
Keluar dari tenda kemah, Rai segera menggulung tenda kemah dan memasukkannya ke dalam tas.
Seusai semuanya dibereskan Rai berdiri di pinggiran atap gedung, membungkukkan tubuhnya untuk memandangi area sekitarnya.
Banyak sekali bangunan di Kota Lhee Utara, sebenarnya tak jauh berbeda dengan Kota Lhee Pusat yang padat akan bangunan-bangunan tempat tinggal, komersial, dan sebagainya.
Namun, terdapat diferensiasi di antara kedua kota yang sudah Rai kunjungi, bangunan di kota Lhee utara terlalu banyak yang ditutupi oleh tanaman merambat dan juga lumut hijau yang melekat, bukan tanpa sebab, melainkan cfaktor cuaca di sini sangat berbeda dengan Kota Lhee Pusat.
Di Kota Lhee Pusat, jarang sekali Rai merasakan hujan, hanya ada cuaca panas yang menusuk kulit.
Berbeda dengan Kota Lhee Utara yang hari ini saja sudah hujan meski hanya rintikan hujan yang kecil, tetapi langit mendung tidak cerah selalu seperti di Kota Lhee Pusat.
Omong-omong kemarin juga langit di Kota Lhee Utara itu gelap, padahal sudah masuk ke waktu siang hari yang seharusnya cerah dan panas.
“Yah, sekarang hujan, Kuro. Kau ingin lanjutkan perjalanan?“ tanya Rai pada Kuro yang bersembunyi di dalam saku hoodie miliknya.
'Miaw!' Kuro menjawab dengan mengeong, memiliki arti bahwa Kuro ingin melanjutkan perjalanan.
Akan tetapi, melihat wajahnya yang gelisah dan ketakutan, Rai tidak tega melihat Kuro yang takut dan cemas, sudah tampak jelas bahwa Kuro tidak suka dengan air hujan, ia merasa tidak nyaman dengan air yang menyentuh tubuhnya, tapi bukan berarti Kuro takut akan air atau hujan.
“Oke, kau berbaring di dalam saku saja, aku akan berjalan sekarang,” ujar Rai lalu mulai melangkah kaki menuju tangga darurat.
Atap di sini banyak digenangi air di beberapa bagian, untuk sampai ke tangga darurat Rai harus berhati-hati jangan sampai menginjak kolam air kecil tersebut.
Menuruni tangga sampai ke lantai paling dasar, keluar dari gedung dan terus berjalan menuju bangunan selanjutnya.
Beberapa jam berlalu setelah Rai memulai kembali perjalanan, kini ia sudah berada di puluhan kilometer jauhnya dari titik baru perjalanannya dimulai.
Huuzer Licker yang selalu ia temui di setiap bangunan yang dikunjungi, terkadang ada belasan ekor Huuzer Licker yang bersarang di sebuah bangunan, bahkan jumlahnya melebihi rata-rata yang Rai temui, bisa berjumlah puluhan.
Sekian lamanya Rai melakukan eksplorasi sekaligus pergi ke utara dari kota ini, Rai tidak menemukan satu orang pun yang masih hidup, ia benar-benar merasa seorang diri yang tetap hidup di kota yang sebesar dan seluas ini.
Beruntungnya Rai ditemani oleh Kuro yang selalu ada di sampingnya dan ikut dalam perjalanannya. Jika tidak, pastinya Rai akan merasakan bosan dan kesendirian yang tak tertahankan hidup di dunia yang sudah hancur.
Dari relung hatinya, Rai merasakan rasa syukur atas kehadiran Kuro yang datang pada hidupnya, meskipun Kuro bukan seorang manusia, namun Rai sudah menganggapnya sebagai teman bahkan keluarga.
Kuro selalu membantu dirinya dalam membunuh monster, yang di mana Kuro memanglah sangat berjasa bagi Rai, juga secara tidak langsung Kuro memang satu tubuh dengannya, sebab telah terikat dengan hubungan binatang psikis.
“Masih hujan?“ Rai melihat pamandangan luar dari jendela di sebuh kamar yang ada di gedung.
Hujan masih turun dengan tetesan air yang begitu kecil, jam sekarang telah memasuki waktu sore hari, tetapi hujan tetap awet dan terus mengguyur kota.
