
Dua hari yang lalu seharusnya Rai telah masuk ke daerah Talu Utara, tetapi ia masih belum mengetahui posisinya, sebab tidak ada GPS yang dapat mengetahui di mana dirinya berada saat itu.
Berdiri di depan tembok yang lebih pendek daripada kota Lhee Utara. Pandangannya melihat ke samping kiri yaitu arah utara, di sana Rai melihat sebuah rentetan dari gunung tinggi yang biasa disebut pegunungan, pegunungan ini ditutupi oleh awan, padahal saat ini hari sudah sore, normalnya pegunungan tidak ditutupi kabut atau pun awan di waktu sore, terlebih lagi langit sekarang sedang cerah.
“Pegunungan apa itu?“ Rai bertanya-tanya tentang pegunungan di kejauhan, baru pertama kali ia melihat sebuah pegunungan besar di dunia ini.
Sangat cantik pemandangannya, cocok untuk bersantai di pagi hari sambil menyeruput secangkir kopi.
“Kau tahu pegunungan apa yang ada di sana, Kuro?“
Rai mencoba bertanya pada Kuro yang juga melihat pemandangan yang jauh di sana, siapa tahu Kuro mengenali pegunungan tersebut.
'Miaw!'
Kuro menggelengkan kepala kecilnya dan mengeong, ternyata Kuro yang asli dari dunia ini pun tidak tahu pegunungan yang ada di arah utara.
Dilihat-lihat lagi oleh Rai, pegunungan ini tampaknya membuat sebuah kurungan di daerah utara Talu Utara, seolah-olah pegunungan ini menjadi pemisah antara daerah Talu dengan daerah Mopulu.
Daerah Mopulu adalah daerah yang ada di balik pegunungan tersebut menurut peta yang Rai punya.
“Aku harus segera mencari tempat untuk beristirahat, sebelum malam datang.“
Rai mendongak ke atas melihat langit yang mulai berubah menjadi berwarna oranye yang agak gelap, menandakan sebentar lagi malam akan tiba.
Rai berjalan bersama Kuro ke depan tembok besar ini.
Terlihat beberapa pucuk gedung yang tinggi masih berdiri kokoh di dalam kota, tembok kota yang pendek membuat beberapa konstruksi bangunan terpampang dari luar.
“Aku tidak beruntung, jalan untuk masuk ke kota diblokir.“ Rai berkata sedikit kecewa setelah melihat terowongan di depannya.
Pasalnya terowongan yang ada di kota Talu ini telah ditutup akses masuknya oleh beberapa mobil rusak yang berdempetan hingga tak bisa lagi dimasuki, bahkan oleh orang sekali pun.
Ia berjalan dan sedikit memutari tembok besar untuk mencari jalan yang sekiranya bisa dilewati dan membawanya ke dalam.
Tak lama kemudian, Rai menemukan sebuah lubang yang cukup besar pada tembok kota.
Letaknya ada di ketinggian tiga meter, dengan diameter lubang sekitar 150 cm lebih. Cukup besar dan bisa dimasuki meski agak sempit.
Tanpa berpikir lagi, Rai segera melompat ke lubang tersebut untuk memeriksa keadaan di dalam lubang.
Ternyata lubang ini menembus tembok hingga dirinya bisa melihat sesuatu yang ada di balik tembok dan dapat membawanya ke dalam kota yang ada di belakang tembok.
Setelah menyoroti lampu senter ke dalam lubang dan memastikan bahwa tidak apa-apa di dalamnya, Rai tanpa ragu memasuki lubang tersebut, kehati-hatian masih diperlukan karena ia tidak tahu apa yang ada di luar lubang sana.
Lubang ini masih bisa dilewati oleh Rai dengan tubuh yang tinggi, walaupun harus menundukkan kepala agar bisa melewati lubang.
“Inikah yang dinamakan Kota Talu?“
Ketika berhasil masuk ke dalam kota, Rai langsung disuguhi sebuah pemandangan kota yang menakjubkan.
