
“Punya,” jawab Rai tanpa bohong dan ia segera mengambil sebuah botol berisikan air mineral.
“Tenang saja, aku akan membayarnya dengan satu buah informasi lain.“
Lara tidak ingin berhutang budi pada Rai sepertinya.
Bisa dinilai Lara ini seorang wanita yang mandiri dan tidak ingin bergantung dengan orang lain. Memang semestinya seperti itu untuk bisa bertahan hidup, ada dua cara untuk bisa hidup di sini, yakni mandiri atau jadi budak orang lain.
Rai mengeluarkan satu botol air mineral dan memberikan pada Lara.
Tangan Lara sedang menghimpit bola dari kertas nasi bekas makannya menjadi bola kertas yang pipih.
Melihat botol air mineral yang disodorkan oleh Rai, tangannya bergerak meraih botol tersebut pelan-pelan, bahkan ia menghindar untuk bersentuhan fisik secara langsung.
Sampah kertas nasi tersebut ia letakkan di sebelahnya, mungkin Lara ingin membuang sampah makannya nanti.
Membuka tutup botol air mineral, setengah dari air yang ada di dalam botol Lara minum dan menyisakan setengah lagi untuk nanti diminum.
“Makanan yang kamu berikan berasal dari mana? Aku baru lihat makanan seperti itu.“ Lara menoleh pada Rai dan bertanya dengan penasaran.
Tentu saja makanan yang diberikan Rai belum pernah ia lihat. Gado-gado adalah makanan asli Indonesia dan negara asal Rai tidak ada di dunia ini.
“Itu rahasia, kau tak perlu tahu.“
Mendengar pertanyaan Lara mengenai makanan yang ia berikan, Rai menjawabnya dengan singkat.
Jawaban Rai sama seperti jawaban yang sebelumnya. Tidak mungkin Rai menjawab asal makanannya dari Mall System, juga Rai malas mencari jawaban, lebih baik ia menjawabnya sama dengan sebelumnya.
Dalam pandangan Lara, sosok Rai benar-benar dingin dan misterius. Sudah dua kali pria ini menjawab pertanyaannya dengan kata “Rahasia” yang secara tidak langsung membuatnya bertanya-tanya tentang Rai.
“Informasi apa yang ingin kau berikan?“
Rai menagih janji yang Lara berikan padanya atas air minum yang ia berikan.
“Sebentar, aku akan memilih informasi yang sekiranya berguna untukmu.“ Lara berkata sambil memegang dagunya
Di dalam kepalanya, Lara sedang mengorganisir beberapa informasi yang ia ketahui dan memilih yang tepat.
Karena ia telah menjelajahi banyak daerah, otomatis banyak juga informasi serta pengalaman yang ia dapatkan.
Diam selama beberapa menit, akhirnya Lara membuka mulutnya dan bertanya, “Kau tahu anak organisasi dari The Linzation?“
“Anak organisasi? Aku tidak tahu.“
Rai baru tahu organisasi The Linzation memiliki anak organisasi atau cabang organisasi.
Rasa ingin tahu dan kemelitan bertumbuh di dalam tubuhnya, tanpa sadar tubuh Rai bergerak dan sedikit lebih dekat dengan posisi Lara duduk.
Pastinya Lara memerhatikan gerakan Rai yang secara tidak sadar bergerak mendekat ke arahnya, tetapi Lara hanya diam dan merespons seakan ia tidak mengetahui hal tersebut.
“Kau penasaran dengan informasi tersebut? Ingin aku terangkan informasinya?“ Lara tersenyum pada Rai dan satu alisnya naik.
“Ya, jelaskan saja.“
Rai mengangguk berat, ia sudah sangat ingin mengetahui informasi yang akan diberikan oleh wanita tersebut.
“Oke, dengarkan aku baik-baik.“
Wajah Lara berubah menjadi serius seolah ini informasi yang sangat krusial dan fundamental dari segala informasi yang ada.
Sorot matanya tidak melihat ke arah Rai, melainkan ke jalan yang ada di bawah gedung.
Dipikir-pikir wanita ini benar-benar pemberani dan tidak takut dengan ketinggian hampir ratusan meter ini.
“The Linzation adalah organisasi yang muncul dan berdiri di Kota Tujuah oleh seseorang.
