
Dua sosok ini menyeringai mengerikan dengan dibelakangnya terdapat cahaya bulan, menambah rasa jahat dan mencekam.
Namun, Rai mengabaikan itu dan ingin melihat apa yang dilakukan oleh keduanya, jadi ia hanya diam dan menonton mereka berdua.
Matanya sempat melirik pada Kuro yang ada di tangan Loret, sorotan matanya memiliki pesan terselubung untuk Kuro, karena mereka berdua terhubung satu sama lain, Kuro mengerti apa yang disampaikan oleh Rai hanya dengan pandangan mata.
“Maaf, Rai.“ Loret berkata pada Rai dengan wajah sedih.
Kuro yang ada di tangannya segera ia lempar ke atas kasur, wajah Loret yang masih sedih masih terlihat meski tidak begitu jelas.
“Aku … aku sebenarnya bukan apa yang kau kira.“
Pada saat Loret mengatakan kata-kata itu, ia mengubah wajahnya yang sedih menjadi senyuman, bukan senyum ramah, melainkan senyuman yang jahat.
“Hahaha!“
“Dari awal kita berdua sudah merencanakan ini untukmu, kita tidak berniat menolongmu, namun memanfaatkanmu dan menjarah secara perlahan.“ Flank yang berdiri di sebelah Loret langsung tertawa dan berkata dengan wajahnya yang nampak aneh dan menyeramkan.
“Tidak perlu bertele-tele lagi, aku hanya ingin mengucapkan sesuatu kepadamu ….“
“Terima kasih sudah membawa kita perbekalan dan senjata, hahaha!“
Setelah mengatakan itu tawa Flank menjadi lebih keras.
Rai yang menatap mereka berdua hanya bisa berekspresi terdiam dengan mata yang melebar, seakan Rai terkejut dengan mereka berdua.
“Tali itu bukan sembarang tali, tali itu lebih kuat dari besi.“ Loret berjongkok dan berkata di depan wajah Rai.
Mendengar ini Rai menjadi panik dan tubuhnya bergerak mencoba untik melepaskan diri.
Melihat Rai yang berusaha melepaskan diri dari talinya, Loret hanya bisa tersenyum lebar dengan niat jahat yang terlihat jelas terpampang di wajahnya.
Flank yang masih berdiri di tempatnya dan belum beranjak ke mana-mana itu menggelengkan kepalanya, mengembuskan napas ringan dan berkata, “Jangan berusaha untuk melepaskan diri, karena itu percuma dan sia-sia.“
“Ck ck ck.“
Loret yang mendengar ini mendecakkan lidahnya mencibir.
Tangan Loret menjulur ke arah tas yang menjadi bantal Rai, lalu ia meraihnya.
“Tas ini sekarang milikku, terima kasih, Rai.“ Loret mengambilnya tanpa memeriksa terlebih dahulu. Lalu ia berdiri dan menaruh tas Rai di atas kasur.
“Pfftt!“
Mendengar Loret yang mengatakan kalimat berterima kasih membuat Flank merasa tergelitik hingga ia tidak bisa menahan tawa.
“Pedang ini … cocok denganku. Baiklah, ini aku ambil.“ Menundukkan tubuhnya, tangan Flank mengambil senjata Rai yang diletakkan di samping tubuhnya.
Melihat mereka berdua merampas barangnya, Rai masih mempertahankan sikapnya yang panik dan berusaha untuk melawan.
Tampilan luar tampak ketakutan, tetapi tidak di dalam hatinya. Semua ini sudah menjadi dugaannya dari sekian dugaan yang ia pikirkan.
“Oke, saatnya eksekusi.“
Loret dan Flank saling memandang sejenak dan memandang Rai secara bersamaan. Kedua tangan mereka langsung berubah, kemampuannya telah mereka aktifkan.
Tampaknya mereka berniat untuk membunuh Rai.
“Jangan, jangan!“ Rai berteriak dengan panik sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Kenapa?“ Loret menghampiri Rai dan berjongkok di dekat wajah Rai. Tangan kanannya yang menjadi cambuk secara bertahap berubah ketika tangannya terulur menuju wajah Rai.
Tangan kanannya menjadi normal dan memegang dagu Rai dengan kuat. “Kenapa?“
“Kalian … kalian kenapa seperti ini?!“
Rai bertanya dengan nada yang tinggi dan marah, terdapat rasa kekecewaan pada bola matanya.
“Kenapa?“ Satu alis mata Loret naik dan ia bertanya sebagai jawaban.
