LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 107: Lara Menangis


__ADS_3

Keduanya makan malam dengan makanan yang baru, berasal dari negara lain, yakni negara negeri ginseng.


Rai memberikan makanan Toppoki dan susu pisang sebagai minumannya, makanan dan minuman itu sudah mewakili makanan yang terkenal dari negeri ginseng. Tentu saja Lara tidak tahu makanan ini, tetapi ia tetap suka.


Sepertinya makanan yang Rai berikan pasti Lara suka, kecuali minuman kopi, mungkin ia belum terbiasa dengan pahitnya.


Secara semuanya Lara lebih banyak menyukai makanan dan minum yang Rai bagukan. Banyak sekali variasi makanannya, dirinya sendiri tidak memiliki ide memasak selezat di antara makanan yang diberi pleh Rai.


“Enak banget!“ Lara berseru setelah memakan sendok terakhir dari makanan pedas ini.


“Wajahmu merah, terlihat kepedasan, minumlah segera.“ Rai melirik wajah Lara sesaat lalu kembali fokus pada makanannya yang masih tersisa sedikit.


Mendengar saran Rai, Lara dengan lekas membuka minuman susu pisangnya dan menyesapnya.


Begitu minuman itu mengalir di atas lidah Lara, rasa manis yang lembut langsung terasa membuat Lara seakan-akan sedang dimanja oleh rasa manis ini, tanpa sadar Lara menghabiskan minumannya dengan mata terpejam.


“Minuman ini tak kalah enak!“ Mata Lara menyala dan menatap botol minuman susu pisang di tangannya.


“Makanan tadi walaupun pedas, itu tidak membuat yang memakannya berhenti memakan. Sebaliknya, itu membuat orang tak berhenti makanan satu ini, rasa pedas yang nikmat,” ungkap Lara yang merasa bahagia. “Sekarang minuman ini menjadi salah satu minuman favoritku.“


Lara menatap botol susu pisang yang kosong di tangannya dengan mata yang terkesima.


Kelihatannya Lara suka sekali dengan minuman yang memiliki rasa manis yang kuat.


Tak lama setelahnya, Rai menyelesaikan makanannya dan ia menumpuk sampah makanannya dengan sampah bekas makan Lara.


Kuro dibiarkan untuk memakan belasan potongan daging monster, di tas Rai banyak sekali daging monster, tidak masalah apabila memberi Kuro banyak potongan daging setiap hari.


“Rai, maukah kamu menonton sebuah film bersama?“ Lara yang ada di atas kasur sedang bermain ponsel Rai tiba-tiba bertanya.


Ketika mendengar pertanyaan Lara, Rai sebenarnya malas untuk menjawab karena pertanyaan ini adalah ajakan untuk menonton film, pastinya tak jauh dengan film rommantis, beda sekali dengan genre film yang biasa ditonton Rai.


Namun, saat melihat wajah Lara yang penuh harap menatapnya, Rai tampaknya harus memenuhi permintaan dan ajakan Lara.


“Baiklah. Mau di mana menontonnya?“ Rai bangkit dari kursi meja makan dan berjalan ke arah kasur.


Lara memegang dahinya sesaat, kemudian berkata, “Sofa sepertinya nyaman, di sana saja.“


“Oke,” jawab Rai dan pergi ke sofa diikuti oleh Lara.


Setelah keduanya duduk bersampingan dengan jarak yang cukup dekat, Lara kemudian memutar sebuah film di ponsel Rai, film ini sangat terkenal di bumi.


Keduanya menonton film dari awal hingga selesai dengan sangat serius, Rai tidak begitu serius menonton filmnya karena memang tidak masuk ke seleranya sendiri, berbeda dengan Lara yang sangat fokus, bahkan ia merasa sedih dan sempat mengeluarkan air mata ketika adegan problematika yang terjadi.


