LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 96: Markas Ratcrow Seven


__ADS_3

Tanda tanya muncul di atas kepala Rai, sama sekali Rai tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Pria ini.


Bergabung ke kelompok pria tua ini? Apa maksudnya?


“Kenapa diam, Nak? Kamu ingin bergabung atau tidak?“ Pria tua ini bertanya kepada Rai lagi.


Rai diam tak bergerak, tidak menjawab beberapa pertanyaan Pria yang telah dilontarkan, ia melihat dengan tatapan bingung.


“Tidak, dia sudah memiliki kelompok,” celetuk Lara yang tiba-tiba muncul di samping Rai.


Tatapan mata Lara begitu tajam begitu memandang wajah Pria berjanggut ini.


Melihat pandangan yang sinis ini, mata Pria tua itu sedikit bergetar dan tersentak kaget dalam sekilas.


Ekspresi terkejut yang muncul dalam sekejap mata di wajah garang Pria tua sempat tertangkap oleh mata Rai, dan ini membuat Rai makin merasa bingung.


“Oke, kalau begitu,” balas Pria tua ini dengan cepat. “Aku tidak memaksa kalian untuk bergabung.“


Rai makin aneh melihat tingkah Pria tua berwajah bengis ini.


Kenapa Pria tua ini tidak memaksa dirinya lagi?


“Lupakan masalah yang tadi. Omong-omong, kenapa kalian datang ke sini?“ Pria tua ini bertanya dengan wajah yang masih terlihat seram walaupun sudah tidak lagi memiliki perasaan yang marah.


“Kami di sini hanya ingin lewat saja,” kata Rai yang pulih dari rasa bingungnya. Ia memutuskan untuk menyampingkan pikiran terkait kejadian aneh yang baru saja terjadi.


Pria tua ini tidak langsung menjawab, melainkan memicingkan mata ke arah Rai dan Lara seakan-akan sedang memeriksa mereka berdua.


“Lewat? Apakah kalian tidak tahu tempat apa wilayah ini?“


“Tidak!“ Lara dan Rai menjawab hampir bersamaan.


“Aku beri tahu, tempat ini adalah tempat yang termasuk berada di wilayahku yang artinya kalian sudah menginjak wilayahku.“


“Lalu?“ Rai bertanya sambil mengencangkan pegangannya pada tombak.


Gerakan Rai diperhatikan oleh Pria ini, tampaknya Pria tua ini memilik insting bertarung yang kuat.


Namun, Pria berjanggut masih menatap Rai dengan tenang seolah ia tidak mengetahuinya.


“Kalian harus membayar agar bisa melewati wilayah ini dengan aman,”


Mendengar perkataan ini, Rai terdiam untuk merenung memikirkan hal ini. Namun, ketika ia sedang berpikir, tangannya disenggol oleh Lara, dan sontak Rai menoleh ke samping kirinya untuk menatap Lara.


Segera, Lara memberi isyarat setuju dengan cara menganggukkan kepalanya.


Rai memandang lagi Pria tua ini yang tengah menunggu jawabannya, dan ia memutuskan untuk setuju membayar biaya untuk masuk ke wilayah ini.


“Bayar dengan apa?“ tanya Rai dengan tenang.


“Daging sapi 5 kilogram. Jika kalian tidak bisa membayar, kalian dipersilakan untuk pergi dari sini,“ jawab Pria tua ini dengan ringan.

__ADS_1


Ternyata bayarannya hanya daging, ia kira lebih dari itu, tanpa banyak bicara, Rai langsung menuruti perintah Pria tua ini.


“Oke.“ Rai memindahkan tasnya ke depan dan mengeluarkan beberapa potongan daging sapi yang telah mereka berdua simpan. “Ini, ambillah.“


Pria tua ini mengeluarkan kain dari salah satu saku di celana panjangnya dan membungkus semua daging yang diberikan oleh Rai.


“Dengan ini kalian boleh ke masuk ke wilayah ini dengan aman,” kata Pria tua ini dengan hati yang sedikit senang.


