
Berpesta akhirnya selesai dan mereka semua pergi tidur ke gubuknya masing-masing, mereka semua sudah berpesta berjam-jam, dari jam 05.30 sore sampai jam 09.40 malam.
Api unggun yang ada di tengah lapangan sudah dimatikan, peralatan dan perlengkapan pesta seperti kayu api unggun dan alat musik sudah dibereskan, bahkan arang bekas api unggun sudah bersihkan oleh mereka. Kondisi lapangan saat ini telah kembali seperti semula sebelum pesta diselenggarakan.
Di gubuk tempat Lara dan Rai tidur, mereka berdua sedang menatap satu sama lain di atas kasur keras ini.
“Kamu yakin tidak ingin tidur, Rai?“ Lara menatap Rai dengan mata yang khawatir.
Rai dengan tegas mengangguk setelah mendengar pertanyaan Lara. “Benar, aku ingin begadang untuk malam ini.“
“Besok kita berangkat lagi, Rai. Kamu tidak apa-apa kekurangan tidur?“ Lara memastikan pilihan Rai.
“Ya, yakin. Kamu tidur saja,” kata Rai sambil mengambil ponselnya dari tas.
Jika keduanya sama-sama pergi, Rai pasti membawa tas, entah itu pergi ke tempat uang dekat atau jauh, kecuali ada Lara yang tidak ikut bepergian, ia akan menitipkan tasnya pada Lara.
Oleh sebab itu, ketika Rai dan Lara pergi ke pesta, mereka berdua membawa tasnya masing-masing. Namun, Kuro tidak dibangunkan karena ia pasti tidak akan kenyang dengan satu ekor ikan, perutnya memiliki kapasitas besar bagaikan lubang hitam.
“Emm, baiklah. Kalau kamu ngantuk, kamu tidur saja, jangan khawatir semuanya akan aman,” kata Lara yang perlahan berbaring di atas kasur.
“Oke.“
Rai menyalakan layar ponselnya dan memainkan gim di ponselnya.
Melihat ini, Lara pelan-pelan menutup mata karena ia sudah merasakan kantuk, dan tak lama kemudian ia tertidur.
Keesokan harinya, Rai dan Lara berdiri di depan pintu masuk dan keluar markas yang ada di utara, di depan mereka berdiri puluhan orang dari kelompok Ratcrow Seven. Hari ini, mereka berdua ingin pergi meninggalkan markas dan melanjutkan perjalanan menuju Kota Mopulu.
“Hati-hati di jalan, Nak! Jangan sampai mati, aku menunggumu kembali bermain ke markas ini untuk bertarung bersama.“ Wallace menepuk pundak Rai dengan kuat.
Merasakan tepukan keras ini, Rai masih memiliki wajah yang tanpa ekspresi, Rai menatap Wallace dan mengangguk.
Melihat respon Rai, Wallace tersenyum dan kemudian ia memberikan sebuah kertas yang dilipat ke tangan Rai.
“Ambil ini, baca kertas ini di perjalanan,” tandas Wallace pada Rai.
Rai segera menyimpan kertas ini di saku hoodienya dan mengangguk.
Wallace menatap Rai dengan puas dan berkata, “Pergilah, selagi pagi belum menghilang, di siang hari perjalanan akan sulit nantinya.“
Setelah mendengar peringatan Wallace, Lara dan Rai saling memandang memberi isyarat satu sama lain, kemudin Lara mengangguk kepada Rai.
“Terima kasih atas tumpangannya, kami pergi sekarang.“
“Sama-sama, kami juga mengucapkan terima kasih karena telah menyelesaikan masalah kami. Hati-hati di jalan,” Wallace menjawab dengan ekspresi yang bermartabat.
Rai dan Lara mengangguk bersama dan kemudian berbalik memunggungi semua anggota Ratcrow Seven.
“Pengalaman yang seru, tidak menyangka kita bisa bertemu dengan tempat pengungsian para kelompok yang baik,” kata Lara tersenyum senang.
“Ya, itu benar.“ Rai mengangguk sambil menatap jalan. “Kamu sebelumnya tidak tahu dengan kelompok ini?“
“Tidak, aku baru tahu ada kelompok di sekitar ini,” Lara menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
“Jadi, kamu baru pertama kali melewati jalur ini?“
Mendengar pertanyaan Rai, Lara tidak langsung menjawab, ia menundukkan kepalanya dan merenung sambil berjalan. “Umm … dahulu aku pernah melakukan perjalanan untuk mencari tahu informasi dan pengalaman, itu beberapa tahun yang lalu, tetapi aku masih ingat samar-samar, aku ingat aku tidak melewati jalur ini.“
__ADS_1
“Pantas saja.“
Rai menghela napas. Wajar saja Lara tidak tahu tentang kelompok Wallace, ternyata wanita ini tidak pernah melalui jalur yang mereka berdua lalui ini.
