
Tas yang robek dengan isi berbagai macam barang berserakan tidak jauh dari genangan darah.
Namun, sebagian barang terkena guyuran darah dan cipratan darah yang begitu banyak.
Isi tas ini banyak sekali barang, kebanyakan dari mereka adalah kain dan selimut juga beberapa senjata tajam buatan sendiri, bukan buatan penempa.
Senjata yang ditempelkan paksa dan diikat serta ditajamkan dari benda acak yang bukan senjata.
Seperti tongkat penopang berjalan dipasangkan besi pipih dan diikat di ujung tongkat.
Ada beberapa makanan yang simpan dengan dibungkus oleh kain, juga botol minum. Entah air apa yang ada di dalam.
Makanan ini seperti daging yang dibakar, tapi tidak tahu tepatnya daging dari hewan apa.
Rai mengacak-acak isian tas yang tergeletak di mana-mana, ia mencari sesuatu yang penting di sini.
“Sial! Kertas ini telah basah oleh darah.“ Rai mengambil secarik kertas yang seluruh bagiannya telah lembab dan basah berwarna merah karena darah.
Tulisan kertas ini tidak bisa lagi dilihat, warna merah pekat menutupinya.
Padahal Rai sudah senang mendapatkan sebuah informasi lagi, tapi harapannya pupus tidak lama setelah berharap.
Berjalan lagi melihat ke bawah, Rai masih mencari-cari sesuatu dari isian tas ini.
“Hmm?“ Rai menemukan sesuatu di lantai, itu cukup menarik perhatiannya.
Membungkuk untuk mengambil barang itu, Rai menemukan sebuah foto yang sudah dicetak, setengah gambar ini telah di basahi oleh darah.
Darah monster ini sangat mengganggu dan merugikan.
Syukurnya Rai masih bisa melihat objek pada gambar yang sangat usang ini.
Di dalam gambar itu terdapat seorang pria yang berdiri dengan latar depan rumah sambil menggendong balita berumur sekitar dua tahun.
Pria di dalam foto ini dia sedang tersenyum cerah dengan menggendong seorang bayi laki-laki. Bisa ditebak ini adalah foto seorang ayah dengan anaknya yang masih kecil.
Selain itu ada sebuah tulisan di foto ini, tulisan ini buatan tangan, bukan ketikan.
Tulisan ini ternyata kapan foto ini diambil.
'3 Mei 2020' Tulisannya hanya seperti ini.
“Foto ini diambil di tahun 2020. Sepertinya ini sebelum bencana ini terjadi. Lalu, tahun berapa sekarang?“ gumam Rai sambil memandangi foto yang ada di tangannya.
Membuka tas, foto yang didapatkan itu dimasukkan ke dalam tas penyimpanan.
Melanjutkan lagi mencari barang beberapa menit sampai akhirnya semuanya sudah dia periksa.
Tidak ada barang yang penting, barang yang berguna telah rusak akibat cakaran Huuzer Crawler.
“Kuro, kau tunggu di sini dahulu dan habiskan saja daging yang ada, aku akan pergi ke dalam lorong bagian kiri, kau jaga-jaga di sini,” interupsi Rai pada Kuro yang sedang memakan daging Huuzer Crawler.
'Miaw' Kuro berhenti memakan sesaat, mengangguk pada Rai dan kembali melanjutkan makan.
Setelah melihat respon Kuro, Rai pergi berjalan ke lorong bagian kiri ini semakin dalam.
__ADS_1
Senternya sangat berguna saat ini. Saat peetarungan terjadi Rai menyalakan lampu senter, namun dia arahkan ke arah langit-langit lantai ini dan dia letakkan begitu saja, senter ini bisa didirikan.
Tak mungkin Rai bawa senternya saat bertarung tadi, makanya dia masih bisa melihat karena refleksi atau pantulan cahaya yang menyebar ke langit putih lantai ini, dirinya akan ketahuan saat dia menyerang, lampunya akan bergoyang kuat dan tidak stabil.
Lantai lorong ini sudah dijejaki oleh tangan besar, bukan sepatu lagi. Jejak tangan besar ini sudah dipastikan adalah jejak kaki Huuzer Crawler yang sudah dia cincang dan matikan.
Secara tidak langsung jejak ini mengarahkan ke sesuatu tempat di mana monster itu berasal.
Mengikuti jejak ini dengan seksama, Rai akhirnya sampai di depan sebuah ruangan yang hanya ada satu pintu besar, pintu ini terbagi dua secara vertikal, tipe pintu pada ruangan yang besar atau penting.
Tangan Rai terulur dan dia mendorong pintu hingga terbuka.
Suara yang mengganggu telinganya terdengar, engsel pintunya sudah sangat tua dan tidak terawat.
Segera Rai melihat ruangan di depannya.
Sebuah ruangan besar berisi berbagai macam barang, seperti meja persegi panjang yang besar dan di sisinya terdapat kursi yang rusak dan berantakan, juga di sisi ruangan terdapat semacam televisi berlayar sangat lebar.
“Tempat pertemuan?“ Rai secara tidak sadar berkata.
Tempat ini tampak seperti ruangan yang digunakan sebagai tempat pertemuan para orang penting dalam perusahaan untuk membahas mengenai berjalannya perusahan.
Berjalan masuk ke dalam ruang, matanya memeriksa segala sesuatu yang ada di dalam.
Dinding rusak telah dipenuhi retakan halus serta tumbuhan yang merayap, noda hijau karena lumut juga menghiasi ruangan ini. Lantai diselimuti debu yang berkerak hingga tampak seperti tanah, namun tidak merata.
Senter diarahkan ke sekitar ruangan, Rai mencari sesuatu yang ada di dalam.