“Flank, beri tahu dia.“ Loret melepaskan dagu Rai dan cengkeramannya dengan kasar, lalu ia berdiri dan berkata pada Flank.
“Sangat sederhana jawabannya, karena kita memang seperti ini aslinya.“ Flank melirik Rai yang berbaring dan terikat tali dengan tatapan tajam dan menghina.
“Ternyata, ternyata kalian bersifat semu.“ Rai langung mengubah wajahnya yang panik dan marah menjadi normal.
Sorotan matanya yang panik telah berubah menjadi pandangan mata yang biasa saja.
Nada bicaranya tidak seperti sebelumnya yang terdengar tergesa-gesa dan terkandung perasaan ketakutan yang mendalam, kali ini nada suaranya terdengar begitu kecewa.
“Ck ck ck, lalu?“ Flank berkata dengan meremehkan dan menantang.
“Sudahlah, kita harus tidur, segera bunuh dia, Flank,” ucap Loret dengan malas.
Terasa sekali bahwa Loret sering melakukan hal ini, tidak ada rasa bersalah atau keraguan dalam ucapannya, ia sudah terbiasa.
“Oke,” jawab Flank.
Setelah mengatakan itu, tinju kanannya terangkat sangat tinggi.
“Selamat tinggal!“
Tinju batu yang besar itu dengan cepat meluncur membidik kepala Rai.
Keduanya benar-benar berniat untuk membunuh Rai tanpa adanya rasa kasihan dan keraguan.
Di dalam pandangan Rai tinju batu yang besar ini bergerak dengan lambat.
Menatap tinju ini, Rai sudah yakin berpikiran bahwa mereka memang sudah membulatkan niat dan tekad untuk membunuhnya. Selama 1 minggu ini keduanya bersamanya pada dasarnya tak ada artinya bagi mereka.
Rai sudah muak dan malas dengan adegan seperti ini, ia sudah puas merasakan pengkhianatan di kehidupan sebelumnya.
__ADS_1
Sudah saatnya ia bertindak dan berhenti dari kepura-puraan.
Begitu tinju berada di jarak 5 sentimeter dari wajah Rai, tiba-tiba tinju itu berhenti.
Flank langsung mengubah wajahnya melihat tinjunya yang tak bergerak, sekuat apa pun ia berusaha tinju itu tidak bisa maju lagi.
Di belakang, Loret yang melihat ini pun tercengang, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
“Sayang sekali, aku kira kalian benar orang yang baik, ternyata sebaliknya.“ Rai berkata dengan nada datar, namun terkandung rasa kecewa dalam perkataannya.
Flank berusaha menarik tangan kanannya, akan tetapi ia tidak bisa menggerakkan sedikit pun, bagaikan tangannya dicapit oleh tang baja yang kuat.
“Tidak perlu berupaya seperti itu, aku akan melepaskan dirimu.“
Setelah kata-kata Rai keluar, sosok Flank terlempar dan menabrak tembok dengan keras.
Bam!
“Uhuk!“ Darah tak sengaja keluar dari mulut Flank ketika sosoknya menempel di tembok.
Kemudian ia jatuh terbaring tengkurap di lantai.
Loret yang tercengang menjadi tersadar begitu ia mendengar suara benturan Flank dengan tembok kamar.
Menatap Rai yang masih terbaring dengan kondisi terikat,Loret mengubah wajahnya secara cepat.
“Bajingan!!“ Loret berkata dengan amarah yang memuncak.
Kemarahan bergulir dan Loret memulai penyerangannya terhadap Rai.
Tangan cambuk itu terayun sangat cepat hingga hanya nampak bayang yang sekilas lewat mengarah pada Rai yang terbaring di lantai.
Tali cambuk itu terbang dan hendak mengenai wajah Rai.
Namun … sekali lagi serangan itu berhenti di jarak beberapa sentimeter dari wajah Rai dan tak bisa digerakkan.
“I-ini ….“ Loret berkata gugup dengan wajahnya yang nampak tak percaya.
“Maaf ….“ Rai yang masih terbaring tiba-tiba berkata.
Flank yang telah bangun dan berdiri, menatap Rai dengan mata yang sedikit ketakutan.
“Maaf karena aku menghancurkan ekspektasi kalian.“
Tali yang katanya sekuat besi yang mengikat kaki dan tangan Rai langsung terputus dan rusak.
Bangun dari lantai dan Rai berdiri menghadapa mereka berdua.
