
“Pergi!“
Sebuah tombak berwarna terbang dengan kecepatan yang sangat tinggi membidik seekor monster yang merangkak dengan lidah panjang yang menjulur.
Tidak memberi kesempatan monster tersebut untuk menghindar, tombak hitam dengan pancaran aura ungu gelap menusuk tubuh monster hingga hancur berkeping-keping.
Bam!
Tombak itu menancap kuat di tembok bangunan yang ada di belakang monster itu berada yang kini telah hancur.
[Ding! Bunuh 18 Huuzer Licker (F+). Dapatkan +90 Exp, +90 Koin!]
Rai berdiri di tengah-tengah potongan daging Huuzer Licker yang telah ia bunuh menggunakan senjata Methuragon, mengambil tombak yang tertancap di dinding tembok dengan kekuatan telekinesisnya, matanya memperhatikan sekitarnya.
Sedangkan Kuro sekarang sedang menikmati daging-daging yang berserakan di jalan ini, walaupun hujan kecil menghadang keinginan Kuro untuk memakan daging monster tidak dapat ditahan.
Hari ini Rai sudah menghabisi puluhan Huuzer Licker dengan hanya menggunakan senjata Methuragon mode atau tipe tombak.
Ada satu alasan kenapa Rai melakukan itu, alasannya ialah ia sedang membiasakan diri atau beradaptasi dengan bentuk senjata barunya sekarang.
Percuma apabila ia memiliki senjata mode tombak, namun tak bisa menggunakannya dengan lihai. Oleh sebab itu, Rai memanen poin sekaligus latihan menggunakan senjata tombaknya.
Selama beberapa jam hanya menggunakan senjata mode tombak ia memiliki pengalaman yang menyenangkan tanpa ada hal yang tidak disukai pada senjata dalam bentuk tombaknya.
Rai merasa baik-baik saja dan enak-enak saja ketika menggunakan Methuragon tipe tombak untuk melawan para monster di Kota Lhee Utara.
Tidak ubahnya dengan tipe senjata lain, Rai tidak menemukan ketidaksukaannya terhadap tipe-tipe senjata yang lain, entah dirinya memang berbakat atau memang tidak tahu kelemahan dan kelebihan di setiap senjata.
Benar dengan perkiraannya, tombak ini sangat enak saat digunakan untuk melawan musuh dengan jumlah yang banyak, cukup memutarkan senjata atau mengayunkan dengan cepat, dengan bentuk senjata yang panjang membuat Rai mudah untuk melukai monster yang berada di radius yang cukup jauh darinya.
Bebas kotor karena daya jangkauan serangan yang luas, mengakibatkan cipratan darah tidak mengenai tubuhnya.
Sisik ungu yang ada di tubuh senjata tombak juga berguna selain sebagai hiasan, sisik ini sama kuatnya dengan sisik yang ada di tangan kiri Rai, kuat dan tangguh menahan benturan.
Sisik ini juga mengubah total tampilan senjata di kedua tipe sebelumnya, gagang pedang pasti dilapisi oleh sisik, bilah tidak ditutupi oleh sisik, bilah masih dibalut oleh warna hitam yang begitu pekat.
Bahkan sekarang tidak bisa lagi memantulkan cahaya sangking gelapnya bilah Methuragon ini.
Diperhatikan oleh Rai, senjata Methuragon makin gelap warnanya berarti makin kuat juga serangan yang dikeluarkan.
Omong-omong, sudah sebelas bangunan dengan berbagai macam bentuk dan jumlah lantai Rai eksplorasi dan periksa, namun ia tidak menemukan apa-apa di sana.
Cukup disayangkan, padahal Rai berharap untuk mendapatkan petunjuk untuk perjalanan menuju Kota Talu Utara.
Masalahnya Rai tidak tahu rute jalan menuju Kota Talu Utara, apakah lewat jalan layang seperti dari Kota Lhee Pusat ke Kota Lhee Utara atau bukan.
Mau tidak mau ia harus mencari jalan sendiri untuk ke sana.
“Lebih baik aku menyimpan beberapa potong daging monster ini untuk Kuro makan di hari berikutnya.“ Rai bergerak mengambil potongan daging yang belum menjadi bubur di jalan dan memasukkannya ke dalam tas dengan kekuatan telekinesisnya.
