LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 78: Desa Kosong


__ADS_3

Sebuah pemukiman layaknya sebuah desa yang sudah ditinggalkan lama oleh penduduknya hadir di depan keduanya.


Mereka berdiri diam dan hanya mengawasi area pemukiman yang terlihat dari bidang penglihatannya.


Pedesaan yang sunyi dan sepi tanpa ada gerakan apapun dari makhluk hidup, seakan-akan pedesaan tersebut telah mati dan tak layak huni.


Bangunan-bangunan yang berdiri di sini sebagian besar telah hancur, dan sisanya masih kokoh berdiri meski sudah rapuh dari tampilannya. Semua bangunan rumah di sini terbuat dari bambu dan semen yang disatukan dan diaplikasikan pada bagian-bagian tertentu, kini bangunan tersebut telah dihinggapi banyak lumut.


“Kamu berani masuk?“ Lara menoleh ke Rai dan bertanya.


Mendengar pertanyaan Lara, Rai merasa agak diremehkan. “Berani.“


“Ayo kita masuk!“ Lara mengambil langkah pertama menuju pedesaan tersebut.


Rai yang melihat ini ikut berjalan di belakang Lara.


Desa ini sangat sepi, suara mereka berdua berjalan berpijak pada tanah terdengar sangat jelas.


Satu per satu bangunan rumah yang rusak dan utuh Rai dan Lara periksa bersama.


Kebanyakan dari bangunan rumah ini cuma berisi sampah dan peralatan yang telah lama rusak, seperti kayu meja, bangku atau kursi, dan lemari banyak yang tersisa kerangkanya saja, itu pun sudah digerogoti oleh rayap.


Pertama kali Rai melihat rayap di dunia ini, ternyata serangga rayap yang di sini hampir tiga kali lipat dari yang ada di Bumi, sehingga Rai bisa melihat dengan mudah serangga-serangga tersebut.


Kemungkinan itu efek dari virus yang mengkontaminasi mereka, tetapi hasilnya tidak sebaik nyamuk dan kecoa.


Beberapa kain sobek yang sudah kotor banyak ditemukan, benda itu banyak tersangkut di puing kayu bangunan dan juga lantai semen tanpa keramik yang sudah ditutupi tanah.


“Desa ini mirip dengan desaku yang ada di selatan dari kota Talu Utara,” ujar Lara yang berdiri di dalam sebuah rumah tua melihat bagian dalam rumah.


Rai yang ada di suatu ruangan di dalam rumah tersebut menoleh ke arah Lara dan menjawab, “Ada berapa banyak desa di wilayah Talu?“


“Mungkin ratusan atau mungkin ribuan, aku juga tidak tahu pasti,” kata Lara sambil mengangkat bahunya. “Pastinya desa di sini sudah ditinggalkan oleh para penduduk, sebab mereka sangat rawan diserang oleh monster.“


“Apakah pemerintah kota Talu Utara tidak melindungi mereka?“ Alseenio bersandar di tembok yang sudah rapuh dan memandangi Lara.


“Dilindungi oleh pemerintah, tetapi tidak sekuat yang ada di dalam kota. Pemerintah hanya membangun beberapa bangunan di luar kota untuk para militer dan polisi untuk menjaga mereka.


“Seperti yang aku sebutkan tadi, desa di luar kota sangat banyak, sedangkan fasilitas keamanan sedikit dan terbatas.“


Lara berdiri melihat-lihat puing-puing yang sudah bercampur tanah yang ada di lantai.


“Dengan kata lain, sangat mustahil untuk suatu desa bisa bertahan atau selamat dari bencana ini?“

__ADS_1


“Benar katamu, Rai.“ Lara mengangguk dan berjalan menuju pintu keluar dan masuk rumah ini. “Bahkan desaku yang tentram saja tidak selamat dari serbuan monster bedebah itu!“


Alseenio diam dan berjalan mengikuti Lara. Keduanya keluar dari rumah tersebut dan melihat langit yang berwarna agak oranye yang tandanya waktu sudah masuk sore hari.


“Kita harus bergegas mencari rumah yang bisa kita tinggali untuk malam ini, Rai.“ Lara berjalan lebih dahulu ke suatu rumah yang masih utuh di kejauhan.


“Oke.“


Rai berjalan mengikuti Lara sembari melihat ke area sekitar untuk mengawasi.


Lara masuk ke dalam rumah tersebut dengan hati-hati, sedangkan Rai sudah mendeteksi rumah ini dengan kekuatan telekinesisnya dan hasilnya tidak ada monster.


Oleh karena itu, Rai masuk dengan sikap yang biasa saja seolah ia tidak berwaspada sama sekali.


“Di sini cukup bagus dan nyaman untuk tidur, terlebih ada bangku stainless steel di sini dan beberapa meja kayu jati,” kata Lara yang sedang duduk di kursi berbahan stainless steel. “Bagaimana menurutmu? Kamu setuju untuk bermalam di sini, Rai?“


“Ruangan di sini luas, aku setuju saja.“ Rai mengangguk dan menghampiri jendela rumah yang tertutupi debu.


