
“Organisasi tersebut ialah The Bunmuri, banyak orang yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada kedua organisasi tersebut.“
Lara menerangkan secara jelas tentang informasi tersebut, wajahnya seperti ada yang salah saat ia mengatakan itu semua, ekspresi rumit begitu terlihat di wajahnya, Rai pun sadar akan hal tersebut.
“Apa yang salah?“ tanya Rai yang penasaran.
“Kamu akan tahu sendiri nanti, aku tidak akan memberi tahumu saat ini, takut kamu tidak percaya dan menganggapku orang yang tidak baik.“ Lara menoleh kepada Rai dengan tatapan yang rumit.
Keengganan dirasakan oleh Lara, lantaran ia tidak ingin dicap buruk oleh Rai karena informasinya yang dianggap mengada-ada.
Rai memandanh Lara sesaat dan ia mengalihkan pandangannya kembali ke langit yang malam.
“Baiklah.“ Rai tidak bisa memaksakan Lara untuk memberitahukan persoalan itu.
Meskipun dirinya merasa penasaran dengan permasalahan yang dimaksud oleh Lara, ia tidak bisa memaksa Lara untuk menceritakan itu. Rai tidak bisa memaksa orang jika memang orang itu tidak mau, lagi pula persoalan itu tidak bersangkutan secara langsung dengannya.
Rai duduk di lantai dan memindahkan Kuro dari tubuhnya ke pangkuannya.
“Ini sebagai bayarannya,” ucap Rai menyerahkan dua bungkus makanan pada Lara.
“Emm … boleh aku mengganti salah satu makanannya dengan air minum?“
Lara berkata dengan wajah yang agak malu.
“Oke.“
Rai tanpa berpikir memasukkan satu bungkus makanan dengan sebotol air minum ukuran sedang.
“Terima kasih~” Lara mengambil sebungkus makanan dan satu botol air minum.
Tanpa sengaja juga tangannya menyentuh jari-jari Rai, dan pipinya muncul rona merah yang samar.
“Makanan apa ini?“
Begitu Lara membuka bungkus kotak berbahan styrofoam, semburan harum makanan yang lezat menabrak hidungnya.
Sebuah makanan yang terlihat seperti mie dengan bentuk yang lebar dan pipih berwarna cokelat keemasan, terdapat potongan sosis, bakso, daging ayam, dan telur yang dicampur dengan mie tersebut.
Makanan ini adalah mie kwetiau goreng yang Rai beli dari Sistem pastinya.
“Mie Kwetiau,” balas Rai yang ikut mengambil makanan yang sama dan juga beberapa potong daging monster dari tasnya untuk Kuro makan.
“Mie Kwetiau? Aku pernah melihat makanan yang hampir mirip, tetapi itu sudah lama sekali dan waktu aku kecil, aku pun tidak ingat nama makanannya.“ Lara mengambil sumpit yang sudah disediakan dan siap untuk memakan mie di depannya.
Rai tidak merespons ucapan Lara dan diam, ia hanya melirik Lara yang tengah menyumpit mie kwetiau miliknya sendiri dan memakannya.
Setelah itu Rai memulai memakan makanannya juga.
Beberapa menit berlalu sejak mereka berdua memulai memakan makanannya, keduanya telah menghabiskan makanannya tanpa sisa, dan meletakkan sampah makanannya di satu tempat.
“Rai, apakah aku boleh bertanya kepadamu?“
Setelah menenggak minumannya, Lara memandang Rai dan berkata.
“Ya, apa?“
Respons Rai yang tanpa ada gairah atau pun ekspresi semangat dan yang lainnya muncul kembali.
“Tas milikmu apakah itu istimewa? Aku bertanya-tanya mengenai persoalan itu, tetapi aku tidak bisa menahannya lagi untuk tidak bertanya, maafkan aku.“ Lara bertanya dengan nada yang sopan dan rendah hati.
Mendengar pertanyaan Lara, Rai tidak langsung menjawabnya, ia terdiam sejenak karena suara mekanis Sistem terdengar di dalam benaknya.
[Ding! Pengingat untuk Tuan Rumah bahwa tas penyimpanan tidak akan bisa terbuka oleh orang lain. Tas milik Anda tidak mudah dihancurkan.]
[Jikalau hancur tas penyimpanan akan muncul kembali dalam bentuk yang lain atau pun serupa. Pada dasarnya tas penyimpanan dan fungsinya seperti bersatu dengan Anda.]
