LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 54: Senjata Methuragon


__ADS_3

Ruangan besar dengan satu pintu yang telah rusak dan tergeletak di lantai Rai masuki dengan tenang tanpa rasa takut.


Sebelum memasuki sebuah ruangan ia pasti sudah menggunakan kemampuan telekinesisnya yang bisa mendeteksi makhluk hidup yang ada di dalamnya, sehingga Rai bisa tenang saat memasuki ruangan tersebut.


Meskipun ia tenang di luar, tapi kewaspadaan tetap Rai jaga tanpa berkurang.


Sinar lampu senter membantu Rai dalam pemeriksaan sebuah ruangan, di dalam ruangan yang besar ini sudah banyak ditumbuhi tanaman merambat dan lumut hijau.


Dari tampilan barang-barang rusak yang tersebar di dalam ruangan ini, kebanyakan dari barang yang ada di sini adalah meja dan kursi yang telah terbelah atau pun hancur, dan beberapa barang hiasan yang terbuat dari kaca atau keramik.


Bisa ditebak olehnya bahwa ruangan ini digunakan untuk para karyawan yang bekerja yang khusus menggunakan komputer, pekerjaan ini erat kaitannya dengan kerja di perkantoran.


Gedung ini sudah dapat dikenali sebagai gedung dari sebuah perusahaan atau gedung penyewaan kantor.


Tiga menit terpakai untuk memeriksa ruangan besar yang pertama kali Rai masuki untuk pencarian sesuatu yang penting.


Setelah memeriksa ruangan besar ini yang tanpa hasil, ruangan selanjutnya Rai eksplorasi dengan format metode yang sama, menyebarkan kekuatan telekinesisnya untuk meraba, memasuki ruangan, dan memeriksa barang yang berguna untuk perjalanan.


Hasilnya pun sama, tak ada yang ia peroleh dari ruangan tersebut.


Berpindah lagi ke ruangan lainnya, metode yang telah dia tetapkan terus digunakan sampai akhirnya semua ruangan yang berada di lantai 19 ini telah Rai eksplorasi.


Tidak ada hasil dari pemeriksaan ruangan di lantai 19 ini, tak ada satu pun barang yang sedikitnya berguna Rai temui selama pemeriksaan, hanya ada sampah dan puing barang yang hancur berantakan.


“Sudah kenyang, Kuro?“


Kembali dari ruangan terakhir yang ia periksa, Rai langsung pergi menuju tempat Kuro sedang memakan daging monster, dan berkata pada Kuro setelah bertemu.


'Miaw.'


Mendengar pertanyaan Rai, respon Kuro adalah sebuah gerakan menggelengkan kepala, sebagai tanda bahwa ia belum kenyang.


“Masih ada puluhan potong daging, nanti kau akan makan di dalam tenda kemah. Ayo kita pergi ke atas sana.“ Rai berjongkok sembari mengelus bulu lembut di tengkuk leher Kuro.


'Miaw!'


Kuro mengeong selepas mendengar ucapan Rai, rasanya Kuro bersemangat untuk memakan potongan daging yang telah disimpan di dalam tas Rai.


Selanjutnya Kuro menaiki tubuh Rai sampai ke bahu kanannya yang lebar dan Kuro duduk dengan tentram.


Senyum kecil muncul di wajah Rai, menggelengkan kepalanya, lalu Rai berjalan menuju tangga darurat.


Terdapat pintu yang terbuat dari besi di ujung tangga darurat, pintu ini adalah pintu atap gedung. Pada umumnya di balik pintu ini terdapat atap yang hanya ada tempat penyimpanan air yang besar.


Krieeett!


Mendorong pintu besi dengan perlahan diiringi bunyi engsel pintu yang berkarat, sebuah pemandangan atap terlihat di dalam penglihatannya.


“Meja rusak?“


Begitu ia membuka pintu, sebuah pemandangan atap dengan puluhan meja beserta kursi yang rusak terpampang jelas di depan matanya.


Rai tahu atap ini digunakan untuk apa, selain atap yang berguna untuk melindungi bangunan dari hujan atau pun cuaca panas dan sejenisnya, atap ini dipakai untuk menjual makanan atau bisa dikatakan sebuah restoran.


Di kejauhan Rai bisa melihat sebuah lift, sudah jelas lift yang ada di sini untuk pengunjung bisa datang ke sini, tidak mungkin mereka ke sini melalui tangga darurat.


