Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Ayah Dokter


__ADS_3

Tut....tut. ....


Sudah beberapa kali aku mencoba menghubungi Jo, tapi dia tak kunjung juga mengangkat telpon . Aku sudah khawatir karena acara Ayah dan Anak akan segera dimulai .


Aku terpaksa menyuruh Jo untuk jadi ayah sementara Shafira, meski harus dengan drama menyuruh Jo akhirnya ia mau menerima tawaran ku.


Aku juga bersyukur Shafira belum mengerti apa-apa mengenai sosok yang bernama Ayah itu, tak bisa aku bayangkan gimana jika Shafira sudah mengerti dengan seseorang yang di sebut Ayah itu.


" Ya Alloh Jo, angkat telponnya " Aku mondar mandir sambil terus menghubungi nomor Jo.


Akhirnya setelah panggilan ke 20 baru ia angkat.


"Assalamu'alikum, Hallo kak ma--


Aku langsung memotong bicara Johan,tak ada ampun dan maaf baginya.


" waalaikumsalam, jangan banyak ngomong, kakak gak butuh penjelasan darimu pokoknya cepetan datang kamu mau mempermaluin Shafira hah? awas saja kalau kau telat, kakak penyet -penyet kamu"


" Kak, udah dong ...ini juga Johan lagi di jalan sabar napa , inget umur tuh jangan marah-marah terus nanti cepat tua keriputan mau?


" Diam !!! dan Stop ngatain kakak "


" Ih seremnya ngalahin induk macan " ejek jo padaku.


" Dalam lima menit gak juga datang, siap - siap semua fasilitas yang kakak beri bakalan kakak ambil kembali "ancam ku pada Jo


" Ia ia , ngancem nya serem banget kak"


....


tuuuutttt


Aku langsung saja mematikan sambungan telpon.


Setelah mematikan telpon aku bergegas menemui Shafira yang menunggu Di dalam ruangan.


Ku pandangi wajah anakku , terbesit rasa kasihan karena ia harus kehilangan kasih sayang dari sesosok yang bernama Ayah.


Namun pikiranku pun teringat kembali kepada anakku yang lain yang telah diambil dariku ,Shakira kau juga tak dapat kasih sayang dariku tapi aku berharap ibu tirimu menyayangi dirimu.


" Umma....sini " panggilan dari Shafira membuyarkan lamunan ku.


Aku pun berjalan menghampirinya " ia sayang ada apa?


" Apa om udah datang?


" Belum sayang, Om mu masih di jalan sebentar lagi juga pasti nyampe " jelasku sambil mengelus kepala Shafira.


" Ahh gitu!! Ila Kila om gak akan datang, soalnya kalau om gak datang bial Ayah Dokter yang gantiin om"

__ADS_1


Aku mengerutkan dahiku, berfikir siapa orang yang Shafira maksud.


" Ayah Dokter? aku mengulang perkataan Shafira


" Ia Ayah doktel, tadi ia disini sama Ila, katanya kalau Ayah om gak datang Ayah Doktel siap gantiin "


" Ila sayang , Umma kan udah bilang jangan sembarangan berbicara dengan orang yang gak Ila kenal itu berbahaya sayang "


" Tapi Ayah Doktel baik Umma, terus ayah doktel juga bilang kalau mata Ila mengingatkan Ayah Doktel pada olang yang ia cintai "


" Pokoknya apapun itu Ila harus hati-hati yah"


" Ia umma Ila ngelti "


*


*


*


*


*


*


*


Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit aku jadi teringat dengan perkataan Shafira tadi waktu di sekolah, merasa penasaran dengan orang yang Shafira sebut Ayah Dokter itu.


Yang paling aku ingat ketika Shafira bilang kalau dokter itu berkata mata Shafira seperti mata orang yang ia cintai, sedangkan aku sadar kalau mata Shafira sangat mirip mataku .


" Siapa orang itu, apa aku mengenalnya? kenapa aku tiba-tiba teringat pada dia. Hmmm Ya Alloh buanglah semua perasaanku padanya aku yakin dia pasti sudah punya kehidupan baru dan pastinya sudah melupakan diriku " ucapku berkata sendiri.


Orang yang aku maksud itu adalah Irman , orang yang berjanji akan selalu menungguku, orang yang begitu percaya dirinya bahwa aku jodohnya. Namun nyatanya sampai saat ini pun takdir belum mempertemukan aku lagi dengan dia berarti dia memang tidak di takdir kan untuk ku.


Sedikit cerita tentang perasaanku, saat aku di kecewakan oleh pria brengsek itu dan Irman pergi dari hidupku ada perasaan di hati yang begitu sangat hampa. Hati ini begitu sakit , hampa bukan karena pengkhianatan pria brengsek itu tapi lebih tepatnya karena aku terlambat menyadari bahwa aku juga sangat mencintai Irman dari dulu dari 14 tahun yang lalu.