Kecemasan Rai langsung dihilangkan dengan adanya pengingat dari Sistem yang datang kepadanya.
Sejujurnya, Rai cemas dan takut mengenai tas penyimpanannya apabila seandainya sewaktu-waktu tasnya dicuri atau hilang dan sejenisnya.
Kini masalah tersebut hilang, dan Rai tidak perlu cemas, tetapi tetap harus hati-hati.
Boleh memberitahukan keunikan tasnya, tetapi hanya orang-orang tertentu baginya.
Mungkin … Lara termasuk orang tertentu bagi Rai.
“Ya, bisa dikatakan seperti itu. Tasku bisa menyimpan banyak barang.“ Rai menjawab pertanyaan Lara seraya melihat tasnya yang ada di pangkuannya dan diduduki oleh Kuro.
“Menyimpan banyak barang? Aku belum mengerti.“ Lara terheran dengan jawaban Rai dan belum paham dengan tas milik Rai.
Rai mengehela napas, dan berkata, “Tas milikku mampu menampung banyak barang melebihi ukuran yang kau lihat tampilan luar tasku sekarang.“
“Oh! Aku mengerti!“ Lara terkejut sesaat dan dia mengangguk menunjukkan pemahamannya mengenai penjelasan Rai yang terkait tasnya.
__ADS_1
“Pantas saja, aku merasa aneh dengan tas yang kamu bawa, banyak sekali barang yang kamu keluarkan dari dalam, terutama makanan terlihat seperti tidak ada habisnya.“
Pertanyaan Lara telah dijawab oleh Rai dan itu adalah sebuah kesenangan baginya, pasalnya Rai selalu menjawab bahwa itu rahasia dan dirinya tidak boleh mengetahui persoalan tersebut.
Dari jawaban Rai, ia mengetahui bahwa ada benda yang begitu ajaib dan menakjubkan. Jujur saja, Lara ingin memiliki barang yang serupa dengan tas Rai.
Akan tetapi, di dalam hatinya ia tidak boleh merampas milik orang lain, kecuali orang lain itu mati dan jahat kepadanya.
Melihat wajah Lara yang berubah-ubah, Rai berkata untuk mengingatkan Lara, “Kau tidak akan bisa mengambil tas milikku.“
“Maksudmu?“ Lara bingung dengan perkataan Rai.
Ia sama sekali tidak berniat untuk mengambil milik Rak, tetapi kenapa pria ini tiba-tiba mengatakan kalimat itu.
“Hanya mengingatkan saja, coba kau buka tas milikku.“ Rai menyerahkan tasnya ke hadapan Lara.
Menatap tas Rai sejenak sambil berpikir, lalu ia mengambil tas tersebut.
Kesan pertama ketika Lara memegang tas Rai itu terasa layaknya ia sedang memegang tasnya, bobotnya pun tidak jauh berbeda.
“Bukalah!“ Rai menyarankan Lara untuk membuka tasnya.
Dengan demikian, Lara mengikuti saran pemilik tas dan membukanya.
Tepat tatkala Lara ingin menarik ritsleting tas Rai, itu tidak bergerak sama sekali seakan macet dan tersendat.
Sebanyak apapun dirinya mencoba, ritsleting itu tidak ingin bergerak dan membuka tas.
“Tasmu rusak?“ Rai wajah Lara tampak bingung dan ia bertanya.
“Tidak. Kau tidak bisa membukanya karena hanya aku seorang yang bisa membukanya.“ Rai menjawab dengan senyum di balik maskernya yang jarang dibuka.
Lara pun tidak pernah melihat wajah Rai, ketika makan dirinya selalu lupa untuk melihat Rai yang membuka maskernya untuk makan.
Mendengar perkataan Rai membuat Lara bertambah bingung.
Bagaimana hal itu bisa terjadi?
“Apakah tasmu dikutuk dan hanya dirimu saja yang bisa membukanya?“ tanya Lara sambil mengembalikan tas Rai.
Tangan Rai terulur dan mengambil tasnya kembali, Kuro yang sempat pindah pun tidur lagi di atas tas Rai.
Rai menggaruk kepalanya, dan sedikit mengangguk, “Kamu bisa menganggapnya seperti itu untuk sementara waktu.“
Lara merasa malu, terdengar bahwa ucapannya salah bagi Rai. Namun, untuk saat ini Lara akan menganggapnya tas milik Rai adalah ekslusif untuk Rai saja.
Lara menepuk pipinya yang memerah setelah sadar dengan pikirannya yang kacau.
