
Sebuah danau yang bersih dengan air yang tenang dan jernih ditampilkan di depan mereka berdua.
Pemandangan yang sangat indah dan alami, rasa alam yang begitu terasa ketika pertama kali melihatnya. Udara lembut yang sejuk mengalir di depan hidung mereka, saat menarik napas meraka dapat merasakan oksigen bersih nan bebas polusi.
Sangat mudah mendapatkan udara segar di sini. Meskipun hari sudah mulai memasuki siang, di sini masih terasa sejuk dan tentram, tanpa ada sedikitpun rasa panas yang membuat risih karena tak nyaman.
“Air di sini jernih, bahkan aku bisa melihat sesuatu di dalamnya,” ujar Lara yang berdiri di bahu danau sambil melihat air danau di bawahnya.
Rai pun bisa melihat dengan jelas batu dan dasar danau yang makin dalam ke arah tengah danau saking jernih dan beningnya air danau ini.
“Cukup luas danau kecil ini,” kata Rai yang memandangi luasnya danau.
Danau kecil ini memiliki panjang sekitar 30 meter dan lebar 20 meter, letaknya ada di tengah-tengah hutan yang di pinggir danau ini terdapat banyak pohon tinggi dan besar.
Pemandangan di sini memiliki kesan seperti di dunia lain yang ada di ilustrasi pada internet, Rai yang suka sekali dengan gambar dari ilustrasi tersebut merasa dipuaskan dengan panorama keindahan danau kecil ini.
“Namun, aku tidak melihat ada ikan besar di sini, sayang sekali ….“
Lara sedari tadi mencari-cari ikan di danau ini dengan cara mengamati dari pinggiran danau, tetapi dirinya tak menemukan ikan besar yang sekiranya dapat dijadikan makanan, satu pun tidak ada.
Benar apa yang dikatakan Lara, Rai pun tak melihat ikan besar, hanya ada ikan kecil yang semacam ikan hias yang biasanya hidup di sebuah akuarium.
Rai tidak menghiraukan ini, ia datang ke sini bertujuan membersihkan tubuhnya yang masih dihinggapi oleh darah busuk monster.
Tasnya ia letakkan di pinggir danau, lalu dengan pelan-pelan Rai memasuki danau.
Darah merah hitam yang memiliki bau tak sedap ini seketika terangkat dari kulit Rai dan menghilang menyatu dengan banyaknya air danau, darah-darah ini hanya membuat keruh sebagian kecil danau, itu pun hanya menyebar dengan luas diameternya berkisar dua meter dari Rai sebagai pusatnya.
Tidak perlu waktu yang lama untuk Rai menghilangkan noda darah dan bau tak enak dari tubuhnya, setelah semuanya bersih ia berjalan perlahan ke daratan, Rai membersihkan diri di pinggir danau yang tidak dalam, tinggi airnya hanya setinggi pinggang Rai.
Ketika mencuci dirinya, Rai masih mengenakan celana yang rusak serta hoodie dan kaos hitam yang compang-camping.
Meskipun demikian, Lara menunggu Rai selesai mandi di dekat salah satu pohon besar yang ada di pinggiran danau, jaraknya tak begitu jauh.
Tepat ketika Rai selesai memakai pakaian baru yang ia beli dari Mall System, danau kecil yang memiliki permukaan air yang tenang tiba-tiba bereaksi dengan bergelombang samar.
Rai memperhatikan ini dan ia segera mengambil senjata Methuragon yang diletakkan di dekat tasnya.
Sambil berwaspada, Rai diam-diam menggendong tas di punggungnya, lalu senjuata Methuragon di tangannya berubah menjadi dua pedang berjenis Longsword.
“Ada apa, Rai?“ Lara berlari menghampiri Rai setelah mendengar pergerakan Rai yang mendadak menjadi sayup-sayup.
Pada saat Rai berganti pakaian, biasanya ia mengeluarkan suara yang seperti orang yang sibuk mengurus baju, banya suara gesekan baju dan kibasan kain pakaian, tetapi suara yang seperti itu tiba-tiba menghilang dan Lara langsung memeriksanya.
“Lihatlah ke danau, kelihatannya ada sesuatu pergerakan yang aneh di sana,” kata Rai yang berdiri di pinggir danau sambil memasang postur bertarung.
