LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 62: Bertemu Seorang Wanita


__ADS_3

Orang yang sedang dikejar puluhan monster tersebut adalah seorang wanita.


Di belakangnya terdapat puluhan monster tampak menyerupai kadal dengan ukuran besar, hewan reptil ini berkali-kali lipat lebih besar dari Komodo Dragon. Jika dikira oleh Rai, monster ini memiliki tinggi 2,5 meter dengan panjang 6 meter lebih.


Belum pernah Rai lihat monster yang semacam ini, monster baru akan dikenali kepada Rai.


Kadal berwarna hijau dengan keempat kakinya yang kuat, merayap cepat untuk mengejar seorang wanita muda yang cantik, gerakan wanita ini begitu lincah dan licin, akan tetapi … Rai melihat luka yang berdarah di tangan wanita tersebut.


Tanpa sengaja, kedua wanita yang telah mati itu terbayang-bayang di kepala Rai.


Wajah Rai menjadi tegas tercampur dengan amarah yang jelas, ia tidak ingin seorang wanita mati di depan matanya.


Rai langsung memutuskan untuk membantu wanita ini selagi posisinya tidak begitu jauh darinya.


Kuro segera bereaksi, ia sudah tahu niat Rai, sebab perasaannya seperti terhubung satu sama lain, dan bergegas mengubah bentuk tubuhnya menjadi mode bertarung maksimalnya, yang tidak lain dan tidak bukan, yaitu Sabertooth Raksasa.


Tangan Rai mengambil Methuragon dari tas dan mengubahnya menjadi tombak panjang diam-diam.


“Kuro, kau pergi ke bawah nanti aku akan menyusul.“ Rai menoleh ke samping dan berkata pada Kuro.


Roar!


Kuro meraung memberi tanda bahwa ia mengerti.


Sehabis itu ia berlari melalui tangga darurat dan bergegas cepat ke jalan.


Rai mengalihkan pandangannya dari Kuro yang telah menghilang dari atap kembali ke wanita yang masih berlari.


Karena jalanan ini begitu besar, panjang, dan lurus, Rai bisa melihat wanita yang ingin melewati gedung tempatnya berdiri.


Tombak panjang Methuragon diangkat perlahan, ujung tombak membidik monster kadal raksasa yang Rai perhatikan sedari tadi cakarnya hampir menyentuh wanita tersebut.


Sebagian besar kekuatan dan tenaga yang Rai miliki dialirkan pada bagian tangan kanannya yang memegang tombak.


Urat hijau timbul di tangan kanannya, jari-jari yang memegang tombak itu mengepal kuat.


Di sisi lain, wanita yang berusaha kabur dari kejaran monster-monster itu masih fokus pada pelariannya.


“Kenapa seperti ini?! Kondisiku selalu tidak beruntung! Aku belum pulih dari cedera, namun sekarang aku bertemu gerombolan reptil ini. Aku tak bisa menggunakan kekuatanku—akh!“


Luka robekan di tangan kiri wanita tersebut bereaksi dan menimbulkan rasa sakit pada saat wanita itu mengeluh tentang kondisinya sekarang.


Wajah itu terdistorsi, tampak menahan rasa sakit yang begitu kuat sembari terus berlari.


Wanita itu terus berlari sambil sesekali melihat ke belakang.


Begitu ia melihat ke belakang sekali lagi, wajahnya langsung menjadi jelek, sebab cakar salah satu monster hampir mendekati tubuhnya.


'Akankah aku berakhir di sini?' batin wanita tersebut di dalam hati.


Ia menduga akhir hidupnya di sini.


Begitu wanita tersebut berpikir seperti itu, sebuah siulan benda yang terlempar cepat berbunyi di telinganya, dan kemudian benturan terjadi di dekatnya.


Bang!


Sebuah tombak hitam menghancurkan dada monster yang ingin menjangkau tubuh wanita tersebut dan seketika itu mati.


Tidak sampai di situ, sebuah raungan keras berbunyi dari bangunan di depan wanita tersebut, dan kemudian sebuah makhluk besar berlari cepat, ke arahnya.


“Ada apa ini?!“ Sontak wanita itu bingung dengan keadaan ini dan ia bertanya-tanya dengan apa yang sedang terjadi.


