
Sebuah tebasan dingin berwarna hitam terlihat di malam yang remang-remang, seolah-olah tebasan itu bisa mengambil nyawa makhluk hidup dalam sekali potongan.
“Di sana sudah selesai, Rai?“
Lara yang sedang berada di lantai dua dari sebuah bangunan yang telah rusak setengahnya bagaikan kue kotak yang dibelah menjadi dua bagian.
Ia bertanya pada Rai yang berada di jalan tengah sibuk membantai monster yang tersisa di jalan.
Mereka berdua telah melanjutkan perjalanan begitu jauh sampai akhirnya mereka sekarang sudah ada di bagian utara kota Talu Utara.
Tidak jauh lagi mereka akan sampai ke jalan utama yang berfungsi sebagai keluar masuknya penduduk.
Butuh waktu waktu lima hari lebih atau tiga hari setelah kejadian Lara mempertanyakan Kuro untuk mereka bisa sampai di sini.
Lara memilih jalur yang aman untuk mereka bertiga bersama Kuro dalam perjalanan. Hal itu secara tidak langsung mempengaruhi monster-monster yang ditemui oleh mereka.
Perolehan poin dan pengalaman Rai berkurang karena monster yang ia bunuh menjadi menurun.
Sejujurnya, Rai cukup sedih dengan pendapatan pengalamannya sekarang. Pasalnya Rai berharap minggu ini ia bisa menaikkan levelnya satu kali lagi, tetapi harapannya hampir pupus ketika melihat monster yang berdatangan begitu sedikit.
Oleh sebab itu, Rai menyarankan Lara agar kita melawan rute yang sedikit berbahaya.
Jikalau ia tidak seperti itu, akan lebih lama lagi untuk dia bertambah kuat. Usahanya untuk menjadi kuat lebih cepat menjadi terhambat.
Di dalam hatinya terdapat ketakutan terhadap monster, Rai takut jika monster lebih cepat bertambah kuat dibandingkan dirinya.
Rai terkesan seakan-akan sedang berlomba dengan monstee yang ada di dunia.
Lara mengikuti saran Rai, dan hari ini Lara mengarahkan Rai untuk pergi ke jalur yang memiliki banyak monster.
Akhirnya sampailah mereka di tempat yang sekarang ini, di sebuah jalan besar yang bahu jalan kiri kanannya terdapat gedung dan bangunan tinggi yang rusak.
Di sini banyak monster yang kerap kali Rai temui dan basmi.
Harapannya menjadi melonjak tinggi, dan kini ia memiliki kesempatan besar untuk menaikkan levelnya sendiri.
[Ding! Bunuh 19 Quitozer (F+). Dapatkan +76 Exp, +76 Koin!]
Sebuah monster yang mirip dengan seekor nyamuk meledak setelah terkena tebasan Longsword bilah bercabang Methuragon.
__ADS_1
Suara Lara terdengar oleh gendang telinganya, dan ia menoleh ke atas untuk melihat Lara yang sedang berdiri di lantai dua menghadap dirinya.
“Sudah.“ Rai menjawab dengan nada yang tidak keras dan tidak pelan.
Lara yang bisa mendengar jawaban Rai merespons dengan anggukan kepala dan satu jempol tangan kirinya.
Setelah melihat Lara yabg merespons jawabannya, pandangannya ia alihkan ke area sekitarnya, Rai harus memastikan monster yang ada di bagian jalan ini telah habis, sebelum ia pergi meninggalkan tempat ini.
Sekitar lima menit Rai menghabiskan waktu untuk mengamati area sekitar jalan dan hasilnya ia tidak menemukan keanehan atau pun sesuatu yang janggal, ini menunjukkan bahwa semuanya sudah selesai.
“Ayo, Rai! Kita harus pergi ke bangunan di depan ini untuk menginap semalam, besok kita harus pergi ke jalan yang sudah tidak jauh lagi dari kita.“ Lara memanggil Rai dan berkata dari kejauhan.
Rai menggangguk sebagai jawaban atas perkataan Lara, dan ia segera mengambil sebagian daging monster yang berserakan di jalan.
Di atas, Lara sedang melihat daerah sekitar dan tidak memerhatikan gerakan Rai yang sedang mengambil potongan daging.
Tidak lama kemudian, Rai sampai di samping Lara bersama Kuro di bahunya.
