
“Tubuh? Bagian yang mana?“
Rai bertanya dengan nada yang sedikit ditinggikan, sorot matanya yang kejam membuat Loret ketakutan.
“Da-dada kiriku te-terdapat bu-bukti!“ Loret menjawab dengan tersendat-sendat.
Cengkeraman tangan Rai menjadi lebih kuat secara perlahan, hal itu membuat Loret sulit untuk berbicara.
Mengulurkan tangan yang lain ke arah dada kiri Loret, baju Loret yang lusuh langsung ia robek, seketika ia dapat melihat simbol yang melekat di dada kiri Loret.
Sebuah simbol seperti yang ada di mural mesir kuna terlihat begitu jelas di dada kiri Loret, ukuran simbol ini hampir menutupi dada kiri Loret, simbol hitam yang terlihat seperti gambar matahari yang terdiri dari titik bulat besar dan beberapa goresan seperti benang yang mengelilingi titik bulat tersebut.
“Matahari?“ Tanpa sadar Rai berkata saat melihat simbol di dada kiri Loret.
“Y-ya! Simbol organisasi The Bunmuri adalah matahari. Ap-apabila ka-kau me-melihat seseorang yang memiliki simbol di tubuhnya seperti apa yang aku punya, su-sudah dipastikan dia adalah seorang anggota.“
Loret berusaha untuk berbicara dan menjelaskannya kepada Rai yang masih mencekiknya.
Terdiam sejenak, memikirkan penjelasan yang Loret berikan, Rai masih tidak begitu yakin, tetapi bukti sudah ada di depan mata.
Menatap Loret yang tercekik di tangannya, ia masih tidak menyangka Loret dan Flank adalah anggota The Bunmuri. Jujur saja, Rai kesulitan untuk menerima adegan ini. Padahal ia ingat betul ketika Loret memberikan informasi tentang organisasi The Bunmuri, ternyata Loret memberi informasi mengenai organisasinya sendiri.
Secara tidak langsung Rai meminta informasi musuh kepada musuh, di luar dugaan.
“Bisakah kau melepaskan aku?“ Loret berkata dengan memohon pada Rai.
Ia benar-benar tidak tahan tercekik seperti ini, sungguh menyiksanya.
Setelah mendengar permohonan Loret, sudut mulut Rai melengkung, sebuah senyuman yang mengerikan dengan rasa yang jahat tampak di wajahnya.
“Oke, aku akan melepaskanmu dan membiarkanmu pergi ….“
Rai melonggarkan cengkeraman tangannya pada leher Loret.
Merasakan tangan yang mencekik lehernya melemah, Loret merasa senang di dalam hatinya, akhirnya dirinya bebas.
Tepat ketika leher Rai ingin terlepas dari tangan Rai sepenuhnya, tiba-tiba saja cengkeraman tangan Rai menjadi kuat.
Loret tersentak kaget, dan ia menatap ke wajah Rai yang menampilkan senyum jahat yang menggentarkan jiwanya.
“Ke-kenapa ka-kau ….“
“Kenapa? Ada masalah?“
Rai menatap wajah panik Loret dengan ekspresi yang meremehkan, sorot mata yang main-main ditujukan pada Loret yang berusaha melepaskan diri.
“Ka-kau bilang i-ingin melepaskan aku, te-tetapi mengapa kau mencekik la-lagi!“
“Ck ck.“
Keluhan Loret hanya bisa Rai respons dengan senyuman dan menggelengkan kepalanya.
“Maksudku … aku akan melepaskanmu dan membiarkanmu pergi … ke alam kematian, hahah!“
Ledakan tawa keluar dari mulut Rai, kini penampakan Rai lebih terlihat seperti penjahat yang kejam dengan tawanya yang menakutkan.
“Ba-bajingan kau!“
Tawa yang mengerikan membuat Loret lebih-lebih panik dan takut, hawa dingin muncul di punggungnya seperti kematian datang tak lama lagi.
“Selamat tinggal … kawan!“
Cengkeraman tangan Rai menjadi kuat, seluruh kekuatan dan tenaganya dialirkan pada jari-jarinya, bahkan urat hijaunya timbul di leher Rai.
“Ja-jangan bunuh aku ….“
Krak!
Sebelum Loret menyelesaikan ucapannya, Rai langsung mematahkan leher Loret hingga mati.
[Ding! Bunuh 2 Manusia. Dapatkan +2 Exp, +2 Koin!]
