
Lara memandang Rai dengan terkejut setelah mendengar jawaban yang Rai berikan.
Tidak pernah berhubungan dengan wanita?
Apakah itu hal yang mungkin di dunia ini?
Jawaban Rai ini sulit diterima pada awalnya, tetapi jika dilihat-lihat dan dipikir-pikir lagi, sifat dan sikap yang dimiliki memang dapat membuatnya tidak bisa berhubungan dengan wanita.
Akan sulit wanita jika bertemu dengan Rai yang memiliki sifat dingin dan cuek seperti itu, terlebih pria ini tidak bisa mengekspresikan dengan baik.
“Apakah itu benar?“ Lara bertanya lagi untuk memastikan jawaban Rai.
Rai menatap wajah Lara dengan ekspresi yang terasa serius beberapa detik, mengangguk dan menjawab, “Ya, itu benar.“
Di kehidupan sebelumnya yang penuh kesendirian dan penuh rasa pahit yang ia rasakan, tidak pernah ia terbesit memikirkan hal mengenai memiliki seorang wanita.
Dengan kata lain, Rai tidak pernah berpikir tentang memiliki hubungan dengan wanita.
Jangankan memiliki hubungan istimewa dengan wanita, satu orang teman pun dirinya tidak punya. Tidak ada yang ingin mendekati dirinya, mungkin hanya ibu kost dan kakek penjual bantal keliling yang bisa dekat dengannya dan memiliki sedikit rasa empati dan simpati terhadapnya.
Lara termenung diam sambil menatap susu putih di dalam gelasnya, dalam hatinya ia berpikir, “Sangat langka seorang pria tidak pernah memiliki hubungan dengan seorang wanita, di dunia ini paling banyak pria yang bejat, tetapi pria ini tidak termasuk golongan pria tersebut. Emm … memang benar ucapannya, buktinya aku selama beberapa hari bersamanya tidak pernah mendapatkan tindakan perilaku yang aneh darinya.“
Dari pengalamannya saja bisa dibuktikan untuk sementara waktu bahwa Rai memang tidak seperti pria bejat yang suka memperkaos wanita. Lara yang sebagai wanita tahu betul seperti apa gerak-gerik pria yang sedang bernafsu, entah itu dari tatapan mata, gerakan tubuh, dan ucapan.
Namun, dari semua aspek itu, Rai tidak termasuk dalam semuanya, seolah Rai adalah suatu spesies yang langka di jenisnya.
“Eh! Berarti ini pertama kalinya Rai memiliki hubungan dengan seorang wanita? Bukankah aku seorang wanita juga?“ Lara baru sadar bahwa selama ini dia adalah wanita pertama yang memiliki hubungan dengan Rai.
Pipinya yang mulus dan halus itu memanas dan merah merona.
Rai tidak menghiraukan Lara, ia dengan cepat menyisihkan sampah bekas makannya di atas meja.
“Sudah tengah malam, sudah saatnya tidur.“ Alseenio bangkit dari kursi makan.
Kata-kata Rai terdengar jelas oleh telinganya, mengakibatkan Lara berhenti berpikir dan kembali ke kenyataan.
“Benar,” Lara membalas sembari mengangguk.
Sekarang memang sudah jamnya untuk tidur dan mereka harus segera tidur, lalu melanjutkan perjalanan kembali esok hari.
Rai berjalan menuju tempat tidur dengan tasnya, dan ia menyimpan tasnya di samping tempat tidur.
Kemudian ia duduk di tepi kasur.
Tepat ketika Rai ingin berbaring di atas kasur, suara Lara muncul di telinganya.
__ADS_1
“A-anu, aku tidur di mana?“
Lara berdiri di depan Rai dengan pandangan yang tertunduk ke bawah, ia bingung akan tidur di mana.
Rai mengangkat kepalanya untuk melihat Lara, dan berkata, “Kamu bisa tidur di sisi kasur yang lain.“
Kasur di dalam tenda berukuran besar, seharusnya sudah lebih dari cukup untuk tidur dua orang, bahkan bisa untuk tiga orang.
“Te-tetapi ….“ Kali ini Lara bimbang apakah harus di kasur atau di bawah lantai.
“Kenapa? Kasur masih luas, kamu bisa tidur di kasur ini,” ujar Rai yang masih belum tahu apa yang dipikirkan oleh Lara.
Pria dan wanita tidur dalam satu kasur, kemungkinan besar akan terjadi sesuatu yang semua orang tahu, dan Lara pun mempermasalahkan hal ini di pikirannya.
Apakah dirinya tidur di atas kasur atau tidur di tempat lain?
