LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 47: Boss Huuzer Crawler


__ADS_3

Monster ini terlalu terfokuskan pada Rai, ia terus mengikuti Rai selalu menghindar dari serangannya, terus mencoba untuk membunuh Rai. Tanpa disadari, Flank yang telah mengubah tangannya menjadi tinju batu sedang mengendap-endap di belakangnya.


Adanya Flank di belakang monster, Rai mengerti apa yang ingin dilakukan oleh Pria muda ini, dan Rai sengaja memancing monster untuk fokus kepadanya.


Pada saat Flank sudah dekat dengan monster besar yang masih meninju Rai, Flank mengangkat tangannya ke atas dan melirik sekilas Loret.


Loret yang sadar dengan kode yang diberikan, langsung bertindak sesuai dengan rencana, kedua tangannya menjadi cambuk.


Dengan cepat dan tepat talis cambuk itu berhasil dikaitkan oleh Loret dan melilit kuat pada kedua kaki monster.


Segera Flank melompat dan meninju dengan kuat punggung monster dengan kedua tangannya secara bersamaan.


Bugh!


Tubuh monster itu terdorong ke depan, saat hendak melangkah untuk mempertahankan keseimbangan, kakinya seperti ditahan oleh sesuatu dan akhirnya tubuh monster itu miring ke depan, ingin terjatuh.


Melihat kesempatan ini, Rai langsung bergerak melakukan perlawanan.


Rai melompat setinggi kepala monster dan mengayunkan kedua pedangnya dengan kecepatan maksimalnya.


Monster yang ingin terjatuh ini terlambat bereaksi dan fokusnya teralihkan dengan kakinya yang ditahan.


Kraahhh!


Monster itu berteriak kesakitan sembari terjatuh, ratusan tebasan memotong tubuhnya dengan cepat dan membuat dia tidak bisa melawan.


Swooshh!


Dua kilatan dingin timbul dan berhasil memotong keempat tangan monster dan ratusan sayatan di bagian dada monster dan perutnya.


Bam!


Bunyi teredam terdengar jelas saat monster itu terjatuh dan terbaring di tanah tanpa keempat tangannya.


Daging dan darah keluar dari luka ditubuh monster dan menggenangi tanah.


Rai tidak berhenti di situ, ia melompat ke atas punggung monster besar ini dan mulai menebas punggung monster dengan pedangnya. Flank pun ikut bergerak dan meninju kaki monster.


Tebasan dan pukulan dari keduanya membombardir tubuh monster besar ini. Suara jeritan tangis yang serak terdengar dari kepala monster yang mencium tanah.


Loret yang merasakan tenaganya yang terkuras habis karena menahan pergerakan monster hanya bisa duduk dari kejauhan.


“Jangan kasih kesempatan, monster ini memiliki kekuatan regenerasi!“


Loret yang mengamati sambil mengisi ulang tenaga melihat keempat tangan monster yang mulai bertumbuh kembali, segera dia memperingatkan keduanya untuk terus menyerang.


“Jika seperti ini, monster ini akan kembali berdiri.“ Loret mengamati serangan mereka berdua yang setara dengan pemulihan monster, hal tersebut dapat diprediksi oleh Loret bahwa keduanya tidak akan mengimbangi kecepatan pemulihan monster.


Mata Loret tiba-tiba berubah saat mengamati monster yang disiksa oleh keduanya.


“Flank! Cari kelemahan di dadanya, nampaknya batu kehidupan monster ada di sekitar sana!“


Loret baru ingat bahwa setiap monster memiliki kelemahan, yakni memiliki batu kehidupan. Tapi, Huuzer Crawler yang mereka temui di Kota Lhee Pusat tidak memiliki kelemahan tersebut.


Wajah Flank menjadi cerah, lalu dia berkata pada Rai, “Tusuk dadanya sebanyak mungkin dan sedalam mungkin, kelemahannya ada di sana!“


“Aku akan terus membuat kakinya cedera hingga monster ini tak mampu berdiri!“


Ucapan Flank terdengar jelas oleh Rai, dan Rai segera mengganti metode penyerangan menjadi menusuk dengan pedang.


Zleb! Zleb! Zleb!


Pedang Rai dengan mudahnya menusuk punggung monster hingga menembus ke dada monster.


