LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 41: Begadang Semalam


__ADS_3

Mengangkat kepalanya, melirik Rai yang ada di dekat pintu kamar, lalu dia kembali melanjutkan pembicaraan.


“Seharusnya kau mengerti, kenapa kota Lhee Barat hancur lebih dahulu sebelum datangnya bantuan.“ Loret tersenyum pada Rai dan berkata.


“Aku paham.“ Rai mengangguk mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Loret ini.


“Akses jalan terbatas, membuat para bantuan terlambat datang untuk membantu kelompok tentara Kota Lhee Barat dan Lhee Selatan.“ Loret menggelengkan kepalanya, menyayangkan peristiwa ini terjadi.


“Fasilitas dan infrastruktur memang hal yang penting untuk sebuah wilayah atau daerah, tapi lebih penting kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, ketimbang itu semua.“


Kertasnya ia lipat dan dia masukkan kembali ke dalam tasnya yang sudah jelek.


Bangkit dari lantai, loret melempar tasnya ke sudut ruangan, lalu dia berjalan ke ruang kecil yang ada di kamar ini, Loret pergi untuk membuang air kecil.


“Tak disangka aku mendapatkan banyak informasi dari mereka berdua, tapi aku tidak akan menampilkan kekuatanku sekarang, meski mereka terlihat baik sekarang, belum tentu ke depannya tetap sama.“ Rai bergumam dengan nada yang bisik-bisik.


Ia berkata kepada dirinya sendiri.


Di saat hari-hari terakhir dunia, sulit untuk mencari orang yang benar-benar dipercaya. Manusia di akhir dunia ini telah banyak yang hilang perikemanusiaannya, mereka hidup layaknya hewan karena tatanan yang lama tidak berlaku, dan hukum alam yang dijunjung tinggi.


Di mana yang kuat yang berkuasa dan yang lemah yang ditindas. Di mana manusia melakukan perbuatan yang tidak terpuji seenaknya tanpa memikirkan kerugiannya, berkembang biak di mana-mana, wanita sudah tidak lagi dianggap sebagai manusia.


Orang baik-baik yang ada sangat sulit dicari, bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami.


“Kau tidak buang air kecil?“ Loret kembali dari ruangan itu dan bertanya pada Rai.


“Di sana masih ada kain untuk mengelap,” ucap Loret memberi tahu Rai.


“Tidak,” jawab Rai sambil menggelengkan kepalanya.


Rai tidak butuh buang air besar atau pun kecil, tubuhnya bisa menahan kebutuhan fisiologis manusia, bahkan sebenarnya ia bisa saja untuk tidak mengeluarkan kotoran.


Tapi entah kenapa, semakin dirinya kuat semakin jarang dia membuang hajat.


Selain itu, setelah dirinya makan, Rai merasa fisiknya bugar lagi seperti awal sebelum bertarung.


Dengan ini Rai dapat berasumsi mengenai kondisinya, bahwa makanan yang dia konsumsi akan diserap menjadi energi secara langsung dan instan, prosesnya tidak lama seperti manusia normal.


“Oke, kalau begitu.“ Loret mengangguk dan tidak berbicara mengenai buang air kecil.


“Tadi kita sampai mana?“ Loret bertanya pada Rai nampak malu.


“Akses jalan kota Lhee.“ Rai menjawab dengan benar, sesuai dengan ingatannya.


“Benar, aku lupa.“ Tangan Loret menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Oke, mari kita lanjutkan pembicaraan ini.“


Duduk bersila di lantai, pandangannya kembali lagi pada beberapa kertas yang ada di tangannya, lalu mulutnya bergerak, “Akses jalan yang susah bukan hanya di kota Lhee saja, asal kau tahu.“


“Kota Mopulu yang adalah kota paling miskin dari ketiga belas daerah kota. Akses jalan di kota itu pun sulit, terlebih lagi daerah Mopulu yang luas, hanya ada satu kota ….“


“Tahan sebentar, aku ingin bertanya sesuatu,” potong Rai yang penasaran dengan salah satu informasi yang telah diberi tahu oleh Loret.


“Sebenarnya, ada berapa kota Lhee itu?“ tanya Rai penasaran.


“Oh, itu ….“ Loret mencari kertas yang dia pegang sebelum dia melanjutkan, “…. Dari kertas ini, diinformasikan bahwa kota Lhee memiliki lima kota.“


Melihat kembali pada Rai dan dia memberikan jawaban dari pertanyaan yang Rai lontarkan.


“Apa saja?“


“Kota Lhee terdiri dari lima kota dengan lokasi tempat yang berbeda. Wilayah Lhee bagian paling barat terdapat Kota Lhee Barat, wilayah selatan ada Kota Lhee Selatan, wilayah timur dibangun Kota Lhee Timur, dan sesuai dengan bagian wilayahnya masing-masing pasti memiliki kotanya masing-masing juga … hingga akhirnya bagian tengah terdapat Kota Lhee Pusat yang adalah tempat kita berada sekarang.“


Setelah mengatakan itu, Loret melipat kertas-kertas yang ada di tangannya, kertas yang terlipat itu dimasukkan ke dalam tasnya.


