
“Apa kau melihat sesuatu, Kuro?“
Suara seorang pria muda yang terdengar magnetis sedang bertanya kepada seseorang.
'Miaw.'
Tidak, bukan seseorang, lebih tepatnya bertanya kepada seekor anak kucing.
“Kau tidak melihat orang yang mirip denganku?“ Rai menoleh dan berkata kepada Kuro anak kucing berwarna hitam.
Sepasang mata bulat yang bersinar dengan warna berbeda menatap Rai.
'Miaw.'
Kuro menggelengkan kepalanya dan mengeong lagi untuk menegaskan.
Kedua mata Kuro yang bersinar di dalam kegelapan itu tidak melihat makhluk yang mirip dengannya, yaitu manusia.
Mereka berdua telah berjalan begitu dalam dk sebuah tempat bermain yang isinya terdapat permainan digital yang cukup canggih. Contoh permainan dengan teknologi canggih ialah berbagai permainan arcade, tembak-tembakan menggunakan sensor berupa pistol, capit boneka, balap kendaraan dengan kontrol berupa mobil atau motor, photobox, dan masih banyak lagi.
Akan tetapi, semua permainan itu telah rusak dan tidak terawat, banyak dari beberapa mainan telah hancur berantakan tidak bisa lagi dipakai, juga masih ada yang memiliki tampilan yang berdiri kokoh dengan isi mesin di dalamnya sudah tidak berfungsi lagi.
Mainan ini telah terbengkalai sehingga telah dilumuri dengan noda tanah basah juga lumut yang menempel di atasnya.
Selama Rai dan Kuro berjalan di dalam ruangan ini, mereka tidak menemukan petunjuk lagi yang berkaitan dengan petunjuk jejak sepatu dan tulang ayam yang ada di luar tempat ini.
Di sini sangat sunyi dan gelap, hanya ada suara hentakan kaki Rai ketika berjalan dan melangkah.
“Seharusnya kita sudah ada di tengah-tengah ruangan ini. Tapi … aku belum menemukan apa pun di sini.“
Rai berdiri tegap memutar badannya untuk menyoroti sinar senter ke segala arah.
Tidak ada apa-apa di sini selain alat permainan yang telah rusak dan usang.
“Kau melihat sesuatu, Kuro?“ Rai menunduk, bertanya Kuro yang ikut mengawasi area di sekitar.
'Miaw'
Kuro menjawab dan menggelengkan kepalanya.
“Di mana orang itu?“
Rai tenggelam dalam pikirannya dengan mata yang tetap memperhatikan kondisi ruangan ini.
Semestinya orang yang meninggalkan jejak itu ada di sini, karena jejak sepatu itu mengarahkan Rai untuk datang ke sini.
Tidak mungkin salah.
Tetapi … orang itu tidak ada di sini, apakah dia bersembunyi? Tapi di mana?.
“Ayo kita cari di setiap sela sudut ruangan ini, Kuro.“ Rai menatap Kuro dan mengajaknya untuk mencari.
'Miaw!'
Kuro mengangguk, menatap Rai yang ada di sampingnya.
“Ayo!“
Rai melihat ke segala arah terlebih dahulu, dan dia melangkahkan kaki menuju arah utara ruangan ini.
Melihat Rai sudah bergerak, Kuro melangkah dengan empat kaki kecilnya mengikuti Rai dari belakang sambil sesekali melihat ke sekitar.
Ruangan ini sangatlah besar, Rai membutuhkan puluhan langkah lurus ke depan mengarah ke utara untuk sampai ke ujung ruangan.
Ujung ruangan ini terdapat beberapa permainan anak yang cara digunakannya adalah ditunggangi layaknya kuda, namun dalam bentuk berbagai jenis binatang. Alat permainan ini akan bergerak jika kalian memasukkan koin atau menggesek kartu khusus permainan di tempat yang telah disediakan.
Permainan yang benar-benar diperuntukkan untuk anak kecil.
Kondisi mainan ini sudah tidak utuh, banyak yang terguling dan jatuh dengan kondisi miring di lantai, juga banyak tumbuhan kecil yang tumbuh di kain pada tubuh binatang, juga noda tanah yang hinggap pada kain.
Karena tidak ada apa-apa di sini, Rai melanjutkan penjelajahan lagi menuju ke arah yang lain.
Rai berjalan lagi menuju ke arah timur ruangan, dia berharap mendapat sebuah petunjuk yang dapat mengantarkannya menemukan manusia yang meninggalkan jejak ini.
Suara langkah kaki bergema di ruangan ini, Rai sedang berjalan menuju area timur ruangan, di setiap kaki Rai melangkah akan ada permainan yang lain dan bervariasi dari satu dengan yang lain, bahkan Rai belum pernah melihat permainan semacam itu.
Dari banyaknya permainan di sini tidak ada satu pun yang dapat menyala, padahal Rai berharap ada permainan yang masih menyala untuk bisa dia mainkan.
