LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 106: Mopulu yang Gersang


__ADS_3

“Wajar apabila kerusakan yang diterima begitu tinggi, bahkan gedung yang masih berdiri bisa dihitung dengan jari,“ Rai berkata sambil memandang panorama kota yang kering di depannya.


Lara berjongkok untuk mengambil tanah yang menggumpal karena kering, kemudian ia menekannya pelan dan dengan mudahnya tanah itu hancur menjadi bubuk. “Di sini sepertinya sudah lama tidak terkena hujan, sampai-sampai tanah di sini sangat kering.“


Melihat gerakan Lara, Rai pun ikut mengamati kondisi lingkungan kota ini.


Di bawah kakinya terdapat tanah yang retak akibat tidak ada air yang diserap, sangat kering dan berdebu.


Rai mencoba menancapkan tombaknya ke bawah dan ujung tombak itu dengan mudahnya masuk ke dalam tanah, asap debu tercipta dari gerakan kecil tersebut.


Terlihat ada retakan kecil di tanah yang ditusuk oleh tombak, tanah ini sangat rapuh.


“Ayo kita cari bangunan yang layak untuk kita tempati sebelum malam tiba!“ ajak Rai kepada Lara yang memerhatikan tanah di kota ini.


“Baik,” Lara mengangguk dan menjawab, “kita harus cari bangunan yang ada di timur kota, Rai.“


“Jalur perjalanan kita ke arah timur, kan?“


“Ya, sehabis kita menjelajah kota ini, kita pergi ke arah timur menuju Kota Sawelas, lebih tepatnya sedikit ke tenggara.“ Lara mengangguk menyatakan kebenaran yang diucapkan Rai.


“Oke, kita pergi.“


Mereka berdua berjalan di sisi kota mengarah ke timur wilayah Kota Mopulu dan sedikit ke arah tenggara.


Mereka melihat bahwa jalan di sini banyak sekali yang hancur, lebih lagi jalan layang yang panjang dan dibangun di bagian selatan wilayah kota. Kebanyakan dari jalan yang sudah didirikan ini hancur dan runtuh menjadi bongkahan tembok besar yang menutupi jalanan yang ada di bawahnya.


Kerusakan di sini teramat parah. Berbeda sekali dengan Kota Talu dan Kota Lhee yang jalan layang yang ada di atas jalan masih ada yang berdiri bahkan masihlah kokoh.


“Tumbuhan di sini tampaknya sulit untuk hidup,” ujar Rai sambil melihat ke sekeliling jalan yang ada di pinggir kota dekat tembok besar.


Lara menoleh kepada Rai dan menjawab, “Ya, sulit pastinya. Apalagi di kota ini jarang terjadi hujan, hujan jarang turun di kota ini, padahal kita tahu bahwa di belakang kita terdapat pegunungan.“


“Benar, bukannya seharusnya hujan turun di sekitar sini? Lagi pula wilayah ini aku lihat di peta dekat dengan laut dan danau besar,” kata Rai yang cukup heran dengan kondisi iklim di sini.


“Tidak tahu penyebab apa bisa seperti itu, tetapi yang pasti hujan lebih banyak turun di daerah Lhee dan Talu, mungkin angin berhembus kencang ke barat sehingga awan yang mengandung banyak air turun di sekitar dua wilayah tersebut.


“Namun, wilayah Mopulu juga ada yang bagian daerah yang sering turun hujan, tetapi letaknya bukan di sini lagi,” terang Lara sambil menyebrang ke jalan yang lain.


Rai menerima informasi ini, dan ia ikut berjalan menyebrang ke jalan yang terdapat banyak gedung yang hancur.


“Bukan di sini lagi? Apa sebelumnya pernah di sini?“ Rai memerhatikan perkataan Lara dan bertanya.