Berjalan berkeliling, Rai menangkap sesuatu benda terbaring di lantai.
Sebuah tas tanpa tali, tergeletak begitu saja di lantai, Rai memeriksa tali tas ini yang ternyata putus secara paksa.
Membuka ritsleting tas, Rai mengobrak-abrik isi tas dan mengeluarkannya.
Sebuah kain dan pakaian pertama dikeluarkan oleh Rai, lalu beberapa makanan, pisau dapur yang berkarat, tali, dan botol minum.
Terdapat tiga kertas lembar yang dilipat nampak sudah menguning karena terlalu lama atau umur kertas yang sudah lama.
Rai satu per satu membuka lipatan kertas dan melihat isi kertas dengan seksama.
Cahaya lampu diarahkan pada kertas ini menerangi Rai saat membaca.
Beberapa menit berjalan, Rai melipat kembali kertas yang terakhir dia baca.
Setelah melihat isi kertas yang terdapat tulisan mengenai informasi sesuatu, Rai dapat menyimpulkan tentang isi kertas ini.
“Tiga pemuda ini ternyata berasal dari Kota Lhee Selatan, mereka ke sini hanya untuk lewat dan akan segera pergi ke rute selanjutnya untuk mencapat tempat tujuan.
Tujuan mereka adalah Kota Tujuah, tidak aneh jika mereka akan ke sana, karena banyak sekali rumor dan isu mengenai tempat itu dari beberapa kertas yang aku temukan.
Beberapa perjalanan diceritakan di sini. Kota Lhee Selatan tidak ada monster Huuzer Crawler, kebanyakan di sana adalah monster yang lemah mirip dengan perawakan manusia berdiri tegak dengan dua kaki, namun lemah dan tidak bisa berlari cepat.
Mereka menyebutnya adalah Huuzer Walker.“ Rai bergumam panjang lebar mengeluarkan kesimpulan dari apa yang telah dia baca dari ketiga kertas ini.
Tiga pemuda ini juga memiliki tujuan yang sama dengannya, atau mungkin juga sama dengan orang-orang yang masih bertahan hidup di dunia yang telah hancur ini.
__ADS_1
Namun sayangnya, mereka tidak lagi bisa ke sana.
Rai menyimpan tiga kertas ini ke dalam tasnya, lalu bangkit dan melihat ke sekitar ruangan.
Tak jauh dari tempat tas ini berada, di samping salah satu bangku juga terdaoat tas yang tergeletak tapi telah rusak banyak ketimbang tas sebelumnya.
Beberapa bagian dari tas telah sobek dan menampilkan sedikit isi yang terkandung di dalamnya.
Tanpa berpikir panjang, Rai langsung memeriksa isi tasnya.
Setelah memeriksanya, isi tas ini tidak terlalu berbeda dengan tas sebelumnya, hany ada beberapa barang yang beda, seperti ada palu yang berkarat, beberapa kertas berisi majalah yang lama sekali, tapi majalah ini menampilkan sosok perempuan seksi, sudah dapat dipastikan pemilik tas ini memiliki rasa berhasrat yang kuat.
Pikirannya tidak jauh dengan wanita, kemungkinan besar juga dia memiliki tujuan buruk terhadap wanita, bisa-bisa temannya ini akan terkena bujukan dan pikiran orang ini.
Tapi sekarang dia tidak ada, bukan dia tetapi mereka bertiga.
Di dalam tas ini sudah tidak ada lagi barang, hanya beberapa makan dan minuman sisanya, kertas penting juga tidak ada sama sekali.
Rai mengumpulkan barang-barang ini ke pojok ruangan agar tidak begitu terlihat jelas bahwa ada orang yang pernah datang ke sini dan memeriksa.
Keluar dari ruangan ini, Rai kembali ke tempat Kuro yang sedang makan.
“Kau sudah selesai, Kuro?“ Rai menatap Kuro yang sedang sibuk memakan potongan daging.
Ternyata masih ada beberapa puluhan potong daging yang tersisa, sudah berkurang banyak.
'Miaw' Kuro menatap Rai dan menggelengkan kepalanya, lalu dia menunduk kembali memakan daging monster.
“Kalau belum aku akan memeriksa beberapa tempat di sini, kau tunggu di sini sampai aku kembali,” ujar Rai pada Kuro.
'Miaw' Kuro menyahut dengan suara anak kucing yang lucu.
Melihat persetujuan Kuro, Rai berjalan ke arah ruangan yang paling dekat dan memeriksa dengan cepat di antaranya.
Sekitar tiga puluh menit berlalu Rai memeriksa ruangan lantai, dia kembali lagi ke tempat Kuro sedang memakan daging dengan hasil yang tidak ada, alias nihil.
Kuro duduk di samping sisi genangan darah sembari menjilat kedua kaki depannya dan anggota tubuh lainnya.
Daging yang berserakan telah habis di makan, termasuk daging dari dua monster sebelumnya.
“Kau sudah kenyang?“ Rai berdiri di depan Kuro dan bertanya.
'Miaw!' Kuro mendongak dan mengeong kepada Rai.
Suara itu menandakan bahwa dia sudah kenyang.
“Kalau begitu ayo kita pergi ke atas lantai ini, aku memiliki firasat baik di gedung tinggi ini,” ajak Rai pada Kuro.
'Miaw!'
Kuro berdiri dan mengibas bulunya, selanjutnya dia memanjat tubuh Rai dan berdiri di atas bahu kanannya.
“Ayo kita pergi, Kuro!“
'Miaw!'
__ADS_1
Rai berjalan menuju tangga darurat yang telah dia periksa dan pergi ke dalamnya.