“Oke, kita bermalam di sini.”


Lara membuka tasnya dan mengambil alat pembuatan api.


“Ingin membuat api penghangat di sini?“ tanya Rai yang melihat Lara mengeluarkan batu arang.


“Rumah ini setengahnya terbuat dari kayu, kamu ingin membakarnya?“ Rai memiringkan kepalanya dan bertanya.


“Hehe aku lupa.“ Lara menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum canggung.


“Lalu bagaimana kita bisa tidur di suhu ruangan yang dingin? Desa ini ada di tengah hutan, Rai,” ucap Lara yang bingung harus berbuat apa yang tepat untuk masalah ini.


“Kenapa kamu bisa tidur di atap gedung saat pertama kali bertemu denganku?“ Rai teringat momennya yang ketika bertemu dengan Lara.


Di ingatannya Lara bisa tidur di atas gedung yang tinggi dan bersuhu cukup dingin.


“Tetapi itu tidak sedingin di sini. Ingat, kita sekarang berada di kaki gunung yang secara tidak langsung suhunya makin dingin di malam hari,” jawab Lara yang sedang menatap Rai dengan serius, “kalau kamu tidak percaya, rasakan saja nanti dinginnya di rumah ini.“


Alih-alih menjawab kalimat Lara yang ditujukan padanya, Rai melihat ke ruangan di dalam rumah yang ternyata cukup luas.


“Melihat apa? Apakah ada sesuatu?“ tanya Lara yang langsung berdiri dari kursi dan memasang postur waspada.


“Tidak ada,” jawab Rai ringan. “Kamu tidap perlu bingung masalah suhu, aku punya solusinya.“


Mata Lara langsung berbinar dan ia berkata, “Apakah benar?“

__ADS_1


“Benar.“ Rai mengkonfirmasi dengan anggukan juga.


“Oke, aku akan menunggu barang menakjubkan milikmu,” ucap Lara yang penuh semangat.


Dua hari ini Rai memberinya makanan secara cuma-cuma, dan terkadang juga harus memberinya informasi yang ia tahu sebelun diberi.


Lara biasanya memberikan informasi mengenai lingkungan dan sesuatu yang telah ada sebelum dunia hancur.


Seperti sebuah perusahaan yang sangat besar dan sudah memiliki cabang di beberapa wilayah.


Semua penjelasan tersebut Rai dengar dengan bauk, dan dipikir lebih kanjut olehnya, ia merasa bahwa sebagian besar atau mayoritas perusahaan dan pabrik di dunia ini memiliki kesamaan yang begitu spesifik, dan hanya berbeda dari nama brandnya saja.


Namun, dari segi makanan memang sangat berbeda, bahkan Rai sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Lara tentang suatu makanan tersebut.


Masalah fauna dan flora pun tidak jauh berbeda dengan di Bumi, ada beberapa fauna dan flora yang unik di sini, sayangnya Rai tidak bisa melihatnya.


Malam hari muncul, bulan yang indah mulai menunjukkan wujudnya makin jelas terang bercahaya.


Selama beberapa jam berlalu, Rai diam mendengarkan ocehan Lara yang sebenarnya tidak penting baginya, namun karena Lara sudah dianggap olehnya sebagai anggota tim ia harus menghargainya.


“Kamu merasakannya, Rai?“ Lara bertanya pada Rai sambil memeluk tangannya sendiri.


“Malam semakin dingin di sini.“ Tubuh Lara sedikit gemetar akibat suhu dingin yang cukup ekstrim.


“Benar,” jawab Rai.


Rai bangkit dari meja kayu jati yang sedikit rusak dan berjalan menuju keluar rumah.


“Kamu mau ke mana, Rai?“ Lara langsung bangkit dari tempat duduk dan hendak mengikuti Rai.


“Kamu di situ saja, aku ingin memeriksa sekitar rumah,” tutur Rai pada Lara tanpa melihat ke belakang untuk melihat Lara.


“Emm … baiklah.“ Lara kembali duduk dan menatap Rai yang berjalan ke sekeliling rumah.


Beberapa saat Rai memeriksa dan mengecek area sekitar, ia kembali lagi ke dalam rumah dan berdiri di depan ruangan yang sudah Rai dan Lara bersihkan.


Rai mengambil sesuatu dari tasnya, yaitu tenda kemah yang sudah lama tidak dipakai olehnya.


“Apa itu?!“ Lara berdiri dan menghampiri Rai.


Matanya terkunci pada benda yang ada di tangan Rai, rasa penasaran sangat telihat jelas dari manik matanya.


Sudut mulut Rai sedikit terangkat, dan kemudian ia melemparkan gulungan tensa kemah ke tengah ruangan.

__ADS_1


Di detik berikutnya sesuatu yang begitu menakjubkan terjadi.


__ADS_2