Setelah beberapa saat mengumpulkan daging, Rai berhenti dan berjalan menuju bangunan di depannya, berniat menunggu Kuro menyelesaikan memakan potongan daging yang tersisa di bangunan ini.
Dug! Dug! Dug!
Suara dentuman samar-samar terdengar oleh telinga Rai.
Rai bangkit dan berdiri menoleh untuk melihat area sekitarnya, kewaspadaan Rai melonjak tinggi.
Mata, telinga, dan hidung, semuanya Rai gunakan untuk mencari tahu apa dan dari mana asal suara dentuman yang muncul.
Dentuman ini lambat laun semakin keras secara bertahap, terdengar seperti makhluk yang berjalan mendekati tempat Rai sekarang.
Akan tetapi, firasat Rai tidak mengatakan seperti itu, Rai yakin suara ini berasal dari sesuatu yang diam, hanya saja suara yang ditimbulkan makin keras seiring waktu.
Kuro yang menggigit potongan daging yang terakhir segera berlari menuju Rai dan memasang postur bertarungnya dengan kewaspadaan yang tinggi.
Rai mundur kembali bersama Kuro ke jalan tempat pembantai monster Huuzer Licker, perasaannya mengatakan bahwa bahaya untuk berdiri di dekat bangunan tadi.
Benar saja, tepat Rai dan Kuro berdiri di tengah jalan yang rusak, bangunan tempat Rai menunggu tadi dirusak oleh sesuatu yang begitu besar yang keluar dari dalam bangunan menuju jalan tempat Rai berdiri sekarang.
Sontak Rai bereaksi cepat dan menghindari sosok besar ini dengan beberapa lompatan ke belakang, Kuro pun bereaksi cepat dan mundur ke belakang dekat tembok pembatas gedung sebelah.
Puing-puing bangunan beterbangan ke segala arah dan jalan aspal yang rusak ini bertambah padah setelah mendaratnya sosok besar yang tiba-tiba datang tanpa diundang.
“Sial! Benda besar apa itu!“ Rai berdiri tidak jauh dari tempat sosok itu mendarat di jalan.
Rai mengalihkan pandangannya ke depan melihat sosok besar yang masih terhalang oleh debu dan tanah yang beterbangan.
Sebuah bayangan besar samar-samar tampak di balik kabut debu yang disebabkan oleh puing usang yang hancur.
Perlahan sosok besar itu tampak jelas seiring dengan debu yang semakin menipis dan menghilang.
“Huuzer Licker?!“
Di depan Rai terdapat monster besar dengan ketinggian lebih dari 10 meter, monster ini mirip sekali dengan Huuzer Licker, tetapi ada perbedaan dalam segi ukuran, ukuran monster ini jauh lebih besar dari Huuzer Licker pada normalnya.
Kraahhh!
Huuzer Licker raksasa ini membuka mulutnya yang besar dan meraung keras dengan cairan mulutnya terciprat ke mana-mana.
__ADS_1
Bau busuk langsung tercium oleh lubang hidung Rai, tangannya bergerak untuk menutupi lubang hidungnya agar tidak mencium bau yang sangat tidak sedap ini.
Sebuah serangan diam-diam dilancarkan oleh monster itu, sebuah lidah yang besar dengan cepat melesat bagaikan kilat menuju posisi Rai yang sedang menahan hidungnya.
Rai tersentak terkejut dengan serangan ini dan segera bereaksi sebisa mungkin.
Tombaknya Rai pegang dengan kedua tangannya mencoba untuk menahan lidah yang mendadak menyerangnya.
Lidah itu dengan kuat membentur tiang tombak yang bersisik dan menciptakan gelombang kejut kecil yang menghempaskan segala sesuatu di dekatnya.
Sosok Rai terbang ke belakang setelah tabrakan terjadi, lalu Rai bermanuver di udara dan mendarat dengan baik di jarak puluhan meter dari tempat Rai berdiri.
“Monster i-ini, serangannya begitu kuat!“
Tangan Rai bergetar memegang tombak di kedua tangannya, efek benturan itu sangat kuat, tangannya pun hampir tak bisa menahannya.
Syukurnya tombaknya tidak kenapa-kenapa, ketahanan senjata ini sangat kuat.
Bang!
