LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 59: Tiga Anggota the Bunmuri


__ADS_3

4 hari kemudian sejak kejadian Big Huuzer Licker.


Rai berdiri di sebuah kamar yang masih terbilang bagus meskipun sudah rusak dan berdebu banyak, dirinya berdiri di dekat jendela pada kamar yang berada di lantai 30 sebuah gedung dengan ketinggian puluhan meter.


Matanya menerawang jauh pada jalan yang ada di bawahnya, Rai sedang mengawasi beberapa sosok yang sedang duduk melingkar di tepi jalan.


Tampaknya itu sebuah kelompok yang beranggotakan lima orang sedang membuat tempat menginap, atau menginap di bahu jalan, dekat halaman parkir sebuah gedung yang sudah begitu rusak.


Tetapi, hal ini cukup aneh jika dilihat-lihat, entah kenapa mereka ingin tidur di sana, padahal hari masih siang bahkan belum memasuki waktu sore, selain itu juga tempatnya terlalu berisiko, sangat mudah untuk mendapat penyerangan dari monster sewaktu-waktu.


Rai terus memperhatikan orang-orang di bawah ini tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


Jujur saja, Rai senang akan ada orang-orang yang masih hidup di Kota Lhee Utara, itu artinya kota ini masih ada manusia yang menempati dan tinggal.


Dari orang-orang yang ada di bawah pinggir jalan ini bisa Rai ambil asumsi pribadi, bahwa di Kota Lhee Utara masih banyak orang yang tinggal dan menetap, namun ia tidak tahu tempat persembunyian mereka, tak mungkin mereka secara terang-terangan memberi tahu keberadaannya.


Orang-orang di bawah ini cukup mencurigakan, Rai rasa harus diawasi pergerakannya.


“Aku penasaran, mereka itu kelompok apa dan tujuannya ke mana. Lebih baik aku turun dan mengawasi lebih dekat.“


Rai membuat keputusan di dalam hatinya, berniat untuk lebih mengetahui tentang kelompok tersebut, di lubuk hatinya yang terdalam sebenarnya ia ingin mengambil informasi dari mereka, tidak tahu dengan cara baik atau jahat, lihat saja respons mereka.


Pada dasarnya, perlakuan Rai tergantung dengan perlakuan orang lain, jika orang lain baik, Rai juga akan baik, dan sebaliknya jika orang itu jahat, Rai juga akan jahat.


Prinsip yang dianut oleh kebanyakan orang.


“Kita harus lebih dekat dengan mereka, Kuro.“ Rai berkata pada Kuro yang sedang duduk meringkuk di atas kasur yang kotor.


Mendengar ini, Kuro langsung bangun di kasur, lalu mengangguk tanda mengerti ke arah Rai.


Melompat dari kasur dan turun ke bawah, Kuro memanjat tubuh Rai hingga sampai di bahu kanan Rai, seperti biasa Kuro bertengger layaknya sebuah burung di bahu Rai dengan tenang.


“Oke, kita berangkat ke bawah.“ Rai segera keluar dari kamar dan bergerak dengan cekatan menuju tangga darurat.


Menuruni ratusan anak tangga dengan cepat tanpa jatuh, akhirnya Rai sampai di lantai dua di atas lantai dasar.


Ia memantau kelompok orang tersebut dari sebuah kamar yang ada di lantai dua yang menghadap ke jalan, tentunya Rai sembunyi dan berhati-hati untuk mengintip mereka.


Posisi Rai sulit dilihat oleh orang-orang yang bernaung di pinggir jalan karena terdapat sebuah tembok dinding besar dari sebuah bongkahan bangunan sebelah gedung ini yang roboh sehingga menghalangi sebagian jendela kamar tempat Rai mengawasi mereka.


Dari luar hanya terlihat sepasang mata Rai yang sedang mengintip dan itu pun tidak kelihatan jelas, orang lain akan kesulitan untuk melihat Rai, butuh konsentrasi yang tinggi agar menemukan posisi Rai.