Sebuah kota dengan berbagai gedung yang begitu tinggi, berbeda dengan Kota Lhee entah itu Utara dan Pusat, kota Talu Utara ini memiliki banyak gedung yang begitu tinggi, rata-rata bangunan di sini memiliki lantai lebih dari 15 lantai.
Tampak begitu padat dengan bangunan terlebih sepertinya kota ini berada di kaki pegunungan, kelihatan sedikit miring akibat dataran yang meninggi ke arah pegunungan yang ada di utara wilayah Talu.
Suasana di sini tidak gersang seperti Kota Lhee Pusat, ini sebaliknya Kota Talu Utara begitu lembab, suhu di sini pun lebih dingin dibandingkan dengan Kota Lhee Utara.
Lingkungan kota lebih suram ketimbang yang lain, kota ini sangat gelap karena banyak gedung tinggi yang menghalangi jalur cahaya matahari yang menyoroti, terlebih sekarang sore hari, cahaya matahari makin remang-remang. Apalagi banyak bangunan yang hancur dan saling bersandar karena topangan bangunan hancur di bawahnya yang membuat bangunan tersebut miring dan bersandar pada bangunan yang masih berdiri kokoh.
Tanaman merambat lebih subur di kota ini daripada Kota Lhee Utara yang memiliki curah hujan tinggi.
“Aku harus ke bangunan terdekat!“
Setelah mengatakan itu, kaki Rai bergerak dengan cepat dan berlari menuju sebuah gedung yang tidak jauh darinya.
Sebuah gedung tinggi dengan puluhan lantai yang telah rusak sebagian bangunannya, lantai teratas sudah tidak memiliki tembok lagi hanya ada kerangka bangunan yang terdiri dari behel dan tiang-tiang tanpa atap.
__ADS_1
Segera Rai memasuki gedung tersebut melalui jendela besar yang rusak. Lewat mana saja bisa karena di lantai dasar ini terlalu terbuka, bahkan pada saat ia sedang berlari pun Rai bisa melihat isi dalam lantai dasar.
“Gedung ini sangat hancur, melebihi gedung yang ada di kota Lhee.“ Rai bergumam kecil sembari melihat area sekitar.
Terdapat banyak sekali sampah dan puing, ditambah tanaman yang sudah menguasai lantai, bahkan di dalam sini terdapat satu bunga mawar yang sudah mekar.
Tangan Rai terentang dan memetik bunga mawar dan mengabaikan duri yang menusuk jari tangannya.
“Mawah yang indah~” Rai mengagumi tampilan bunga mawar berwarna merah yang ada di tangannya.
“Baru pertama kali aku melihat bunga mawar di dunia ini.“
Ini pertama kalinya Rai melihat bunga mawar di dunia ini semenjak kedatangannya hampir dua bulan yang lalu.
Biasanya ia hanya melihat bunga melati dan bunga-bunga kecil yang ia sendiri pun tidak tahu nama bungan tersebut, namun Rai sering melihat dan bahkan membuatnya ingat bunga-bunga yang sering kali ia temui.
Diingat lagi ia tak pernah menemukan bunga mawar sepanjang jalan, mau itu di perjalanan di Kota Lhee Utara dan Pusat Rai belum pernah menemukan bunga ini.
“Aku harus menyimpannya, ini bunga yang langka.“
Rai memasukkan sepucuk bunga mawar yang indah ke dalam tasnya, setelah itu Rai bersama Kuro yang berjalan di bawah mencari tangga darurat untuk ia naiki menuju lantai teratas.
Begitu menemukan tangga darurat, Rai bergegas ke lantai berikutnya dan mulai melakukan pemeriksaan.
Semoga saja di sini ada barang yang penting, Rai selalu membutuhkan petunjuk dan informasi berharga, karena pada hakikatnya ia bukanlah manusia yang memang berada di dunia ini.
Lapis demi lapis Rai eksplorasi, setiap ruangan yang periksa meski tidak semuanya. Dari pemeriksaan gedung ini Rai mengambil kesimpulan dan kesan tentang gedung ini, bahwasanya gedung ini benar-benar rusak.