Sebuah organisasi sudah dapat dipastikan di buat oleh perorangan atau pun kelompok kecil dan lambat laun menjadi besar seiring berjalannya waktu.
Sama halnya yang terjadi pada organisasi The Linzation ini, saking besarnya sampai melahirkan sebuah organisasi yang induknya tetap dipedang oleh The Linzation.
Berbeda dengan The Linzation yang hanya ada di Kota Tujuah mengamankan orang-orang di dalam, sifatnya defensif. Organisasi satu ini berada di luar Kota Tujuah yang sifatnya ofensif, karena ia yang menyerang sesuatu di luar Kota Tujuah.
Organisasi itu bernama Seizure, anak organisasi The Linzation yang bertugas untuk membunuh monster yang ada di luar Kota Tujuah.“
Lara menerangkan secara jelas dan lantang, tanpa ada kata yang disengaja disamarkan.
Pandangan mata Lara terus terpaku pada jalanan yang di bawah. Terasa matanya kosong dan pikirannya sedang memikirkan sesuatu hal.
Rai diam dan menunggu Lara melanjutkan menyampaikan informasi.
“Kenapa diam? Aku sudah memberikan informasi Seizure.“ Lara tiba-tiba siuman dari lamunannya, menoleh dan berkata pada Rai.
“Sudah? Kukira ada lagi.“
Rai bergerak lagi menjauhi Lara, di dalam benaknya ia sedang mencerna dua informasi yang diberikan Lara.
__ADS_1
Tentang virus Lineuss dan organisasi Seizure. Ternyata Loret yang mengkhianatinya tidak memberi tahu mengenai ini, informasi yang dimilikinya memang tidak begitu banyak.
Namun, Rai menatap wanita sekian lama pada saat menjelaskan, ia merasa bahwa wanita ini memiliki banyak informasi, mengingat Lara mengungkapkan dengan sendirinya sudah menjelajahi banyak daerah.
“Sudah semuanya. Omong-omong kamu ingin ke mana?“ tanya Lara.
Lara penasaran dengan Rai yang tiba di sini, pastinya pria ini tidak berhenti di Kota ini.
“Kota Tujuah.“ Rai menjawab dengan ringan dan inti.
“Sudah kuduga, pasti kau akan ke sana.“ Lara menghembuskan napas dan berkata.
Sudah tertebak Rai akan ke Kota Tujuah, karena bukan hanya Rai yang ingin ke sana, banyak orang yang ingin ke Kota Tujuah untuk mencari keamanan dan kenyamanan.
“Kau?“ Rai balas bertanya pada Lara.
Rai juga penasaran dengan wanita ini, berani sekali sendiri di kota ini tanpa ada seorang pun yang membantunya.
“Sama, aku juga memiliki tujuan yang sama denganmu.“ Lara berkata sembari melihat Rai yang duduk memegangi Kuro di pangkuannya.
“Bagaimana kalau kita bersama?“ tambah Lara.
Mendengar kalimat ini membuat Rai bingung, kalimat Lara bersifat ambiguitas.
“Bersama?“ Rai bertanya sebagai pengganti menjawab.
“Eh! Maksudku bersama melakukan perjalanan ke Kota Tujuah~” Lara langsung sadar dengan kalimatnya sendiri dan ia melambaikan tangannya sambil menjelaskan kalimatnya.
“Ya, terserah kamu.“ Rai menjawab seakan tak peduli dengan pilihan Lara.
“Oke. Kamu akan tidur di sini?“ Lara bertanya pada Rai.
“Tidak, aku tidak akan tidur.“ Rai menggelengkan kepalanya.
Ia tidak akan tidur jika ada orang asing di dekatnya, entah itu pria atau wanita, ia tetap waspada dengan orang lain.
Tidak ingin kejadian Loret yang mengikatnya terjadi lagi, walau itu memang rencananya sengaja diikat oleh mereka untuk mengungkapkan kemunafikan mereka.
“Emmm … kalau begitu, aku ingin tidur sebentar.“ Lara sedikit menjauh dari pinggir atap dan menyeka kotoran debu dan tanah di lantai.
Merasa sudah bersih, ia berbaring dan menjadikan tasnya sebagai bantal.