Tangan Pria ini menjinjing potongan daging yang telah dibungkus kain sedemikian rupa bagaikan menjinjing barang belanjaan.


Setelah Pria tua tersebut berkata seperti itu, ia tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya ke arah Rai dan berkata, “Perkenalkan namaku Wallace Boress, aku Kapten dari kelompok Ratcrow Seven.“


Rai tidak berjabat tangan dengan Pria tua ini dan hanya menyebutkan namanya, “Aku Rai.“


Melihat Rai yang seperti ini, Lara pun mengikuti untuk tidak berjabat tangan dengan Pria tua yang bengis ini, dan mengatakan namanya dengan singkat, “Aku Lara Lin.“


Sepertinya Lara Lin mulai mengikuti sikap dingin Rai.


Pria tua yang bernama Wallace ini tidak memedulikan tindakan tak sopan Rai dan Lara, berbalik badan berjalan menuju ke arah hutan.


“Ikuti aku!“ ucap Wallace tanpa melihat mereka yang ada di belakang, “jangan lupa jaga kucingmu, kalau tidak, jangan salahkan aku apabila aku membunuhnya.“


Begitu mendengar ucapan dingin Wallace, amarah Rai hendak memuncak, tetapi ia segera ditenangkan oleh Lara dengan cara menepuk pundaknya dan menatap matanya dengan lekat.


Sorot mata Lara begitu kuat sehingga emosi marah Rai dengan cepat diredakan.


Sehabis menenangkan diri, Rai menyuruh Kuro untuk kembali ke mode anak kucing dan duduk di bahu lebarnya, dan kemudian mereka bertiga berjalan mengikuti jejak Wallace.


Mata Rai terus memerhatikan gerakan Wallace dan sekitar, ia masih tidak percaya bahwa mereka berdua dengan Kuro bisa aman di sini.


Premisnya apabila ada sebuah kelompok di suatu daerah maka orang lain yang menginjak daerah tersebut tidak akan aman karena diduga melakukan kesalahan.


Meskipun mereka berkata bahwa tidak diapa-apakan, sesampainya di sana belum pasti sesuai dengan apa yang dikatakan sebelumnya.


Mengingat tim Rai hanya bertiga itu pun satunya bukanlah manusia, pasti mereka dengan mudah ditekan oleh kelompok yang disebutkan oleh Wallace ini.


Prasangka buruk mendominasi di pikiran Rai sehingga ia memasang kewaspadaan yang cukup tinggi, senjata tombaknya masih dipegang di tangan kanannya dan tak pernah dilepas.


Beberapa menit berselang setelah mereka berjalan, akhirnya Rai dan Lara dapat melihat sebuah pemukiman yang ramai oleh orang-orang.


Rai menghitung secara kasar, kira-kira ada seratus orang yang hidup di pemukiman ini. Lebih banyak pria dibandingkan dengan wanita, sekitar 70% berkelamin pria.


Tidak hanya orang dewasa, di sini terdapat beberapa anak kecil yang menanjak remaja. Mereka semua sedang beraktivitas layaknya para penduduk di sebuah pedesaan.


Bentuk tempat ini pun seperti desa, tetapi dengan tempat tinggal yang sangat berdekatan dan dibatasi oleh kayu-kayu yang ditancapkan ke tanah dan diikat oleh tali dari kayu yang ke kayu yang lainnya, tampak seperti pagar tali.


Mereka bergotong royong untuk menanam tanaman, membuat tempat tinggal dari bahan seadanya, memburu, dan menjaga tempat pemukiman.


Mereka terorganisir dengan baik, dan ternyata semua ini diketuai oleh Wallace Boress, pria botak ini.


“Selamat datang di markas Ratcrow Seven. Kalian boleh tinggal di sini untuk sementara waktu atau pergi meninggalkan markas ini segera,” kata Wallace yang tiba-tiba kepada Rai dan Lara.

