
Mereka berdua fokus memakan Hamburger milik masing-masing, kini keduanya tidak diganggu oleh siapapun lagi. Kuro pun sekarang bisa makan dengan porsi daging yang lebih banyak, makanan tambahan tanpa diduga datang dengan sendirinya, Rai cukup memotongnya saja seperti memotong daging cincang di pasar.
“Lezatnya~” Lara bersandar di kursi lipat dengan mata yang terpejam.
Sehabis memakan hamburger ukuran jumbo, Lara mengenang rasanya yang sangat lezat. Kenikmatan makanan yang diberikan sangat berkesan bagi hidup Lara. Beberapa tahun terakhir ia hanya makan daging sapi yang dibakar tanpa bumbu, sama sekali tidak enak, tetapi ia harus makan demi kelangsungan hidupnya.
Oleh sebab itu, ketika Lara merasakan lezatnya makanan yang diberikan Rai, ia terpesona sama halnya Lara terpesona dengan Rai.
Lara sendiri tidak tahu dengan pasti alasannya ia terpesona oleh Alseenio.
Pada intinya, Lara nyaman berada di dekat Rai dalam beberapa Minggu ini.
Baru kali ini ia merasa nyaman terhadap seorang pria, ini pengalaman pertama kali yang sangat bagus.
“Sudah kenyang?“ tanya Rai sembari memegang minuman jus semangka.
Lara menatap Rai perlahan dan menjawab dengan senyum, “Cukup kenyang, makananmu sangat enak, Rai.“
“Oke. Kita sekarang hanya menunggu Kuro selesai makan, kemudian melanjutkan perjalanan.“
Setelah mengatakan itu, Rai menyesap minumannya sampai habis.
“Rai, boleh fotokan aku dengan latar belakang pohon ini?“
Tiba-tiba Lara melontarkan permintaan kepada Rai begitu ia melihat Rai sedang bermain ponselnya.
Alis Rai naik, dan ia menatap Lara yang sedang memandanginya dengan mimik muka yang memohon, wajah kecil ini tampak lucu dan imut, para pria pasti tidak bisa menolak permintaan dari wanita ini.
“Ya,” jawab Rai ringan.
“Hore!“ Lara berseru penuh rasa senang.
Selanjutnya, ia bergegas merapikan bajunya dan seluruh penampilannya, kemudian mengatur pose yang cocok baginya.
Butuh waktu 10 menit untuk menunggu Lara mempersiapkan sosoknya yang sudah cantik menjadi lebih cantik di depan kamera. Pada akhirnya, Lara berpose dengan tubuhnya agak condong ke depan dan kursi dan tubuhnya menghadap ke samping kiri, kepalanya sedikit menoleh ke arah Rai yang memegang ponsel.
“Apakah aku cantik sekarang?“ tanya Lara sambil tersenyum manis.
Rai mengamati setiap sudut sosok Lara, ia meihat Lara begitu cantik, dengan kemeja kotak dan celana hot pants yang terkesan seksi, wajahnya yang memiliki postur wajah yang tegas sekaligus imut dan menawan, keseluruhan orang benar-benar sangat cantik, Rai belum pernah melihat wanita yang secantik ini di bumi.
“Iya, kamu sudah cantik,” jawab Rai dengan ringan seolah tak berkesan.
Melihat ekspresi wajah Rai dingin ketika mengatakan itu, Lara memaklumi Rai, memang sudah seperti ini pria tampan di depannya ini, tidak pandai pandai berekspresi, tetapi biasanya pria ini berkata selalu jujur.
“Terima kasih~” Lara tersenyum dengan wajah yang merah merona.
Segera, Rai memotret wajah Lara yang sedang malu ini tanpa menunggu instruksi dari Lara.
Lara tak mengetahui bahwa dirinya dipotret ketika sedang malu.
Setelah rasa tersipunya mereda, ia berkata pada Rai, “Kamu boleh memotretku sekarang, Rai.“
“Aku sudah memotretmu sejak tadi,” kata Rai dengan wajah polosnya.
__ADS_1
“Eh?“ Lara tertegun sesaat, kemudian ia bangkit dari kursi lipat menuju ke arah Rai.