Tanaman yang menyelimuti bangunan-bangunan semakin subur karena adanya air hujan yang senantiasa menyirami mereka.
“Sudah jam lima sore, lebih baik kita diam di sini dulu, Kuro. Di luar masih hujan.“ Rai berkata pada Kuro yang sedang berbaring di atas kasur yang telah roboh dan jatuh ke lantai.
Menoleh ke arah Rai yang berdiri di dekat jendela, Kuro mengeong menjawab kesetujuannya dengan saran Rai.
Di setiap Rai keluar dari bangunan yang telah diperiksa Kuro selalu bersembunyi di saku hoodie Rai, dan tak ingin keluar, begitu tidak sukanya dengan air hujan, Kuro lebih memilih masuk ke dalam kantong saku hoodie.
Kelakuannya sangat lucu, juga kesian, Kuro tidak bisa bergerak bebas seperti sebelumnya yang bisa berpindah antara bahu Rai dan berjalan di jalan.
Karena waktu juga sudah sore, Rai memutuskan untuk tinggal di dalam kamar yang sekarang Rai kunjungi.
Kamar ini terdapat di sebuah bangunan di samping jalan besar yang telah rusak, tinggi bangunan gedung berjumlah dua puluhan yang di mana gedung ini adalah gedung hotel bintang lima, kamar yang sekarang Rai tinggali sekarang memiliki ruangan yang luas, meski demikian banyak perabotan dan peralatan di kamar yang telah rusak, contohnya tempat tidur.
Dari segi kebersihan ruangan, kamar ini terbilang cukup bersih walaupun masih ada sedikit tanah dan debu, tanaman merambat dapat dilihat tapi tak begitu banyak.
“Bangun dahulu, Kuro. Aku ingin meminggirkan perabot yang rusak ini untuk kita bisa mendirikan tenda kemah nanti.“ Rai meminta Kuro untuk pindah dari tempat tidur.
Kuro menganggukkan kepalanya lalu setelah itu melompat ke lantai.
Segera Rai memulai menyisihkan perabot kamar yang memenuhi ruang dan memakan tempat yang cukup banyak dengan kekuatan telekinesisnya.
Tempat tidur yang rusak Rai angkat dengan telekinesisnya dengan mudah tanpa ada rasa kesulitan di wajahnya. Kontrol dalam kekuatannya sudah bagus, mampu mengangkat benda yang besar dan berat tanpa usaha lebih.
Tapi sayangnya, Rai belum tahu di mana kesanggupan kekuatan telekinesisnya dalam mengangkat benda yang berat.
Dari segi daya jangkauan telah meningkat beberapa meter, cukup baik kemajuannya.
Semua ini tdak terlepas dari Atribut Mentalnya yang makin meningkat banyak dari awal kemampuan Majestic of Mind dibangkitkan.
__ADS_1
Kurang dari sepuluh menit berselang, barang-barang yang mengisi ruangan telah Rai pinggirkan dan ditumpuk di satu sisi bagian ruangan.
“Sudah beres, waktunya mendirikan tenda ke—”
Kalimat Rai terpotong oleh suara getaran yang jelas dari luar bangunan, segera Rai bereaksi dan berlari menghampiri jendela.
“Apa itu?!“
Dari matanya sendiri Rai melihat sebuah monster yang begitu banyak keluar dari sebuah retakan jalan yang besar, monster itu mirip dengan … serangga kecoak, tetapi dengan ukuran yang besar!
Terkejut dengan hal yang dilihatnya di luar bangunan, kaki Rai mundur perlahan dari menjauhi jendela.
Kecoak ini terlalu banyak, mungkin ada seribu jumlahnya, ketika keluar itu seperti semut yang keluar dari sarangnya.
Satu kecoak ini memiliki ukuran yang besar, menghitung ukurannya, Rai menduga ukuran dari setiap kecoak melebihi 1 meter panjangnya, rata-rata ukuran gerombolan kecoak tersebut.
Ini bukan sesuatu yang baik, pasalnya Rai sama sekali tak memiliki informasi mengenai monster ini, kelemahannya belum Rai ketahui, jadi Rai harus berhati-hati jangan sampai terlihat oleh gerombolan monster yang mirip serangg kecoak.