“Semenjak aku lihat mereka dari beberapa jam yang lalu, kelihatannya mereka sedang membuat tempat tinggal sementara, tampak ingin menginap satu malam di sini.“


Selang beberapa jam Rai mengawasi orang-orang tersebut, Rai dapat kesimpulan bahwa mereka semua sedang membuat tempat bermalam di sini, selain itu juga Rai baru sadar terdapat dua wanita di kelompok tersebut.


Tiga pria dan dua wanita saling bahu membahu membuat tempat tidur dengan bahan seadanya.


Akan tetapi, ada sesuatu yang janggal di antara mereka.


“Tiga pria ini sepertinya tidak begitu baik dengan dua wanita ini.“


Diperhatikan lebih lanjut, Rai mendapati bahwa sejak tadi yang banyak bergerak adalah dua wanita tersebut, lalu tiga pria ini hanya berjalan-jalan tidak jelas sembari sesekali memegang tubuh dua wanita.


Seakan-akan dua wanita itu pembantu yang harus bekerja untuk tiga pria, padahal Rai lihat tiga pria ini memiliki senjata di tangannya dan juga tas besar, penampilan pria masih bisa dikatakan rapih.


Sedangkan dua wanita ini hanya mengenakan pakaian celana panjang yang telah sobek dengan baju yang sudah kotor akan tanah dan debu, penampilan cantik mereka juga ditutupi noda tanah.


Rai terfokus dengan luka-luka yang disekujur tubuh wanita, beberapa luka terekspos dengan darah masih tampak begitu jelas, apalagi wajah kedua wanita yang terlihat kesakitan, namun dipaksakan untuk terus bekerja mengambil sesuatu barang untuk membuat tempat bermalam.


“Aku akan memantau mereka sampai malam, aku penasaran apa yang akan dilakukan orang-orang ini di malam hari.“ Rai bergumam dengan pandangan yang masih terpaku pada kelima orang tersebut.


Kuro yang sedari tadi duduk di meja yang rusak hanya bisa meringkuk dan tidur.


Rai juga tidak hanya memandangi mereka saja, namun sesekali ia mengemil beberapa macam roti dari berbagai negara.


Ia beli makanan itu dari Mall System, mumpung masih banyak Koin Pembelian yang dipunya.

__ADS_1


Dengan kesabaran dan ketekunan akhirnya malam pun datang mulai menggelapkan Kota Lhee Utara.


Rai masih di posisinya, sesuai dengan ucapannya yang bilang bahwa ia akan terus memantau dan melihat apa yang akan dilakukan oleh mereka saat malam.


Pada mulanya mereka berlima duduk melingkar dengan di tengahnya terdapat perapian kecil, tidak ada hal yang aneh di antara mereka berlima, namun … setelah satu jam kemudian sesuatu adegan ditampilkan oleh mereka ketika Rai mengamati mereka.


Adegan pembuatan anak atau reproduksi mereka lakukan di pinggir jalan, yang membuat Rai tercengang tak bisa berkata-kata adalah, dua wanita ini bersama-sama digunakan oleh tiga pria secara bergantian.


Melihat adegan ini malah membuat Rai menganggap bahwa mereka adalah hewan.


Hewan yang sedang berkopulasi bersama, mereka manusia yang sekarang menjadi hewan.


Dimulainya aksi tersebut Rai langsung mengalihkan pandangannya, telinganya tetap terpasang untuk mendengar bahwa mereka masih ada di sana.


Beberapa jam kemudian, mereka selesai melakukan senggama bersamaan dan mulai melanjutkan aktivitas yang berikutnya.


Mata Rai terus bergerak mengawasi mereka, wajah Rai yang penasaran perlahan berubah menjadi terpana dan bingung, pasalnya apa yang Rai lihat sekarang di luar dugaannya.