Jeritan monster itu semakin menjadi-jadi, rasa sakit yang dihasilkan setiap tusukan Rai begitu menyakitkan.


Keempat monster itu perlahan tumbuh menjadi empat tangan yang baru, hal itu dikarenakan Rai tidak memotong keempat tangan monster ini lagi.


Bum!


Monster ini mencoba bangkit dari tanah, namun kakinya terus diserang oleh tinju batu yang keras.


Rai yang di atas punggung monster menjadi terangkat dan hampi terjatuh, tapi Rai terus melanjutkan tusukannya ke seluruh dada.


“Cepat Rai! Aku tidak bisa menahan lagi!“ Flank berkata pada Rai sembari memukul dengan sekuat tenaga kedua kaki monster.


Loret yang telah memulihkan sedikit tenaganya, mencoba untuk membantu, tali cambuknya mengikat salah satu keempat lengan monster yang menopang tubuhnya itu lalu dia tarik dan membuat keseimbangan monster itu terganggu.


“Aku akan menahan!“


Tangannya yang lainnya yang telah menjadi tali cambuk menarik salah satu tangan monster dan membuat monster itu terjatuh, Loret terus melakukan itu sampai Rai berhasil menusuk batu yang ada di tubuh monster.


'Di mana batu itu!' Rai mengeluh di dalam hatinya sembari menusuk tubuh monster ini.


Bang!


Brak!


Dua bunyi hantaman keras terdengar oleh Rai yang fokus menusuk punggung monster.

__ADS_1


Melihat ke depan dan ke belakang, Loret dan Flank telah menghilang dan muncul di kejauhan sedang terbaring lemah sambil memegang perutnya.


Mereka berdua terkena serangan mendadak monster saat mencoba menahan monster besar untuk berdiri.


Flank terkena tendangan keras dari kaki monster tersebut ketika memukul kaki monster dan terlempar jauh hingga menghantam tanah.


Sementara Loret tertangkap tali cambuknya dan dilempar ke kejauhan hingga menghantam pohon dengan kuat.


Tubuh monster ini bergerak dan berdiri di tanah, keseimbangan Rai menghilang dan hampir terjatuh.


Tangan Rai meraih dua gagang pedangnya yang masih tertancap kuat di punggung monster, dia berpegangan kepada dua gagang pedany supaya tidak terjatuh.


Graaahh!


Monster ini berdiri dan mengibaskan tubuhnya mencoba untuk melepaskan Rai yang masih hinggap di tubuhnya.


Rai mengencangkan pegangannya pada gagang pedang dan dia mencoba melepaskan salah satu pedang untuk kembali menusuk untuk terakhir kalinya.


'Ayo … ayo … ayo!!!' Rai menyemangati dirinya di dalam hati sembari berusaha melepaskan pedang kiri yang sedikit lagi berhasil terlepas dari daging tubuh monster.


Srat!


Pedang itu akhirnya terlepas, lalu Rai dengan keyakinan yang kuat dan mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menusuk bagian punggung monster yang dia yakini bahwa batu itu ada di sana.


Bilah pedang itu dengan cepat tertancap pada punggung monster dan sebuah suara berbunyi.


Krak!


Sebuah benda yang pecah terdengar dari dalam tubuh monster.


Wajah Rai menjadi gembira saat mendengar ini. “Apakah aku berhasil?!“


Flank yang di kejauhan duduk di atas tanah menganggukkan kepalanya sembari melihat Rai yang berhasil menusuk punggung monster.


“Dia berhasil!“ Loret bersandar lemah pada pohon sambil menatap Rai yang berhasil menusuk dan menghancurkan batu kehidupan monster.


Tubuh monster yang meronta-ronta perlahan menjadi lemas dan tak bertenaga, berlutut dua kaki di atas tanah lalu monster itu terbaring tidak berdaya di tanah.


Bum!


Rai yang ada di atas tubuh monster ini berlutut satu kaki sambil menopang tubuhnya memegang dua gagang pedangnya yang masih menancap kuat.


[Ding! Bunuh Boss Huuzer Crawler (D-). Dapatkan +900 Exp, +900 Koin!]


[Selamat Anda Telah Naik Level!]


[Atribut ditingkatkan!]