Banyak sekali ruangan yang tidak mungkin Rai masuki dan periksa untuk mencari barang, sebab banyak ruangan yang sudah hancur bahkan lantai ruangan pun hancur dan berlubang.
Kerusakan yang diterima oleh gedung ini sungguh banyak, tetapi Rai salut dengan ketahanan bangunan ini, meski sudah banyak yang roboh dan beberapa bagian yang jatuh karena rusak, gedung ini tetap berdiri tangguh.
Melihat bangunan ini bahkan Rai mendapatkan sebuah pelajaran, yakni “Jadilah seseorang yang tetap berdiri teguh meski banyak orang yang berusaha menjatuhkan dirimu”.
Selama lebih dua jam Rai memeriksa bangunan, akhirnya ia sampai di lantai paling atas bangunan ini, namun Rai sekali lagi tidak mendapatkan hasil apa-apa, mungkin karena terlalu rusak membuat barang-barang di sini juga ikut hancur tak bisa dikenali lagi.
Sayangnya tidak semua daerah kota Talu bisa dilihat dari bangunan ini, lantaran banyak gedung yang lebih tinggi dari gedung ini yang akibatnya Rai tidak dapat melihat pemandangan kota secara keseluruhan.
“Suasana dan atmosfer di sini sangat berbeda, terasa lebih mencekam dan menyeramkan. Untungnya aku bukan orang yang penakut.“
Setelah memandang kota dalam waktu yang lama, Rai merasakan suasana yang lebih gelap, seolah kota ini memiliki hawa yang suram dan tidak menyenangkan.
Ada beberapa faktor yang membuat kota ini menyeramkan, yaitu karena tanaman yang terlalu lebat dan bangunan-bangunan yang terlalu hancur, juga kepadatan bangunan mempengaruhi lingkungan di sini.
“Aku masih memikirkan dua wanita itu, padahal aku pertama kali melihat ada wanita di dunia ini, namun sayangnya aku bertemu dengan wanita dalam takdir yang tidak menyenangkan.“ Rai duduk di pinggir lantai tanpa atap ini bersama dengan Kuro yang ada di pangkuannya, kepalanya terangkat ke atas dan memandangi bulan yang ada di langit.
Tatapan kasihan dan kerinduan tergambar jelas dari sepasang mata Rai, memikirkan kedua wanita tersebut hal itu masih menghasilkan rasa sedih dalam dirinya.
“The Bunmuri sangat biadab! Aku benar-benar benci dengan organisasi itu! Keparat!“ Rai berkata dengan marah, berteriak ke langit sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Sesuatu yang paling dibenci Rai adalah seseorang yang membunuh wanita tidak bersalah, dan hak yang tak mau Rai lihat ialah melihat wanita yang dibunuh di depan matanya.
Ia benar-benar benci dengan organisasi The Bunmuri yang melakukan perbuatan tersebut, tak bisa dibiarkan organisasi bajingan ada di dunia ini, jika dirinya bertemu anggota organisasi itu, Rai tidak segan untuk langsung membunuhnya di tempat.
Hambatan yang merugikan harus segera disingkirkan.
'Miaw~'
Kuro mengeong kecil begitu ia melihat Rai yang bermuka marah dan berteriak kencang.
Rai yang sedang emosional langsung terendam ketika mendengar suara tangisan Kuro yang lucu.
Menundukkan kepalanya melihat Kuro yang menatapnya, Rai yang marah segera berubah menjadi tersenyum ramah pada Kuro.
Kedua mata yang berwarna berbeda itu bisa Rai rasakan sesuatu rasa kekhawatiran yang ditujukan pada dirinya, amarah yang tinggi langsung turun setelah melihat tatapan Kuro.
__ADS_1
Selain itu juga, hati Rai menghangat, karena ada makhluk yang masih khawatir akan dirinya.
