LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 89: Melawan Kera Besar


__ADS_3

“Baiklah, aku akan menghadapi monster ini.“ Rai melepaskan pelukannya pada Lara. “Kamu harus berjaga jarak dengan monster ini, kamu tahu sendiri bahwa monster ini berbahaya.“


Adegan tadi membuat Rai mengalami perasaan khawatir, tidak tahu nasib Lara apabila dirinya tidak sempat mengamankan sosok Lara ketika tabrakan hebat terjadi.


Kemungkinan besar Lara akan terhempas dan menabrak dengan kuat pohon-pohon besar di sini.


“Aku mengerti, Rai.“ Lara mengangguk tegas. “Tetapi … aku boleh ikut bertarung bersama, kan? Aku janji aku tidak akan menjadi beban.“


“Terserah kamu, terpenting kamu bisa jaga diri selagi aku bertarung.“


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, sosok Rai menghilang di tempat, dan muncul di jarak beberapa meter di depan Lara.


Mata Lara secara perlahan berubah, manik matanya mengkilap dengan cahaya dingin dan tajam, alisnya bertaut dengan tatapan yang tegas, saat ini Lara telah mengaktifkan mode seriusnya.


Whoosh!


Pada saat Rai berlari cepat ke tempat Kuro dan Monster tidak dikenal tersebut sedang bertarung, Rai telah menyadari gerakan Lara, tetapi ia biarkan karena itu memang kemauannya.


Rai mengangkat tombak Methuragon yang menjadi penopang diri ketika ia terhempas oleh angin kuat hasil dari benturan Kuro dan Monster Kera Raksasa.


Tombak tersebut siap membidik tubuh besar Monster Kera Raksasa.


Srett!


Kaki Rai berhenti berlari dan sosok Rai berdiri di belasan meter dari jarak kedua monster tersebut bertarung.


Di detik berikutnya, tombak Rai dilempar dengan sekuat tenaganya ke arah Monster Kera Raksasa, senjata tersebut meluncur dengan kecepatan yang tinggi.


Kuro yang sedang menggigit tangan kiri monster tersebut sadar dengan tombak yang terbang.


Tubuh besarnya yang telah dipukul beberapa kali oleh Monster Kera itu mengeluarkan sejumlah kekuatan dorongan yang begitu besar sehingga tubuh Monster Kera Raksasa tersebut berpindah.


Jleb!


Tombak Rai menusuk kuat dada kokoh monster kera itu hingga membuat lubang kecil di dadanya.


Kuro berhasil menggerakkan paksa tubuh monster dengan kekuatannya dan membuat tombak mengenai dada monster.


Akibat tindakan Kuro, tombak berhasil melukai monster tersebut.


Akan tetapi, tombak Rai tidak sukses membuat mati monster ini, pasalnya monster ini masih berdiri dan menatap Kuro dengan marah.


Graaahhh!


Monster tersebut menghempaskan Kuro yang menggigit tangannya dengan pukulan tangan kanannya.


Ngik!


Kuro memekik kesakitan akibat serangan ini, dan sosok terpental hingga jatuh ke tanah.


“Kuro!“ Rai berteriak keras lalu dengan cepat berlari mendatangi Kuro.

__ADS_1


Rai melihat kondisi Kuro yang terluka, luka berdarah yang ada di sekujur tubuh Kuro tidak terlalu parah dan sedikit jumlahnya, sepertinya Kuro mengalami luka lebam dan memar yang cukup parah.


“Kuro, tolong bilang padaku bahwa kamu tidak apa-apa!“ Rai berkata dengan panik sambil memandangi Kuro yang terpejam.


Ketika Rai mengatakan itu, tubuh Kuro bergetar dan tak lama kemudian Kuro berusaha bangkit.


Melihat ini, Rai langsung menghela napas lega dan kekhawatirannya perlahan berkurang. “Kamu di sini saja, kamu tidak perlu ikut bertarung begitu intens, pulihkan cederamu terlebih dahulu.“


Setelah mengatakan itu, Rai mengeluarkan beberapa potongan daging monster untuk membantu Kuro memulihkan luka.


Alasan kenapa Rai tidak memberikan cairan penyembuhan untuk Kuro, itu dikarenakan cairan penyembuhan tidak efektif untuk menyembuhkan Kuro, efeknya tidak maksimal bahkan Kuro hanya mendapatkan sedikit manfaat dari cairan tersebut.


Oleh sebab itu, Rai memberikan potongan daging untuk Kuro, daging monster dapat menyembuhkan luka Kuro secara bertahap meskipun tidak cepat.


“Bawa daging-daging ini, pindahkan ke tempat yang aman, aku akan melawan si besar ini.“


Grrr!


Kuro merespons dengan geraman pelan pada Rai dan ia menggigit potongan daging di mulutnya.


“Aku akan meminta Lara untuk memberimu daging lagi apabila kamu masih merasa kurang!“


Tepat ketika ucapan itu keluar, keduanya berpisah dan mulai bergerak sesuai dengan tugasnya masing-masing.


Rai melihat Lara sedang bertukar serangan dengan monster besar ini, tanpa disadari olehnya Lara menahan monster besar ini untuk tidak menyerang Kuro dan Rai yang sedang berinteraksi.


Lara menahan monster dengan gerakannya yang cukup lincah dan api putihnya. Meskipun api putih Lara digunakan, Lara masih terlihat menahan kemampuannya dan digunakan dengan seminimal mungkin.