Rai berjalan menyisir area sekitar atap, siapa tahu ia menemukan barang yang penting di sini.


Beberapa menit kemudian, Rai telah memeriksa setiap sudut area atap.


“Tidak ada mayat di sini, hanya ada beberapa sobekan kain.“


“Tapi diingat lagi, selama aku melakukan eksplorasi bangunan di kota Lhee Pusat dan Kota ini, jarang sekali aku menemukan mayat manusia, bukan jarang tetapi memang tidak pernah, hanya beberapa kali aku melihat kerangka tulang manusia yang masih utuh.“ Rai berdiri di pinggir atap menghadap ke arah tumpukan sampah meja kayu yang telah ia kumpulkan beberapa puing, dan bergumam memikirkan hal tersebut.


Mencari barang penting sekaligus mengumpulkan puing dan memindahkannya ke satu area untuk mengosongkan lahan supaya ia bisa mendirikan tenda kemah di sana.


“Mungkinkah semua orang yang tidak selamat langsung bermutasi menjadi zombie atau monster mutan?“ Rai mengerutkan keningnya ketika memikirkan hal ini.


Dugaannya memiliki probabilitas yang mendekati kebenaran, pasalnya memang Rai tak pernah menemukan mayat yang masih tersisa dagingnya, bukan hanya kerang tulang saja.


Kemungkinan besar asumsi Rai itu benar, dengan berdasarkan bukti yang ada dan pengamatan yang secara langsung.


Menggelengkan kepala, menyisihkan pikiran yang ada di dalam benaknya, kaki Rai melangkah ke depan menuju lahan kosong yang telah ia bersihkan.


Membuka tasnya ia mengambil tenda kemah yang masih digulung, lalu ia melemparkan tenda kemah ke tengah lahan kosong begitu saja.


Bam!

__ADS_1


Tenda kemah langsung berdiri dan siap dipakai untuk istirahat Rai malam ini.


Cara pakai tenda kemah ini cukup praktis dan juga sangat magis.


Setelah memastikan area atap telah bebas dari ancaman monster dan sejenisnya, Rai dan kuro memasuki tenda kemah bersama, dan sekali lagi melirik untuk memeriksa keamanan area luar sebelum menutup tenda.


“Makan ini, Kuro.“


Potongan daging monster dilemparkan oleh Rai kepada Kuro yang duduk di atas karpet berbulu.


Melihat potongan daging yang terbang ke arahnya, dengan sigap Kuro melompat dan menangkap daging dengan mulutnya begitu tepat.


Beberapa kunyahan daging itu lenyap dari mulut Kuro, lalu potongan daging yang lainnya terbang ke arahnya dengan reaksinya yang cepat Kuro segera menangkapnya.


Gerakan Rai dan Kuro sangat tersinkronisasi dengan baik, setiap Kuro sudah menelan daging, Rai akan melemparkan potongan daging, meskipun ia melakukannya sembari melihat ponselnya yang di tangan kanannya.


Perhatian Rai bisa dibagi menjadi dua kegiatan, mirip dengan seorang wanita yang biasanya mampu melakukan multitasking atau multiworking dalam satu waktu bersamaan.


Hal ini memang Rai latih agar ia tidak begitu bergantung kepada orang lain untuk melakukan sesuatu, jadi ia bisa melakukan sesuatu yang lain dalam satu waktu tanpa terganggu.


Kegiatan ini terbilang latihan yang sederhana dan efesien tanpa mengeluarkan usaha lebih dan hasil yang pasti.


Potongan demi potongan Kuro makan, tak terasa daging yang tersimpan di dalam tas Rai sudah habis tidak tersisa.


“Sudah kenyang sekarang?“ tanya Rai pada Kuro yang sedang menjilati moncong dan kedua kaki depannya di atas karpet.


'Meong!'


Kuro memberhentikan gerakannya sesaat untuk merespon Rai, lalu ia melanjutkan lagi kegiatannya.


“Oke, aku juga ingin bermain permainan.“ Rai bersandar di papan sandar tempat tidur.


Keluar dari halaman galeri, Rai mengetuk permainan tembak-menembak yang telah diinstal oleh Sistem dari bawaan ponselnya.


Ketika menekan permainan tersebut, sebuah pertanyaan sekelebat muncul di benaknya.