Mata Rai terfokus pada danau yang lambat laun gelombangnya makin jelas terlihat.
Segera, Lara pun memasuki mode bertarung, tak terkecuali Kuro. Kuro yang sejak awal nyaman tidur di atas buah Lara pun bergerak, ia turun ke tanah dan berdiri di depan Rai dan Lara.
__ADS_1
Kuro sudah siap berancang-ancang untuk melawan sesuatu yang menyebabkan danau bergelombang layaknya air laut.
Saat berikutnya, sebuah ledakan terjadi dari danau kecil tersebut hingga membuat permukaan yang bergelombang menjadi pecah.
Bom!
Air danau menyembur keluar ke segala arah akibat ledakan tersebut.
Cipratan air dari ledakan yang tiba-tiba ini sampai mengenai Rai dan Lara, Kuro yang kurang suka dengan air telah berlari menjauh dari semburan air ini.
Namun, bukan masalah air yang memercik banyak dan membasahi tubuh mereka, melainkan sesuatu makhluk yang menyebabkan ledak itu terjadi.
Di tengah danau kecil, Rai melihat sosok makhluk dengan ukuran raksasa yang mirip dengan seekor ikan mas atau nama ilmiahnya Cyprinus Caprio, tetapi … ikan ini memiliki sesuatu anggota tubuh yang tak dimiliki oleh ikan normal lainnya.
Ikan mas berwarna oranye dengan ukuran besar yang memiliki panjang 5 meter dan tinggi 3 meter ini mempunyai empat kaki yang serupa dengan kaki katak yang berselaput, selain itu juga kepala ikan ini tak punya mata sama sekali, dan moncong ikan ini timbul gigi besar yang tajam.
Kepala ikan ini menghadap Rai dan Lara di pinggir danau, lalu mulutnya yang tak bisa menahan gigi untuk tidak keluar tersebut terbuka lebar.
Kraahh!
Ledakan suara yang keras keluar dari mulut ikan ini sehingga membuat permukaan genangan air danau yang mulai tenang kembali bergejolak.
Rai dan Lara menutup telinga sesaat untuk meringankan suara nyaring yang masuk ke dalam telinganya supaya tidak sakit.
“Sial! Monster jenis baru lagi!“ gumam Rai yang kesal setelah melihat monster ini yang belum pernah Rai temui.
Hal inilah yang membuat Rai kesal, sebab ia harus mencari informasi tersebut dengan cara mengujinya langsung.
Pastinya itu memiliki risiko besar.
Namun, ini sudah menjadi makanannya sehari-hari, jika ia tidak seperti itu, tak akan ada kemenangan dan hidup pada dirinya.
Bum!
Tiba-tiba, ikan besar ini berenang dengan kecepatan yang tinggi, dalam beberapa tarikan napas sosok ikan ini hampir sampai di pinggir danau.
Rai dan Lara bereaksi dan dengan gegas mundur menjauhi tepi danau.
Monster ikan tersebut keluar dari perairan danau dan berlari cepat dengan cara merangkak menuju Rai yang posisinya paling dekat.
Segera, Rai mundur dengan dua kali lompatan untuk menjauh dari kejaran monster ikan aneh ini, tetapi monster ini terus mengejarnya.
Rai terus melakukan hal yang sama, yakni menjauh dari monster yang merangkak ke arahnya, Rai memberi kode kepada Lara dengan cara melonntarkan sebuah tatapan pada Lara.
Dalam sekejap, Lara mengerti maksud Rai dan ia bersama Kuro menjauh sambil mengawasi pergerakan monster ini.
Entah kenapa monster ini sangat suka dengan Rai sehingga selama beberapa menit masih mengejar dan mencoba menyerang Rai.
Seketika Rai mendapatkan sebuah informasi dari uji cobanya menghindari kejaran monster ikan ini, bahwasanya monster ikan aneh ini tak dipersenjatai dengan kemampuan alami yang dapat menyerang lawan dari jarak yang jauh.
__ADS_1
Rai akan aman jika ia tak berada di dekat monster tersebut, atau berada di dalam jangkauan kaki dan tangan aneh ikan raksasa ini ketika terulur.