“Omong-omong, apa isi kertas yang diberikan Wallace kepadamu tadi?“ tanya Lara yang ingin tahu.
Rai mengambil kertas yang disimpan di sakunya dan membuka perlahan. “Sepertinya ini peta wilayah Mopulu.“
“Peta?“
Dengan penasaran, Lara mendekat ke tubuh Rai untuk melihat isi kertas yang diberikan Wallace.
Benar apa yang dikatakan Rai, secarik kertas yang dilipat-lipat ini memiliki coretan tinta yang membentuk gambar yang mirip seperti sebuah peta dari suatu wilayah.
Namun, Rai menduga bahwa gambar ini adalah sebuah peta wilayah Mopulu, sebab gambarnya mirip sekali dengan wilayah Mopulu yang ada di peta yang Rai punya.
“Ini wilayah Mopulu,” ucap Lara setelah melihat gambar pada kertas yang Rai pegang.
Ucapan Lara sesuai dengan apa yang Rai duga, gambar ini memanglah wilayah Mopulu.
“Titik ini, apakah itu markas Ratcrow Seven tadi?“ Lara menunjuk sebuah titik di antara gambar peta ini.
Melihat titik yang ditunjuk Lara, sepertinya itu memang tanda markas Ratcrow Seven berada.
Di atas titik itu terdapat bulatan besar yang bertuliskan “Kota Mopulu”, menurut apa yang dikatakan Wallace bahwa markasnya tidak jauh dari Kota Mopulu, hanya tinggal beberapa kilometer saja.
Eee … lebih tepatnya 10 kilometer.
Rai sedikit mengangguk dan menjawab, “Benar, sepertinya titik tersebut adalah tempat markas Ratcrow Seven berada.“
“Emm … kalau begitu, ini adalah Kota Mopulu?“ Lara menunjuk ke tanda bulat di kertas dan bertuliskan nama kota.
“Masih jauh untuk kita bisa ke Kota Mopulu kalau jalan seperti ini, mengingat Wallace pernah berkata bahwa jarak Kota Mopulu dari Markas itu berkisar 10 kilometer,” keluh Lara yang tahu bahwa jarak Kota Mopulu masih jauh.
“Kamu lelah?“ tanya Rai setelah mendengar perkataan Lara.
“Tidak.” Lara menggelengkan kepalanya. “Aku hanya ingin mengeluh.“
“Ingin aku gendong?“
Saat mendengar kata-kata Rai, Lara segera menoleh ke arah Rai dan menatapnya tidak percaya.
“Kamu bilang apa tadi?“
“Ingin aku gendong?“ ucap Rai sekali lagi sembari menatap wajah Lara dengan pandangan yang serius.
Lara langsung mengalihkan pandangannya dan menundukkan kepala, ia tidak percaya Rai bisa mengatakan hal itu.
Di dalam hatinya, Lara memikirkan pilihannya antara ingin dan tidak, tetapi ia malu apabila digendong oleh Rai, di sisi lain hatinya ia ingin sekali digendong oleh Rai.
Satu menit berlalu, Lara akhirnya memutuskan pilihannya yang adalah digendong oleh Rai.
Lara dengan pelan-pelan membuka mulutnya, dan bertanya, “Apakah aku boleh digendong olehmu?“
Rai langsung menanggapi dengan anggukan.
Saat berikutnya, Lara melompar ke tubuh Rai. Refleks Rai aktif dan Rai tanpa sadar memeluk tubuh Lara dengan erat.
__ADS_1
Mereka berdua berpelukan, tetapi kedua kaki dan tangan Lara mengalungi pinggang dan leher Rai.
Wajahnya yang cantik semerah kepiting rebus dan itu samar-samar mengeluarkan asap.
Rai menggendong Lara seperti menggendong seorang anak kecil, mau bagaimana lagi, Lara tiba-tiba melompat tanpa memberinya aba-aba lebih dahulu.
