
Rai dan Kuro pergi ke meja makan dan duduk di sana, diikuti oleh Lara dari belakang sambil menggenggam ponsel milik Rai.
“Ini telepon genggamnya,” kata Lara menyerahkan ponsel Rai kepada Rai.
Rai mengangkat tangannya dan mengambil ponselnya, lalu disimpan di kantong celananya.
“Sudah puas mengambil gambarnya?“ Rai bertanya sambil mengeluarkan beberapa makanan untuk makan malam.
“Sudah, banyak gambarku yang aku potret di malam ini,” Lara menjawab dengan anggukkan imutnya.
“Oke.“
Rai menanggapi dengan singkat. Ia masih sibuk mengeluarkan dua makanan dan dua minuman ke atas meja, beberapa potongan daging monster untuk Kuro juga tidak lupa Rai keluarkan.
Setelah semua makanannya disajikan dengan baik dan bersih, keduanya siap untuk makan malam.
“Ini makanan apa? Aku baru pertama kali lihat makanan yang seperti ini.“
Di atas meja terdapat makanan berbentuk kotak yang isinya adalah kulit pasta yang ditumpuk bersama dengan potongan daging sapi dan saus tomat khusus sehingga membentuk lapisan-lapisan, tidak lupa juga terdapat keju di dalamnya, cara masaknya dengan dioven atau dipanggang.
Makanan ini berasal dari Negara Italia yang bernama Lasagna atau Lasagne yang berarti daging.
Semerbak aroma lezat dari makanan ini tercium oleh keduanya.
Lara yang sejak tadi melototi makanan ini sudah tidak sabar lagi untuk menyantapnya, tanpa sadar air liur hampir keluar dari sudut mulutnya.
Melihat Lara yang menjadi tidak sabaran, Rai mempersilahkannya untuk makan.
“Makan saja.“
“Oke!“ Lara menjawab dengan semangat.
Mengambil sendok kayu dengan cepat, ia langsung mengambil satu sendok potongan Lasagna dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Rasa yang begitu lezat, gurihnya terasa, dan ada sedikit rasa asam dan pedas, di makanan ini rasa manis begitu mendominasi sehingga ketika Lara mengunyah makanan ini rasa manisnya lebih menonjol di lidahnya.
Lara sontak bereaksi dengan ekspresi tercengang sambil menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tidak lupa juga bertepuk tangan kesenangan dengan kelezatannya.
Makanan ini tidak kalah dengan makanan yang diberikan oleh Rai sebelumnya. Sangat enak dan lezat.
Seketika, Lara mencepatkan makannya seperti orang yang kelaparan karena tidak makan selama 2 tahun.
Sementara itu, Rai sedang mengambil potongan lapisan lasagna dengan tenang tanpa terburu-buru.
“Cukup enak,” ucap Rai sambil mengangguk.
Baru kali ini Rai sempat mencoba salah satu makanan dari Italia yang sempat terkenal di kehidupan sebelumnya.
Ia belum sempat untuk mencobanya saat masih di Bumi, sebab ia tidak punya uang lebih untuk membeli makanan semewah itu, terlebih ini makanan luar negeri yang memiliki pamor yang bagus dan tinggi.
Beruntungnya Rai bisa makan apapun yang ia mau di dunia ini, sebuah keuntungan yang bisa dinikmati.
Sebuah bencana atau pun musibah ternyata memiliki sisi baik dan buruknya, terkadang kita langsung dibutakan oleh sisi buruknya sehingga kita tidak melihat sisi baik yang diterima.
__ADS_1
Selama mereka makan, Lara sering kali berseru sambil menepuk tangannya, jujur saja Rai sedikit terganggu, tetapi ia tidak ingin melarangnya, biarkan dia meluapkan rasa senangnya.
Slurpp!
“Aahhh~ enak sekali minuman ini, aku merasa segar setelah meminumnya,” ucap Lara sambil memandangi gelas plastik yang berisikan air berwarna kuning cerah.
Terdapat lemon di dalamnya dan beberapa bongkahan kecil es.
Rai melirik Lara sekilas dan berkata, “Lemonade memang menyegarkan.“
“Apakah minuman segar ini bernama Lemonade?“ tanya Lara dengan penasaran.
“Benar, minuman lemon yang diberi sirup yang manis.“ Rai sedikit menggoyangkan minumannya sebelum dia minum.
“Pantas saja aku merasakan buah lemon yang asem.“
Lara menatap minumannya dengan seksama sambil sesekali meminumnya.
Usai Rai dan Lara makan malam, keduanya diam sambil menikmati kesunyian selama beberapa saat.
“Rai, kamu sepertinya tahu apa minuman dan makanan yang kamu keluarkan, padahal makanan dan minuman tersebut belum pernah sama sekali muncul di daerah mana pun. Kenapa bisa seperti itu?“
Tiba-tiba saja Lara melontarkan sebuah pertanyaan kepada Rai yang tengah merasa asyik dengan lingkungan yang sepi.
Salah satu alis Rai naik dan ia mengalihkan pandangannya dari langit-langit atap layaknya kamar ke wajah cantik Lara.
