LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 29: Kuro Tambah Besar


__ADS_3

Berjalan menyusuri genangan darah kental, menghindari tulang dan daging yang masih berserakan, Rai mendatangi Kuro yang masih mengunyah daging di mulutnya.


“Kau belum kenyang, Kuro?“ Rai bertanya sambil berjalan ke samping Kuro yang sedang makan.


Grrr ….


Respon Kuro hanya menggeram pelan seraya menggelengkan kepala.


Tanda bahwa Kuro masih belum kenyang. Padahal setelah Rai perhatikan daging yang tersisa di jalan, jumlahnya telah berkurang banyak hanya tinggal puluhan potong saja.


Entah terbuat dari apa perut Kuro, dia bisa makan sebanyak itu.


Bisa saja perut Kuro tidak menyimpan dan mengambil nutrisi atau manfaat dari daging secara perlahan, akan tetapi langsung diserap menjadi sesuatu yang bermanfaat dengan kecepatan yang singkat.


Tidak memakan waktu banyak seperti perut manusia yang butuh beberapa jam untuk menyaring dan menyerap vitamin serta yang lainnya di dalam perut. Dan itu menghasilkan ampas, yakni kotoran manusia.


Tiga minggu hidup bersama Kuro, Rai tidak pernah melihat Kuro membuang kotorannya, jujur dia belum atau tidak sama sekali melihat Kuro melakukan itu.


Setelah menelan potongan daging di dalam mulutnya, Kuro berjalan untuk memakan potongan daging paling dekat.


Proses mengunyah makanan tidak terlalu lama hanya butuh belasan atau lebih detik, lalu Kuro akan segera pergi ke daging selanjutnya.


Karena Kuro masih sibuk dengan makanannya, Rai berniat untuk mencoba tipe senjata Longsword yang lain.


Ia berjalan ke tepi jalan yang bebas akan darah monster, lalu dia menatap Longsword Methuragon yang berbilah bercabang seperti huruf Y.


Hanya dengan di dalam hati dia mengucapkan keinginan untuk mengubah senjata di tangannya, senjata ini perlahan berubah menjadi tipe senjata yang lain.


Senjata ini memanjang kembali seperti tipe Double Bladed Sword, namun di tengah gagang atau pegangan senjata itu terpisah dengan sendirinya, dan Rai memegang dua pedang Longsword Methuragon dengan bentuk yang mirip dengan Double Bladed Sword jika dipotong menjadi dua.


“Ini tidak ada yang berbeda, sama seperti saat aku memisahkan Double Bladed Sword secara manual.“ Rai menggerakkan senjata di keduanya untuk melihat detail lebih jelas. “Benar, tidak berbeda untuk bentuknya, hanya perbedaan warna saja, yaitu pada bilah yang berwarna hitam legam.“


Rai mencoba mengayunkan pedang di tangan kirinya beberapa ayunan, ini lebih mudah untuk dikendalikan, mengingat bahwa senjata ini bisa disesuaikan massanya.


Setelah puas mencoba pedangnya, Rai mengubah bentuk senjatanya menjadi Double Bladed Sword, dan dua pedang itu saling menyatu saat memulai proses, seperti ada kesadaran di senjata ini.


Tangan Rai pun ikut ditarik saat dua pedang ini menggabungkan diri.


“Bagus sekali, aku suka ini.“ Rai memuji senjatanya.


Tepat saat Rai berniat untuk tidak menggunakan senjatanya, senjata ini mulai mengalami perubahan perubahan lagi, sesuatu seperti slime symbiote hitam keluar dari seluruh pegangan senjata.


Slime atau kita sebut symbiote hitam ini merembat menuju bilah pedang, lalu benda itu menyebar saling berkaitan satu sama lain hingga membentuk sesuatu yanh serupa dengan penutup pedang.


Ujung penutup pedang ini ikut melancip menyesuaikan dengan bilah pedang bermata dua ini.


“Wow!“ Rai terpana dengan adegan yang tak terduga tadi.


Tidak pernah menduga bahwa senjata ini memiliki fitur no combat.


Double Bladed Sword dengan penutup pedang di kedua bilahnya.


Mungkin ini memiliki fungsi agar tidak melukai pengguna atau orang yang disekitarnya, ini merupakan suatu tindakan keamanan.


“Kau keren, Methuragon,” puji Rai dan memberi satu jempol pada senjata ini.


Rai sudah menganggap senjata ini sebagai temannya.

__ADS_1


Tanpa senjata ini, Rai akan kesusahan melawan monster yang menyerangnya.


Kaki Rai melangkah ke arah gedung terdekat, dia duduk di sana, menatap Kuro yang ada di jalan sedang memakan daging monster.


“Suasana sunyi dan sepi di kota mati ….“ Rai memandangi langit di atas gedung yang rusak, dan asal bergumam. “ Eh kira-kira ke mana tiga orang itu?“


Baru ingat bahwa dia ke sini untuk membantu mereka, dan mereka pergi ke salah satu gedung di sekitar sini.


Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari gedung yang dimasuki oleh tiga orang itu. Juga dia berusaha mengingat gedung seperti apa yang mereka datangi.


“Kalau tidak salah mereka bertiga masuk ke dalam gedung itu.“


Mata Rai tertuju pada sebuah gedung yang memanjang dan memiliki banyak jendela kamar, lantai yang sedikit dibanding gedung yang lain, gedung tipikal apartemen, dan sebagainya.


Gedung ini tidak jauh, hanya beberapa puluh meter dari gedung tempat dirinya duduk.


Meninggalkan tempat duduk, Rai pergi berjalan menuju gedung itu, berharap mereka bertiga masih di sana.