“Sistem, di Mall System memiliki banyak makanan dan juga beberapa barang yang lain, lalu apakah ada senjata api seperti M4 atau AK-47?“ tanya Rai pada Sistem.


[Ding! Maaf, Tuan Rumah. Tdak ada senjata api atau yang semacamnya.]


[Sistem hanya menyediakan makanan dan kebutuhan pokok.]


Ternyata di Mall System tidak tersedia senjata api dan senjata yang lainnya, tetapi Rai heran dengan Sistem, pasalnya senjata Methuragon berasal dari pemberian Sistem.


Mengapa Mall System tidak menyediakan senjata, sedangkan senjata yang sekarang ia miliki itu dari sana?


Cukup aneh dan membingungkan.


Ketika merenungkan hal ini, ia segera bertanya lagi pada Sistem, tidak ingin memikirkan hal tersebut, lebih baik bertanya kepada sumbernya.


“Senjata Methuragon ini kenapa ada di kamu, Sistem? Padahal kau tidak menyediakan senjata api dan sejenisnya.“ Rai bertanya pada Sistem dengan ekspresi yang bingung.


[Ding! Senjata Methuragon satu-satunya senjata yang ada di Sistem, selain dari senjata tersebut Sistem tidak menyediakannya.]


Setelah mendengar jawaban Sistem, sebuah pertanyaan baru muncul di dalam pikirannya, dan berkata, “Apa alasannya? Kenapa senjata Methuragon ada padamu, Sistem?“


Rai memegang pedang Methuragon dapam bentuk Longsword mode pertama, yaitu satu pedang dan tidak terbagi menjadi dua pedang.


[Ding! Sistem tak bisa memberitahukan alasannya, Tuan Rumah akan mengetahuinya nanti.]


Kini jawaban Sistem membuat Rai penasaran, dari kalimatnya saja terdapat sebuah misteri atau rahasia yang Rai tidak ketahui saat ini.


“Maksudmu aku akan mengetahuinya nanti? Kapan peristiwa aku mengetahui persoalan itu terjadi?“


Sangking penasarannya akan hal ini, Rai sekali lagi bertanya, namun beberapa saat Ri menunggu jawaban, suara Sistem tidak lagi muncul.


Tampaknya Sistem menyembunyikan misteri senjata yang diberikan kepadanya, rasa keingintahuan membeludak di dalam diri Rai, sehingga bermain permainan pun menjadi tidak fokus, sebab pikirannya melayang dan tersangkut di persoalan terkait senjata Methuragon.


Mengabaikan Sistem yang tidak muncul kembali, pedangnya Rai dirikan dan disandarkan ke lemari kecil di samping tempat tidur, selepas itu Rai membuka hoodie hitamdan celana panjang bahan berwarna hitamnya, dan dia lempar ke atas tas yang ia taruh bersandar pada tempat tidur.


“Sudah mandinya, Kuro?“ Rai menoleh pada Kuro yang masih menjilati tubuhnya, kali ini ia tengah menjilati bagian perutnya.


'Miaw!'


Kuro berhenti menjilati tubuhnya begitu ia mendengar suara Rai yang ditujukan kepadanya.


“Sekarang telah memasuki waktu malam, ayo kita tidur.“

__ADS_1


Setelah Rai mengatakan itu, ia meletakkan ponselnya di atas lemari kecil di samping tempat tidur, lalu tangannya menjangkau selimut di tempat tidur dan menariknya.


Segera Kuro bergegas naik ke atas kasur dan ikut berbaring di dalam selimut.


Malam sekarang ini Rai tidak makan malam, sebab pikirannya masih ada di dalam persoalan yang membuatnya sangat penasaran, Sistem memang selalu seperti itu, penjelasannya pasti berisikan misteri dan rahasia.


Jangankan penjelasannya, bahkan kemampuan kebangkitannya masih ada yang memiliki unsur rahasia, yakni “Body of ???“ dan “Hand of ???“ kedua kemampuan ini bersifat misterius yang belum terpecahkan sampai menit ini.


Tapi, sudah tampak jelas kedua kemampuan tersebut seperti kemampuan dari satu makhluk yang belum diketahui olehnya, hanya saja satu kemampuan yang memiliki wujud yaitu pada tangan kirinya, meski begitu Rai tetap tidak mengetahui apa dan dari mana makhluk itu.