Berikutnya setelah menyerang Rai, monster ini melemparkan serangannya kepada Kuro, namun kali ini serangannya meleset tidak mengenai tubuh Kuro.
Kuro sudah siap dengan serangan ini dan sudah memperkirakan serangan yang akan datang sehingga membuatnya bisa menghindari serangan lebih dahulu.
“Atribut ketahanan memang harus ditingkatkan, kalau begitu … alokasikan dua poin atribut gratis untuk atribut ketahanan!“
[Ding! Atribut Ketahanan telah ditambahkan!]
Tangannya yang gemetar seketika pulih dan berhenti bergidik, tubuhnya menjadi lebih kokoh.
Tatapan Rai menjadi tajam melihat monster yang masih mencoba menyerang Kuro.
Karena Kuro dapat memanipulasi ukurannya, ia dengan bebas menjadi besar dan kecil untuk mengecoh monster yang sejak tadi berupaya membunuhnya.
Rai memegang tombak di tangan kanannya, seluruh tenaganya dialirkan ke tangan kanannya bertujuan untuk melempar tombak lebih kuat dan cepat, perhatiannya terfokus pada monster dan perlahan membuat postur berancang-ancang melempar tombak.
Posisi monster ini bergerak, cukup sulit untuk membidik ke tepat sasaran.
Menunggu momentum yang tepat untuk melempar tombak Methuragon miliknya.
“Sekarang! Matilah kau!“
Dengan sekuat tenaga, tombak Rai meluncur secepat kilat menuju tempat Monster besar berada.
Tombak Rai terbang dengan cepat membuat kilatan hitam di jalan yang masih terang oleh cahaya matahari dihalangi oleh langit yang berawan.
Swooshh!
'Menjadi lebih berat!' Rai berteriak di dalam hati dan mengubah tombak menjadi berat.
Tombak Methuragon itu menusuk perut monster besar itu dengan kuat hingga monster itu berteriak kencang.
KRAAHHH!
Tubuh monster itu terdorong sedikit akibat benturan tombak yang sangat cepat.
“Berhasil!“ Rai berseru senang melihat tombaknya yang menancap di tubuh monster tersebut.
Serangan tombaknya begitu destruktif hingga tubuh monster itu berlubang hampir berdiameter 2 meter.
Monster itu mencoba meraih tombak Rai, namun itu sia-sia, letak tombak sangat sulit dijangkau kecuali dia…
Menggunakan lidah panjangnya!
“Monster bodoh!“ Rai menghina kecerdasan monster ini yang terus meronta-ronta tak berguna.
“Kuro! Ayo kita serang!“
Roarr!
Kuro berubah menjadi bentuk maksimalnya, tubuh Kuro begitu besar, tetapi dibandingkan dengan ukuran tubuh monster yang mirip Huuzer Licker ini, Kuro tampak jadi kecil.
Dengan seruan Rai yang keluar, keduanya berbarengan bergerak menyerang monster besar ini.
Rai berlari cepat mendekati monster dengan metode pergerakan yang diam-diam dan Kuro secara terang-terangan berlari menuju monster sembari meraung liar.
Mengabaikan rasa sakit akibat tombak Rai, monster itu langsung menyerang Kuro yang berlari ke arahnya.
Lidahnya menjulur cepat menuju Kuro yang sedang berlari.
Reaksi tubuh Kuro begitu baik, ia dengan tepat menghindari lidah yang mencoba melukainya.
Lidah itu melesat dan mendarat ke jalan yang beraspal dan menghancurkannya.
Tak lama Kuro sudah dekat dengan monster dan melompat tinggi.
Roarr!
Sebuah cakaran muncul di depan wajah monster, kaki Kuro yang bercakar itu mencakar kepala monster dengan telak.
__ADS_1
Crat!
Darah merah kehitam-hitaman keluar dari wajah monster tersebut dan menyemprotkan keluar dengan deras.
Sosok Kuro mendarat di kejauhan, dua kaki depannya dilumuri darah hitam milik monster.
Tidak sampai situ, kini kesempatan Rai untuk membuat penyerangan.
“Giliranku!“
Rai melompat setinggi kepala monster tersebut, kekuatan telekinesisnya diaktifkan dan menarik tombaknya yang menancap di tubuh monster.
