LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 87: Tertidur


__ADS_3

Asap keluar dari kepala Lara dan pipinya memanas dan berubah menjadi merah.


Setelah mendengar pujian Rai, hati Lara merasa sangat-sangat manis dan bahagia, ingin rasanya terbang ke langit.


Entah kenapa pujian Rai sangat berbeda dari pujian orang lain, Lara pernah dipuji orang lain dan pria juga, tetapi rasanya tidaklah sama ketika dipuji oleh Rai.


Ketika kata-kata pujian Rai terhadapnya didengar oleh telinga, kata indah itu masuk ke dalam hati dan memeluk hatinya sehingga membuatnya meleleh.


Lara menatap malu-malu wajah Rai dan berkata, “Terima kasih~”


“Sama-sama,” ucap Rai. “Kenapa kamu tidak bermain ponsel lagi?“


“Ini, aku ingin main, tetapi …“ Lara terdiam sejenak dan melanjutkan, “aku ingin berfoto bersamamu.“


“Sekarang?“ Rai bertanya untuk meyakinkan Lara.


“Ya, sekarang.“ Lara mengangguk tegas.


Rai merenung sejenak, dan ia menyetujui permintaan Lara. “Baiklah.“


Mulut Lara melengkung membentuk senyuman ketika mendengar jawaban Rai dan dengan sigap ia menarik Rai dari kasur.


Kekuatan Rai ditahan dan diminimalkan agar Lara bisa dengan mudah mengangkat tubuhnya hanya dengan tarikan tangan.


Rai di bawa oleh Lara ke sofa yang berada di dekat pintu masuk tenda kemah, dan meminta Rai untuk duduk di sana.


Begitu Rai duduk, Lara pun duduk di sebelahnya, keduanya duduk bersamping- sampingan hanya terpisah jarak 5 cm.


Keduanya dapat merasakan aroma tubuh satu sama lain, bahkan Rai dapat mencium wangi rambut Lara yang tercium bau yang samar-samar.


Lara mengangkat ponsel di tangannya dan mengarahkan kamera depan ponsel ke wajahnya dan wajah Rai.


Kepala Lara begitu dekat dengan wajah Rai dan mereka hampir bersentuhan, hanya tinggal beberapa sentimeter saja.


Lara berpose dengan tersenyum manis, sedangkan Rai hanya diam dengan bibir yang lurus mendatar, tetapi wajah Rai sangat tampan, mungkin artis yang ada di seluruh dunia akan kalah dengan Rai.


Setelah mengatur arah kamera dan mencari sudut yang tepat, Lara bersiap untuk menekan tombol ambil gambar.


Cekrek!


Bunyi gambar berhasil diambil terdengar dan keduanya berhasil dipotret.


Lara segera melihat hasilnya dan mulutnya tampak tersenyum puas.


“Menurutmu bagaimana hasilnya?“ Lara menunjukkan hasil foto keduanya ke Rai.


Melihat gambar di layar kaca ponsel, Rai mengangguk dan menjawab, “Bagus.“


“Kalau begitu aku akan menyimpannya ke folder yang baru,” ujar Lara dengan perasaan yang senang.


“Kamu tahu caranya?“ tanya Rai dengan heran.


Lara sedang menyimpan foto dirinya bersama Rai di folder khusus. “Tentu saja, aku langsung bisa setelah melihat darimu. Aku itu pintar.“


Ketika mengatakan kalimat tersebut, Lara tanpa sadar bergaya aneh, tubuhnya tampak sedikit bergoyang-goyang mirip reaksinya saat memakan makanan enak.

__ADS_1


Rai menaikkan bahunya dan membiarkan Lara bermain ponselnya, duduk bersandar di atas sofa kembali memejamkan matanya.


Baru saja beberapa detik menutup mata, tiba-tiba ada suara yang mengganggunya.


“Rai!“


Suara Lara terdengar sangat keras di telinganya, hampir Rai tersentak kaget, tetapi ia bisa menahan rasa terkejutnya, dan Rai membuka matanya perlahan.


“Ada apa?“ tanya Rai pelan.


“Aku menemukan sebuah gambar bergerak di ponsel ini! Aku lupa namanya … itu vi, pi … ti—”


“Video?“ sela Rai dengan kedua alisnya terangkat.


“Ya, itu dia!“ seru Lara bersemangat.


Hampir Lara lupa dengan nama sebutan dari video bergerak, untungnya Rai langsung mengingatkannya.


“Maukah menontonnya?“ Lara bertanya pada Rai.


Rai ingat bahwa video yang ada di ponselnya hanya ada tentang percintaan yang tidak dimengerti oleh Rai, makanya ia tidak pernah membukanya lagi setelah memeriksanya.


Rai memikirkan ini sejenak, matanya tiba-tiba bergerak untuk melirik wajah Lara yang cerah dan memandanginya penuh harap.


Apabila ia menolak, Rai menjadi tidak enak, pasti itu membuat Lara sakit hati.


Akhirnya Rai mengalah dan menyetujui ajakan Lara untuk menonton.


“Baiklah,” balas Rai dengan nada yang lemah.


