LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 68: Kuro yang Berbeda


__ADS_3

Nasi goreng memang merupakan makanan yang enak untuk dimakan di malam hari seperti ini, terlebih didampingi oleh udara dingin yang sepoi-sepoi menerpa tubuh.


Rai ikut memakan nasi goreng bersama Lara, di dalam tas penyimpanannya banyak sekali makanan, ia hanya perlu mengambil apa yang diinginkan dan memakannya tanpa perlu mencari sapi terlebih dahulu untuk sekadar memenuhi kebutuhan makanan.


Lara makan begitu lahap, dan itu diperhatikan oleh Rai selama dirinya sedang makan. Mungkin karena terlalu lapar, Lara bisa seganas itu ketika memakan makanan.


Salah satu faktor yang membuat Lara begitu lapar bisa disebabkan oleh kegiatan hari ini yang sangat menguras tenaga dan keringat. Dalam satu hari beberapa ratus monster mereka berdua musnahkan sampai monster-monster tersebut tidak bernyawa.


Tidak terbayangkan betapa lelahnya mereka berdua untuk bisa mengalahkan ratusan monster yang tidaklah mudah. Huuzer Crawler sudah jarang ditemui di Kota Talu Utara, kebanyakan monster di sini berjenis serangga dan reptil kadal.


Dan sebagian besar dari monster-monster itu berasa di level E.


Meskipun begitu, level yang dianggap lemah apabila kuantitasnya berjumlah masif itu dapat dianggap kuat dan merepotkan.


Sesudah memakan makanan malam, Lara dan Rai seperti biasa menjadikan kertas nasi menjadi bola kertas dan menyimpan di tempat yang tersembunyi.


Rai masih belum bisa untuk mengungkapkan kekuatannya dan fitus sistem yang dapat membuang sampah entah ke mana melalui lubang hitam.


“Akhirnya aku kenyang~” Lara menopang tubuhnya dengan kedua tangannya di belakang dan berkata sambil memejamkan matanya.


Perutnya sudah tidak lagi mengeluarkan suara aneh untuk beberapa jam ke depan.


Rai memandangi Lara dari samping dan hanya menggelengkan kepalanya.


“Mengapa kamu menggelengkan kepala? Apakah ada yang salah dengan diriku?“ tanya Lara ketika melihat Rai menggelengkan kepalanya setelah melihat dirinya.


“Tidak ada.“ Rai mendongak ke atas dan melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit malam.


“Jangan berbohong padaku. Apakah ada yang salah dari bajuku? Atau ada sesuatu wajahku?“


Lara menyipitkan matanya tidak percaya dengan jawaban Rai dan ia kembali bertanya.


“Tidak ada yang salah dengan bajumu, tetapi di wajahmu ada terdapat banyak noda debu dan tanah. Kau sudah berapa hari tidak mandi?“


Rai berkata dan masih menonton indahnya panorama langit di Kota Talu Utara.


“Anu … aku tidak mandi selama seminggu~” Lara menjawabnya dengan malu.


Ia tidak bisa melihat dirinya sendiri, sebab tidak ada cermin di sini, dan kaca gedung pun banyak yang sudah pecah dan menjadi menjadi serpihan kaca.


Oleh sebab itu, Lara tidak bisa mengetahui betapa kotor wajahnya.


Namun, wajah Lara yang kotor itu masihlah terlihat cantik, postur wajahnya yang indah masih terlihat jelas saat dipandang.


Dipikir lagi, Lara tidak mengenakan riasan wajah, di dunia ini makanan saja sulit, apalagi riasan wajah yang tidak begitu penting.


Tanpa riasan dan wajah yang kotor masih tampak cantik, tidak terbayangkan apabila Lara sudah membersihkan wajahnya, cantiknya mungkin bisa mengalahkan wanita yang ada di Bumi.


Selain kecantikannya yang sangat di luar nalar, tubuhnya pun tidak mengeluarkan bau yang tidak sedap meskipun Lara sudah lama tidak mandi.


Selama Rai berjalan dengan Lara dan melakukan perjalanan bersama-sama, tidak pernah sekalipun ia mencium bau yang mengganggu pada tubuh Lara.


Sebaliknya, Rai mencium wewangian yang samar-samar dikeluarkan dari tubuh Lara.


Rai pun tidak tahu sebab tubuh Lara yang masih bisa wangi setelah sekian hari tidak membersihkan diri. Mungkin itu rahasia tubuh wanita.