Takut sesuatu kesalahan fatal yang Rai lakukan membuat dirinya tamat.
“Kuro, jangan dekati jendela,” ujar Rai pada Kuro yang mengintip pemandangan di luar dari jendela.
Mendengar suara Rai, Kuro langsung menjauh dari jendela dan naik ke atas bahu Rai.
Wajah Kuro pun nampak sedikit takut, tampaknya Kuro juga tidak tahu dengan monster satu ini.
“Kita harus menjauh perlahan dan sembari mengamati pergerakan mereka.“ Rai berkata kepada Kuro dengan tatapannya masih terkunci pada kaca jendela.
Rai harus segera pergi dari jalanan di depannya, khawatir gerombolan monster ini menyerangnya dan mengepung dirinya.
Berbalik badan, kaki Rai melangkah dengan cepat dan keluar dari kamar, tanpa berpikir panjang Rai menuruni tangga untuk pergi ke lantai paling dasar.
Rencananya ia ingin pergi dari gedung ini dan berpindah ke gedung sebelah yang jauh dari kumpulan kecoak.
Para monster kecoak ini sudah mulai bergerak menyebar ke gedung yang sekarang ia tempati, mereka sepertinya ingin menjarah tempat.
Entah untuk bersarang atau apa, intinya Rai harus pergi dari tempat ini.
Bukan apa-apa, monster-monster tersebut muncul di jalan yang ada depan gedung ini.
Rai terus berlari sambil sesekali melakukan akrobat yang hebat, dalam beberapa menit Rai sudah melewati tiga gedung.
Merasa sudah cukup jauh dengan monster itu Rai berhenti di gedung ketiga, mengendap-endap mencoba menngintip di mana pergerakan penyebaran mereka.
“Mereka terus bertambah banyak, ini bukan kabar yang baik.“
Rai melihat para monster kecoak ini terus merayap menuju gedung yang ada di sekitarnya.
Selama mengamati dari jarak jauh, Rai mendapatkan informasi mengenai perilaku monster tersebut.
Monster yang mirip kecoak ini memiliki perilaku menghinggap bangunan sampai sebagian besar dari mereka menutupi bangunan, mereka akan tetap seperti itu selama beberapa saat, dan kemudian kembali bergerak menuju gedung berikutnya.
Tetapi, Rai tidak tahu dari tujuan mereka yang seperti itu, butuh waktu dan pengujian untuk mencari tahu tujuan mereka.
“Hari mulai gelap, tapi hujan masih turun,” gumam Rai melihat luar gedung yang masih berbunyi rintik hujan.
Hujan masih belum berhenti, membuat pergerakan Rai untuk mengamati monster tersebut terhambat.
“Kau tidak apa-apa di sana, Kuro?“ Menundukkan kepalanya untuk melihat kantong hoodie dan Rai bertanya pada Kuro.
'Miaw!'
Suara Kuro terdengar dari kantong hoodie untuk merespon pertanyaan Rai.
Sebenarnya Rai memiliki ide atau rencana di pikirannya, ia berniat untuk mencoba menyerang monster tersebut untuk meneliti kekuatan dan kelemahan mereka, tetapi Kuro sepertinya tidak bisa dibawa dalam rencananya.
Bisa saja ia meminta Kuro untuk diam di sini dan ia pergi ke gedung tempat hinggapnya monster kecoak untuk melakukan rencana.
Memikirkan hal ini sesaat, Rai memutuskan untuk memulai rencananya.
“Kuro, dengarkan aku.“
__ADS_1
Rai meletakkan Kuro di depan pintu masuk sebuah gedung yang tidak terkena cipratan air hujan, berjongkok dan berkata pada Kuro.
“Aku akan pergi menyerang mereka, kau tunggu di sini sampai aku kembali, mungkin kalau hasil dari rencanaku mengakibatkan sesuatu yang terdesak, aku butuh bantuanmu, bersiaplah saat aku mulai melakukan rencana.“ Rai mengintruksikan Kuro apanyang yang harus dilakukan dan menjelaskan juga apa yang akan dia lakukan dalam rencananya kali ini.
Menatap mata Rai yang serius, kepala Kuro mengangguk mengerti, dari tatapan mata Kuro Rai dapat merasakan keseriusannya dalam hal ini, melihat inu Rai tidak bisa menahan untuk mengelus lembut kepala Kuro sebelum memulai rencananya.