Dua wanita itu sehabis dipakai untuk pemuas langsung diikat menggunakan tali di kaki dan tangannya.


Dan kemudian tiga pria itu memulai aksinya dengan menyayat kulit betis kedua wanita itu, lalu sayatan itu terus dilakukan hingga ke anggota tubuh yang lain.


Satu orang berganti-gantian menutupi mulut kedua wanita agar tidak berteriak.


Mata Rai menjadi merah secara bertahap, emosinya meledak-ledak di dalam tubuh.


Namun, Rai terus berusaha menenangkan dirinya untuk tidak bertindak gegabah.


“Sudah waktunya untuk menghentikan mereka bertiga.“


Rai keluar bersama Kuro dari gedung, wajahnya masih tertulis amarah yang sedang ditahan, dengan bibir yang ditekuk ke bawah dan matanya yang tajam, raut wajah Rai saat ini begitu mengerikan.


Kuro tidak tahu apa yang dirasakan oleh Rai, ia bingung kenapa Rai menjadi begitu marah, tetapi saat Kuro melihat dua wanita yang disiksa Kuro langsung paham kenapa Rai begitu marah.


Rai berhenti di jarak 5 meter dari mereka, tanpa berlama-lama lagi ia memulai untuk melarang mereka dengan cara melalui lisan.


Gerakan mereka bertiga terhenti hampir bersamaan, lalu menoleh ke arah Rai.


“Siapa kau?!“ Salah satu dari mereka bertiga menyahut Rai dengan nada yang kesal.


“Berhenti melukai kedua wanita itu!“ Rai berkata dengan perkataan yang memerintah.


Begitu mendengar ini ketiganya saling memandang satu sama lain beberapa saat, tidak langsung menjawab ucapan Rai.


“To–long ka–mi!“ Seorang wanita tiba-tiba saja berkata dengan suara yang meringis kesakitan, ia berhasil menyingkirkan tangan yang menutup mulutnya dan segera berkata.


Amarah Rai semakin melonjak ketika mendengar suara rintihan wanita yang diikat dan disiksa oleh tiga pria.


“Diam kalian!“


Bang!


Pipi kedua wanita tersebut langsung dihantam oleh tinju dari dua pria yang sedang menyanyat.


Darah langsung keluar dari mulut kedua wanita sehabis dipukul keras oleh pria-pria ini.


Emosi Rai sudah sangat sulit untuk ditahan, lalu ia melampiaskan amarahnya dengan berkata, “Aku bilang jangan siksa mereka berdua! Jika tidak ….“


Rai mulai mengancam mereka bertiga untuk tidak melanjutkan penyiksaan, jujur Rai sudah muak dengan tindakan tiga pria di depannya.


Pria yang menyumbat mulut wanita itu bangkit dan berjalan menuju Rai selangkah demi selangkah.


Melihat satu pria yang datang ke arahnya, Rai hanya melihat dan memperhatikan pria tersebut.


Pria ini memakai kaos pendek berwarna abu-abu yang sudah kusam, namun di punggungnya terdapat tas ransel. Pria tersebut memegang sebuah pedang yang sarung pedangnya tersimpan di pinggangnya.


Keseluruhan orang ketiga pria ini memang jauh lebih baik kondisinya, tampak seperti mereka itu berasal dari kelompok yang kuat.

__ADS_1


“Kalau tidak, kau mau apa?“ Pria itu berhenti dua meter di depan Rai, dan bertanya dengan wajah yang mencibir.


“Kalau tidak, aku akan membunuh kalian bertiga!“


Rai berkata dengan lantang tanpa ada ketakutan sedikit pun di nadanya.


Bang! Bang!


Bunyi dentuman berbunyi secara berurutan, Rai melihat dua pria yang sedang menyiksa wanita itu memukul dada wanita hingga penyok berlubang.


“Sekarang, kau ingin membunuh kita?“ Dua pria itu bangkit dan meninggalkan mayat dua wanita.