“Maaf karena kalian tidak bisa mengambil apa yang aku punya.“
Sehabis Rai mengatakan kalimat itu, tas yang ada di atas kasur dan pedang yang diletakkan di balik punggung Flank melayang dan terbang menuju Rai.
Dua benda itu berhenti melayang di depan wajahnya, tangan Rai terulur untuk mengambil kedua barang tersebut, dan kemudian segera mengenakan tasnya.
Pemandangan ini membuat Loret dan Flank tidak bisa berpikir, apa yang ada mereka lihat sekarang sudah menghancurkan pandangannya pada Rai yang mereka anggap sebagai mangsa.
Persepsi mereka berdua langsung tumbang, apa yang mereka yakini salah, Rai sebenarnya menyembunyikan kekuatannya.
“Keparat!“ Flank tiba-tiba menjadi marah karena sudah merasa dibohongi oleh Rai.
Sosoknya berlari mendatangi Rai lalu mencoba meninjunya lagi.
Sekali lagi tinju itu tidak bergerak di jarak beberapa sentimeter dari tubuh Rai, seolah ada sesuatu yang tak kasatmata menahan serangan mereka.
“Kau berdua sangat lemah.“ Rai berkata sembari menggelengkan kepalanya.
“Tapi, kalian sudah berani mengusikku.“
“Bahkan kalian sudah bertekad bulat untuk membunuhku.“
Kedua mata Rai menatap mata mereka berdua, sorotan mata yang tajam dan kemarahan yang melonjak terlihat oleh keduanya membuat mereka menjadi ketakutan dan kedinginan.
Keringat membasahi punggung Flank, dahi Loret mulai muncul butiran keringat saat melihat sepasang mata yang menekan ini.
“Sayangnya kalian salah memilih korban.“
Sehabis mengatakan itu, Rai mengambil pedangnya yang masih tertahan di udara, dan ia masukkan ke dalam tasnya.
Tas yang pendek itu seakan menelan pedang yang panjang.
Pemandangan ini sekali lagi membuat Loret dan Flank tercengang tak percaya.
Tiba-tiba sosok Rai menghilang dan muncul di depan Flank.
Belum sempat Flank bereaksi, sebuah tinju muncul di depan matanya, dan menghantam wajahnya.
Bang!
Flank terlempar dengan kuat dan menabrak tembok hingga membuat retakan yang luas.
“Argh!“ Teriakan kesakitan muncul dari mulut Flank.
Akibat pukulan Rai, Flank merasa tengkorak kepalanya telah retak, rasa nyeri dan sakit yang tak tertahankan terasa olehnya sekarang.
Loret yang melihat langsung bereaksi, ia mengayunkan cambuknya dengan sekuat tenaga pada Rai.
“Bajingan!“
Cambuk itu begitu cepat hingga hanya terlihat sekelebat bayangan yang melintas.
Ctak!
__ADS_1
Tali cambuk itu Rai tangkap dengan tangan kirinya tanpa ada kerusakan sedikit pun pada tubuhnya.
Selanjutnya tangan kiri Rai menarik tali cambuk sehingga membuat Loret terbang ke arah Rai.
Begitu Loret berada di dekat Rai, sebuah tinju yang kuat menyambutnya sehingga membuat dentuman keras.
Bam!
Sosok Loret meluncur cepat ke belakang dan menabrak tembok samping jendela.
Darah mengalir keluar dari sudut mulut Loret, ia berlutut dua kaki serata memeganginya perutnya yang terhantam tinju keras Rai barusan.
“Persetan denganmu!“
Suara Flank muncul di belakang Rai dan tinjunya melambung membidik kepala Rai.
Sayangnya serangan Flank sia-sia, reaksi Rai lebih cepat daripada serangannya dan tubuhnya bergerak ke samping menghindari tinju batu yang besar milik Flank.
Bam!
Sosok Flank tiba-tiba terlempar lagi dan menabrak tembok bekas hantaman tubuhnya. Retakan menjadi luas dan jelas, kemungkinan besar kamar ini akan runtuh tak akan lama lagi.
Menarik kaki kanannya, Rai berdiri dengan postur tubuh santai sambil memandangi keduanya terkapar lemah di atas lantai.
Sebelum tinju Flank mendarat pada lantai, kaki Rai terlebih dahulu menendang tubuh Flank dan membuatnya terbang hingga menghantam tembok dinding yang sama.
“Si-sial!“ Loret menggertakkan giginya dan menahan rasa sakit yang dia rasakan sekarang.