“Bangunkan aku jika ada sesuatu yang berbahaya. Juga, jangan berbuat macam-macam saat aku tidur,” kata Lara pada Rai yang masih duduk di pinggir atap memunggungi Lara.
“Ya.“
“Ya.“
Rai menjawab dengan kata “ya” beberapa kali, lantaran ia sendiri tidak tahu harus menjawab dengan kata-kata apa. Lagi pula ia tidak memiliki niat jahat ke wanita tersebut ketika tidur.
Wajar saja, Rai adalah perjaka dan pria lurus, tidak mungkin baginya melakukan hal itu, kecuali memang digoda dan dipancing.
“Meskipun aku tidur, aku masih memantau kamu, hati-hati dengan tindakanmu.“
Lara masih mengoceh dan belum tidur, wajahnya tidak terasa mengancam, melainkan sedih.
Ia sedih karena Rai tidak menoleh ke belakang sekali pun untuk melihatnya.
Jikalau ada pria yang melihat sosok Lara tidur sekarang, pria itu tidak akan bisa tidur 7 hari 7 malam. Sosok Lara benar-benar seksi, meski wajahnya yang nampak lugu dan pemalu, tetapi tubuhnya sebaliknya.
Dengan kata lain, tubuh Lara sangat panas dan seksi, jika wanita ini ditempatkan di Bumi, kemungkinan besar akan menjadi artis yang terkenal karena kecantikannya.
Rai pun mengakui bahwa wanita ini cantik, melebihi kecantikan wanita yang ada di Bumi.
Pada dasarnya, Rai memang belum mengalami jatuh cinta, ia tidak peka tentang masalah ini.
'Apakah aku sudah tidak cantik lagi?' Lara berkata dalam hatinya.
Sebenarnya, ini adalah pertama kali ia tidur di dekat pria, sebelumnya Lara tidak pernah melakukan hal ini sama sekali. Namun, reaksi pria di dekatnya ini membuatnya merasa sedih karena tidak sesuai ekspektasinya.
Ia kira Rai akan kagum dengan penampilannya atau pun yang lain, kenyataannya sangat berbeda. Pria ini benar-benar cuek.
Daripada memikirkan hal ini lebih baik ia tidur sekarang selagi masih ada waktu.
Tidak disadari oleh Lara, dirinya sudah mempercayai Rai, meski pria ini adalah orang asing yang baru beberapa jam ia temui.
Suara halus yang stabil terdengar di telinga Rai, segera ia menoleh ke belakang yang adalah arah sumber suara.
“Sudah tidur?“ Rai melihat Lara yang sudah tertidur pulas dengan posisi tidur miring menghadap dirinya.
“Wanita yang aneh,” ucap Rai yang kembali melihat pemandangan luar yang sunyi dan gelap sambil menggelengkan kepalanya tanpa daya.
Tangan Rai merogoh ponsel di saku celananya dan menyalakan ponselnya untuk memainkan beberapa permainan.
Sekilas ia melihat jam yang ditampilkan pada ponsel, ternyata sudah jam 1 malam, hanya ada empat sampai lima jam lagi untuk melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Mengingat ia sudah sampai di Kota Talu Utara, tujuan selanjutnya berganti lagi, tujuan berikutnya adalah Kota Mopulu yang berada di wilayah Mopulu.
Berdasarkan peta yang dimilikinya, ia harus pergi ke Kota Mopulu yang ada di utara. Tidak ada jalan lain untuk bisa ke Kota Tujuah jika tidak melewati Kota Mopulu.
Alangkah baiknya danau besar yang di timur wilayah Talu tidak ada, ia pasti bisa lebih cepat ke Kota Tujuah.
Apabila Rai terus berjalan ke arah timur Kota Talu, nantinya akan menemukan sebuah danau yang besar bagaikan lautan.
Namun, Rai tidak ke sana karena bukan rute yang dilalui, ia harus ke arah utara kota dan keluar dari Kota Talu.
Beberapa jam kemudian setelah Lara tidur, langit yang gelap secara bertahap menjadi terang dan cahayanya yang hangat menabrak pipi Lara yang kenyal.
Bulu mata Lara yang lentik bergetar, dan perlahan matanya terbuka lebar.
Pertama kali yang Lara lihat adalah punggung tegap seseorang di kejauhan. Segera ia bangun dan duduk sembari menggosok kedua matanya.