“Aaa! Jangan begitu, Rai. Wajahku tadi tidak bagus untuk difoto!“ Lara panik dan berkata pada Rai dengan ekspresi malu.
Lara benar-benar tidak ingin terlihat jelek di kamera, terlebih lagi foto yang diambil akan dilihat oleh Rai nantinya karena pria itu sudah berjanji tidak menghapus foto-foto gambar dirinya.
“Rai, hapus fotonya, itu jelek~” Lara ingin meraih ponsel Rai, tetapi ia tidak bisa karena Rai selalu menghindari tangkapan tangannya.
“Tidak perlu, sudah bagus, coba lihatlah.“ Rai menunjukkan hasil jepretan kamera ponselnya kepada Lara.
Ketika melihat gambar di layar ponsel Rai, Lara terpana dan ia memajukan wajahnya untuk melihat lebih jelas dirinya sendiri.
Di layar ponsel, Lara melihat gambar dirinya yang memiliki wajah yang memerah, tetapi tidak terlihat jelek, melainkan terlihat imut.
Lara sendiri ia begitu imut ketika malu.
“Emm, benar katamu, ternyata hasilnya bagus, hehe,” Lara berkata canggung setelah melihat hasil foto yang Rai ambil.
Mulanya ia kira hasilnya jelek, tetapi ekspektasinya salah besar.
“Disimpan?“ tanya Rai.
“Tentu saja, simpan biar kamu bisa meihatnya ketika membuka galeri foto,” Lara menjawab dan mengangguk tegas.
“Oke.“
Semua foto yang diambil pada kesempatan kali ini disimpan oleh Rai.
Penyimpanan internal ponsel ini memiliki kapasitas yang sangat besar, mungkin cukup untuk menyimpan 1.000 foto dalam sehari dengan ukuran 10 MB dan dilakukan rutin sampai 100 tahun.
'Miaw!'
“Sudah?“ Rai bangun dari kursi dan menatap Kuro yang dalam bentuk anak kucing.
'Miaw!' Kuro menganggukkan kepala kecilnya sambil menengadah ke atas melihat wajah Rai.
“Oke, kamu di sini dahulu, tunggu aku selesai memasukkan sisa daging monster.“
Begitu Rai mengatakan itu, kemudian ia berjalan ke tempat daging monster yang berserakan sembari membuka tasnya.
Sementar itu, Lara duduk di kursi lipatnya kembai dan Kuro duduk di kursi lipat milik Rai. Mereka berdua berfoto bersama di tengah Rai sedang mengumpulkan daging ke dalam tas.
Satu jam berlalu, Rai telah selesai mengumpulkan daging monster dan Lara sudah puas berfoto-foto dan mereka video.
Lara bosan berfoto dan mencoba fitur lain yang sudah disediakan oleh ponsel, yaitu fitur rekam video. Video yang dia rekam sangat tidak jelas, ia hanya mengarahkan kamera ke rumput yang bergoyang, lalu video selesai begitu saja, sangat absurd.
Setelah semuanya selesai, mereka berdua bersama Kuro kembali lagi melanjutkan perjalanan menuju Kota Mopulu.
Di jalan yang penuh oleh rumput, Rai melihat ponselnya untuk membuka kompas, mereka berdua harus mengikuti kompas yang jarumnya mengarah ke utara.
Setelah menentukan arah, mereka berdua terus berjalan lurus satu arah sampai menemukan sebuah kota, paling tidak melihat tembok kota.
“Kamu barusan mencoba merekam video?“ tanya Rai usai memeriksa galeri.
__ADS_1
Ia melihat puluhan video absurd yang sama sekali tidak jelas, hanya ada gambar bergerak objek batu dan yang lainnya, tidak ada gambar wajahnya sama sekali.
“Anu, aku coba-coba merekam video, tetapi aku tidak tahu caranya mengarahkan kamera ke wajahku,” Lara menjawab dengan wajah yang malu.
Rai menghela napas, menggelengkan kepalanya, dan berkata, “Sini, aku akan memberi tahu caranya.“
“Emm, oke.“
Sambil berjalan, Rai mengajarkan Lara cara membuat video diri sendiri dan merekam dengan benar.
