sama kamu."
__ADS_1
"Tanya saja dan aku akan menjawabnya."
"Baru berapa hari kita bertemu? Terus sejauh mana kau mengenalku? Dan apa sebenarnya niat kamu mau menikahi ku kasih alasan yang jelas."
"Sudah? Hanya itu yang ingin kau katakan?"
"Kurang? Jawab dulu yang tadi baru yang lain akan aku tanya kan."
"Jika kau tanya berapa hari aku mengenalmu jawabnya sudah lama."
"Hah, sudah lama gimana? Kita baru bertemu dua hari yang lalu!"
"Dengarkan aku dulu, jangan menyela perkataan ku."
Bagaimana aku enggak menyala perkataannya, dia jawabnya benar-benar asal atau memang ia sebenarnya enggak waras. Aku sama dia benar-benar baru bertemu dua hari yang lalu dan dia dengan polosnya bilang sudah lama mengenalku.
"Kau mungkin, iya, bertemu dengan ku baru dua hari yang lalu tapi aku, mengenalmu sejak dulu. Lebih tepatnya saat kau masih SMA."
"Pertanyaan kedua, kau bertanya padaku sejauh mana aku mengenalmu. Jawabnya sangat jauh. Nama lengkap Aisyila Renata Sanjaya, anak bungsu dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Irman Sanjaya dan Ibunya bernama Aisyah Husnah. Memiliki satu Lembaga Sosial yang bernama Yayasan Peduli Sesama."
"Pertanyaan ketiga, kenapa aku ingin menikahi mu tentunya agar aku bisa menyentuh mu."
Aku enggak lagi mimpi 'kan? kenapa dia tahu segalanya tentangku. Sebenarnya dia itu siapa? Aku benar-benar jadi takut, bagaimana jika dia psikopat? Astagfirullah, Kenapa akhir-akhir ini aku selalu saja Suuzan. Kenapa mata serta hati aku seolah-olah menolak niat baik pria ini. Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan apa sebenarnya keinginanku ini.
Setelah berkata seperti itu, aku langsung pergi. Aku lebih baik segera masuk kelas dari pada Lama-lama dengan pria itu. Aku pura-pura tak mendengar saat berulang kali ia memanggilku. yang ada aku semakin mempercepat langkah kakiku, takut-takut pria itu mengikuti ku.
***
Kejadian tadi pagi, benar-benar membuat aku takut, takut untuk bertemu dengan Keanu lagi. Yang aku lakukan saat ini, bersembunyi di belakang tubuh Reni. Meski Aku dan Reni memang lebih tinggi aku, aku rela jalan sedikit membungkuk demi tidak bertemu dengan dia.
"Ais, kamu kenapa, sih, sembunyi terus di belakang. Ada apa, hah?"
"Ren, aku kan udah bilang aku takut bertemu dia lagi. Kejadian tadi pagi membuat aku syok, dan membuat aku tak ingin bertemu dia."
"Lagian kenapa, sih, si cowok ganteng itu ngejar-ngejar kamu terus, Ais. Padahal udah jelas kamu tolak. Dia enggak lihat aku apa, aku kan juga cantik, masa dia enggak naksir. Iya, Kan?"
"Kau memang cantik Reni, dan aku harap kamu jangan suka sama dia. Kamu enggak takut apa?"
"Aku enggak takut, yang ada aku mau dikejar-kejar dia."
"Ya Allah, Ren, sejak kapan, sih, jadi centil gitu? Gak bagus tau wanita centil itu."
__ADS_1
"Hihi, bercanda, Ais."
"Sekarang ke mana?" lanjut Reni bertanya padaku.
"Ke parkiran, aku mau nungguin A Rey. Kamu temani, ya. Pokoknya sebelum aa datang kamu jangan pergi, iya," pintaku pada Reni dan aku harap ia mau.
"La ilaha illallah, ini anak. Oke, aku akan temani kamu. Lagian kamu aneh, dikejar-kejar cowok yang naksir malah takut. Harusnya seneng, itu artinya kamu laku. Enggak kaya wanita di sebelah mu ini. Boro-boro dikejar yang naksir juga kaga ada."
"Wanita lain mungkin, iya, seneng. Tapi aku enggak. Aku malah takut, apalagi dia suka banget Pegang-pegang tangan aku. Itukan enggak boleh."
"Iya, iya, Bu Ustazah."
Jalan menuju parkiran terasa begitu lama. Hati aku benar-benar enggak tenang. Entah akan sampai kapan seperti ini terus, lelah rasanya. Sampai di parkiran, aku duduk di sudut atau pojokan atau apapun itu namanya. Aku rasa tempat ini aman untuk bersembunyi sekaligus menunggu jemputan.
"Eh, Ais."
"Apa?"
"Aku mau tanya, dong. Boleh 'kan?"
"Tanya apa?"
"Menurut kamu, gimana, sih, Pak Zain itu?"
Aku langsung menatap penuh selidik ke arah Reni.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Emang gak boleh?"
"Iya, enggak boleh. Soalnya aku enggak tahu jawaban dari pertanyaan mu itu."
"Mudah gitu, tinggal jawab menurut penilain kamu aja."
Aku sama sekali enggak bisa jawab, Reni nanti akan tahu jika aku sebenarnya mengagumi sosok Pak Zain, dewasa."
"Ya udah ganti pertanyaan. Jika si cowok ganteng sama Pak Zain sama-sama menaruh hati ke kamu terus minta baik-baik ke orangtuamu gimana, siapa yang akan kamu pilih?"
"Ren, kamu, kok, ngawur. Udah deh. Jangan membicarakan atau mempertanyakan sesuatu yang mustahil."
"Aku kan cuma tanya, Ais. Kok, sewot. Lagi PMS, ya?"
__ADS_1
Astagfirullah, punya teman satu tapi cerewetnya minta ampun. Tapi, berkat kecerewatannya itu sedikit menular ke aku. jadinya aku bisa lebih baik lagi membangun komunikasi enggak seperti dulu, pendiam.
Tapi, mengenai pertanyaan Reni. Aku jadi ingat perkataan Keanu yang bilang ingin memintaku untuk menjadi istrinya. Jika itu sungguhan, lantas apa yang harus aku lakukan? Hah, pasrahkan saja pada sang pembolak- balik hati manusia.