“Benar, Rai. Dahulu kota ini sering kali diguyur oleh hujan, beberapa tahun belakangan ini menjadi sangat-sangat jarang.“


“Kamu tidak tahu penyebabnya?“


“Tidak, tidak sama sekali, orang-orang pun sepertinya tidak tahu kenapa ini terjadi, mungkin ini sudah ketentuan alam.“


Mendengar ini, Rai termenung memikirkan persoalan ini. Peristiwa alam yang aneh, seharusnya musim akan berganti-ganti, tidak mungkin musim terus menerus secara konstan tetap ada, pasti ada pergantian.


Apakah ini padang pasir? Tampaknya bukan.

__ADS_1


Rai menunduk sembari berjalan, ia memikirkan hal ini di otaknya.


“Tidak perlu dipikirkan masalah ini, terpenting kita tidak kekurangan makanan dan air, bukan masalah untuk kita singgah di sini,” tutur Lara mengingatkan Rai untuk tidak banyak berpikir.


Suara Lara terdengar masuk ke telinga Rai, dan Rai segera berhenti berpikir masalah ini.


“Wilayah Mopulu yang sering terkena hujan ada di daerah mana?“ tanya Rai yang penasaran.


Lara menatap mata Rai, dan menjawab seraya menyentuh dagunya, “Bagian utara dari wilayah Mopulu yang di sana ada bukit kecil.“


“Pindah ke sana?“


“Ya, benar. Namun, jauh sekali untuk kita ke sana, mengingat kota ini masih di wilayah Mopulu selatan,” kata Lara menegaskan.


Rai mengangguk menunjukkan bahwa dirinya paham dengan apa yang dikatakan oleh Lara.


“Omong-omong, sekarang jam berapa, Rai? Langit sudah agak meredup,” tanya Lara dengan pandangan melihat ke atas langit.


Ponsel Rai dikeluarkan dan ia segera melihat jam digital pada layar ponsel. “Jam setengah tujuh malam.“


“Ternyata berbeda, ya. Setiap wilayah berbeda kondisi langitnya, di Kota Talu jam sekarang sudah gelap gulita,” kata Lara begitu mengingat waktu di Kota Talu.


Respons Rai pada pernyataan Lara adalah setuju. Memang benar setiap wilayah memiliki malam yang berbeda, kemungkinan besar ini diakibatkan karena bentuk planet ini yang bulat.


“Di depan ada bangunan yang masih berdiri, kita ke sana untuk bermalam,” ucap Lara menunjuk ke arah depan.


Di kejauhan ada bangunan yang memiliki tinggi sekitar 20 meter, tidak terlalu tinggi, tetapi masih berdiri kokoh walaupun memang ada kerusakan di beberapa bagian tembok.


Bangunan ini seperti bangunan apartemen yang murah dan bukan yang mewah. Terlihat dari setiap kamar yang kecil dan interior yang tidak luas, terkesan sempit dan sesak.


Satu per satu kamar diperiksa oleh mereka berdua, merea mencari sesuatu benda yang sekiranya berguna, entah itu berisikan informasi atau yang lain.


Namun, hasilnya seperti biasa, yaitu nihil, mungkin karena panas dan kerusakan kota yang parah membuat di dalam bangunan ini rusak.


Beberapa tembok di dalam bangunan ini hancur, bahkan di beberapa kamar dinding di dalamnya hancur sehingga Rai yang ada di dalam bisa melihat keluar secara langsung tanpa ada yang menghalangi.


“Sebaiknya kita ke atas, Rai. Untuk melihat pemandangan kota dari atas,” saran Lara kepada Rai yang tengah melihat pemandangan luar dari jendela.


Rai menoleh ke arah Lara, dan mengangguk. “Ayo kita ke atas!“


Mereka berdua berjalan menuju tangga darurat yang ada di luar ruangan, di dalam bangunan apartemen ini tidak ada tangga darurat, tangga darurat untuk bisa ke atap bangunan letaknya ada di luar dan menempel di samping bangunan.