“Semua kota di dunia ini belum sepenuhnya menguasai wilayah dunia, karena hutan masih mendominasi di setiap wilayah.“


Mengangkat tasnya, Loret memeluk tasnya yang usang di dadanya. Senjata besi yang tumpul dan dimodifikasi itu Loret ambil dan diletakkan di atas pahanya.

__ADS_1


“Omong-omong, kalian berdua berasal dari mana?“


Hal yang ditanyakan Rai kali ini adalah sesuatu yang ingin sekali ditanyakan oleh Rai semenjak Loret memberinya informasi.


“Kami? Kami berdua berasal dari tempat yang sama, yaitu Kota Lhee Selatan.“ Loret menjawab dengan wajah yang biasa saja, tanpa adanya emosi yang mencolok.


Rai kira Loret akan sulit menjawab dari mana mereka berasal, ternyata pemuda di depannya ini dapat menjawabnya tanpa menahan.


“Kota Lhee Selatan?“ Nama kota ini, Rai sebut lagi karena dia terheran dengan tempat asal kedua orang yang dia temui hari ini.


Satu alis Loret terangkat tanpa sadar, dan dia menatap Rai. “Kau mungkin terkejut, kan?“


Respon Rai tadi dapat mudah diartikan oleh Loret, nampaknya Rai sedikit terkejut dan heran atau mungkin aneh dengannya.


“Setiap kota pastinya memiliki orang-orang yang saling bertemu dan membuat kelompok bertahan hidup. Meski kota Lhee Selatan yang pernah aku bilang ialah salah satu kota yang pertama kali dijatuhkan oleh monster, namun di sana bukannya tak ada kehidupan.


Pasti ada saja orang yang bertahan, walaupun sedikit.“


Pemuda ini terlalu banyak memiliki informasi, dari perkataannya Rai mendapatkan banyak sekali informasi yang penting, bukan berarti Rai akan memercayai seratu persen segala sesuatu yang telah diberitahukan oleh pemuda bernama Loret ini. Prinsipnya Rai akan setengah-setengah dalam meyakini sesuatu, apalagi masalah informasi yang sifatnya terkadang subjektif.


Sementara waktu ini, Rai menjadikan informasi tentang dunia yang didapatkan dari Loret sebagai landasan atau standar, apakah jika dia bertemu orang lain informasinya sesuai dengan apa yang telah dikatakan Loret.


“Kalian berdua dari kelompok itu?“ Tiba-tiba Rai bertanya lagi.


“Ya, tapi kita telah berpisah, ada sesuatu yang membuat kami berdua pergi dari kelompok itu.


Setiap orang memiliki pendapat dan tujuan masing-masing, dan ternyata kami berdua tidak lagi memiliki satu kepentingan dan tujuan yang sama dengan kelompok itu, jadi kita memisahkan diri.“


Mendengar jawaban yang Loret berikan, Rai mengangguk memahami.


Ternyata kedua pemuda ini memiliki pengalaman dalam sebuah kelompok di situasi kacau seperti ini.


Setelah mengatakan itu, Loret diam dan tak lagi mengoceh banyak, mungkin dia telah lelah setelah banyak berkata dalam satu hari ini.


Besok mereka akan pergi, jadi dia harus menyimpan energi untuk bisa sampai ke kota Lhee Utara.


Suasana menjadi hening dan sepi, hanya ada suara dengkuran dari Flank yang tertidur pulas.


Rai juga tidak tidur malam ini. Sejujurnya Rai tidak lagi butuh tidur, hanya dengan istirahat seperti duduk dan tidak beraktivitas yang berlebihan ia sudah mengisi energinya yang telah hilang.


Tubuhnya benar-benar berbeda dengan tubuh manusia normal.


Perlahan kebutuhan manusia pada umumnya hilang, bukan-bukan … hanya tidak begitu diperlukan. Jika dia mau, dia masih bisa mengikuti seperti apa yang manusia lakukan, seperti tidur, makan, dan membuang ampas, semua itu masih bisa dilakukan.


“Tidak terasa pagi sudah memanggil kita.“ Loret yang memejamkan mata sejak lama, kini telah membuka matanya.


Sinar matahari yang terlihat sedikit remang-remang sudah memasuki ruangan mereka bertiga.


Rai yang semalam tidak tidur pun menikmati mentari yang menyambut mereka bertiga. Kuro yang asyik tertidur sedari malam hari akhirnya terbangun juga, anak kucing ini begitu suka dengan tidur dan istirahat.


“Pagi datang? Tidak terasa, padahal aku baru tidur pulas sejenak.“ Flank bangun dari kasur dan berkata sambil berjalan perlahan ke ruangan kecil.