“Bagus kalau kau mengerti, aku akan memulai sekarang.“
Rai berdiri dan berlari menginjak genangan air yang ada di jalan, dan pergi menuju gedung yabg dekat tempat monster kecoak berada.
“Gedung ini sudah mulai dihinggapi oleh mereka,” kata Rai kecil setelah melihat beberapa kecoa memasuki ruangan yang ada di kejauhan.
Kini Rai bersembunyi di salah satu ruangan kamar yang cukup kecil, sesekali ia mengintip luar kamar dan mengamati pergerakan monster.
Satu per satu monster berbentuk serangga kecoak itu memasuki gedung, ruangan demi ruangan mereka jelajahi, hingga akhirnya monster tersebut mendekati ruangan yang Rai jadikan tempat persembunyian.
Pedang Methuragon bentuk Longsword satu pedang dengan bilah bercabang dua sudah siap untuk membasmi monster yang masuk ke dalam ruangannya.
Senjatanya masuk ke dalam mode Longsword satu pedang, mirip dengan giant sword namun ukuran bilah yang masih terbilang ramping dan masih masuk ke dalam kategori Longsword mendekati greatsword.
Tangan kanan memegang pedang dan tangan kiri sudah masuk ke mode tangan berekor.
Criekkk!
Jeritan dari monster tersebut makin terdengar jelas, dan bunyi kaki mereka saat menapak bisa didengar oleh lubang telinga Rai.
Bersembunyi di balik tembok samping pintu, Rai sudah sangat siap membunuh mereka.
Tak lama Rai tunggu, satu ekor monster tersebut masuk ke dalam ruangan, lalu diikuti dua monster yang serupa dengan ukuran yang hampir sama.
Menatap sejenak lalu Rai segera bertindak sesuai rencananya.
Swooshh!
Crattt!
Pedang Rai diayunkan dengan cepat dan berhasil memotong tubuh tiga monster tersebut menjadi dua bagian, dan cairan hijau keluar dari tubuh monster.
Monster berukuran lebih dari satu meter ini masih hidup walau tubuhnya telah terpotong, tiga monster ini meronta-ronta berusaha menyerang Rai dengan kakinya yang tajam.
“Ini memanglah kecoak!“ Rai berkata setelah mengamati monster di depannya yang telah terpotong.
Bentukannya memang seperti serangga kecoak, namun dengan ukuran yang jumbo.
Ketahanan tubuhnya pun sama dengan kecoak yang normal, masih bisa hidup beberapa hari setelah dipotong, mungkin monster ini bisa lebih lama dari kecoak normal.
Ekor tangan kiri Rai menusuk cepat hingga menghancurkan seluruh tubuh tiga monster tersebut.
[Ding! Bunuh 3 Roachzer (F+). Dapatkan +12 Exp, +12 Koin!]
Setelah membunuh tiga monster tersebut, suara sistem terdengar di benak Rai.
Sebelum Rai hendak memeriksa kembali area luar, belasan kecoak jumbo berdatangan menuju Rai.
Dengan reaksinya yang cepat, Rai melompat keluar jendela dan jatuh ke bawah, kamar tempat persembunyiannya menghadap ke bangunan selanjutnya.
Bang!
Rai mendarat dan bergegas berlari menuju tempat Kuro menunggu.
Di belakangnya terdapat puluhan Roachzer yang terbang mengejar Rai, pemandangan ini membuat orang yang takut dengan kecoak langsung pingsan.
Kecepatan lari Rai masih unggul dengan kecepatan serangga monster tersebut terbang dan merayap, gerakan parkournya pun membuat Rai lebih cepat melewati halangan yang menghambat jalur pelariannya.
“Kuro, cepat berubah dan kabur melewati jalan.“
Dari kejauhan Rai berteriak kepada Kuro yang menunggu Rai di depan pintu masuk sebuah gedung yang rusak.
Begitu Kuro mendengar teriakan ini, tanpa berpikir panjang ia segera berubah menjadi Sabertooth hitam.
Dalam rencananya Rai ingin melakukan penyerangan seperti apa yang dilakukan saat melawan Huszerdawg.
__ADS_1