Ketika menaiki tangga, Rai melihat pemandangan di luar apartemen, sangat-sangat menakjubkan sekaligus ngeri. Tidak terbayangkan apabila Kota Rai berada sebelumnya di bumi, yaitu Jakarta, hancur seperti ini.


Memikirkan hal ini, tubuh Rai sedikit bergidik. Manusia kalah oleh sesuatu yang baru datang, dan kini tengah di kondisi kritis yang parah.


Tiba di atas atap bangunan, Rai membuat lahan lapang untuk mendirikan tenda kemah untuk keduanya istirahat.


Kuro sedari tadi tidak tidur, ia melihat-lihat lingkungan di sini dari pundak Rai. Kelihatannya ia penasaran dengan tempat yang mereka datangi.


“Kamu masuk dahulu, biar aku periksa sekeliling bangunan lagi,” perintah Rai kepada Lara.

__ADS_1


“Emm … oke.“


Setelah itu, Lara dan Kuro masuk ke dalam tenda meninggalkan Rai yang ada di luar.


Begitu mereka berdua masuk, Rai berjalan ke pinggir atap untuk memantau sekitar bangunan.


“Sangat sepi, tumbuhan pun tidak banyak yang menempel di gedung ini,” gumam kecil Rai begitu melihat lingkungan sekitar bangunan.


Reruntuhan bangunan dan jalan beton yang retak terpampang jelas di bawahnya. Ia sama sekali tidak melihat ada kehidupan di sini.


Mengingat di sini Rai tidak satu pun melihat monster, seakan monster di sini punah dan enggan untuk tinggal di sini.


Langit makin gelap, bulan pun mulai menampakkan diri untuk menerangi planet yang tidak ketahui Rai ini.


Lima menit berselang, Rai tidak menemukan tanda-tanda adanya sesuatu yang bisa mengancam. Selanjutnya, Rai berbalik dan berjalan ke arah tensa kemah.


Di dalam tenda, Rai melihat Lara yang sedang berbaring di atas kasur sambil melihatnya yang baru masuk ke dalam.


Lara tiba-tiba bangkit dari kasur dan berjalan ke arah Rai.


Tiba-tiba tangan putih Lara menjulur untuk merapikan hoodie yang dikenakan Rai.


“Selamat datang,” kata Lara lembut dan tersenyum menawan.


Alis kanan Rai langsung terangkat ketika melihat tingkah Lara, dan Rai memandangi Lara dengan wajah yang bingung.


“Apakah aku mirip dengan seorang istri di dalam film?“ tanya Lara sambil tersenyum malu.


“Istri? Di dalam film?“ Rai tidak mengerti dengan operasi mendadak yang Lara lakukan.


“Ya! Film yang tadi aku tonton,” Lara mengangguk dengan wajah yang imut


“Kamu menonton film romantis?“


“Sepertinya iya, apakah sudah mirip?“ tanya Lara sekali dengan yang menunggu jawabam Rai.


Melihat visual wajah Lara yang menggemaskan ini, Rai menanggapi dengan anggukkan. “Ya, sudah mirip.“


“Umm, terima kasih, Rai~” Lara berkata dengan sikap yang tersipu.


“Ya. Ayo kita makan malam!“


Rai berjalan melewati Lara dan pergi menuju meja makan.


“Malam ini kita makan apa?“ Lara menatap Rai dengan semangat.


Suara yang penuh semangat dan tergesa-gesa terdengar oleh Rai, ia mengangkat kepalanya untuk melihat Lara yang berdiri di seberang meja. “Kamu mau makan apa?“


“Aku ikut kamu saja, Rai.“ Lara tidak ingin repot dan mengikuti apa yang Rai pilih.


“Oke,” jawab Rai ringan.

__ADS_1


Saat berikutnya, Rai mengeluarkan dua makanan dari dalam tas ke atas meja.


__ADS_2