Melihat adegan ini, mata Rai memerah dan melotot, emosinya benar-benar tidak dapat ditahan saat ini.


“Bajingan kalian!!“


Rai berteriak dengan amarah yang meledak.


Sosoknya menghilang di detik berikutnya, dan muncul di depan pria yang menghampirinya.


Sebuah tinju terkepal di depan wajah pria tersebut, tidak memberikan kesempatan untuk menghindar, pria itu terhempas menabrak bangunan di belakangnya.


Bam!


Berikutnya Rai menghilang lagi dan muncul di kedua pria yang berjalan beriringan, kedua tangan Rai memegang wajah keduanya lalu membantingnya ke bawah.


Bang!


Aspal dan tanah terkoyak oleh benturan kepala dua pria tersebut, darah dan isi kepala menyembur keluar dengan kencang dan membasahi permukaan tanah di sekitarnya.


Perlahan tangan Rai melepaskan kepala pria yang ada di lubang, dan menampilkan pemandangan yang mengerikan.


Kepala kedua pria itu hancur seperti bola cokelat yang ditekan hingga menjadi pipih.


Mereka bertiga belum sempat bereaksi untuk menyerang Rai, tetapi sudah dibunuh oleh Rai dalam sekilas, kurang dari lima kedipan mata untuk membunuh mereka bertiga.


Berdiri di antara kedua mayat pria tersebut, Rai melirik sesaat jasad mereka dengan mata yang menghina.


Setelah itu Rai berjalan menuju jasad kedua wanita yang telah mati, ia pun memandang sebentar dengan tatapan yang rumit.


Rai mengeluarkan dua kain hitam dari tasnya, dua mayat itu Rai tutupi kain untuk memberi penghormatan terhadap mereka berdua atas perjuangannya.


Dari wajahnya saat sebelum tewas, Rai melihat jelas ketidakmauan di wajah kedua wanita tersebut, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka berdua.


Awalnya Rai tidak mengetahui ini, karena pada saat wanita tersebut sedang diperkaos, Rai tidak melihat wajah mereka berdua, namun ketika disiksa Rai baru melihat wajah yang tidak mau dari wanita.


Di saat itulah amarah Rai melonjak, ia paling tidak suka melihat seseorang yang disiksa, terlebih manusia menyiksa manusia.


Secara tidak langsung itu mengingatkannya kepada apa yang pernah Rai alami di kehidupan sebelumnya, ia sangat membenci adegan tersebut.


Menggelengkan kepalanya, menghembuskan napas berat, tidak ingin lagi mengingat mimpi buruk itu lagi.


Rai mengalihkan pandangannya dan mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat sosok yang melekat pada dinding tembok bangunan, pria yang awal ia serang kini tertancap kuat di dinding bangunan gedung dengan kepala yang terdistorsi tak lagi bisa dikenali, tidak perlu ditanyakan lagi pria itu telah mati.


Membalikkan tubuhnya, memunggungi bangunan yang tertempel jasad pria yang dibenci oleh Rai, berjalan ingin kembali ke bangunan tempat ia bersembunyi tadi.


Namun … ketika ia melewati jasad kedua pria itu terdapat sesuatu yang menarik perhatiannya.


“Simbol?“


Rai segera berhenti dan berjongkok di tengah-tengah mayat, lalu membuka pakaian kedua mayat untuk melihat sesuatu yang manarik perhatian matanya.


“The Bunmuri?“ Rai sedikit terkejut setelah melihat simbol ini di tubuh keduanya.


“Anggota The Bunmuri ternyata ada di sini juga, benar apa yang dikatakan Loret, The Bunmuri melakukan kejahatan yang sulit diterima.“ Rai bergumam keci dan mengingat kembali ingatan mengenai organisasi biadab The Bunmuri.


Berikutnya Rai segera memeriksa tas di setiap jasad untuk mengambil sesuatu dari mereka yang sekiranya penting untuknya.

__ADS_1


__ADS_2