Hanya ingin mengambil informasi mereka, tidak lebih dari itu, jika mereka mencoba menyakiti dirinya, Rai tidak menahan untuk membunuh mereka.


Grrr ….


Suara geraman Kuro terdengar dari belakang Rai yang sedang berjalan.


Melihat ke belakangnya, dia melihat Kuro yang mulutnya terciprat noda darah, berdiri di belakangnya.


“Kau sudah selesai, Kuro?“ tanya Rai memiringkan kepalanya.


Kuro merespon dengan anggukan kepala.


Rai mengalihkan pandangannya ke belakang Kuro, lebih tepatnya jalanan yang masih digenangi darah merah.


Kembali lagi melihat Kuro, Rai tersadar bahwa tubuh Kuro mode sabertooth menambah besar.


Kini Kuro sangat mendekati ukuran Sabertooth jaman purba, tingginya bahkan hampir menyamainya, panjangnya lebih dari 250 cm, hampir tiga meter.


Perubahan ini sangat jelas terlihat, Rai langsung menyadarinya.


“Kau bertambah besar di mode ini, Kuro.“ Rai berkata sambil berkeliling melihat tubuh Kuro.


Tubuhnya ini lebih mengandung banyak otot, bulunya pun banyak, tapi tidak terlalu banyak bagai kucing anggora. Sama dengan bulu serigala, yang cukup untuk tidak kedinginan di kondisi cuaca atau suhu yang dingin.


“Sepertinya nanti aku akan mencoba menaiki kamu, Kuro.“


Terlintas begitu saja pikiran untuk menaiki Kuro bagaikan tunggangan. Juga mungkin ini akan mempercepat proses perjalanannya untuk pergi ke kota Lhee Utara.


Grrr …


Anggukan kepala dilakukan lagi oleh Kuro, tanda dia setuju.


Diingat lagi, Kuro saat mode kucing dia selalu duduk di bahunya. Bisa juga dia memperbolehkan untuk timbal balik karena Rai selalu memperbolehkan dia untuk hinggap di bahu kanannya.


“Oke, Kuro. Terima kasih.“ Rai tersenyum dan menyentuh kepala Kuro yang besar ini, dan mengusapnya.


Kuro menggelengkan kepalanya, lalu menjatuhkan Rai ke tanah, lalu dia menjilat wajah Rai dengan penuh kehangatan.


“Sudah-sudah jangan seperti ini, Kuro.“ Rai melambaikan tangannya dan menghalangi wajahnya untuk jilat lagi oleh Kuro.

__ADS_1


Kuro langsung berhenti menjilat, dan dia mundur beberapa langkah untuk memberi ruang pada Rai.


“Lidahmu bau, Kuro,“ keluh Rai sambil bangkit untuk berdiri.


Bau busuk akibat dari memakan potongan daging monster tercium menyengat dari mulut Kuro.


Ia harus menahan napas saat Kuro mendadak menjilat seperti tadi. Rai tahu maksud Kuro, dia sedang senang karena perilakunya, tapi jilatan saat Kuro menjadi kucing besar ini, Rai tidak suka.


“Jangan bersedih, Kuro.“ Rai mengusap lagi kepala Kuro. “Bisakah kamu kembali menjadi anak kucing?“


Roar!


Raung Kuro berisyarat bahwa dia bisa.


“Kalau begitu kau kembali ke bentuk kucing hitam saja.“


Saat kalimat itu terlontar, Kuro mulai berubah bentuk dan semakin mengecil.


Tak sampai setengah menit, Kuro telah menjadi seekor anak kucing yang lucu.


“Ukurannya masih sama, Kuro. Tidak ada yang beda di bentuk ini.“


'Miaw!'


Ukuran Kuro di bentuk anak kucing tidak berbeda, dan ukurannya tetaplah sama.


“Kamu bisa mengubah bentukmu sesuka hati atau bagaimana?“ tanya Rai yang menebak kondisi Kuro.


'Miaw!' Kuro mengangguk.


“Itu benar?“ Rai sedikit terheran, tebakannya ternyata benar.


'Miaw!'


Kuro mengangguk, responnya tetap sama.


“Bisakah kau memberiku bukti?“ Rai penasaran apakah itu hanya respon anggukan karena tidak mengerti atau bukan.


Selanjutnya Kuro mulai bertumbuh besar menjadi seekor kucing dewasa, lalu bertumbuh besar lagi seukuran anak harimau masa remaja. Kuro menampilkan ukurannya pada Rai.


Mulut Rai terbuka dan terus memperhatikan Kuro yang terus mengubah ukurannya.


Hingga akhirnya Kuro kembali lagi ke ukuran seekor anak kucing. Terlepas dari semua ukuran, mode combat tetaplah sama yaitu serupa dengan tampilan sabertooth dengan ekor panjang.


“Keren!“ Rai mengulurkan tangannya dan memberi jempol pada Kuro.


'Miaw!'


Kuro mengeong keras dan melompat ke mana-mana, menunjukkan rasa senangnya.


“Ayo kita pergi, Kuro. Kita harus mencari tiga manusia tadi,” ajak Rai kepada Kuro yang masih melompat-lompat di depannya.


Kuro berhenti dan mengangguk pada Rai, lalu dia berlari, memanjat tubuh Rai, dan duduk di bahu kanan Rai.


Rai menggelengkan kepalanya saat melihat Kuro yang bersemangat.


Kemudian dia berjalan masuk ke dalam gedung yang menurutnya adalah sebuah gedung tempat tinggal.

__ADS_1


Sosok Rai mulai tenggelam di kegelapan depan gedung, dan menghilang secara perlahan.


__ADS_2