
Rai dan Lara menunggu Kuro yang sedang menggigit daging Garol sampai habis. Mereka berdua hanya diam sambil matanya melihat ke arah gedung-gedung tinggi.
Tidak terasa mereka berdua akan meninggalkan kota Talu Utara, padahal rasanya baru kemarin mereka berdua saling bertemu dan melakukan perjalanan bersama.
Kerinduan terlukis di mata Lara saat memandang gedung-gedung kota Talu Utara.
Beberapa minggu ini dirinya hidup di pinggiran kota ini. Banyak hal yang dilewatinya di kota ini tentunya berkesan sekali, termasuk bertemu dengan Rai.
Terlebih mengingat waktu kecil dirinya ingin sekali kota ini, dan memiliki keinginan untuk hidup di sini.
Namun sayangnya, keluarganya tidak mampu karena banyak faktor yang tidak mendukung.
Hari ini dirinya akan pergi dari kota kelahiran, ini membuatnya cukup bersedih. Walaupun demikian ia tetap harus pergi, karena inilah yang harus ia lakukan, yaitu berpetualang.
“Wajahmu kelihatan sedih.“ Rai menoleh dan menatap mata Lara.
Lara tersenyum mendengar ucapan Rai, dan berkata, “Terlihat sekali, ya? Aku memang sedang sedih.“
“Kenapa?“
“Karena aku akan meninggalkan tempat di mana aku dilahirkan di dunia ini,” ujar Lara sambil menahan air matanya yang ingin keluar. “Meskipun begitu, aku harus pergi karena pada dasarnya hidup ini adalah sebuah perjalanan.“
Mata Lara yang berair itu melihat Rai dan senyum terbentuk perlahan di wajahnya.
Rai terdiam dan ia kembali melihat ke depan untuk menatap pemandangan kota.
Apa yang dikatakan Lara benar adanya. Rai merasa hidup ini sebuah simulasi bertahan hidup dengan rintangan yang berbeda dan tingkat kesulitan yang berbeda di setiap orang yang menjalankannya.
Terkadang ia bertanya-tanya, kenapa hidupnya sesulit ini, tetapi Rai langsung menemukan jawabannya yang adalah dirinya memang sanggup untuk menyelesaikan simulasi ini.
Rai yakin bahwa semua orang dapat menyelesaikan simulasi ini, karena mereka sendiri telah memilih tingkat kesulitannya tanpa sadar. Sama halnya dalam permainan, kita harus pintar dan cerdas untuk menyelesaikan semua tugas dan rintangan yang ada.
Kita di dunia ini adalah seorang pejuang, jadi … semangatlah! Kita ini bukan seorang pecundang.
'Miaw!'
Terdengar suara kecil Kuro di belakang mereka berdua, dan Rai segera melihat ke belakangnya.
Kuro sedang duduk dengan kaki belakangnya menekuk dan kaki depannya dijilati olehnya. Kebiasaan Kuro setelah makan yang wajib dilakukan.
“Sudah selesai, Kuro?“ Lara berjongkok dan mengambil tubuh kecil Kuro. “Sepertinya kamu sudah kenyang.“
Lara menggendong Kuro layaknya seorang bayi yang sedang ditimang oleh ibunya.
Bentuk anak kucing Kuro memang menggemaskan, Rai mengakui hal ini. Tidak heran jika Lara begitu semangat melihat Kuro, wanita umumnya menyukai hal yang lucu dan imut.
__ADS_1
'Miaw!'
Kuro mengeong pada Rai dengan wajah yang terlihat marah.
Melihat wajah Kuro yang tampak marah membuat Lara menjadi bingung tidak tahu maksud dari Kuro, dan bertanya, “Kuro bilang apa, Rai? Aku tidak mengerti.“
“Dia bilang dia ingin duduk di bahuku,” jawab Rai.
Lara menatap wajah lucu Kuro dengan sedih, “Kenapa kamu tidak mau duduk di bahuku, Kuro? Apakah aku membuatmu tidak nyaman?“
'Miaw!'
Kuro merespons ucapan Lara.
“Bahuku lebar dan cukup untuknya istirahat dengan nyaman,” Rai memberi tahu alasan Kuro suka duduk di bahunya.
“Baiklah, kalau itu maumu, Kuro.“ Lara berjalan ke depan Rai lalu meletakkan Kuro di atas bahu kanan Rai. “Aku membantumu ke atas tanpa perlu memanjat terlebih dahulu.“
'Miaw!'
“Kita perlu memeriksa isi tas mereka, siapa tahu kita mendapatkan sesuatu yang penting,” ujar Lara yang ingat bahwa ketiga pria yang mati terbunuh oleh Rai membawa tas di punggungnya.
“Oke.“ Rai mengangguk setuju.
Beberapa benda kain kotor ditemukan oleh mereka berdua, tali yang rapuh juga ada, dua potongan daging yang dibalut kain Lara ambil ke dalam tasnya, dan beberapa benda yang tidak penting pun ditemukan.