Ia melihat ke seluruh tubuhnya dan tidak ada jejak yang aneh di tubuhnya, semuanya sama dengan yang terakhir ia lihat. Tandanya Rai sungguhan tidak melakukan apa pun kepadanya.
“Kamu tidak tidur, Rai?“ Lara berkata kepada Rai yang masih memunggunginya.
“Tidak,” balas Rai singkat.
“Mengapa begitu? Aku kira kamu akan tidur ketika aku tidur.“
“Karena aku tidak ingin tidur.“ Rai menjawab dengan wajah yang datar.
“Oke,” jawab Lara yang malas melanjutkan pertanyaan.
Perlahan Lara berdiri dan berjalan menuju Rai, dan duduk di sebelahnya, sama posisinya ketika Lara duduk di malam hari.
“Kamu ingin melanjutkan perjalanan sekarang?“ tanya Lara.
“Belum, Kuro ingin sarapan pagi dahulu.“ Rai menggelengkan kepalanya lalu mengambil beberapa potongan daging yang masih berdarah dan diletakkan sebelahnya.
Kuro yang sejak semalam meringkuk di pangkuan Rai langsung melompat menuju potongan daging monster tersebut.
Lara yang melihat ini hanya bisa tersenyum, ia baru mengerti mengapa semalam Rai mengambil begitu banyak potongan daging. Tetapi, ia masih penasaran kenapa tas sekecil itu bisa menampung banyak potongan daging.
Apakah tas itu isinya cuma daging?
Akan tetapi, semalam Rai jelas-jelas memberinya makanan dan air minum dari tas yang sama.
Cukup mencurigakan dan janggal, pasti ada sesuatu yang istimewa dengan tasnya.
Lara tidak ingin mengorek rahasia seseorang, perlu tahu saja dan tidak berniat untuk merebut.
“Kamu tidak sarapan? Aku punya makanan, tetapi tidak seenak makanan yang kamu berikan, kamu mau?“ Lara menawarkan makanan yang dipunya kepada Rai.
“Tidak, aku punya makanan.“ Rai menolak tawaran Lara dan ia mengeluarkan nasi uduk yang dibungkus kertas nasi.
Sontak Lara terkejut melihat makanan yang dibungkus yang ada di tangan Rai.
Mencoba menahan untuk tidak tergoda, tetapi perutnya tidak bisa diajak kompromi.
Goo~
Untuk kedua kalinya perutnya berbunyi dan untuk kedua kalinya hal ini terjadi di depan pria yang sama.
“Ada informasi yang kau punya? Aku bisa memberimu makanan.“ Rai bertanya tanpa melihat wajah Lara, ia sedang membuka kertas nasi yang membungkus nasi uduknya.
“Ada, mengenai pejuang yang telah membangkitkan kekuatan, kamu tertarik dengan informasi itu?“ jawab Lara yang matanga terus melirik nasi uduk yang aromanya sudah tercium oleh hidungnya.
“Boleh, kau ceritakan saja.“ Rai mengangguk dan menahan untuk tidak memulai makan sarapan yang ada di depannya.
“Oke. Pasti kamu sudah tahu pejuang kebangkitan atau evolver di dunia ini.
Pejuang kebangkitan bermacam-macam jenisnya, ada yang mengendalikan elemen, berubah menjadi binatang, dan lain-lain.
Kamu sudah tahu tipe kebangkitan yang kuat itu jenis apa?“
“Sudah, Malzer dan Mentzer,” jawab Rai jujur.
“Emm … kamu tahu jenis yang lebih kuat dari keduanya?“ Lara bertanya sambil menahan rasa laparnya.
“Tidak tahu.“
Rai menatap mata indah Lara dan berkata jujur.
“Baiklah, aku akan memberitahukan kepadamu jenis Pejuang Kebangkitan yang ada di atas kedua jenis yang kamu tahu.“
“Pejuang yang kuat itu adalah pejuang yang memiliki tipe dari keduanya—”
Kalimat Lara terpotong oleh Rai yang ingin bertanya.
Rai tercengang dan berkata, “Sebentar, maksudmu di dunia ini ada seseorang yang memiliki kekuatan Malzer dan Mentzer?!“
__ADS_1