Pada diriku sendiri aku berjanji jika Alloh mempertemukan lagi dengan Irman maka aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan tapi itu pun jika dia tetap setia dan menepati janjinya padaku kalau ia akan selalu menungguku.


Tapi itu suatu yang mustahil , dulu ia pernah bilang Ibunya memaksa ia untuk segera menikah bahkan ibunya sudah mempunyai wanita yang menurut ibunya cocok untuk Irman. Itu artinya harapanku untuk bersamanya pun sudah pasti tak ada, Ya Rabb apa yang sebenarnya yang aku pikirkan aku terlalu berharap , memikirkan anak ku Shakira saja sudah membuatku sedih membuatku frustasi karena tak kunjung mendapat informasi tentangnya dan sekarang aku malah memikirkan perasaanku terhadap Irman huh sungguh wanita dan ibu macam apa aku ini.


Tak terasa mobil yang aku kendarai sudah sampai di rumah sakit aku segera memarkirkan mobilku, dan melirik jam yang melingkar di tanganku


" Ya ampun telat,,, " gumamku sambil berlari ke arah lift


Tak lama ponsel ku berbunyi dan tertera nama Risya ,sahabatku di kampus yang kebetulan bekerja satu rumah sakit denganku .


" Hallo,Assalamu'alikum sya"

__ADS_1


" Mami dimana? cepat sebentar lagi mau di mulai "


" Ia sya ini aku juga sudah ada di lift "


" Cepat yah,, jangan sampai telat , ,


"Siap "


Aku senang bisa satu kerjaan dengan Risya, meski duluan Risya disini. Karena aku termasuk orang yang sulit untuk bergaul terbukti aku sudah kerja disini selama 3 bulan hanya Risya sahabatku yang akrab denganku tak tahu gimana jadinya jika Risya tak disini mungkin aku akan sendirian.


Jam sudah menunjukan pukul 14.05 sedangkan pertemuan tepat pukul 14.00, sudah pasti aku telat kesan dokter baru untukku pasti buruk , Dokter baru tapi sudah berani telat.


Aku memberanikan diri mengetuk pintu ruang pertemuan dengan perasaan takut dan gemetar , yang aku takutkan dan membuatku gemetar bukan karena takut pada atasan hanya saja Aku takut dengan namanya bentakan apa lagi di depan orang banyak.


" kuat Aisyah, kau harus kuat" ucapku memberi semangat pada diriku sendiri.


tok. ..tok....tok...


aku memutar handle pintu. .


dengan kepala tertunduk aku mengucapkan permintaan maaf karena terlambat.


" Maaf saya terlambat "


satu detik...dua detik sampai satu menit lamanya aku menunggu telah bersiap kena marah ,namun tak ada yang ada hanyalah ucapan silahkan duduk di tempat anda.


Aku begitu terkejut pimpinan gak marah padaku? kenapa? ingin rasanya aku mengangkat kepala dan menatap pimpinan tapi aku tak punya keberanian hingga akhirnya tanpa menatap aku langsung duduk di tempat duduk yang masih kosong.


Sepanjang pertemuan itu aku sama sekali tak berani mengangkat kepalaku , aku hanya menundukn kepalaku sambil mendengarkan dan mencatat poin -poin penting yang pimpinan bicarakan.


Sampai suara seseorang yang memaksaku untuk mengangkat kepalaku.


" Apa yang anda lihat dibawah, bukankah saya ada di depan anda bukan di bawah, coba angkat kepalamu dan perhatikan apa yang saya sampaikan "


" Ma - maaf pak", perlahan aku mengangkat kepala ku dan melihat ke arah depan, dan aku baru tersadar kalau posisiku dan pimpinan saling berhadapan .


Deg.....


Jantungku seperti berhenti berdetak seketika itu, dia....dia. .. orang yang selama ini aku harapkan ,aku rindukan dan aku cintai ada di hadapanku, nyatakan ini ? apa hanya mimpi?


Ya Robbi kau pertemukan aku lagi dengnnya, pertanda apakah ini? jodoh? apa ia Irman benar-benar jodohku? .


seribu pertanyaan terbesit di pikiranku , tapi aku gak yakin kalau dia masih mengharapkan diriku, maka seketika itu senyuman ku berubah menjdi muram kembali.


Tapi tunggu!!! dia dia tersenyum padaku ?... tidak...perasaan apa lagi ini kenapa jantungku tiba-tiba tak beraturan seperti ini ....


Secara refleks aku membalas senyuman nya. ....


tbc

__ADS_1


__ADS_2