Kelelahan yang telah ia rasakan perlahan menghilang secara bertahap dan tenaganya mulai terisi penuh dengan sendirinya, luka ringan pun pulih begitu saja.


Hal ini adalah efek dari kenaikan level, cukup menguntungkan.


Kedua tangan Rai memegang dua gagang pedangnya lalu menariknya dengan kuat sehingga pedangnya tercabut seluruhnya.


Dua pedang itu Rai satukan dan dia taruh di sela antara punggung dan tasnya.


“Kerja bagus, Rai!“ Loret melangkah perlahan menuju Rai sembari memegang lengan kirinya yang cedera tidak begitu parah.


Flank pun ikut menghampiri Rai meski berjalan nampak sedikit kesulitan, tubuhnya terasa nyeri akibat tinju besar monster yanb telah mati sekarang ini.


“Aku ingin istirahat sekarang, untuk memulihkan tubuhku.“ Flank berkata kepada Loret dan Rai.


Setelah mengatakan itu dia berjalan perlahan menuju pohon terdekat, dan dia duduk bersandar di bawah pohon.


Melihat Flank yang sedang duduk bersandar sambil memejamkan matanya, Loret beralih pandangannya kepada Rai dan berkata, “Malam ini kau yang menjaga kita tidur, Rai.“


“Ya, tidak apa-apa.“


“Juga, satu hal lagi, Rai.“


“Apa?“ tanya Rai yang sedikit penasaran dengan hal yang ingin diucapkan oleh Loret.


“Mayat besar itu tolong jauhkan dari sini, sekitar seratus meter dari sini, aku khawatir monster lain datang ke sini setelah mencium bau darah dan busuk dari mayat besar itu, Kau kuat sepertinya, mengingat kau memiliki kemampuan beberapa kali fisik manusia biasa.“ Loret berkata sembari melirik mayat monster besar yang tergeletak dan masih mengucurkan darah walau sedikit yang keluar.


“Oke.“ Rai mengangguk.


Kuro yang diam di atas salah satu pohon sedari awal pertarungan terjadi berlari menuju Rai dan mendaki tubuh Rai dan duduk di atas bahunya.


Saat dia hendak melangkah menuju mayat monster besar di depannya, suara Loret kembali terdengar.


“Jangan lupa kau cari Rist Stone di tubuh monster itu, dilihat dari kekuatannya barusan kemungkinan terdapat Rist Stone di dalam tubuhnya.“


“Oke, aku coba cari.“


Rai menjawab tanpa menoleh ke belakang dan terus berjalan mendekati mayat monster yang merepotkan ini.


Menatap Rai yang semakin jauh, Loret berbalik dan pergi ke pohon tempat Flank beristirahat.


“Monster ini mirip dengan raksasa, pantas saja disebut sebagai Boss.“ Rai bergumam seraya menatap monster yang terbaring tidak bergerak di tanah.

__ADS_1


Ukuran monster ini sangat besar seperti raksasa, terlebih saat melihat empat tangan yang kekar dan besar.


Tangan Rai menjangkau kaki kanan monster tersebut dan mencoba menariknya.


“Berat, tapi aku bisa menariknya.“


Bobot monster ini cukup berat, mungkin berkisar dua ton atau lebih, meski begitu Rai masih bisa menariknya ke area yang cukup jauh dari tempat mereka istirahat.


Menarik lebih dari tiga ratus meter, Rai berhenti dan meletakkan tubuh besar ini begitu saja di tanah.


Mengingat pesan Loret yang telah diucapkan kepada dirinya tadi, tangan Rai mengambil pedang yang ada di punggungnya.


Membalikkan tubuh monster ini menjadi telentang, nampak dada yang telah sedikit berubang dan dibalut darah merah.


Ujung salah satu pedang Rai membelah dada monster dan membuka kulit monster yang tebal. Methuragon ini semakin tajam setelah levelnya meningkat, sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh Sistem.


Setelah beberapa menit membedah dada monster, Rai hanya menemukan pecahan batu mirip kristal namun berwarna coklat tua, nampaknya ini yang disebut batu kehidupan monster.


Letak batu ini tepat berada di tengah-tengah dada monster, wajar saja Rai tidak langsung menghancurkan batu ini, ia terlalu terpaku dengan bagian organ dalam manusia yang tata letak jantung ada di dada kiri, dengan demikian dia memfokuskan tusukan ke arah tersebut terlebih dahulu..