Tendangan dan pukulan Rai sangat kuat, membuat tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa.
Rai melangkah perlahan mendekati Flank, dan kemudian ia berjongkok sembari menatap wajah Flank yang yang meringis kesakitan.
“Maaf, tapi aku harus melakukan apa yang harus dilakukan. Terima kasih telah membantu perjalananku.“ Rai berkata pada Flank dengan wajah yang datar.
Mata itu seperti tidak ada artinya, hanya tatapan biasa tanpa ada perasaan yang terkandung di dalamnya.
“K-kau ingin apa?!“ Flank bertanya kepada Rai dengan tenaga yang tersisa.
Berbicara saja susah, apalagi ia berdiri dan mencoba melakukan perlawanan terhadap Rai.
“Aku ingin membunuh orang yang ingin membunuhku,” jawab Rai dengan tegas.
“Ti-tidak, jangan bunuh a ….“
Belum sempat Flank menyelesaikan kalimatnya, tangan kanan Rai mengepal dan meninju kepala Flank hingga hancur, isian kepalanya berhamburan ke segala arah.
“Tidak!!! Flank!!“
Melihat ini Loret segera menggunakan seluruh tenaganya untuk bangkit dan bergegas menuju Flank.
Namun sayangnya itu tidak akan terjadi, sosok Rai berbalik dengan cepat, lalu sebuah tinju terkepal kuat muncul di depan mata Loret.
Tubuh Loret terbang terbalik dan menghantam tembok yang ia tabrak sebelumnya.
Tetesan darah merah mengalir keluar dari lubang hidung dan sudut mulutnya.
Kedua tangannya yang menopan tubuh gemetara hebat, pukulan ini sangat kuat membuat Loret tidak berdaya.
Selangkah demi selangkah Rai berjalan menghampiri Loret, ia memandang tanpa meletakkan sosok Loret di matanya.
“Ba-bajingan!“
Loret mengangkat kepalanya sekuat mungkin dan menatap Rai yang berdiri di depannya.
Kaki Rai tertekuk ke depan dan ia berjongkok menghadap Loret yang berlutut sambil menopang tubuhnya dengan tangannya.
Tangan Rai menyambar dengan kilat, mencekik leher Loret, selanjutnya ia berdiri dan mengangkat Loret dengan satu tangannya.
“Le-lepaskan a-aku!“ Loret yang tercekik mulai meronta-ronta untuk mencoba melepaskan cengkeraman tangan Rai, dan ia berkata sedikit memohon.
“Aku akan membiarkanmu pergi, setelah kau menjawab jujur pertanyaanku.“ Rai sedikit mengendurkan jari-jari yang mencekik Loret, memberi kesempatan Loret untuk bisa bernapas.
“Oke-oke, aku akan menjawab. Tapi, kau harus berjanji kepadaku.“ Loret berkata sambil memegangi tangan Rai yang begitu kuat, ia masih mencoba untuk melepaskan diri.
“Oke.“
“Apa yang ingin kau tanyakan?“
Loret berhenti bergerak, sikapnya mulai tenang dan tidak mencoba melepaskan diri lagi.
“Dari mana asalmu?“ tanya Rai dengan matanya yang tajam.
“A-aku ….“ Kegugupan Loret kembali timbul dan tampak sangat jelas wajahnya menjadi panik juga bingung.
“Jawab aku dengan jujur!“ Rai mengencangkan cengkeraman yang ada di leher Loret.
Merasakan tangan Rai yang semakin menjepit, Loret menjadi lebih panik dan ketakutan.
“Iya-iya, aku akan pastikan menjawabnya dengan jujur!“ Loret berkata dengan tergesa-gesa.
Rai mengunci pandangannya kepada wajah Loret dan siap mendengarkan apa yang diucapkan oleh pria ini.
“Sebenarnya aku dan Flank adalah anggota The Bunmuri.“
Setelah mendengar kalimat ini, Rai terdiam beberapa saat, dan dia menajamkan matanya menatap Loret.
“Apa buktinya?“
Rai tidak ingin dibohongi oleh Loret, dan dia kembali bertanya dengan sedikit memancarkan aura yang menekan kepada Loret.
“A-nu, i-tu bu-buktinya a-ada di tubuhku!“ Rai menjadi lebih ketakutan, bahkan berbicara pun menjadi kesulitan akibat tekanan yang menerpa tubuhnya.
__ADS_1
Tubuh Loret bergidik hebat dan bergetar ketakutan ketika aura yang dikeluarkan oleh Rai terasa olehnya.