“Kita harus ke bangunan di depan, satu-satunya jalan hanya melewati bongkahan yang bersandar pada bangunan. Ayo, ikuti aku!“
Lara menginjak bongkahan bangunan yang besar dan panjang yang jatuh bersandar pada bangunan di depannya, posisi bersandarnya puing sedikit miring ke atas.
Karena terlalu rusak dan rapuh, bangunan itu menjatuhkan puing besar dan puing itu tersangkut di kedua bangunan dan secara tidak langsung menjadi jembatan untuk akses ke bangunan yang satunya.
Kaki Rai melangkah ke depan dan menginjak hati-hati puing atau bongkahan bangunan yang besar ini.
Debu dan tanah yang ada di puing tersebut berjatuhan setiap kaki Rai mendarat dan melangkah.
Lara telah sampai di bangunan tersebut dan ia menunggu Rai melewati jembatan puing ini.
Tepat pada saat Rai ingin melangkah terakhir kali di puing tersebut, tiba-tiba puing itu bergetar hebat dan jatuh ke bawah.
Sontak hal itu membuat Rai bereaksi cepat dengan melompat sebelum puing itu jatuh ke bawah.
Namun, ada satu hal yang tidak disadari oleh Rai, yakni ia melompat ke arah Lara yang sedang memperhatikan dirinya melompat.
Mata Lara melebar ketika ia melihat sosok Rai yang sudah ada di depannya.
Sebelum keduanya sempat menghindar satu sama lain, tubuh Rai menabrak Lara dan keduanya jatuh ke lantai.
__ADS_1
Brak!
Lara menutup matanya ketika tabrakan antartubuh terjadi, dan ia menunggu rasa sakit datang akibat terjatuh ke lantai.
Akan tetapi, sekian lama Lara menunggu rasa sakit, dirinya tidak kunjung merasakan sakit seperti apa yang ia duga.
Sebaliknya, ia tidak merasakan sakit, tetapi rasa nyaman yang keterlaluan membuatnya ingin terus berada di dalam pelukan yang sekarang ia rasakan.
Penasaran dengan apa yang terjadi, Lara membuka matanya pelan-pelan dan ia melihat sesuatu di depannya.
Sepasang mata berwarna hitam yang begitu menawan sedang menatapnya dalam-dalam, mata itu terlihat sangat dekat dan jaraknya hanya beberapa sentimeter dari mata Lara.
Tubuh Lara sedang ditopang oleh satu tangan kanan Rai, tangan yang lainnya menahan agar tubuh Rai agar tidak jatuh. Postur tubuh Rai seperti melakukan penghormatan kepada seorang Raja dengan satu lutut.
Hampir saja tubuh Lara ersentuhan dengan lantai yang penuh debu.
Postur mereka terlihat ambigu dan ini terjadi selama beberapa detik, mereka berdua terdiam seakan waktu berhenti karena membeku.
Lara masih belum bereaksi ketika melihat sepasang pupil mata yang tampan di depannya, ia masih terpesona dengan mata tersebut hingga akhirnya sebuah suara yang datar terdengar di telinganya dan menyadarkannya.
“Kau tidak apa-apa?“
“Eh?!“
Dengan cepat Lara bereaksi dan ia melepaskan pelukan hangat Rai dan berdiri di depan Rai dengan wajah yang memerah karena malu.
“A–aku b–baik-baik saja!“ Lara berkata dengan panik dan malu, ia tidak tahu kenapa bertingkah seperti ini.
Lara sesekali melihat Rai setelah itu menundukkan kepalanya, terkadang ia melihat ke kanan dan ke kiri, tetapi wajahnya tetap memerah ketika melakukan gerakan aneh itu.
“Yakin? Kau kenapa bertingkah aneh seperti itu?“ Rai berkata dengan nada yang terdengar khawatir, tatapan mata Rai pun serius melihat Lara.
Lara terdiam sesaat dan ia menundukkan kepalanya sembari keduanya tangannya meremas bajunya.
Kelihatannya Lara sekarang sedang tersipu malu akibat kejadian yang tidak terduga tadi.
Ini pertama kalinya Lara sangat dekat dengan seorang pria dan juga pertama kalinya dirinya dipeluk begitu hangat tanpa ada rasa risih saat pelukan itu terjadi.
Ingin sekali merasakan kehangatan itu lagi, tetapi Lara sangat malu untuk melakukannya sekali lagi dan menurutnya hal tersebut sulit terjadi kembali.
__ADS_1