Setelah menjauh sambil dan tetap berada di jarak yang aman selama beberapa saat, Rai merasa sudah saatnya mencoba untuk menyerang.
Dua pedang Methuragon langsung menyatu dan membentuk sebuah tombak panjang, Rai memegang tombak itu dengan erat sembari ia terus menjaga jarak dari monster ini.
Pandangan Rai sejak awal terkunci pada sosok jelek monster ini, ia mengamati gerakan yang dilakukan monster. Dengan ini ia dengan mudah mencari letak kelemahan pada monster sebelum meluncurkan serangannya.
Monster ikan ini kerap kali mengeluarkan teriakan selama dirinya berusaha mengejar Rai tanpa niat untuk menyerah, seakan monster ini memiliki prinsip pantang menyerah dan terus berusaha sampai dirinya berhasil mendapatkan tujuannya.
Rai mengangkat tombaknya dan berancang-ancang, matanya terus menatap monster ini untuk mencari kesempatan dan waktu yang tepat.
Ketika monster ini mengambil beberapa langkah ke depan dan hendak melompat jauh untuk memperkecil jarak, Rai merasa ini adalah waktu yang tepat untuk melepaskan serangan.
Tombak yang dilapisi kekuatan Majestic of Mind di tangan kanannya Rai lempar dengan sekuat-kuatnya.
Whooshhh!
Tombak itu meleset dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga sulit dilihat oleh mata orang biasa. Saking cepatnya tombak Rai terbang membuat monster ini tak memiliki kesempatan untuk bereaksi dan menghindar.
Di detik berikutnya, tombak tersebut menghantam tubuh monster ikan yang di udara dengan kejam. Ujung bilah tombak hitam yang tajam ini menembus sisik oranye yang kuat dari bawah perutnya sampai menembus punggung dan sirip monster ikan.
Tidak hanya berakhir di situ, tombak Rai yang terbamg ke atas langit tiba-tiba berbalik dan menukik ke bawah dengan cepat, bagaikan petir yang menyambar tanah.
Tubuh besar monster tersebut dilubangi sekali lagi, sekaligus tombak tersebut membawa sosok besar monster ikan jatuh dengan kuat ke tanah.
Monster ikan raksasa itu mengerang kesakitan, suara tangisan yang aneh dari monster tersebut membuat telinga Rai tidak nyaman.
Segera, Rai mengendalikan tombaknya sekali lagi, dan menusuk kepala ikan besar ini yang sedang lumpuh tak berdaya.
Crat!
Darah mengucur deras dari lubang yang tercipat di kepala ikan, bau busuk dan amis dalam sekejap memenuhi area danau.
Rai mengontrol penuh tombaknya sembari menutup hidung, tombak Methuragon melesat ke air danau dan tak lama kemudian muncul lagi sampai akhirnya berhenti di tangan kanan Agler dengan kondisi senjata bersih tanpa ada bau dan noda darah.
[Ding! Bunuh 1 Gofizer (E+). Dapatkan +55 Exp, +55 Koin!]
Rai melihat sirip monster dan keempat kaki monster ini tak lagi berkedut liar, artinya monster ini mati, dan sistem mengkonfirmasi kematian monster bernama Gofizer ini.
Tak menyangka ternyata monster ini berada di level E+, cukup kuat kekuatan monster ini, tetapi pertahanan tubuhnya tak begitu bagus, tombaknya dengan gampangnya menembus tubuh tersebut hingga membuat lubang bagaikan donat.
“Kalian! Apakah kalian tidak apa-apa?!“
Suara lantang orang yang sedang memanggil terdengar di telinga Rai dan Lara yang berada di sebelah salah satu pohon besar.
Keduanya hampir bersamaan menoleh ke arah sumber panggilan tersebut berasal. Seketika Rai dan Lara melihat dua anggota Ratcrow Seven yang bertugas untuk melindungi markas sedang melambaikan tangannya.
Rai menghela napas dan menggelengkan kepalanya, dirinya sudah sering kali melihat tim bantuan telat untuk datang, entah di sebuah film atau dunia nyata, mereka pasti sampai dan datang ke tempat orang membutuhkan bantuan dengan terlambat.
__ADS_1