“Ambil dua botol ini.“ Rai mengeluarkan dua botol air mineral berukuran sedang dan menyerahkannya kepada Lara.


“Untuk apa ini?“ Lara melihat kdua botol di kedua tangannya dan berkata dengan bingung.


“Minum dan membasuh wajahmu.“ Rai masih tidak melihat Lara dan tetap menikmati indahnya malam.


“Emm … baiklah. Terima kasih~”


Lara mengucapkan terima kasih dengan wajah yang samar-samar memerah.


Mengambil botol air minum tersebut dan bangkit dari duduk untuk pergi ke tempat yang memungkinkan dia membasuh wajahnya.


Rai mengindahkan Lara dan masih menyaksikan pemandangan kota di malam hari sembari mengusap bulu halus Kuro yang telah makan malam dengan beberapa potongan daging monster.


Ketika Rai dan Lara makan nasi goreng, Kuro pun ikut makan bersama dengan menu makanan yang berbeda, dan lebih dahulu menghabiskan makanan daripada keduanya.


Tak lama Lara pergi, ia segera datang kembali dengan penampilan wajah barunya.


Begitu Rai menoleh untuk melihat Lara yang kembali dari membasuh wajahnya, segera ia melihat wajah putih nan bersih yang mengandung dengan segala kecantikan, keanggunan, manis, elegan, dan sedikit rasa kedewasaan.


Wajah kecil ini sangat-sangat cantik, Rai pun tidak pernah melihat wanita dengan wajah yang sesempurna ini.

__ADS_1


Kedua mata Rai melebar tercengang dan pandangan matanya secara tidak sadar terpaku pada wajah indah di depannya.


Merasakan pandangan yang begitu jelas pada wajahnya, Lara pun menunduk malu-malu dan tidak berani melihat kembali ke arah Rai.


Rona memerah sudah mendominasi keseluruhan wajah yang cantik dan lembut itu, reaksi Rai membuat Lara merasakan kepuasan di hatinya sekaligus juga merasa malu.


Puas karena reaksi terkejut Rai yang menggambarkan betapa cantiknya dirinya sekarang ini. Malu karena yang melihatnya adalah Rai.


“Lebih cantik dari yang sebelumnya,” kata Rai tiba-tiba setelah melihat wajah Lara dan kembali menghadap ke depan.


“Eh? Terima kasih~” Lara tertegun sejenak dan ia mengucapkan terima kasih dengan raut wajah yang tersipu.


Jantungnya berdetak hebat ketika mendengar pujian yang diucapkan oleh Rai. Tubuhnya bereaksi aneh dan ia tidak bisa mengendalikannya, terapi Lara berusaha untuk menahannya.


“Kamu juga tampan~” Lara tanpa sadar berkata seperti itu dan ia langsung menutup mulutnya menggunakan tangannya.


'Aku keceplosan! Ini terlalu memalukan! Aaaa …! Kenapa tubuhku seperti tak bisa dikendalikan, tiba-tiba saja aku berkata seperti tanpa disadari olehku sendiri, kamu kenapa Lara?! Ayo, kamu pasti bisa mengatasi tingkah lakumu yang aneh ini!' Lara menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, di dalam hatinya ia sedang bergumam dan menyemangati dirinya sendiri agar bisa keluar dari adegan memalukan yang kini sedang terjadi.


Kalimat pujian yang dikeluarkan oleh Lara terdengar jelas di telinga Rai, dan Rai refleks menoleh dan menatap Lara yang sedang menutupi wajahnya.


Baru kali ini Rai dipuji oleh orang, sebelumnya tidak ada satu pun orang yang memujinya terang-terangan seperti ini. Kehidupan sebelumnya pun ia tidak pernah mendapatkan pujian, sebaliknya Rai mendapatkan caci-maki orang-orang.


Mungkin karena penyakit yang selalu muncul dan menghilang, tubuhnya yang terlihat kurus, rambutnya yang tidak terurus acak-acakan membuat orang di sekitarnya tidak menyukai Rai.


Pujian Lara yang diucapkan oleh mulutnya secara tidak langsung membuat kesan di hati Rai.


Untuk sekarang, Rai pun tidak sadar bahwa adegan ini yang menjadi bagian yang mengesankan, lambat laun di masa depan ia akan tersadar.


“Terima kasih.“ Rai menjawab pujian Lara dengan wajah yang kaku hendak tersenyum.