Tombak itu langsung tercabut dari tubuh monster sehingga membuat rasa nyeri tak tertahankan bagi monster tersebut.
Kraaahh!
Jeritan kesakitan dikeluarkan oleh monster itu, tubuhnya bergerak ke sana kemari untuk mencoba menyerang Kuro dan Rai secara acak.
Pada saat ini, tombak Rai mendarat tepat di tangan kanan Rai, dan posisi Rai masih di udara sedang melompat.
“Mati!“
Rai melemparkan kembali tombak Methuragon menunjuk ke arah kepala monster besar di depannya.
Di detik selanjutnya, tombak Rai menembus kepala monster dan membuatnya meledak layaknya semangka yang ditembak.
Darah hitam yang bau dan daging bercucuran membasahi jalan, tubuh monster tersebut seketika kaku tak bergerak.
“Belum selesai!“
Tepat ketika Rai mendarat tidak jauh dari tubuh monster besar ini, ia melancarkan serangannya lagi.
“Makan ini!“
Tangan kiri Rai berubah menjadi tangan monster, dana kemudian tangan kirinya memanjang sangat cepat ke arah monster.
Sratt!
Cakar tangan kiri Rai langsung menghantam tubuh monster itu dan membuat lubang besar di tubuh besar monster.
Merasa belum cukup, kini Rai berlari mendekati monster lalu mencakar dan menusuk seluruh tubuh monster dalam hitungan detik.
Cakar dan dua ekor tangannya bekerja dan bergerak dengan kecepatan yang sulit ditangkap oleh mata.
“Sentuhan terakhir!“ Rai bergegas mengambil tombak yang menancap di jalan.
Dan adegan berikutnya Rai meluncurkan tombaknya secepat mungkin kepada monster.
Pada detik berikutnya, tombak itu meledakkan tubuh monster menjadi kepingan daging busuk ke jalan, sebelum akhirnya menusuk bangunan di belakang monster.
[Ding! Bunuh 1 Big Huuzer Licker (E+). Dapatkan +50 Exp, +50 Koin!]
Setelah membunuh monster besar, suara sistem muncul di kepalanya dan memberi informasi mengenai pembunuhan yang dilakukan Rai.
Swooshh!
Tombak Methuragon Rai terbang kembali ke tangan kanan Rai, lalu ditangkap olehnya.
“Big Huuzer Licker? Benar dugaanku, monster besar ini mirip dengan monster penjilat itu.“
Rai memandangi daging busuk yang berserakan begitu saja di jalan dan mengangguk.
Roar!
Kuro yang melihat eksekusi yang dilakukan Rai akhirnya bergerak menghampiri daging ini, matanya yang berwarna berbeda langsung menyala, tampaknya ia tak sabar untuk memakan daging dari monster besar penjilat.
“Kau makan saja, tetapi aku akan menyimpan sebagian daging untukmu.“ Rai memberi perintah yang merangkap penjelasan.
Grrr!
Kuro menggeram menampilkan tanda setuju, sehabis itu ia menundukkan kepalanya dan memakan daging terdekat.
Melihat ini, Rai menggelengkan kepalanya tanpa daya, lalu mulai memasukkan daging ke dalam tasnya.
Kurang dari 15 menit berlalu, Rai akhirnya selesai memasukkan sebagian daging untuk Kuro makan nantinya.
Berjalan ke bangunan yang menambah rusak akibat muncul monster dan berdiri memandangi Kuro yang sebentar lagi selesai makan.
“Sayang … tak ada Rist Stone di dalam monster besar ini.“
Setelah mengambil potongan daging sambil memeriksa, Rai tidak mendapatkan apa yang diharapkan olehnya.
Ia kira Rist Stone atau batu kebangkitan akan ada di dalam tubuh monster besar ini, ternyata tidak ada.
Namun itu bukanlah masalah, terpenting Kuro masih bisa memakan daging monster di kemudian hari.
Lagipula ia tidak begitu membutuhkan Rist Stone, koin sistemnya masihlah banyak, jadi ia tidak memerlukan Rist Stone.
Mengingat Rist Stone hanya bisa digunakan untuk ditukar menjadi koin sistem yang berguna untuk membeli sesuatu di Mall System.
__ADS_1
Kini dirinya bingung harus menghabiskan untuk apa koin sistemnya.