Di dalam pandangan Rai, tingkah Lara sangatlah aneh, baru saja ia lihat Lara sedang diam dan menatap tasnya, tiba-tiba saja pipinya memerah dan Lara menepuk pipinya sendiri.
Rai sama sekali tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Lara. Wanita sulit dimengerti, terlebih oleh Rai sendiri.
“Kau bilang terdapat makanan yang mirip dengan mie kwetiau barusan di saat kau masih kecil, kapan waktu itu terjadi? Pastinya sebelum peristiwa besar itu terjadi, kan?“
Kali ini Rai bertanya kepada Lara, dirinya ingin tahu dengan tahun di mana Lara melihat makanan yang serupa dengan mie kwetiau.
“Benar, itu pada saat aku berumur empat tahun enam bulan, tepatnya ketika aku berjalan-jalan ke kota ini—”
“Tunggu!” potong Rai memberhentikan kata-kata Lara.
“Kenapa? Apa yang salah?“ tanya Lara yang bingung terhadap Rai.
“Katamu jalan-jalan? Artinya kau tidak tinggal di kota ini, bukan?“
“Katamu itu benar, aku bukan dari Kota Talu Utara, melainkan dari sebuah desa yang dekat dengan Kota Talu. Aku bukan orang kaya atau pun mampu. Oleh karena itu, keluargaku berasal dari salah satu desa.“ Lara tersenyum ketika mengucapkan kalimat itu seolah ia bahagia.
Namun, Rai merasakan sesuatu yang berbeda, di permukaa Lara terlihat tersenyum, sebaliknya dengan hatinya yang mungkin ia meringis kecewa dan sedih. Bagaimana Rai bisa tahu, itu karena Rai sudah merasakan menjadi orang yang tidak memiliki uang, apalagi dia benar-benar berjuang dari kecil dan hanya mengandalkan dirinya sendiri.
“Aku, mengerti. Pada kesimpulannya kau adalah penduduk dari sebuah desa yang berada di dekat Kota Talu Utara, dan di usia empat tahun kau pergi ke kota Talu Utara.“ Rai menyimpulkan cepat.
“Bersama orang tuaku lebih tepatnya, dan kita mencoba mie yang mirio dengan mie yang kamu berikan, hanya saja memiliki diferensiasi di segi asal dan rasanya.“ Lara menambahkan penjelasannya.
“Orang tuamu? Apakah orang tuamu masih bersamamu?“ Rai sedang di kondisi yang ingin tahu dan ia tidak sadar bahwa pertanyaan sudah masuk ke personal.
Lara mengubah wajahnya, ia terlihat bingung sekaligus rumit, dan ia pun berkata, “Mereka tidak ada, hanya aku sendiri yang masih hidup. Ceritanya cukup panjang jika kamu bertanya mengenai bagaimana itu terjadi.“
Senyuman yang tampak dipaksakan dan dibuat-buat tercetak di wajah Lara ketika menjawab pertanyaan Rai.
Begitu melihat senyuman Lara, Rai sadar bahwa pertanyaannya sudah salah dan tidak seharusnya dilontarkan.
“Maaf, aku tidak tahu dan tidak bermaksud seperti itu.“ Rai meminta maaf dengan ekspresi yang merasa bersalah.
Namun, di dalam bidang penglihatan Lara, raut wajah Rai aneh, ia pun ingin tertawa, tetapi sekuat mungkin ia tahan agara tidak menyinggung perasaan Rai.
__ADS_1
“Bukan masalah, lagi pula itu sudah lama sekali,” kata Lara dengan senyumannya yang manis.
Di dalam hati Rai merasa lega setelah melihat senyuman Lara satu ini. Sungguh ia merasa bersalah saat melihat senyuman yang tidak natural yang ditampilkan oleh Lara sebelumnya.
“Oke.“ Rai menunduk kepalanya sambil mengusap Kuro yang sedang meringkuk tertidur.
Tatapan mata Rai melihat Kuro berbeda, pikirannya masih terngiang-ngiang oleh informasi yang diterangkan oleh Lara.
Mendadak, Rai mengangkat kepalanya dan bertanya pada Lara, “Jadi, umurmu sekarang adalah 24 tahun?“
Sekarang tahun 2041 kata Loret, dan peristiwa dunia hancur pada tahun 2022. Tahun peristiwa terjadinya dunia hancur dikurangi dengan umur Lara yang berusia 4 tahun dan hasilnya adalah 2017.