Film ini menceritakan tentang persahabatan antara seorang pria dan wanita yang lambat laun persahabatan tersebut berubah menjadi rasa cinta, hubungan yang diawali persahabatan memang tidak bisa mulus seperti itu, ada saja halangan dan masalah yang menimpa keduanya, bukan masalah dari luar atau eksternal, tetapi masalah yang datang dari keduanya.

__ADS_1


Pria ini menganggap bahwa sang wanita adalah jiwanya yang seharusnya bersatu dengannya atau biasa disebut jodoh karena banyak faktor yang menyebabkan pria ini memiliki pandangan seperti itu dengan wanita tersebut, salah satunya faktor kesamaan hobi dan selera humor.


Pada saat mereka berdua mengobrol dan bercanda, keduanya tampak serasi seakan memang keduanya harus bersatu.


Namun sayangnya, wanita itu tidak memiliki pandangan yang sama dengan pria ini. Meskipun pria memang tipe pasangan wanita ini, tetapi masih banyak laki yang lain yang lebih baik dari pria, dan dari awal pun wanita tidak menganggap begitu serius hubungannya dengan si pria.


Akibatnya, pria itu sakit hati dan depresi, ekspektasinya yang membuatnya sakit. Ia mengira bahwa wanita akan menerima ajakannya ke jenjang yang serius, kenyataannya berbeda, wanita itu menganggapnya tidak serius bahkan main-main, wanita ini memiliki karakter yang melakukan apapun yang ia suka tanpa mengontrol dirinya sendiri dan merasakan sebagai pihak lawan dari perbuatannya yang dilakukan.


Wanita ini sangat berbahaya bagi pria yang memang sedang mencari pasangan hidup, sifat yang melakukan apapun yang disuka tanpa berpikir apakah lawan jenis tersebut akan suka dan jatuh cinta kepadanya, pentingnya berkomunikasi dan tidak berlebihan akan dibutuhkan untuk mencegah problematika di sini.


Tentu, Rai sebagai pria merasakan sakit hati juga.


Kalau memang kesamaan satu frekuensi dan hobi bukan salah satu cara menilai bahwa itu akan menjadi pasangan kita atau bukan, lalu apa?


Rai memikirkan ini setelah menonton film, pasalnya banyak yang cerai karena pasangan tidak satu jalan dan pikiran, lebih banyak cekcok dan bertengkar karena tidak satu frekuensi. Artinya, dari sini Rai tahu bahwa ke jenjang serius perlu mencari yang satu kesamaan untuk mengurangi probabilitas untuk pisah dalam hubungan pernikahan.


Di film ini, pemikiran Rai ditumbangkan, bahkan dua insan yang sama-sama cocok tidak menjamin itu akan melakukan hubungan serius sampai ke pernikahan.


Wanita di film melakukan apapun yang disukainya tanpa peduli terhadap perasaan lawan jenis lain, dan mencari pasangan yang lebih baik dari sebelumnya yang ia temui.


Sementara itu, si pria terlalu berharap dan berekspektasi tinggi pada wanita ini, berharap bahwa wanita tersebut menjadi pasangannya yang bahagia sesuai dengan keinginannya, nyatanya tidak seperti itu.


Lagi-lagi realita membuat sakit hati seseorang.


Apabila ditanya siapa yang salah? Rai menjawab keduanya yang salah, keduanya tidak mengontrol perasaannya satu sama lain, kontrol komunikasi diperlukan agar tidak membuat salah orang, jangan menutup mata, cobalah sesekali kita membayangkan jadi pihak lawan bicara.


Di dalam hati Lara pasti dirinya merasa bersalah, sebab ia melihat jelas perasaan pria di film tersebut, betapa depresi dan sakitnya ketika dihantam oleh kenyataan hidup.


Sumber masalah yang dihadapi oleh pria ini adalah sang wanita.


Bahkan pria ternyata bisa menyalahkan diri sendiri dan memandang wanita begitu berharga.


Berbeda sekali dengan kenyataan di dunia ini. Para pria memandang wanita layaknya sebuah barang dagangan. Ingin sekali wanita di dunia ini diperlakukan seperti itu tanpa menyakiti perasaan seorang pria.