Akan tetapi, pertanyaan langsung dijawab oleh adegan selanjutnya.


Makhluk besar berwarna hitam itu tidak menyerangnya melainkan menyerang gerombolan monster kadal di belakangnya.


Perhatian para monster kadal berhenti dari wanita tersebut dan mereka langsung terfokus pada monster berbuhulu hitam itu.


Dan wanita itu terus berlari menjauhi pertempuran antarmonster.


Tepat ketika wanita itu berhenti di kejauhan, dan hendak membuka mulutnya untuk berbicara, sesuatu pemandangan langsung menarik perhatiannya dan tak sempai berkata.

__ADS_1


Di gedung tempat monster hitam itu muncul, sesosok manusia turun dari gedung dengan cara yang tidak biasa, sosok itu hanya memakai kedua tangan dan kakinya untuk menuruni gedung dengan cara bergelantungan di sisi tepi tiap lantai.


Sosok ini tidak terlihat jelas sebab pencahayaan yang kurang di sekitar gedung, dan tak lama kemudian sosok itu mendarat di tanah dengan selamat dan berlari menuju ke arah wanita.


Wanita tersebut memperhatikan sosok ini dan perlahan penampilan sosok orang tersebut ditunjukkan di depan matanya.


Seorang pemuda yang memakai masker hitam, lalu mengenakan jaket hitam dan celana hitam, juga memakai sepatu hitam, dan membawa tas ransel di belakangnya, keseluruhan tampilan sosok tersebut memakai pakaian serba hitam.


Namun … saat wanita tersebut melihat mata pemuda itu, tubuhnya tersentak seakan-akan sedang tersengat aliran listrik yang kecil.


'Tampan sekali, melebihi orang itu~'


Wanita itu memandang pemuda dengan wajah yang sedikit merona, terlihat sedikit kehilangan akal karena terpana.


Pemuda itu adalah Rai yang telah sampai di jalan dan segera menghampiri wanita tersebut.


“Kamu tidak apa-apa, kan?“


Suara Rai secara langsung membangunkan wanita tersebut, dan membuatnya tersadar akan dengan sosok yang ada di depannya.


“Tidak apa-apa, hanya saja ada luka di lenganku.“ Wanita tersebut menjawab dengan lemah sambil melihat luka sobekan yang panjang di lengannya.


“Minum ini,” ucap Rai menyerahkan sebotol cairan berwarna merah muda ke depan wanita tersebut.


Begitu Rai melihat luka wanita tersebut, ia langsung membeli cairan penyembuhan ringan dengan harga 500 Koin Pembelian, cukup mahal harganya tetapi itu bukan masalah baginya yang masih memiliki Koin Pembelian yang banyak.


“Apa ini?“ Wanita tersebut tidak langsung mengambilnya dan bertanya dengan raut wajah yang agak curiga.


“Cairan penyembuhan, minumlah … lukamu akan sembuh seketika.“ Rai menjawab dengan jujur dan tanpa berekspresi yang mencurigakan.


Wajahnya datar tanpa senyum saat mengatakan kalimat tersebut.


Wanita di depannya belum juga mengambil botol yang diserahkan Rai, dan matanya terus melirik antara Rai dan botol tersebut.


Menatap wajah dan botol di tangan pemuda di depannya, wanita itu bergumam di dalam hatinya, 'Bisakan pemuda tampan ini dipercaya? Aku masih takut dengan orang yang tampan, biasanya mereka orang yang munafik.'


Di dalam hatinya, dua pemikiran saling beradu, antara menerima dan menolaknya, namun setelah sekian lama terdiam dan merenung, wanita tersebut memutuskan untuk menerimanya.


“Emm … baiklah, aku akan meminumnya.“ Tangan putih yang sedikit kotor itu melambai dan mengambil botol yang ada di tangan Rai.


“Minum seperti air biasa, jangan lupa untuk membuka botolnya,” ujar Rai dengan ringan tanpa ada ekspresi dari wajahnya.


Tanpa memberi kesempatan wanita tersebut menjawab, sosok Rai sudah berlari meninggalkan wanita itu seolah tidak peduli.