__ADS_1


Mereka bertiga berhenti di depan sebuah rumah kayu yang bobrok, Wallace tiba-tiba mengajak mengobrol mereka.


“Ratcrow Seven?“ Rai baru tahu ada sebuah kelompok yang bernama seperti ini.


Wallace mengangguk dan menjawab, “Ya, ini kelompok yang dipimpin olehku, mereka semua di sini memiliki tujuan yang sama, yakni bertahan hidup dari ganasnya monster di dunia ini.“


Rai melihat ke sekelilingnya, banyak orang-orang yang memandang Rai yang memakai masker dan juga Lara. Kelihatannya mereka penasaran dengan kunjungan tiba-tiba Rai dan Lara.


“Kalian berdua bilang hanya ingin lewatkan? Ke mana kalian ingin pergi?“


Dilihat-lihat Pria tua ini tidak ingin bertele-tele dan langsung ke poin permasalahan, kata-katanya tepat di apa yang sedang dipermasalahkan.


“Kota Mopulu, apakah sudah dekat dari sini?“ Lara bertanya lebih dahulu kepada Wallace.


“Mopulu? Cukup dekat, sekitar 10 kilometer dari sini,” jawab Wallace dengan ringan.


Mendengar ini, mulut Rai sedikit berkedut, jarak 10 kilometer menurut Wallace adalah dekat, padahal jarak sepanjang itu sangatlah jauh, apalagi ditempuh dengan cara berjalan.


Wallace berjalan ke arah seorang pria yang berkumis dengan kulit sama cokelatnya dengan Wallace. “Simpan ini di gudang.“


Daging yang dibungkus kain itu diserahkan kepada pria tersebut.


“Baik! Siap laksanakan!“ Pria itu menjawab dan berjalan menuju gubuk bambu.


Setelah melihat pria ini pergi untuk menyimpan daging yanh diberikan, Wallace mengalihkan pandangannya ke Rai dan Lara lagi, dan ia berkata, “Jika kalian ingin ke sana, lebih baik kalian pergi di pagi hari ini, mumpung cuaca sekarang sudah masuk musim dingin, curah hujan tinggi sehingga membuat jalur pejalanan tidak begitu panas.“


Lara menoleh ke arah Rai setelah mendengar saran Wallace.


Melihat ini, Rai pun menoleh dan menaikkan alis kanannya tanpa sadar.


“Kalau kalian tidak pergi sekarang, musim kemarau akan datang dan jalur akan panas, mungkin kalian tidak kuat pergi dengan kondisi suhu lingkungan sepanas itu,” Wallace menambahkan untuk meyakinkan Lara dan Rai.


Apa yang dikatakan oleh Wallace ada benarnya juga, usai Rai pikir-pikir lagi memang benar, cuaca di daerah gunung selalu mendung dan hujan, membuat jalan menjadi basah dan dingin.


Tepat ketika Rai ingin membuka mulutnya untuk bertanya, bunyi sesuatu yang keras terdengar di telinga mereka bertiga.


Tuk! Tuk! Tuk!


Suara ketukan bambu terdengar nyaring hingga orang-orang di sini dapat mendengarnya.


Wajah santai Wallace beruabah ketik mendengar ini dan ia berkata dengan cepat, “Sayangnya kalian tidak bisa pergi sekarang, sesuatu yang berbahaya datang ke markas ini.“


Setelah mengatakan itu, Wallace gegas berlari menuju tempat masuk markas yang Rai dan Lara lewati tadi.


Mengetahui hal yang sedang terjadi, Rai bergumam kecil, “Sepertinya itu suara peringatan berbahaya.“


“Bagaimana kita sekarang, Rai? Apakah kita pergi membantu orang-orang di sini atau?“


“Sebaiknya kita bantu, aku tidak merasakan permusuhan dari mereka,” kata Rai dengan tegas.


“Emm … baiklah.“ Lara mengangguk setuju dengan pilihan Rai.

__ADS_1


Kemudian mereka dengan cepat berlari mengikuti Wallace menuju tempat masuk markas ini.


__ADS_2