Sudah lama sekali Rai tidak memainkan permainan di tempat seperti ini.
Ruangan ini aneh, karena tempat sebesar ini, Rai belum menemukan sama sekali monster yang hinggap dan tinggal di sini.
__ADS_1
Dipikir lagi olehnya, ruangan ini bahkan lebih besar ketimbang ruangan toko yang menjadi sarang Reek Huuzer Crawler.
Terlalu janggal bukan?.
“Tahan, Kuro.“ Rai mendadak berhenti di depan salah satu permainan. “Apa kamu melihat sesuatu yang janggal dengan permainan di depan?“
Sebuah permainan yang terkenal di seluruh dunia, yakni capit boneka. Capit boneka di hadapannya ini terlalu aneh.
Kondisi mesin capit boneka ini terlalu bersih, bahkan minim adanya kerusakan di tubuh mesin capit di depannya ini.
Hal yang aneh bukan hanya itu saja, letak dari ditempatkannya permainan ini cukup janggal, sebab letak dari permainan ini ada di tengah-tengah permainan kotak foto, atau bukan di jenis yang sama.
Normalnya penempatan permainan akan disamakan dan dijejerkan sebaris sesuai dengan jenis permainan, namun capit boneka yang cukup besar ini tidak seperti itu.
Apa lagi letaknya bersandar dengan tembok dinding yang ada di belakangnya.
'Miaw?'
Kuro mendongak ke atas kepada Rai, bertanya apa yang aneh dengan benda di depannya ini.
“Kondisi mesin ini terlalu bagus, Kuro.“ Rai mulai menjelaskan kepada Kuro “Lalu letaknya juga terlalu disengaja, seakan memang ada yang meletakkannya di sini untuk suatu tujuan ….“
Sambil mendengarkan Rai berbicara, Kuro memperhatikan mesin capit boneka di depannya. Dia berinisiatif berjalan untuk melihat dari semua arah mesin capit ini.
Kuro berjalan ke samping kanan dan kiri capit boneka, sembari mengendus-endus untuk mencoba mencium sesuatu.
Tepat saat dia mencoba mengendus bagian belakang mesin capit yang menempel pada dinding ruangan, Kuro bereaksi aneh.
Segera dia berlari menuju Rai, 'Miaw!'
“Apa kau menemukan sesuatu dari mesin capit ini, Kuro?“ Rai berjongkok menghadap Kuro, dia bertanya dengan wajah yang penasaran.
Kuro merespon dengan anggukan kepala, kemudian dia bergerak aneh di depan Rai.
Anak kucing ini berjalan ke samping kanan capit boneka berbentuk kotak yang memanjang ke atas, lalu dia berdiri dengan kaki depannya menyentuh tubuh mesin capit.
“Kau memintaku untuk mendorongnya?“ Rai sadar akan gerakan Kuro, melihat gestur tubuh Kuro yang serupa dengan orang sedang mendorong sesuatu benda yang besar.
'Miaw!'
“Oke, Kuro.“
Mesin capit itu bergeser perlahan dan menampilkan sebuah lubang rahasia.
Lubang yang berdiameter satu meter bersembunyi di balik mesin capit ini.
Rai membungkuk ingin melihat isi dari lubang kecil tersebut.
Mengarahkan sinar senter ke dalam lubang, Rai hanya dapat melihat sebuah bagian ruangan kosong yang letaknya ada di bawah lantai ini, yang berarti ruangannya ada di lantai dasar gedung ini.
Berjongkok memperhatikan lubang kecil yang menempel di tembok.
Rai merenung untuk memutuskan apakah dia harus masuk ke dalam atau tidak.
Menoleh ke sebelahnya melihat Kuro, dia berkata, “Apakah kita harus masuk ke dalam, Kuro?“
Kuro mengalihkan pandangannya dari lubang ini kepada Rai, lalu dia mengangguk memberi isyarat untuk masuk ke dalamnya.
“Kamu yakin dengan ini, Kuro?“ tanya Rai dengan serius.
'Miaw!'
Kuro menjawab dengan suara khas kucing, namun memiliki nada yang tegas.
“Baiklah. Aku pertama yang akan masuk, lalu kamu giliran selanjutnya, Kuro.“
Rai berjongkok, dan melakukan aba-aba terlebih dahulu sebelum dia akhirnya masuk ke dalam lubang dengan mulus.
Lalu Kuro mengikuti Rai dan melompat langsung ke dalam lubang.
Bruk!
Suara benda jatuh terdengar di sebuah ruangan yang kosong.
Dua sosok, besar dan kecil sedang berdiri di tengah ruangan.
Bisa dikatakan ini bukan ruangan, tetapi ruangan yang dihancurkan menjadi sebuah koridor atau lorong.
Rai dan Kuro berdiri menghadap ke depan.
Di depannya terdapat dinding yang berlubang sangat besar seolah memang sengaja dibuat oleh orang. Lubang itu menembus hingga ke ruangan berikutnya.