Ketika mereka sedang sibuk berdua, Kuro mengabaikan mereka dan tidur di atas bahu kanan Rai.
Tidak terasa mereka telah berjalan lurus berjam-jam, akhirnya mereka berdua melihat sebuah tembok kota yang memiliki konsep yang sama dengan kota-kota yang pernah mereka berdua lalui.
Di luar kota ini tidak sejuk dan rindang seperti kota yang lainnya, di sini terlihat seperti gersang dan jarang terdapat pohon yang berdiri.
Kota Talu dan Lhee yang pernah Rai singgah dan menumpang hidup sejenak di sana, memiliki wilayah daerah yang banyak sekali pohon dan tanaman yang hidup, tumbuhan di sana sangat subur.
Sebaliknya, begitu Rai dan Lara berjalan mengarah ke tempat Kota Mopulu, wilayahnya makin lama makin berbeda, tumbuhan jarang tumbuh dan tidak ramai seperti di dekat markas Ratcrow Seven.
Perubahan alamnya terasa begitu keduanya berjalan makin mendekati tempat kota Mopulu berdiri.
Kondisi alam berbeda dengan kota yang ada di balik pegunungan. Kota Mopulu ini ada di seberang pegunungan. Artinya, kota Mopulu terpisah dengan kota Talu dan Lhee karena barisan pegunungan yang sangat panjang ini.
Di jalan, Lara sering kali meminta Rai untuk berhenti sejenak karena dirinya ingin membuang air kecil. Hal itu disebabkan karena mereka berdua banyak minum untuk menghilangkan rasa haus akibat dijemur di panas terik wilayah Mopulu.
Mereka berdua merasa kering karena dihadapi dengan panasnya cuaca wilayah Mopulu sehingga membuat keduanya merasa haus.
Meskipun keduanya sering kali minum air, rasa haus cepat sekali muncul, mengakibatkan mereka berdua ingin terus minum.
Cuaca yang sangat parah, bahkan Rai harus mengganti jaket hitamnya menjadi kemeja berwarna cerah agar panas yang dibawa oleh cahaya matahari tidak terserap oleh pakaiannya.
“Ayo kita masuk ke dalam dan mencari tempat berteduh!“ Rai mengajak Lara untuk segera masuk ke dalam kota.
Daripada diam di sini terlalu lama, lebih baik pergi ke dalam dan mencari tempat untuk berteduh.
Di sini sangat panas, Rai merasa tidak nyaman. Kulit putihnya saja sudah berubah menjadi kemerahan karena panas yang menusuk kulit.
“Benar, aku juga sudah lelah membuat air kecil terus, ayo pergi!“ Lara setuju dengan ajakan Rai.
Mereka berdua bergegas ke dalam kota melalui celah besar tembok yang tampaknya hancur karena invasi monster.
Langkah demi langkah keduanya berjalan ke dalam, tak lama kemudian mereka sampai di balik tembok tinggi yang rusak ini.
Setibanya di dalam, mereka disuguhi oleh pemandangan menakjubkan yang sekaligus mengerikan.
Gedung-gedung tinggi di sini banyak yang hancur. Hampir bangunan yang berdiri di dalam kota sekarang telah runtuh dan rata dengan tanah.
Namun, di dalam kota ini terdapat beberapa gedung yang hancur dan masih bisa berdiri, bahkan Rai bisa melihat dua gedung yang saling bersandar dan tidak jatuh ke bawah, dua gedung ini bertahan dari tekanan gravitasi planet ini.
Kerusakan yang diterima oleh kota satu ini sangat parah apabila dibandingkan dengan kota yang sebelumnya. Kota Lhee dan Kota Talu masih banyak gedung dan bangunan tinggi yang berdiri.
“Tampaknya invasi monster di sini sangat parah,” ujar Rai setelah melihat kehancuran kota Mopulum.
__ADS_1
Lara mengangguk dan berkata, “Benar, kota ini salah satu kota yang menerima kerusakan paling parah. Letak kota Mopulu ini sangat strategis untuk monster-monster menyerang dari segala arah.“