Entah kenapa dan alasan apa Lara melakukan hal itu, sudah lama Lara berperilaku sama selama menjadi tim Rai, apinya sangat jarang digunakan, sekali digunakan pun tidak brutal apalagi boros.


Tinju besar monster tersebut menghantam tanah yang adalah tempat Lara berdiri.


Debu dan tanah berhamburan sehingga membuat asap debu beterbangan dan lingkungan menjadi tertutupi kabut debu.


Tidak jauh dari Monster Kera Raksasa berdiri, Rai dan Lara sedang berdiri berhadapan seperti sedang berbicara.


“Ambil tasku, aku minta tolong kepadamu apabila Kuro ingin makan daging, tolong ambilkan dan beri Kuro daging.“ Rai menyerahkan tasnya kepada Lara. “Terima kasih sudah menahan dia untukku, aku menghormati itu.“


“Baik. Sama-sama, sudah menjadi tugasku sebagai anggota tim,” kata Lara sambil tersenyum.


“Sering-seringlah ke tempat yang aman, jika ingin membantuku kamu harus tetap berjaga jarak dengan monsternya.“


Rai mengatakan nasihat yang sama kepada Lara. Matanya begitu serius dan tegas ketika berbicara kepada Lara.


Lara mengangguk kejam tanda dirinya mengerti.


“Kalau begitu … menjauh dari area pertempuran.“


Asap menghilang sepenuhnya dan sosok Lara sedang berlari untuk menjauh dari Rai.


Monster Kera Raksasa ini menatap Rai yang tidak lagi bersembunyi di balik asap debu. Hidung monster yang besar itu mengecil dan membesar seraya mengeluarkan angin hangat ketika melihat sosok Rai.

__ADS_1


Luka yang didapatkan dari tombak Rai masih ada dan belum sembuh, tampaknya monster ini tidak memiliki kemampuan regenerasi, seharusnya ini menjadi lebih mudah.


“Lawanmu adalah aku, mari kita mulai pertarungan,” kata Rai dengan pandangan yang tajam.


Krahhh!


Monster tersebut berteriak keras melampiaskan kemarahannya yang tidak tertahankan, Monster Kera Raksasa ini ingat jelas siapa yang membuatnya terluka separah ini, sebab itulah ia memiliki reaksi berbeda ketika melihat Rai saat ini.


Whooshhh!


Monster tersebut melompat menuju Rai secara mendadak.


Rai segera bereaksi dengan cepat dan berhasil menghindar dengan mudah.


Bam!


Tubuh besar itu mendarat sambil menghantam tanah tempat Rai berdiri sebelumnya.


Sebuah lubang berukuran beberapa meter dengan retakan di sekelilingnya tercipta oleh tinju besar tersebut, tidak terbayangkan kalau Rai terkena dengan telak pukulan besar ini, mungkin luka berat akan didapatkan oleh Rai.


“Seharusnya pukulan ini memiliki berat hanya puluhan ton saja, aku rasa sebanding dengan kekuatan penuhku sekarang.“ Rai menatap dua tinjunya yang terkepal kuat.


Cahaya keyakinan yang kuat melintas di matanya, ia berpikir dapat membunuh monster satu ini dengan mudah.


Tombaknya tertancap di sebuah pohon yang jaraknya cukup jauh darinya, Rai tidak bisa ke sana untuk mengambilnya, sebab ada Monster besar yang jelek yang selalu menghadangnya.


Mau tidak mau Rai harus menggunakan tinjunya dan kekuatan telekinesisnya. Kemungkinan Rai akan menggunakan Majestic of Mind secara halus dan diam-diam.


Ia masih belum siap menunjukkan dua kemampuan lainnya yang dipunya.


Kraahhh!


Monster Kera Raksasa makin marah dan ia menyerang Rai dengan intensitas yang tinggi.


Rai lebih banyak bertahan dan menghindar dalam pertempuran ini, membiarkan monster tersebut menyerangnya bertubi-tubi.


Walaupun demikian, Rai sesekali memukul tubuh monster tersebut dengan tangannya sebagai bentuk perlawanan.


Beruntungnya kecepatan Rai masih di atas monster tersebut walaupun selisih kecepatan gerak di antara keduanya berbeda tipis.


Tetap saja, Rai memiliki keunggulan dalam pertempuran ini, ia masih memiliki poin untuk ditambahkan atributnya terlebih ukurannya yang kecil dapat bergerak licin dalam menghindari serangan.


Bam! Bam! Bam!


Tinju demi tinju dilontarkan oleh monster tersebut sehingga banyak lubang di tanah yang tercipta karenanya.


Rai sama sekali tidak terkena serangan monster dan masih rapih tanpa tersentuh sedikit pun.


Graaahhh!


Monster itu muak dengan pertarungan ini dan berhenti menyerang Rai. Ia merasa staminanya perlahan terkuras setelah melakukan melakukan serangan yang begitu liar tanpa terkontrol dan terkoordinasi.

__ADS_1


Berdiri tegak memandang Rai di depannya, dadanya kembang-kempis akibat faktor kelelahan, matanya yang kuning telah berubah menjadi merah, tanda kemarahan sudah mendominasi tubuhnya.


“Sepertinya kamu sudah lelah, wahai kera.“


__ADS_2