Dua benjolan yang besar menyentuh dada dan perut atas Rai, itu terasa lembut dan kenyal ketika Rai mengambil langkah, Rai tidak menghiraukan ini dan terus berjalan mengangkat tubuh Lara dengan ambigu.
Tangan Rai memegang kedua paha mulus Lara untuk menopang supaya tubuh Lara tidak jatuh ke bawah.
Hati Lara saat ini sangat rumit, di dalam hatinya ia merasa senang, tetapi juga sangat malu, tubuhnya seperti menerima perlakuan apapun dari Rai. Biasanya Lara tidak nyaman jika dilihat oleh pria dengan tatapan yang aneh, apalagi jika disentuh, ia pasti akan memukuk orang tersebut bahkan membunuhnya, kali ini berbeda, tubuhnya seperti menerima semua tindakan Rai, tidak ada rasa penolakan alami dari tubuhnya.
Lara benar-benar bingung dengan kondisi tubuhnya saat ini.
“Kenapa tubuhku menjadi seperti ini ketika bersama Rai?“ Lara bergumam di dalam hatinya sembari menikmati gendongan Rai.
Tidak terasa setengah jalan mereka melakukan perjalanan. Rai di tengah perjalanan masih membawa Lara yang ternyata wanita ini tertidur di bahunya.
Baru beberapa menit saja Rai gendong, wanita ini tanpa disadari olehnya tertidur pulas. Pantas saja wanita ini tidak bereaksi apa-apa ketika digendong, usut punya usut Lara tertidur.
Jujur saja, Rai merasa aneh di bagian bawah tubuhnya ketika menggendong Lara, seakan adik kecilnya ingin bangun setelah merasakan kehangatan tubuh Lara yang digendong saat ini.
Namun, Rai berusaha untuk menahannya agar adiknya tidak bangun, pasalnya apabila adi kecil bangun, celananya terasa sempit dan itu menyakitkan bagi adik kecilnya, kalaupun dibuka kandangnya, adik kecil milik Rai akan menyentuh belahan di antara kedua kaki Lara.
“Sepertinya Lara tidak tidur malam tadi,” pikir Rai yang mendengar napas Lara yang teratur alami.
Rai menduga bahwa Lara tidak tidur semalam. Jikalau memang tidur, ia tidak akan mengeluh dan tidur di gendongannya.
Ada-ada saja wanita ini, padahal Lara sendiri yang bilang bahwa ia ingin tidur karena kantuk menyerangnya, tetapi dirinya sendiri berpura-pura tidur. Rai sama sekali tidak mengerti maksud dari seorang wanita.
'Miaw!'
Suara imut dari seekor anak kucing terdengar. Rai melihat Kuro yang berjalan di depannya dan menoleh ke arahnya dengan wajah tidak senang.
“Tunggu sampai wanita ini bangun, Kuro. Kamu boleh berbaring lagi di pundakku.“
'Miaw ….'
Kuro menoleh kembali ke arah depan dengan ekspresi yang kecewa. Terlihat Kuro yang tidak senang karena tempatnya berbaring ditempati oleh tangan Lara yang memeluk leher Rai.
Dikarenakan ada Lara yang digendong olehnya, Kuro terpaksa turun dan berjalan bersama Rai.
Pada saat Rai di tengah hutan berjalan membelah rumput yang tinggi, tiba-tiba suara lain terdengar.
Srrtt!
Suara ilalang yang bergesekan dengan sesuatu yang bergerak terdengar oleh telinga Rai, dengan respons yang cepat Rai menoleh ke arah sumber suara tersebut berasal.
“Apa itu?“
Rai berhenti dan mengawasi rumput panjang tidak jauh darinya yang ada di arah timur laut.
Bunyi gesekan tumbuhan berjenis rumput masih terdengar dan ilalang tersebut bergoyang. Bergoyang bukan karena faktor angin, melainkan ada sesuatu di sana.
Kuro yang penasaran pun mulai perlahan mendekati rumput yang bergoyang karena sesuatu tersebut.
Rai berwaspada seraya menggendong Lara, tatapannya terkunci di rumput yang masih bergoyang.
__ADS_1
Pelan-pelan Kuro berjalan mendekati rumput tersebut, tubuhnya yang kecil meminimalisir gerakan yang menimbulkan dirinya diketahui oleh sesuatu di rumput tersebut.
Tepat ketika Kuro ingin melompat ke sesuatu itu, tiba-tiba tanah di sekitar Rai bergetar, dan pemandangan yang tidak terduga terjadi kepada mereka.