“Tidak ada, sayang sekali.“ Rai menggelengkan kepalanya sedikit kecewa.


'Miaw!'


Kuro melompat ke bawah dan berjalan di atas perut mayat besar.


“Kau kenapa, Kuro?“


'Miaw!' Kaki depan kiri Kuro yang kecil terangkat dan menunjuk ke mayat besar Boss Huuzer Crawler.


“Kau ini daging ini?“ tanya Rai yang sedikit mengerti maksud Kuro.


Kepala kecil Kuro mengangguk berat, tanda ucapan Rai benar dan sesuai dengan apa yang dimaksudkan olehnya.


“Oke, kau harus cepat memakannya, aku memindai agar dua orang itu tidak melihatmu berubah menjadi kucing besar.“ Rai meminta Kuro untuk memakan daging ini dengan cepat.


'Miaw!' Kuro setuju dengan permintaan Rai, dan dia segera mengubah bentuknya menjadi Sabertooth yang berukuran lumayan besar.


Dengan rahang yang kuat dan lebar, Kuro memulai santapan makan malamnya.


Rai mengambil pecahan batu berwarna coklat dan pergi dari atas tubuh Boss Huuzer Crawler.


Berjalan ke arah utara, Rai mengawasi posisi Loret dan Flank yang sedang beristirahat, jika dia ke sini pastinya muncul dari arah utara. Hal itu disebabkan karena dirinya membawa mayat besar ke arah selatan, atau arah kota Lhee Pusat.


Beberapa menit kemudian, Kuro menyelesaikan makanannya dan menghampiri Rai dalam bentuk anak kucing.


'Miaw!'


[Ding! Level Kuro Telah Naik!]


Bunyi Sistem terdengar membuat Rai terkejut dan menatap ke bawah pada Rai yang mulai menaiki tubuhnya.


“Kau telah naik level, Kuro.“


“Coba kita lihat atributmu sekarang.“ Rai berkata pada Kuro yang tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Rai.


“Tampilkan jendela status Kuro, Sistem!“


[Binatang Psikis]


[Nama: Kuro Caelan]


[Ras: Catzer Spesial]


[Level Kekuatan: D-]


[Kemampuan: 1]


[1. Combat Mode.]


[2. Dark Fume.]


[3. (Akan terbuka di waktu tertentu).]


Sebuah layar yang melayang muncul di depan Rai dan menampilkan status atribut Kuro yang terbaru.


“Levelmu telah naik, Kuro. Sebelumnya yang aku kau naik di level E plus, sekarang sudah naik satu tingkat dan bahkan setara dengan Boss Huuzer Crawler.“ Rai menoleh pada Kuro yang sedang menjilati kedua kaki depannya, nampak lucu tapi dia tidak memperhatikan perkataan Rai.


Mungkin karena tidak mengerti dan tidak begitu peduli, Kuro tidak ingin melihat ini.


“Hemm, apakah aku bisa melihat nama kemampuan Kuro yang baru?“ Rai bertanya-tanya sembari dia menyentuh judul kemampuan baru Kuro di layar transparan.


[Dark Fume: Kemampuan aktif yang dapat meningkatkan kekuatan dan kecepatan Kuro menjadi dua kali dari aslinya. Tampilan seluruh tubuh diselimuti oleh asap hitam, hanya terlihat bayangan hitam berbentuk Sabertooth dengan dua mata yang berbeda warna.


Catatan: Kemampuan ini akan aktif saat Combat Mode diaktifkan.]


Melihat deskripsi penjelasan dari kemampuan Kuro yang baru mengingatkan Rai pada asap hitam yang keluar dari seluruh tubuh Kuro tapi itu tidak terlalu gelap.


Apakah asap itu adalah Dark Fume?

__ADS_1


Jika iya, itu sangat keren, visual Kuro menjadi ganas dan mencekam layaknya sebuah kegelapan di dalam sebuah ruangan yang sempit dan kecil.


Pasti rasa ketakutan akan muncul dengan sendirinya, sama halnya Kuro yang dapat membuat takut musuhnya hanya dengan penampilannya.


__ADS_2