Begitu Rai membunuh Loret, bunyi prompt sistem berbunyi di pikirannya.
“Masih bisa mendapatkan pengalaman dan koin?“ Rai terkejut dengan pengingat Sistem kali ini, ia kira hanya monster saja yang dapat mengeluarkan hadiah, ternyata manusia juga berlaku.
“Tetapi hadiah dari membunuh manusia tidak sebanyak monster,” gumam Rai dengan kecewa.
Tampaknya membunuh sesama manusia itu hal yang percuma, ia hanya bisa membunuh monster untuk mendapatkan peningkatan level dan koin.
Bukan berarti ia tidak akan membunuh manusia, Rai tidak segan untuk membunuh makhluk yang menggangunya, mau itu manusia atau monster.
Tidak peduli apa makhluk itu, jika memang mengganggu dan mengusiknya, juga memang perlu dibunuh, ia akan membunuhnya saat itu juga.
Melihat tubuh yang lemas dan leher yang lemah gemulai di tangannya, lantas Rai melemparkan tubuh itu ke samping dan jatuh di atas tubuh Flank tanpa kepala.
Melirik tubuh kedua pria itu yang sekarang telah menjadi mayat tanpa nyawa, menggelengkan kepalanya dan menghela napas berat.
Hari ini betul-betul hari yang mengecewakan bagi Rai, perkiraannya kini menjadi suatu kebenaran, mereka berdua mengkhianati dirinya sendiri.
Dari sini Rai mempelajari bahwa sebaiknya ia tidak perlu mencolok.
Penilaian orang-orang terhadapnya tentunya sebagai orang yang memiliki perbekalan yang banyak, terlebih melihat sosoknya yang bersih, orang akan lebih aneh melihatnya, sudah dipastikan Rai akan menjadi target buruan mereka yang serakah.
__ADS_1
Tetapi, Rai tidak akan membuat dirinya menjadi kotor, ia hanya harus memperbaiki perilakunya agar tidak mencolok sehingga adegan semacam ini tidak terjadi lagi.
“Aku lupa tidak melepaskan tasnya dari tubuh mereka.“ Rai menepuk dahinya, baru ingat bahwasanya dia belum mengambil tas dari tubuh mayat kedua pria itu.
Rai berjalan menuju tumpukan dua mayat, lalu dia mulai mencopot tas dari tubuh keduanya.
Kedua tas ini sudah tersiram darah dari keduanya, namun masih bisa dibuka untuk Rai periksa.
'Miaw!'
Kuro telah membebaskan diri dari tali yang mengikatnya dengan cara berubah menjadi seekor Sabertooth yang besar, sehabis itu dia berubah kembali menjadi anak kucing yang imut.
Berjalan dengan langkah kaki pendeknya, Kuro mendatangi kedua tubuh mayat dan mengeong pada Rai, terdengar seolah-olah Kuro meminta sesuatu kepada Rai.
“Makan saja, kalau kau mau.“
Rai merespons dan langsung mengerti apa yang diminta oleh Kuro.
Ternyata maksud Kuro ialah meminta izin untuk memakan kedua mayat tersebut. Rai tidak peduli dengan mayat-mayat itu.
Begitu mendapatkan izin dari Rai, sosok Kuro berubah cepat menjadi kucing yang besar dan lekas menggigit daging mayat tersebut.
Menggelengkan kepalanya, perhatian Rai terfokus pada kedua tas ini dan mulai membukanya.
Selepas Rai membuka ritsleting tas, ia disuguhkan oleh beberapa kertas lembar yang sudah robek dan lama, mengambil kertas tersebut dan Rai memasukkannya ke dalam tas miliknya.
Memeriksa lebih lanjut di dalam tas yang satu ini, tidak ada lagi barang yang bisa Rai ambil, lantaran barang yang tersisa di dalam tas tidak bernilai baginya.
Oleh sebab itu, Rai segera melanjutkan pemeriksaan ke tas yang satunya.
“Mereka berdua dangat miskin, bahkan makanan saja sudah habis, hanya ada barang-barang yang tampak seperti sampah. Cih! Tidak berguna.“
Rai mencibir setelah memeriksa kedua tas ini, tidak ada apa-apa yang bermanfaat selain kertas yang ia dapatkan, barang yang lain hanyalah sampah, sama dengan kedua mayat tersebut yang sedang disantap oleh Kuro.