Tahun tersebut kemungkinan besar tahun Lara lahir, lalu tahun Lara lahir dikurangi tahun sekarang, dan hasilnya adalah 24 tahun.
“Anu … itu benar.“ Lara menjawab dengan malu.
Wanita sebenarnya sangat sensitif apabila ditanya mengenai umurnya.
“Ternyata kau sudah tua.“ Rai tanpa sadar berkata dengan wajahnya yang masih terlihat terkejut.
“Tua?“
“Tua? Apa maksudmu kamu memanggilku tua?!“
Amarah Lara membara ketika mendengar Rai mengucapkan kata 'Tua' dan niat membunuh tak sengaja terpancar kuat dari tubuhnya.
Kuro pun yang sedang tertidur langsung terbangun dan membuat postur bertarung.
“Tenang, maksudku kau masih tampak muda walaupun umur melebihi dua puluh tahun, aku kira kau berumur di bawah dua puluh tahun,” kata Rai dengan tenang seolah tidak peduli dengan emosi Lara.
“Emm … terima kasih~”
Dalam sekejap reaksi Lara berubah menjadi seorang gadis yang pemalu saat dipuji.
“Aku memang masih muda, wajahku saja masih imut seperti anak SMA yang baru masuk sekolah, hehe~” Lara bertingkah seperti anak kecil yang senang.
“Ya, benar.“ Rai berkata dengan ringan.
“Eh!“ Lara terkejut dengan persetujuan dari Rai bahwa dirinya imut.
“Aku memang imut dan cantik, kan?“ Lara bertanya lagi untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.
“Iya, benar, kau memang cantik, bahkan aku tidak pernah melihat wanita secantik dirimu.“ Rai mengangguk setuju sambil memandang wajah Lara.
Wajah Lara memerah bagai kepiting rebus, dan ia berkata di dalam hatinya, “Bukankah Rai mengaku padaku, bahwa aku wanita yang diidamkan olehnya? Aaaa! Aku senang sekali!“
Lara menjerit di dalam hatinya, dirinya swdang merasa bahagia dan senang mendengar kalimat Rai yang penuh pujian.
“Terima kasih, Rai~” Lara mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada Rai, tetapi ia berkata sambil menunduk malu dan tidak berani menatap mata Rai.
“Ya, sama-sama.“ Rai menggaruk pipinya tidak mengerti kenapa Lara bertingkah aneh lagi
“Sudah malam, Kuro pun sudah tertidur. Lebih baik kita tidur,” ujar Rai yang sedang memindahkan Kuro dari tasnya.
Rai menjadikan tas sebagai pengganti bantal dan menaruh Kuro di atas tubuhnya.
Karena Rai sudah bersiap untuk tidur, Lara pun ikut tidur, tetapi tidak dekat dengan Rai dan ada jarak di keduanya, minimal tiga meter.
“Selamat malam, Rai.“
Suara Lara terdengar oleh telinga Rai, dan Rai membalasnya tanpa berpikir. “Selamat malam, Lara.“
Rai tidak tahu bahwa Lara malam ini sedang bahagia hanya karena ucapannya.
Kemungkinan besar Lara akan mimpi indah malam ini.
Ketiganya memejamkan mata, dan Lara tersenyum selama ia tertidur sampai fajar terbit dari arah timur.
….
“Jalan ini akan membawa kita keluar dari Kota Talu Utara dan kita akan melakukan perjalanan sebenarnya menuju Kota Mopulu.“
Di perjalanan, lebih tepatnya di sebuah jalan layang yang membuat Rai merasa dejavu ketika melihatnya, mereka bertiga berjalan menyusuri jalan layang tersebut.
Lara menjelaskan tentang jalan dan area sekitar, sesekali ia menceritakan sebuah kisah yang sebenarnya tidak penting dan tidak berguna, tetapi Rai tetap mendengarkannya dan merespons.
Mereka berjalan terus menerus sampai sesuatu sosok terlihat tidak jauh di depan mereka.
Merasa janggal dengan sosok ini, Lara merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya.
Namun, Rai dan Lara terus berjalan mendekati sosok tersebut sehingga mereka bertiga melihat jelas sosok apa itu.
Sosok itu adalah tiga pria dengan bentuk tubuh yang berbeda, ada yang gemuk, kurus, dan berotot.
__ADS_1
Rai menatap mereka biasa saja, tetapi Lara menatap mereka bertiga dengan tatapan yang waspada.
“Akhirnya ketemu juga!“