Pandangan wanita tersebut mengikuti arah Rai berlari, dan Rai berlari ke arah dua satu monster yang bertarung dengan gerombolan monster lainnya.


“Dia ingin ikut bertarung?“ tanya Wanita tersebut pada dirinya sendiri dengan heran.


Wanita itu duduk di atas bongkahan beton bangunan yang ada di dekat gedung tempat Rai tempati sebelumnya, lalu dia membuka penyumbat botol kaca, dan meminumnya dalam satu tegukkan.


Di tempat Kuro bertarung, ia sedang menghindari berbagai ekor panjang yang mengincar tubuhnya, karena kecepatannya yang lebih unggul dari mereka, Kuro masih bisa menghindar meski agak kesulitan.


Sebuah kilatan hitam datang di samping Kuro, dan monster kadal yang paling dekat kuro langsung hancur berantakan menjadi bongkahan daging kecil yang tersebar ke segala arah.


Roar!


Kuro yang melihat ini segera menjadi buas, karena ia tahu serangan tersebut berasal dari Rai.


“Ayo kita serang mereka, Kuro!“ Rai yang berlari di belakang Kuro berseru dengan energik.


Kuro melompat sembari mengangkat kedua cakar kaki depannya, dan dengan cakaran yang cepat, tubuh monster yang paling dekat dari Kuro seketika sedikit terbelah hampir terpotong.


Darah hijau menyemprotkan keluar ketika monster kadal itu terbelah, tetapi di detik berikutnya, tubuh kadal itu bersatu kembali menjadi sosok yang bebas luka, seakan-akan tak pernah dicakar oleh Kuro.


“Hati-hati, Kuro! Kau harus membunuh monster ini dengan serangan yang kuat hingga mampu membuat tubuh mereka hancur berkeping-keping.“


Rai segera mengetahui kemampuan monster kadal ini, selain regenerasi sel yang tinggi, monster kadal ini memiliki kemampuan yang sama dengan Huuzer Licker, yaitu lidahnya yang memiliki zat asam. Ekornya pun bisa menjadi senjata mereka ketika menyerang musuh.


“Sial! Monster ini berbeda levelnya dengan Huuzer Licker! Aku harus menambahkan nilai atribut!“ Rai bergumam kecil sembari menyerang dan menghindari berbagai serangan monster kadal.


Meskipun kecepatannya unggul, ia tidak menyerang mereka dengan maksimal mungkin, serangan mereka terlalu banyak sehingga membuatnya kesulitan untuk menyerang.

__ADS_1


“Tambahkan tiga poin pada Atribut Kecepatan dan Atribut Mental, dua untuk Atribut Ketahanan, dan empat untuk Atribut Kekuatan!“ Rai berkata pada Sistem.


[Ding! Poin Atribut berhasil Dialokasikan!]


Sebuah pengingat Sistem muncul di dalam benak Rai dan bersamaan dengan itu, sejumlah kekuatan melonjak di tubuhnya.


“Pembantaian dimulai!“ Rai yang merasakan kekuatannya bertambah, langsung menyeringai menyeramkan ke arah para monster.


Whooshhh!


Dalam satu kedipan mata, sosok Rai menghilang dan muncul di depan kepala monster kadal. Tombak ditangannya menghunus dengan cepat pada monster tersebut sehingga menciptakan kilatan hitam yang banyak.


Hanya dengan beberapa kali tarikan nafas, Rai berhasil memecahkan tubuh monster tersebut dengan tusukan tombaknya yang begitu cepat.


Mengabaikan mayat monster yang telah menjadi bubur daging, tombak Rai meluncur begitu cepat menyerang monster kadal yang lainnya. Kuro pun tidak mau kalah, asap hitam keluar dari tubuhnya dan membungkus seluruh bagian tubuh, matanya yang berbeda warna semakin terang, dalam sekejap gerakan Kuro makin cepat dan ia dengan cepat membunuh monster kadal yang menyerangnya.


Pemandangan ini begitu luar biasa, wanita yang sedang beristirahat di kejauhan pun tercengang, pandangannya terus terkunci pada sosok Rai yang begitu gesit membantai setiap monster kadal.


Di dalam hatinya, ia tidak bisa tidak mengagumi keterampilan bertarung Rai.