Setelah Lara mendengar ucapan Rai, ia langsung melompat dari sofa dan bersorak gembira.


Bobanya yang besar berguncang kuat tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Rai pun tidak sengaja meihat ini dan ia menutup mata.


Di dalam hati Rai, ia menenangkan jiwa dan hatinya untuk tidak mengingat boba yang bergoyang hebat tersebut.


Adegan tadi hampir membuat Rai kalap dan kehilangan jati dirinya.


“Kenapa kamu menutup mata lagi, Rai!“ Lara membungkuk di depan wajah Rai dan menatap wajahnya dengan ekspresi marah.


“Tidak apa-apa. Ayo kita menonton videonya.“


Rai menghindari menatap belahan boba yang menggantung tersebut bagaikan buah durian yang matang.


“Okei!“ Lara duduk di sebelah Rai kembali. “Bagaimana cara kita menontonnya?“


Rai mencari solusi dengan cepat dan langsung menemukannya, ia bangkit dari sofa dan mengambil kursi makan ke depan sofa.


“Letakkan ponsel di sana dan sandarkan ke punggung kursi,” ucap Rai yang kini sudah duduk di sofa lagi.


“Sebentar, kita ingin menonton video apa? Di sini banyak sekali video, juga waktunya sangat lama.“ Lara menoleh ke arah Rai dan menunjukkan layar ponsel di tangannya.


Melihat daftar video yang begitu banyak, membuat Rai memilih. “Itu terserah kamu saja, aku ikut.


“Umm, oke.“ Lara mengangguk dan segera meng-klik salah satu video.

__ADS_1


Dengan cepat Lara meletakkan ponselnya dalam keadaan landscape di atas kursi, tidak lupa juga disandarkan sehingga layar ponsel tersebut bisa dilihat oleh keduanya.


Lara menyaksikan penuh antusias dan serius.


Sebuah video dari film Indonesia diputar, di layar ponsel langsung menampilkan beberapa aktor dan aktris yang tampan dan cantik.


Namun, jika dibandingkan Lara dan Rai, itu sangatlah jauh, Rai dan Lara memiliki paras yang seolah di luar puncak manusia.


Begitu Rai melihat salah satu aktor dan aktris di layar ponsel, ia terkejut dan berkata dalam hati, “Bukankah ini film Dolan 1990 SM? Dolan dan Mildoya?“


Tokoh utama film tersebut sangat terkenal di kehidupan sebelumnya, Rai mendengar berita ini dahulu, kata orang-orang film satu ini sangat bagus.


Akan tetapi, Rai tidak tertarik pergi menonton film tersebut dan juga dia memang tidak punya uang untuk pergi bioskop, dari pada pergi ke bioskop lebih baik menabung untuk membeli suatu keperluan.


“Aaa~”


Lara begitu fokus menonton film tersebut, bahkan tak sadar pipinya memerah ketika ada adegan Dolan dan Mildoya naik motor bersama.


Sementara itu, Rai duduk santai di sofa dan menyaksikan film dengan perasaan yang biasa saja dan raut wajah yang normal.


Keduanya menonton sampai habis bahkan kredit pasca film mereka tonton sampai selesai.


Namun, Rai baru tersadar bahwa kepala Lara sudah bersandar di bahunya. Lara tertidur tanpa sengaja saat menonton kredit film tersebut.


Sepanjang film dimulai, Lara sangat aktif dan begitu ekspresif, sering kali teriak dan mengucapkan satu huruf yang sebenarnya membuat Rai terganggu.


Huruf tersebut adalah huruf “A” yang diucapkan seperti sedang mendesah.


Rai menggelengkan kepalanya dan hendak mengangkat tubuh Lara untuk memindahkannya ke atas kasur.


Tepat ketika jari Rai ingin menyentuh tubuh Lara, sebuah ide terbesit di kepalanya.


Ide tersebut adalah mengangkat tubuh Lara dengan kekuatan telekinesisnya.


Tanpa berpikir lama lagi, Rai segera mengaktifkan kekuatan telekinesisnya dan mengangkat tubuh Lara secara perlaha, ia mencoba untuk tidak membangunkan Lara dari tidurnya.


Tubuh Lara terbang dan terbaring lembut di atas kasur yang empuk, Rai mengamati napasnya dan ternyata napasnya stabil dan teratur yang artinya Lara masih tidur.


Rai mengambil ponselnya dari jarak jauh dan mengembalikan kursi makan ke tempatnya semula.


Kuro yang ikut menonton film pun sudah berbaring di atas ranjang dan siap untuk tidur.


Rai berbaring di atas kasur dan segera terlelap tidur.


∆∆∆


Keesokan harinya.


“Pohon di sini besar-besar!“ Lara berseru sambil tersenyum melihat-lihat sekelilingnya.


“Ini benar jalannya?“


Rai menoleh kepada Lara yang sedang bergembira ria.


“Benar!“ Lara mengangguk kejam dan tegas.

__ADS_1


Mereka berdua sedang berada di hutan yang hijau dan dipenuhi dengan pepohonan yang rindang dan lebat.


“Tunggu sebentar, apa itu?!“


__ADS_2