Namun, senyuman itu tidak muncul dan wajahnya kembali datar.


“Emm … sama-sama.“ Lara merespons sembari melihat sosok Rai di sebelah secara perlahan.


Untuk sementara waktu di antara keduanya menjadi sunyi dan hening, mereka berdua bersama-sama melihat langit malam yang sama.


Mereka menikmati angin malam dan cahaya rembulan yang tertutupi awan selama beberapa saat.


“Aku boleh bertanya tentang anak kucing di pelukanmu?“


“Apa?“


“Anak kucing itu benar Catzer?“


Lara bertanya dengan wajah bingung dan penasaran secara bersamaan.


“Iya, ada apa?“ Rai menjawab dengan heran.


“Aku rasa Catzer milikmu tidak biasa.“ Lara berkata misterius seraya melihat Kuro yang tidur di pelukan Rai.


“Tidak biasa?“


“Benar, aku belum pernah melihat Catzer yang bisa menjadi kecil dan sebaliknya. Sejujurnya, aku juga bingung ketika melihat anak kucing di pelukanmu, dan aku baru sadar bahwa ada sesuatu yang istimewa dengan Catzer yang kau jadikan hewan peliharaan—”


“Kuro bukan hewan peliharaan, dia temanku,” potong Rai dengan wajah yang tidak senang.


“Maaf kesalahan kata-kataku. Temanmu itu memang berbeda dari Catzer yang lain.“ Lara meminta maaf dengan wajah yang bersalah.


Sama sekali Lara tidak tahu mengenai Kuro, ia hanya mengira bahwa Kuro ialah hewan peliharaan Rai.


“Lupakan.“ Rai berkata ringan.


“Emm … aku sudah banyak melihat begitu banyak Catzer di wilayah-wilayah yang berbeda. Mereka monster dan pastinya memiliki naluriah yang alami sebagai monster.“


“Catzer yang aku temui semuanya memiliki bentuk tetap sama halnya kita manusia yang terus bertumbuh dari tubuh kita yang kecil saat bayi dan besar ketika dewasa.“


“Dan … Kuro ini memiliki keunikan yaitu bisa menjadi kecil dan besar sesuka hati, tentu ini bukan hal yang biasa.“


“Terlebih lagi, Kuro memiliki dua warna mata yang berbeda. Kamu sangat beruntung Rai, bisa menjinakkan Kuro dan menjadi temannya.“


Lara mengatakan informasi gratis dengan gamblang dan tata bahasa yang sopan supaya tidak menyinggung perasaan Rai sedikit mungkin.


Setelah mendengar perkataan Lara, Rai terdiam sejenak untuk memikirkan kata-kata Lara tersebut.


Apa yang dikatakan oleh Lara ada benarnya juga, di jendela sistem pun mencantumkan informasi yang sama mengenai Kuro, yaitu Catzer spesial.


Namun, ia tidak tahu bahwa Catzer biasa tidak bisa berubah bentuk menjadi kecil atau pun besar yang artinya ukurannya mutlak, dan matanya pun memiliki satu warna, tidak seperti Kuro yang matanya memiliki dua warna yang berbeda.

__ADS_1


“Catzer tidak bisa dijadikan pendamping?“ tanya Rai pada Lara.


“Tidak, yang aku tahu tidak ada satu orang pun kecuali kamu yang bisa menjinakkan seekor monster yang memiliki hakikat musuh manusia dan penghancur dunia.“ Lara menggelengkan kepalanya.


“Aku kagum denganmu karena bisa menjinakkan seekor monster.“ Lara berkata dengan wajah yang cerah sambil melihat Rai.


Rai hanya melihat sekilas Lara, lalu ia menundukkan kepalanya untuk melihat Kuro yang ada di atas pangkuannya.


Pada saat Lara memberikan informasi tersebut, Kuro terbangun dan pindah tempat ke atas paha kanan Rai.


“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.“


Rai mendongak dan melihat Lara yang sedang melihatnya.


Begitu Rai menoleh ke arahnya, Lara mengalihkan pandangan secepat mungkin dan memasang wajah yang seakan ia tidak melihat apa-apa.


“Tanya apa?“


“The Bunmuri, kau tahu organisasi itu?“


Rai menatap Lara dengan serius dan menunggu jawaban Lara.