“Pria yang hebat~” Sebuah kalimat terucap dari bibir kecilnya yang cantik tanpa sadar.


Dan wanita tersebut memperhatikan Rai dan Kuro bertarung sampai selesai.


Lukanya yang telah mengering dan sembuh pun tidak disadari olehnya, fokusnya benar-benar teralihkan pada Rai.


Kurang dari setengah jam Rai bertempur melawan monster kadal, akhirnya kadal terakhir yang masih hidup Rai ubah menjadi potongan daging kubus yang kecil untuk makanan Kuro.


[Ding! Bunuh 42 Weak Lizeer (E+). Dapatkan +1470 Exp, +1470 Koin!]


Rai mengibas tombaknya dari darah hijau yang menempel pada bilah tombak, mendengar pemberitahuan Sistem, sebelah alis Rai naik dan sedikit terheran.


“Banyak sekali pengalaman dan koin didapatkan dari puluhan monster ini? Dan juga levelnya ternyata tinggi, tetapi … aku merasa cukup mudah mengalahkan mereka, apakah aku sudah sangat kuat?“


Rai berkata dengan heran dengan monster kadal yang telah mati ini, ia tak menyangka bahwa monster ini begitu tinggi levelnya.


Padahal ia sudah mengira level kekuatan level ini berada di E- ternyata itu lebih tinggi dari perkiraannya.


“Kau makan saja, Kuro. Seperti biasa aku akan menyimpan sebagian untukmu nanti.“ Rai berkata pada Kuro di depannya.


Tampak jelas wajah Kuro yang ingin sekali memakan daging kadal raksasa, tentu Rai tidak akan melarang.


Namun, ia tetap akan menyimpan sebagian daging untuk Kuro makan di hari berikutnya.


Rai tidak mempermasalahkan mengenai tasnya yang bisa menyimpan banyak barang diketahui oleh wanita tersebut, menurutnya sekarang ia kuat, wanita seperti itu tidak mungkin bisa merebut sesuatu darinya.


Kalau pria yang Rai tolongi, mungkin Rai akan mengurung niatnya untuk menyimpan potongan daging, karena pria biasanya lebih berbahaya ketimbang wanita.


Begitu selesai menyimpan daging-daging monster kadal, Rai berjalan perlahan menghampiri wanita yang terluka tadi.


Rai menatap mata wanita itu yang juga menatapnya sambil berjalan mendekat.


Kedua pasang mata saling memandang beberapa saat hingga akhirnya, wanita tersebut mengalihkan tatapannya dari Rai.


Sebagai orang yang perjaka, Rai tidak tahu apa arti dari tatapan mata wanita tadi. Jadi, ia merespons dengan tatapan mata yang biasa saja.


“Kau tidak apa-apa sekarang?“


“Tidak apa-apa, lukaku juga sudah menghilang.“ Wanita tersebut menjawab pertanyaan Rai dengan malu-malu.


“Emm~ terima kasih obatnya, aku berhutang budi padamu, aku pasti akan membalasnya,” tambah Wanita itu dengan wajahnya yang memerah.


Rai yang melihat ini pun baru sadar akan kecantikan wanita di depannya.


Wajah wanita ini sangat cantik, bahkan artis yang ada di dunia nyata tidak secantik ini, meski wajahnya terkena debu dan noda tanah, kecantikannya masih terpancar keluar.


Wanita yang berparas sangat cantik, memiliki wajah manis, mata hitam yang lembut dan indah, Alis runcing, bulu mata lentik, hidung kecil, bibir merah muda alami yang seksi, dagu manis, kulit putih tanpa cacat, rambut hitam panjang yang diikat setengah ekor kuda tanpa poni, terlihat energik dan bersemangat, juga terdapat rasa lemah dan pemalu secara bersamaan.


Memiliki penampilan yang memakai kemeja abu-abu lengan pendek dan celana hotpants hitam, sepatu boots pendek berwarna hitam. Di punggungnya terdapat ransel besar berwarna hijau yang berisi barang keperluannya.


Rai tidak memperhatikan boba yang cukup besar dimiliki wanita tersebut, bahkan kancing teratas kemejanya terlihat hampir ingin terlepas.

__ADS_1


__ADS_2