“Tidak apa-apa, Kuro. Aku hanya kesal dengan kejadian satu minggu yang lalu, aku baik-baik saja.“ Rai tersenyum lebar dan berkata dengan yang lembut pada Kuro.
Mendengarkan penjelasan Rai, Kuro langsung merespons dengan tindakannya yang lucu, menggosokkan kepalanya pada pipi Rai dengan sikap manjanya.
“Hahaha! Sudah-sudah, Kuro! Itu membikin aku geli, hahaha!“
Bulu halus Kuro menggelitik leher Rai tidak sengaja saat ia menggosok-gosok pipi Rai, lantas Rai tertawa kegelian oleh bulu-bulu itu.
Segera tangan Rai menangkap tubuh kecil Kuro dan membiarkannya berhenti menggosok pipinya.
“Sudah, aku lelah tertawa.“ Rai menaruh Kuro di sebelahnya dan menatap mata Kuro.
“Kau ingin makan?“ Rai menawarkan makanan pada Kuro.
'Miaw!'
Begitu kata makanan didengar Kuro, sontak Kuro bersemangat dan menjawab dengan mengeong tegas.
“Oke, aku akan memberimu daging monster yang sudah aku simpan satu minggu ini.“
Setelah berbicara, Rai langsung mengambil beberapa potongan daging monster dan meletakkan di depan Kuro.
Kuro yang melihat daging ada di depannya langsung bereaksi dan memakan daging dengan tergesa-gesa.
“Hei, pelan-pelan saat makan, jangan terburu-buru.“ Rai mengingatkan Kuro.
Tetapi, Kuro tetap makan dengan lahap tanpa mengindahkan peringatan yang diucapkan Rai.
Menatap Kuro yang sudah masuk ke dalam mode keras kepala, Rai hanya menghela napas dan menggelengkan kepala, tak ada yang bisa Rai lakukan untuk melarang Kuro agar tidak makan dengan cepat.
Daripada melihat Kuro makan, lebih baik ia makan malam juga.
Rai mengeluarkan lima hamburger Mekdonal dari tasnya, dan segelas minuman jus jeruk manis.
Keduanya makan malam bersama-sama.
Sehabis makan malam Rai mendirikan tenda kemah di ruang yang cukup luas di lantai tanpa atap ini, setelah tenda siap Rai dan Kuro tidur dengan nyenyak.
…
Keesokan paginya Rai bangun dan melakukan sarapan sebelum melanjutkan mengeksplorasi berbagai tempat di Kota Talu Utara sembari pergi ke tujuan akhir Kota Tujuah.
Sama seperti di Kota Lhee Utara, pola pemeriksaan terhadap gedung Rai gunakan metode cepat yang hanya memeriksa beberapa lantai saja dan langsung menuju gedung lainnya.
Hingga beberapa jam kemudian, hampir sepuluh gedung telah Rai periksa dan mendapatkan beberapa petunjuk sementara.
Rai berhenti di sebuah gedung tinggi yang terakhir ia periksa dan menatap barang seperti sampah di tangannya.
Barang tersebut adalah kain kasa yang berdarah, bukan miliknya tetapi milik seseorang yang pernah singgah.
“Kain siapa sebenarnya ini? Aku tidak melihat seseorang di gedung ini sejak awal aku lakukan eksplorasi.“
Rai mengamati kain kasa yang terdapat darah di tangannya sembari merenung memikirkan hal ini.
Tepat ketika Rai memperhatikan kain kasa tersebut, sesuatu suara lainnya terdengar oleh telinganya.
Sontak hal itu membuat Rai mengalihkan pandangannya dan mencari sumber suara.
Suara seperti bergemuruh terdengar oleh Rai, dan Rai dengan cepat menemukan dari mana asal bunyi yang mengganggu itu.
Ternyata suara itu berasal dari gerombolan monster yang belum pernah Rai temui, dan monster sedang mengejar seseorang yang berlari berupaya kabur dari kejaran monster-monster tersebut.
Akan tetapi … Rai menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.
__ADS_1
“Bukankah ini ... seorang wanita?!"