Tepat ketika Rai mengatakan kalimat itu, Lara tertegun sesaat dan wajahnya stagnan, lalu ia memandang Rai dengan ekspresi yang rumit.


“Tahu, kamu ingin informasi mengenai organisasi itu?“


“Iya.“ Rai mengangguk dengan tegas.


“Baiklah, aku akan memberikan informasi yang kamu inginkan.“


Lara memasang postur yang tegak dan wajah yang super serius dan ia membuka mulutnya.


Di sisi lain, di sebuah gedung yang terbengkalai dan rusak.


“Sialan! Monsternya banyak sekali, dan juga tidak mendapatkan Rist Stone sama sekali dari membunuh kecoa raksasa yang tidak berguna!“


Garol mengamuk akibat kekesalannya pada ratusan monster yang menyerang ketiganya saat di perjalanan menuju ke jalan utama untuk keluar dan masuk Kota Talu Utara.


Tangannya yang memanas akibat suhu tubuhnya yang juga dipengaruhi oleh emosi yang tidak terbendung.


Kepalan tangan itu berniat untuk memukul tembok ruangan tempat mereka beristirahat di sebuah gedung kosong.


Tepat ketika kepalan tangan itu ingin diayunkan, sebuah tangan yang panjang menahan tangan Garol dan sosok Haris pun muncul untuk menghalau tinju Garol ke dinding ruangan.


Tinju itu gagal ditahan oleh sepasang tangan yang panjang, dan tinju itu terus maju hendak memukul dada Haris yang penuh lemak.


Dengan cepat tinju menghantam dada Haris dengan telak tanpa ada sedikitpun halangan.


Dada dan kepalan tangan itu beradu di detik kemudian dan sesuatu adegan yang luar biasa terjadi.


Tinju kuat Garol itu tidak menimbulkan kerusakan pada tubuh Haris, melainkan tinju Garol menjorok ke dalam seakan sedang dihisap oleh lemak tersebut.


Lemak-lemak yang ada di balik baju Haris tersebut menyerap dampak getaran yang dihantarkan dari tinju tersebut dan menyerapnya secara semaksimal mungkin.


Namun, ketika tinju itu hendak masuk lebih dalam, Garol menarik tinjunya dengan cepat hingga terlepas dari penyerapan lemak Haris.


“Tenang, bung! Kita hanya lagi sial saja, kendalikan dirimu!“ Haris berkata pada Garol yang masih didominasi oleh amarahnya.


“Benar, tenang saja. Itu hanya kesialan, lagi pula kita sudah semakin dekat dengan jalur keluar kota.“ Carlof pun berkata di balik punggung Garol.


Tangan panjang yang sempat menahan tinju kuat Garol adalah milik Carlof. Mereka bertiga adalah pejuang kebangkitan dengan kekuatan kebangkitan yang berbeda.


Sudah sangat jelas bahwa Haris memiliki kemampuan yang berkaitan dengan lemak di tubuhnya, dan Garol berhubungan dengan fisik karena tubuhnya yang berotot, lalu Carlof memiliki kemampuan yang berhubungan dengan sesuatu yang memanjang.


Setelah dinasehati oleh kedua temannya, emosi amarahnya Garol pun mereda dan cukup kondusif.


“Lebih baik kita tidur, kau sendiri yang bilang bahwa kita hanya bisa tidur 4 jam malam ini, dan akan bangun sepagi mungkin untuk bisa sampai di tujuan lebih cepat.“


Carlof yang melihat bahwa Garol sudah bisa dikendalikan, ia menghembuskan napas lega dan berjalan menuju lantai yang bersih di ruangan tempat mereka berdiri.


“Benar kata Carlof, lebih baik kita tidur saja. Besok kita akan melanjutkan perjalanan, dan semoga saja tidak ada monster dengan jumlah yang banyak di jalur perjalanan kita,” tambah Haris yang setuju dengan saran Carlof dan duduk di dekat jendela ruangan sambil memeluk tasnya.


Melihat kedua temannya yang ingin beristirahat, Garol pun merenggangkan keegoisannya dan mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri serta melupakan peristiwa yang membuatnya menjadi kesal terjadi.


Ia bergerak dan berjalan ke tempat yang kosong dari puing-puing dan meletakkan tasnya di lantai dan Garol berbaring lemah.


Carlof dan Haris pun saling memandang seperti menunjukkan pengertiannya satu sama lain dan mereka berdua secara bersamaan memejamkan matanya untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2