Memejamkan matanya mencoba untuk tidur dan menghilangkan pikiran mengenai hal itu, beberapa menit ia berusaha akhirnya Rai tertidur juga.


Drrrtt! Tringg …!


Alarm ponsel berbunyi menandakan hari telah pagi.


Kesadaran Rai yanga ada di alam mimpi langsung ditarik hingga akhirnya ia terbangun dari mimpinya.


Membuka matanya, Rai duduk di atas kasur secara perlahan.


Tangannya dengan cepat mengambil ponselnya yang sedari tadi berbunyi lalu mematikannya.


“Rasanya aku ingin memakan sesuatu yang enak pagi hari ini, makan apa, ya?“ Rai memegang dagunya tengah merenung persoalan sarapan hari ini.


Tak sampai 10 detik, Rai akhirnya telah memutuskan di dalam hati apa yang ingin dimakan untuk sarapan sekarang.


Bangkit dari tempat tidur dengan kasur yang empuk, berjalan menuju kursi makan sambil membawa tas dan pedangnya.


Brak!


Tas dan senjatanya Rai letakkan ke atas meja, dan kemudian Rai membuka tas dan mengambil suatu makanan dari dalam tas.


“Wafel dengan madu kelihatannya enak untuk pagi hari ini dan juga tak lupa sekotak susu,” gumam Rai sembari melihat piring dengan lima tumpukan wafel dilumuri madu yang banyak, sekotak susu di sampingnya, senyum senang muncul di wajahnya.


'Miaw!'


Suara Kuro terdengar di belakang Rai, Kuro sedang berjalan menuju meja makan.


“Tumben sekali kamu bangun sendiri? Biasanya aku harus membangunkanmu dulu.“ Rai berkata pada Kuro yang melompat ke atas meja makan.


'Miaw~”


Mendengar perkataan Rai, raut wajah Kuro langsung berubah menjadi cemberut. Tampaknya ia tidak suka dikomentari seperti itu oleh Rai.


“Hahaha, oke-oke jangan marah.“ Rai tidak menahan untuk tidak tertawa melihat Kuro yang memelas.


Tangan Rai mengocek tasnya dan mengambil sekotak susu dan ikan bakar kesukaan Kuro, lalu diletakkan di depan Kuro.


“Ikan bakar kesukaanmu dan sekotak susu untuk sarapan hari ini, kau suka?“


Melihat hidangan sarapan kali ini, wajah Kuro langsung berubah, dan ia langsung menyantap makanan ikan bakar di depannya.


Rai menggelengkan kepalanya setelah melihat Kuro yang sangat bersemangat memakan makanannya. Pada dasarnya Rai memang jarang memberi Kuro ikan bakar, mungkin satu minggu hanya beberapa kali saja, tidak setiap hari tentunya.


Bukan tanpa alasan Rai melakukan itu, ia tidak ingin Kuro bosan dengan ikan bakar, dan juga terlalu manja dan tidak ingin memakan daging monster lagi.


Antisipasi perlu dilakukan, takut kejadian yang tidak Rai suka itu terjadi tiba-tiba.


Benar, Rai suka melihat Kuro memakan ikan bakar, ia teringat dengan anak kucing yang pernah ia temui di jalan di kehidupan sebelumnya.


Tanpa pinggir panjang Rai memberikan ikan bakar di tempat ia bekerja untuk anak kucing tersebut.


Menatap Kuro yang tengah memakan ikan bakar membuat Rai bernostalgia dengan adegan yang menurutnya begitu hangat dan bahagia.


Tidak tahu kenapa dirinya senang melihat hewan yang tidak kelaparan dan lahap memakan makanan yang ia berikan.


Rai segera mengambil suapan pertamanya lalu memakan sarapannya.


Tiga puluh menit kemudian, Rai berdiri di depan ritsleting tenda kemah dengan memakai pakaian yang rapih yang selalu ia kenakan setiap harinya.


“Kau siap melanjutkan perjalanan, Kuro?“ Rai sedikit menoleh ke kanan dan berkata kepada Kuro yang duduk di bahu kanannya.


'Miaw!'


Kuro mengeong keras, dengan matanya yang bersemangat.


“Ayo!“

__ADS_1


Rai langsung keluar dari tenda kemah untuk memulai perjalanan lagi menuju akhir tujuannya, yaitu Kota Tujuah.


__ADS_2