Jikalau ia memaksakan untuk tidur di kasur, Lara takut dirinya diapa-apakan oleh Rai, tetapi tidur di tempat lain sangat tidak enak.
Setelah beberapa saat memikirkan apa yang akan dipilih, Lara akhirnya memilih untuk tidur di atas kasur.
Dalam penimbangan pemikirannya, ia lebih baik tidur di atas kasur, sebab mengingat sifat dan sikap Rai yang cuek, kemungkinan adegan yang ia pikirkan tidak akan terjadi, dan ia meyakini itu.
“Emm … oke.“ Lara mengangguk dan bergerak menuju atas kasur.
Begitu naik di atas kasur yang empuk, Lara dengan hati-hati dalam bergerak takut dirinya mengganggu Rai yang sedang menutup mata.
Lara tidur terlentang sama dengan Rai, tetapi ia tidur di pinggir timur dari kasur. Keduanya berjauh-jauhan sehingga di tengah antara mereka cukup untuk diisi oleh satu orang.
Kuro yang sedari tadi memandikan diri sendiri sehabis makan itu mulai bergerak ke tempat tidur.
Dengan keempat kaki kecilnya ia berjalan dan melompat ke atas kasur dan berbaring di ruang yang kosong antara Rai dan Lara.
Senyum kecil muncul di sudut mulut Lara, dan ia segera memeluk lembut Kuro.
'Miaw!'
Kuro mengeong terlihat tidak mau dipeluk oleh Lara dan ia memberontak berniat melepaskan diri dari pelukan Lara.
Melihat gerakan Kuro yang tidak mau, Lara mengendurkan pelukannya dan membiarkan Kuro lepas dari pelukannya.
Cukup sedih melihat Kuro yang tidak mau dia peluk, padahal ia ingin sekali tidur bersama Kuro.
Kuro berbaring lagi di tempat sebelumnya dan mulai tertidur.
Tatapan Lara terpaku pada Rai dan Kuro yang sudah tertidur.
__ADS_1
Daripada ia diam seperti ini lebih baik dirinya pergi tidur.
Dengan adanya Kuro yang memisahkan jarak di antara dirinya dengan Rai, itu membuat Lara merasa tenang.
Kurang dari tiga menit Lara memejamkan mata, ia langsung tidur dan mengalami beberapa fase tidur.
Keesokan paginya, Lara terbangun dari tidur karena merasa ada sesuatu yang menyentuh tubuhnya dan ketika membuka matanya ia langsung melihat bahwa di tubuhnya sedang ditutupi selimut biru.
“Emm?“ Lara menoleh ke kiri dan ke kanan dan tidak melihat Rai di kasur.
Ia masih ingat dengan jelas bahwa semalam dirinya tidur sekasur dengan Rai, pasalnya Lara memikirkan hal ini sebelum dirinya tidur.
“Kamu sudah bangun?“ Rai tiba-tiba muncul dari jalur masuk tenda.
Rai sedang membawa cangkir minuman kopi di tangan kanannya yang masih mengeluarkan asap panas.
“Sudah.“ Lara duduk di atas kasur dan menyingkirkan selimut dari atas tubuhnya.
Lara melihat bahwa pakaian masih sama dan tidak ada jejak yang aneh di tubuhnya. Lara menghela napas karena dirinya baik-baik saja dan Rai tidak melakukan hal aneh kepadanya.
“Apa itu di tanganmu?“ Lara bertanya sambil bersandar di kepala tempat tidur.
Rai berjalan menuju tempat makan dan duduk di kursi makan. “Kopi hitam.“
“Kopi?“ Lara mengucapkan ulang jawaban Rai dengan wajah yang heran dan penasaran. “Apa itu kopi?“
“Sebuah minuman.“
“Bolehkah aku mencobanya?“
Rai menatap kopi berwarna hitam di tangannya sesaat, lalu menjawab, “Boleh.“
Setelah Rai mengucapkan persetujuannya terhadap permintaannya, Lara melompat dari kasur dan berlari mendekati Rai.
Kopi di tangan Rai langsung diserahkan ke tangan Lara.
“Masih panas, perlahan minumnya.“
Lara mengangguk mengerti dan ia mendekati bibirnya ke tepi cangkir, lalu ia menyeruput airnya.
Wajah Lara seketika berubah, dan matanya membelalak tercengang.
Tidak disangka rasa minuman kopi ini begitu pahit, awalnya Lara kira minuman kopi adalah minuman yang manis, ternyata itu sangat terbalik dengan ekspektasinya, minuman ini sangat pahit.
“Kenapa wajahmu seperti itu? Bukankah minuman ini enak?“ kata Rai mengambil kembali minuman kopinya dari tangan Lara.
__ADS_1