Karena tidak ada barang yang berguna dan hanya ada potongan daging di dalam tas Garol, mereka melanjutkan ke tas Haris dan segera memeriksa isiannya.
Tas ransel milik Haris masih utuh dan hanya ada sedikit rusak. Lara dan haris satu per satu mengeluarkan isinya dan mengindentifikasi barang yang dikeluarkan, dan hasilnya tidak jauh berbeda dengan Garol, namun di dalam sini terdapat gambar makanan dan Rai mengambilnya.
Setelah tas Haris, keduanya pergi ke tas ransel milik Carlof yang sudah robek menjadi beberapa bagian, ini akibat dari pedang Rai yang memotong tubuh Carlof. Tasnya pun ikut terpotong secara tidak sadar.
Isinya pun tidak berbeda dan masih sama, tetapi … Lara menemukan sebuah lembaran kertas yang bergambar sedikit vulgar, dan Ia pun langsung menyembunyikan barang tersebut dengan wajah memerah.
“Kamu kenapa? Apa yang kamu sembunyikan?“ Rai sadar dengan gerakan Lara dan bertanya.
“Tidak ada apa-apa.“ Lara menggelengkan kepalanya sambil meremas lembar kertas tersebut di kedua tangannya.
“Aku melihat sesuatu yang kamu ambil tadi, apa itu?“ tanya Rai serius.
“Bukan apa-apa, itu hanya gambar biasa.“ Lara menggelengkan kepalanya lagi dan tidak ingin Rai tahu.
Rai memicingkan matanya melihat mata Lara. “Jujur kepadaku, apa sebenarnya benda itu?“
Melihat mata tajam Rai, Lara mengendurkan sikap keras kepalanya.
__ADS_1
“Ini hanya selembar kertas yang berisikan gambar yang tidak boleh kamu lihat,” kata Lara dengan pipinya bertambah merah seperti merah lobster rebus.
“Apa itu? Kenapa tidak boleh?“ Rai berkata dengan heran dan curiga.
Apakah wanita di depannya menyembunyikan sesuatu informasi yang penting?
“Tidak boleh, ini terlalu sakral.“ Lara bersikeras untuk tidak membiarkan Rai melihatnya.
Melihat sikap Lara yang keras kepala, Rai menjadi lebih penasaran dengan apa yang Lara ambil.
Ia berpikir sejenak untuk mengakali agar Lara mau memberi tahu hal tersebut. Tidak lama kemudian Rai tahu apa yang harus dilakukan.
“Kalau kamu beri tahu itu, aku akan memberimu makanan malam ini,” bujuk Rai kepada Lara.
Wajah Lara berubah menjadi rumit, dan ia terdiam beberapa saat untuk memikirkan negosiasi Rai.
Setelah berpikir, akhirnya Lara memilih untuk memberi tahunya, tetapi dengan durasi yang cepat.
“Aku akan menunjukkannya sebentar, karena ini sesuatu hal yang seharusnya tidak boleh kamu lihat, bagaimana?“
“Oke.“ Rai setuju dengan keadaan Lara.
“Aku akan menghitung waktu mundur setelah aku menunjukkan gambarnya kepadamu, setelah waktu habis aku akan mengambilnya,” tutur Lara pada Rai dengan wajahnya yang tegas.
“Oke, aku mengerti.“
Begitu Rai mengatakan inj, Lara menunjuk secarik kertas ke depan wajah Rai.
Segera Rai melihat sebuah gambar yang wanita dengan boba yang begitu besar tanpa mengenakan pakaian apapun.
“Tiga … dua … satu!“ Lara menarik kembali gambar itu dan dibakar olehnya dengan api putihnya. “Aku tidak akan menyimpannya, kamu tidak boleh melihat ini.“
Rai tertegun beberapa napas, dan mengangguk mengerti.
Pantas saja Lara melarangnya ternyata ini sebuah gambar yang menampilkan tubuh wanita tanpa busana secara terang-terangan. Lara yang sebagai wanita tentunya malu dengan gambar ini apabila dilihat oleh seorang pria.
“Awas! Kamu tidak boleh macam-macam padaku!“ Lara tiba-tiba menjadi sensitif dan berkata dengan nada yang mengancam.
“Ya, tidak akan,” Rai berkata dengan ringan.
“Aku tidak menyangka pria kurus itu seperti ini, tampaknya dia seorang penjahat kelamin,” gumam Lara.
Rai mengangguk setuju dengan ucapan Lara, tetapi Rai masih tidak menduga anggota The Linzation memiliki orang yang seburuk ini.
Akan tetapi, Rai masih skeptis terhadap persoalan ini, tidak tahu kebenarannya mengenai dua organisasi ini, dan juga apakah ketiga pria tersebut anggota The Linzation Seizure atau anggota The Bunmuri.
__ADS_1