“Itu semua karena kemampuanku, aku tahu nama benda yang muncul dari kemampuanku, terlebih soal makanan dan minuman yang aku keluarkan.“
Rai berkata dengan santai tanpa sedikitpun terlihat berbohong.
Selain itu juga, kebanyakan dari makanan dan minuman yang ia beli memang sudah Rai ketahui sebelumnya.
“Oh, begitu.“ Lara mengangguk dan meminum minumannya sampai habis.
“Rai … apakah aku boleh meminjam ponselmu lagi?“ tanya Lara dengan suara yang lembut.
“Ingin foto-foto?“
“Emm … aku hanya ingin melihat hasil jepretan aku tadi siang.“
Di siang hari, Lara sempat meminjam telepon Rai untuk mengambil foto pemandangan pegunungan dan hutan yang indah, selebihnya foto dirinya berfoto ria, banyak juga foto dengan Rai dan Kuro.
Lara sungguh mirip dengan wanita yang ada di Bumi, sangat narsis dan eksis.
Bukan eksis ingin dikenal banyak orang, lagi pula fotonya tidak bisa disebarkan karena ponselnya tidak bisa meluncurkan jaringan internet, jangankan internet, sinyal pun tidak ada.
Ia narsis karena memiliki tujuan, yakni ingin dilihat Rai, makanya ia memotret dirinya agar setiap kali Rai membukan galeri foto, gambar dirinya dilirik oleh Rai.
Entah kenapa Lara punya pemikiran seperti itu.
“Ini.“ Rai merogoh kantong celananya dan memberikan ponselnya ke atas meja.
Lara dengan sigap mengambil ponselnya dan langsung membuka galerinya.
__ADS_1
Mengamati Lara yang sedang asyik dengan ponselnya, dan Kuro masih sibuk memakan potongan daging monster, lebih baik ia pindah ke kasur dan berbaring sambil merenung.
Gerakan Rai ketika bangkit dari bangku meja makan disadari oleh Lara.
Ponselnya ia matikan segera, dan pupil matanya bergerak mengikuti Rai yang sedang berjalan ke arah tempat tidur.
Sebuah rasa tidak enak muncul di hatinya, Lara memutuskan dengan cepat untuk mengikuti Rai.
Duduk di dekat kaki Rai yang berselonjor tidur. Lara mengamati Rai yang sedang memejamkan matanya dengan sambil meletakkan tangan di atas dahinya.
Tampak seperti Rai sedang frustasi atau memiliki beban hidup yang berat.
“Rai,” panggil Lara dengan pelan.
Lara melihat bahwa Rai tidak merespons panggilannya, dan sekali lagi ia memanggil Rai.
“Rai~”
Suara Lara sedikit ditinggikan dan nadanya tetap lembut.
“Ya, ada apa?“
Kedua kalinya Lara memanggil, akhirnya Rai mendengar suara Lara dan ia langsung menyahuti panggilan Lara.
“Kamu tidak apa-apa, kan?“ Lara menatap mata Rai yang lesu.
Rai mengangkat alisnya, dan berkata, “Tidak apa-apa, ada apa memangnya?“
“Tidak, aku merasa kamu seperti sedang sedih sekarang. Apakah ada sesuatu yang kamu pikirkan?“ Lara menggelengkan kepalanya dan menjelaskan maksud dari dia bertanya.
“Tidak ada,” jawab Rai ringan.
Rai bangun dari posisi tidurnya ke posisi duduk bersandar.
“Kamu tidak berbohong, kan?“
“Tidak, memangnya kenapa?“
“Kalau kamu merasa sedih, tolong beri tahu aku,“ Lara menatap Rai dengan serius dan berkata dengan tegas, terdapat rasa khawatir di setiap kata-katanya. “Aku bisa merasakan suatu kesedihan dari tubuhmu, aku takut kamu kenapa-kenapa.“
Begitu melihat keseriusan dari wajah dan ucapan Lara, Rai merasa hangat di hatinya. Ia menatap mata Lara yang jernih, mengangguk, dan menjawab, “Ya, aku usahakan. Terima kasih.“
Ekspresi Rai masih sama ketika mengatakan kalimat tersebut, datar dan jarang tersenyum.
Lara tidak memedulikan raut wajah Rai yang kaku, mulutnya melengkung dan ia tersenyum. “Baiklah.“
Setelah percakapan ini, tanpa sadar Rai terus menatap mata Lara dan Lara pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua saling bertukar pandangan untuk beberapa saat. Akhirnya Lara kalah dan menoleh memalingkan wajahnya.
“Kenapa kamu memandangiku seperti itu, Rai?“ tanya Lara tanpa memperlihatkan wajahnya.
Rai menjawab dengan jujur dan sesuai dengan apa yang dirasakan. “Entah kenapa kamu sedikit berbeda dalam mataku.“
“Berbeda?“ Dengan cepat Lara menoleh kembali memandang Rai dan bertanya dengan penuh penasaran.
__ADS_1
“Ya, kamu terlihat manis.“