__ADS_1
Mereka berdua dapat melihat dengan jelas apa yang ada di depannya.
“Apa ini?“ Rai menatap pemandangan di depannya dengan wajah terheran tidak mengerti.
Kenapa ada hal yang seperti ini di sini? Sebelumnya dia sudah memeriksa bagian timur dan barat lantai dasar bangunan ini, tetapi tidak menemukan sesuatu yang seperti ini.
“Sepertinya aku tidak memeriksa bagian di sini.“
Mengingat kembali jalur yang Rai ikuti dari jejak sepatu tadi, sepertinya ini ada di bagian utara gedung Mall.
Pantas saja, dia tidak melihat ada ruangan ini sebelumnya.
Rai menoleh ke sebelah kanannya yang terdapat Kuro sedang melihat ke arah depan.
Merasakan tatapan Rai, pandangan Kuro beralih ke Rai, dan mereka saling bertatapan.
“Ayo kita maju dan melihat ke mana ruangan ini membawa kita,” ajak Rai pada Kuro.
'Miaw!' Kuro membalas ajakan Rai dan dia pun setuju.
Seperti biasanya Rai yang pertama melangkah, dan mereka berdua berjalan mengikuti ruangan toko yang dipisah namun telah dibobol hingga menjadi sebuah lorong.
Sepanjang Rai berjalan, tatapan matanya selalu bergerak ke segala arah, mencoba mencari sesuatu yang ada di sini.
“Banyak sekali tulang ayam di sini? Apakah mereka sedang merayakan pesta di sini?“
Kaki Rai menginjak beberapa potongan tulang ayam menciptakan suara renyah layaknya suara garing dari keripik yang digigit.
Mata Rai menyipit ketika melihat banyak tulang ayam yang telah dia lewati di sepanjang lorong.
Di dunia yang hancur seperti ini, apakah masih memiliki banyak makanan? Dari mana mereka mendapatkannya?.
Memikirkan ini membuat Rai semakin pusing dan bingung.
Rai terus tenggelam dalam pikirannya mengenai persediaan makanan orang yang masih hidup di dunia ini, sehingga dia tidak sabar bahwa dia telah sampai di ujung lorong.
Kaki Rai terus melangkah, karena dia tidak memperhatikan apa yang ada di depannya dan jalan sehingga membuat kepalanya tanpa sengaja terbentur lemari yang ada di ujung lorong ini.
“Sial! Aku tidak melihat jalan,” gumam Rai sambil menggosokkan kepalanya dengan tangannya.
Sebenarnya Rai tidak merasakan sakit akibat benturan tadi, karena rangsangan tersebut Rai tanpa sadar melakukan gerakan itu.
Tubuh Rai bergerak mundur, ia ingin melihat dengan jelas lemari yang menabraknya tadi.
“Kenapa ada di tengah-tengah seperti ini?“
Lemari besar dengan tinggi hampir mencapai atap ruangan sedang berdiri kokoh di tengah ujung lorong dan bersandar pada dinding tembok.
“Memakai metode seperti ini lagi?“
Rai menduga ada sebuah lubang atau jalan rahasia lagi di balik lemari ini. Banyak faktor yang mencurigakan dari lemari ini, bisa dipastikan ada sesuatu rahasia di balik lemari besar di depannya.
“Ayo, Kuro. Kita dorong lagi lemari ini.“
Rai berkata pada Kuro, lalu berjalan ke samping kiri lemari dan siap untuk mendorongnya ke arah kanan.
Mendengar ucapan Rai, Kuro ikut berjalan dan memasang sikap seperti orang yang ingin mendorong.
Mereka berdua mendorong lemari hingga menggesernya ke samping kanan.
Benar dugaan Rai, ternyata di sini terdapat lubang lagi yang menjorok ke bawah.
“Apakah ada lantai bawah setelah lantai dasar?“
Rai bingung dengan lubang ini, seingatnya seharusnya lantai dasar adalah lantai paling bawah bangunan.
“Apakah itu tempat parkir yang ada di bawah tanah?“
Mengingat bentuk Mall di Bumi, ada beberapa bangunan mall yang desainnya membuat tempat parkir kendaraan yang adanya di bawah tanah.
Mungkin Mall ini juga seperti itu.
“Kita lanjutkan lagi perjalanan kita, Kuro. Kita sudah cukup jauh menjelajah tempat rahasia ini, tidak mungkin kita berhenti dan kembali ke atas.“ Rai berkata sambil memandangi Kuro yang ada di belakangnya.
“Ayo kita masuk!“
'Miaw!'
Rai memasuki lubang yang cukup besar untuk dia masuki, kemudian Kuro masuk setelah Rai masuk ke dalam lubang.
Mereka tidak tahu lubang apa yang mereka masuki, demi mendapatkan petunjuk mereka harus nekat untuk mencari tahu apa yang terjadi dan apa yang ada di depan matanya.
__ADS_1