Pemuda satu ini ingin membuang air kecil.


“Sejenak? Ada-ada saja beliau satu ini. Kau mendengkur dari semalam, apakah itu tidak tidur pulas?“ Loret berkata dengan wajah sedikit kesal.


“Ya-ya, tapi aku merasa tidurku hanya sebentar.“ Flank menyahut perkataan Loret dari ruangan kecil.


“Terserah apa katamu, Flank.“ Loret tersenyum tidak berdaya.


“Jangan lupa kau tutupi air seni milikmu dengan tanah yang ada di dalam,” ujar Loret mengingatkan Flank yang masih membuang air kecil.


“Oke!“


Suara Flank terdengar jelas dari ruangan kecil.


“Sebentar lagi kita akan berangkat, tapi sebelum itu, kita harus sarapan.“ Loret tiba-tiba berkata pada Rai.


“Kau masih memiliki makanan?“ tanya Loret yang sedang membuka ritsleting tasnya.

__ADS_1


“Kenapa?“


“Jika sudah habis, aku masih ada daging sisa. Apa kau mau?“


Loret mengeluarkan sebuah benda bulat yang dibungkus kain sedikit bersih, dan menawarkan pada Rai.


“Daging apa ini?“ Rai menatap daging yang dibungkus kain yang ada di tangan Loret.


Sebelum menerima pemberian orang yang tak dikenal, kita seharusnya bertanya untuk berjaga-jaga.


“Daging ayam, ini hasil tangkapan kami dari kota Lhee Selatan,” jawab Loret ringan sambil membuka kain yang membungkus daging itu.


Lalu tangannya mencubit daging, mengambil sedikit daging dan memasukkan ke dalam mulut, setelah itu ia kunyah.


“Masih enak, kau mau?“


Loret mengedepankan daging di tangannya ke arah Rai.


“Boleh,” balas Rai yang sedikit tertarik dengan makanan Loret.


Ternyata di dunia ini masih ada ayam, Rai kira ayam dan sejenisnya sudah tidak ada lagi. Dugaannya salah, dan juga tidak terpikirkan oleh Rai bahwasanya ayam masih ada dan bisa ditangkap.


“Ambil ini.“ Merobek daging ayam di tangannya, lalu Loret melemparkannya kepada Rai.


Daging yang ada di udara itu langsung Rai ambil dan masukkan ke dalam mulutnya.


Rasa daging ayam langsung terasa oleh lidahnya, tapi daging ini sudah tak enak lagi, rasanya sama seperti daging yang telah busuk.


“Memang rasanya sangat berbeda dengan makanan yang kamu berikan pada kami berdua.“


Wajah Rai yang berubah-ubah dan nampak aneh dengan makanan yang sedang dikunyah membuat Loret mengerti pemuda ini tidak menyukai daging yang diberikan olehnya.


“Maaf, aku tidak bisa memakannya.“


Daging yang ada di mulutnya, dikeluarkan oleh Rai.


Saat ingin dibuang, Kuro yang duduk di atas pahanya dengan cepat menyambar daging itu dan menelannya.


“Nampaknya kucingmu suka.“ Loret tersenyum saat melihat Kuro yang mengambil makanan bekas Rai dan berkata.


“Dia sangat menyukai daging-dagingan,” kata Rai sambil tersenyum.


“Kalau begitu, aku akan memakan makananku. Maaf, kalau kau tak menyukai makanan dariku.“ Loret memandang Rai dan berkata sedikit menyesal.


“Bukan masalah, aku juga meminta maaf karena aku tidak memakan apa yang kamu berikan.“ Rai berkata sedikit bersalah karena telah menolak apa yang diberikan oleh Loret.


“Aku akan memakan ini, selamat makan.“


Loret mengangkat makanan dan dia melahap daging miliknya.


“Kau tidak makan, Rai?“


Flank yang baru keluar dari ruangan kecil itu, dan langsung bertanya pada Rai.


“Nanti saja,” jawab Rai ringan.


Kedua orang ini sangat baik padanya, meski asing mereka tetap memberi perhatian kecil padanya, Rai menghormati perilaku mereka terhadapnya.


“Masalahnya dagingku juga sama dengan Loret, jika tidak, aku akan memberikanmu daging ini.“


Mengeluarkan daging yang terbungkus kain bersih dan Flank berkata.


Daging ayam mereka berdua memang satu sumber, tidak berbeda satu dengan yang lain.


“Aku makan dulu, Rai.“


Flank berkata sebelum menyantap daging yang ada di tangannya.


Melihat mereka berdua yang sedang makan daging yang sudah lama dengan wajah yang menikmati, hati nurani Rai muncul kembali.

__ADS_1


Mereka berdua mengingatkannya pada Kakek penjual bantal yang sulit untuk mencari makanan.


__ADS_2