Keduanya sampah!
Berjalan ke ruang yang lebih bersih yang minim cipratan darah, Rai berhenti dan duduk di lantai.
Membuka tasnya, ia mengambil beberapa kertas yang diperoleh dari tas kedua pria tersebut, cukup menarik rasa penasarannya, ia berharap kertas ini membawa informasi yang penting.
Beberapa saat berlalu, beberapa kertas yang ada di tangannya telah Rai baca sampai selesai.
Kertas-kertas ini hanya informasi yang telah dijelaskan oleh Loret pada masa itu, jadi ini hanya penjelasan yang lebih lengkap dan runtut.
“Loret memang tidak berbohong ketika dia memberi tahu informasi yang aku tanyakan,” gumam Rai sambil menatap kertas-kertas yang ada di depannya.
Loret memang tidak berbohong, pria ini pantas disebut pria yang kooperatif dan adil, mengenai bisnis ia tidak mencurangi pihak lawan.
Jikalau mereka berdua tidak seperti itu, boleh jadi mereka bergabung dan mem bentuk sebuah tim kuat menuju ke Kota Tujuah.
Takdir berkata lain, mereka berdua memang harus mati di tangannya.
Memasukkan semua kertas ke dalam tas, Rai mengambil ponsel pintarnya dan memainkan sebuah permainan untuk menunggu Kuro selesai makan.
'Miaw!'
Tidak lama kemudian Kuro mendatanginya dan duduk di atas pangkuannya sembari mengeong.
Menundukkan kepalanya untuk melihat Rai di bawah, ponselnya ia matikan dan dimasukkan ke dalam tas yang diletakkan di samping tubuhnya.
“Sudah beres?“
'Miaw~'
Kuro mengangguk sambil menjilati depan moncongnya, tampaknya masih ada sisa daging di depan mulutnya.
“Ayo kita pergi ke atas, Kuro. Di sini sudah tidak cocok lagi untuk ditempati.“
'Miaw!'
Setelah mengeong ke Rai, Kuro memanjat tubuh Rai dan duduk di atas bahunya, sama seperti biasanya.
Bangun dari lantai, tangannya meraih tas yang ada di lantai dan langsung mengenakannya, pedangnya telah dia genggam di tangan kanannya, tidak lupa juga Rai mengeluarkan senter yang sudah lama tidak ia gunakan, dan segera menyalakan lampunya untuk menerangi jalan yang akan dilalui olehnya.
Membuka pintu kamar pelan-pelan, Rai mengeluarkan kepalanya lebih dahulu untuk memeriksa keadaan di luar.
Melihat di luar telah aman seperti semestinya, Rai keluar dari kamar dan berjalan menuju tangga darurat untuk pergi ke lantai paling atas.
Jam di ponselnya sudah menunjukkan waktu tengah malam, saatnya Rai untuk beristirahat untuk tidur kembali.
Selagi masih ada waktu beberapa jam, Rai harus menggunakan waktu yang tersisa untuk dirinya tidur, sebelum pagi datang dan menyapanya.
Sampainya di atas atap lantai yang paling atas, pemeriksaan harus dilakukan sebelum Rai mendirikan tenda.
Beberapa menit ia periksa, dan hasil di atap ini aman, Rai juga mengawasi area sekitar dan sudah dipastikan aman dari ancaman monster yang datang.
Rai mendirikan tenda kemah di tengah atap agar makhluk lain sulit untuk melihat keberadaannya.
“Selamat tidur, Kuro.“
'Miaw~'
Kuro dan Rai berbaring di kasur yang sama, dan beberapa menit kemudian mereka berdua tertidur pulas.
__ADS_1
Keesokan harinya, Rai dan Kuro melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir Kota Tujuah.
Hanya dengan bermodalkan peta yang tidak rinci dan kompas ponsel, keduanya bepergian melewati berbagai macam gedung.
Kota Lhee Utara tidak berbeda jauh dengan Kota Lhee Pusat, namun terdapat perbedaan di aspek suhu yang jauh lebih sejuk dan tumbuhan merambat yang liar.
Tumbuhan di sini sungguh banyak dan lebat, tumbuhan yang menjalar ini begitu subur di kota ini, berbagai tumbuhan banyak yang menutupi dan menyelimuti banyak bangunan.
Dari jauh Rai dapat melihat Kota Lhee Utara yang lebih hijau ketimbang dengan Kota Lhee Pusat.
Tanah di sini juga kebanyakan lembap dan basah, faktor cuaca di sini berbeda dengan Kota Lhee Pusat.
Terdapat disparitas cuaca, meskipun masih satu daerah.
Monster di sini ikut berbeda, walaupun masih satu spesies yang sama, Huuzer Licker mendominasi di beberapa gedung yang Rai kunjungi.
Lumayan untuk ia meningkatkan levelnya, satu Huuzer Licker memberikan Rai 5 poin pengalaman dan 5 koin sistem, cukup bagus jika monster itu muncul dengan jumlah yang banyak.
[Ding! Bunuh 24 Huuzer Licker (F+). Dapatkan +120 Exp, +120 Koin!]
Swooshh!
Sebuah pedang yang terbang langsung ditangkap oleh tangan seseorang, sebuah monster tergeletak di lantai dengan kondisi tubuh yang telah terpotong menjadi beberapa bagian.
“Cukup banyak monster di gedung ini.“
Rai berdiri sembari melirik mayat monster yang terakhir yang baru saja ia bunuh.
Hari ini, Rai telah mengecek 17 gedung sekaligus.
Metode pemeriksaan ia gunakan dengan metode cepat, hanya mengecek beberapa lantai dan beberapa ruangan di setiap lantai, lalu ia pergi memeriksa gedung selanjutnya.
Pemeriksaan seperti ia lakukan secara terus menerus sembari Rai membunuh monster yang tinggal di gedung tersebut.
“Omong-omong sudah lama aku tidak melihat atribut diriku sendiri.“
Dipikir lagi oleh Rai, ia jarang sekali melihat atribut profilnya sendiri, sebelum bertemu dengan Loret dan Flank pun ia rasa belum melihat lagi atributnya.
Terlalu sibuk dengab perjalanan membuat Rai tidak ingat dan juga tidak sempat untuk melihat atributnya sendiri.
“Sistem, buka jendela status!“ Rai meminta kepada Sistem untuk menampilkan atributnya.
Selanjutnya, sebuah hologram melayang dengan antarmuka yang pernah Rai lihat sebelumnya ditampilkan sekarang.
[Sistem Kebangkitan]
[Nama: Rai Caelan]
[Umur: 20 tahun]
[Level: 19] [937/1.900 Exp]
[Kekuatan: 152 (+76) (+)]
[Kecepatan: 296 (+74) (+)]
[Ketahanan: 150 (+75) (+)]
[Mental: 176 (+88) (+)]
[Kemampuan yang Terbuka: 2]
[Kemampuan]
[1. Body of ??? Level 3]
[2. Majestic of Mind]
[3. Hand of ??? Level 1]
[4. ??? (Dibuka saat Host mencapai Level tertentu)]
[Item: Tenda kemah, Persediaan Makanan, Gambar dan Catatan]
[Koin Pembelian: 9.439] [Poin Atribut: 14] [Mall System]
Tidak terasa Rai hampir menginjak di level 20 hanya butuh beberapa poin pengalaman untuk naik level.
Lebit tepatnya butuh 900 sekian untuk meningkatkan levelnya ke level selanjutnya.
“Kemampuan pertamaku sudah di level 3? Apakah efeknya yang peningkatan dua kali atribut kecepatan?“ Rai sedikit lupa dengan ini, tapi ia rasa tebakannya benar.
Di antara tiga kemampuan kebangkitannya, hanya Majestic of Mind yang tidak memiliki level, seingat Rai itu dikarenakan parameter kemampuan ini bergantung dengan atribut mental.
Makin tinggi atribut mental, makin cakap dan kuat juga kemampuannya.
Selain itu, keempat atribut dasarnya sudah ada yang melebihi dua ratus poin, tiga di antara lainnya masih berada di angka seratus, hal ini bisa dikatakan kemajuan yang signifikan, Rai semakin kuat sekarang.
“Koin pembelianku banyak sekali, cukup untuk membeli keperluan makanan dan lainnya selama beberapa tahun.“
Koin Pembelian hampir menyentuh angka 10.000, yang mana cukup untuk membeli makanan selama bertahun-tahun, mengingat harga makanan di Mall System murah.
Akan tetapi, jika membeli potion penyembuhan, koin sebanyak itu langsung terasa sedikit, harga cairan penyembuhan begitu mahal.
__ADS_1