Dunia akan indah jika manusia hidup damai.


Mata Lara tak bisa menahan air matanya lagi, dan ia menangis sekali lagi.


Rai hanya bisa diam dan mendengarkan isak tangis Lara yang begitu pilu seraya sesekali memberi tisu kepadanya.


Bagaimanapun juga wanita tetaplah wanita, diperlihatkan pemandangan yang menyakitkan hati pun menangis.


Alasan Rai tak menangis adalah masalah hidupnya lebih berat ketimbang percintaan yang ditampilkan dalam film. Ia hidup sendirian di tempat yang ramai, tanpa ada satu orang yang menemani, rasa sakitnya jauh terasa dibanding film yang ditontonnya.


“Rai … bagaimana perasaanmu … setelah menonton film ini?” tanya Lara yang suaranya sedikit bergetar karena napasnya terhalang oleh isak tangis. “Apa kamu merasa … sakit karena merasakan bagaimana jika di posisi … pria itu?“

__ADS_1


“Ya, aku berharap pria itu hidup bahagia dengan wanita pilihannya,” kata Rai yang menatap Lara di sampingnya.


“Aku … berharap yang sama denganmu.“ Lara menyeka air matanya yang masih turun. “Aku menjadi merasa bersalah atas perbuatan wanita di film tersebut.“


“Untuk apa merasa bersalah? Itu bukan kamu,” balas Rai yang sedikit terheran dengan ucapan Lara.


“Memang bukan, tetapi sebagai wanita aku juga merasa bersalah.“


“Sudah, jangan pikirkan itu, itu bukan perbuatanmu.“


Setelah mengatakan itu, Rai meninggalkan sofa dan berjalan ke arah tempat tidur. “Lebih baik kamu tidur, daripada menangis.“


Lara menatap punggung lebar dan kuat Rai, ia melihat bahwa punggung Rai memberi kesan yang sedih dan suram, seperti orang yang memiliki masa lalu sangat kelam.


Dengan lekas Lara menghilangkan air mata yang menempel di pipinya, berjalan membawa ponsel Rai menuju tempat tidur.


Berbaring tengkurap di atas kasur dan menangkupkan wajahnya ke bantal untuk menahan tangis.


Rasa sedih kembali menerjang hatinya begitu mengingat alur cerita fim yang baru saja disaksikan keduanya.


Mengetahui hal ini, Rai menghela napas panjang dan memandang sosok Lara yang tersedu-sedu.


Rai sama sekali tidak ingin mengingat lagi Lara, sengaja ia biarkan seperti itu agar lambat laun Lara merasa lelah dan tertidur.


Tangan Rai mengambil ponselnya yang ada di dekat tubuh Lara, kemudian ia memainkannya sambil menunggu Lara tertidur karena letih menangis.


Sesuai dengan rencananya, tubuh Lara tak lagi tersentak, tubuhnya kembang-kempis bernapas dengan teratur, tandanya Lara berhasil tertidur.


Posisi Lara tidur itu tengkurap, tidak baik untuk tengkurap karena bisa menghambat ketika mengambil napas. Rai membalikkan perlahan tubuh Lara menjadi telentang, ia menutup tubuh Lara dengan selimut.


Tiba-tiba bayangan hitam melintas secepat kilat ke dalam selimut, Rai melihat bahwa itu adalah Kuro yang telah menghabiskan makanannya.


“Selamat tidur, Kuro,” ucap Rai pelan kepada Kuro.


'Miaw~'


Kuro merespons ucapan selamat tidur Rai, kemudian ia menutup matanya.


Setelah itu, Rai memejamkan matanya pelan-pelan dan tak lama kemudian terlelap dalam tidurnya.


….


Tiga hari berlalu, keduanya sibuk menjelajahi kota kering ini.


Banyak sesuatu hal yang belum ditemukan oleh mereka berdua selama tiga hari berjalan bertualang menelusuri kota Mopulu.

__ADS_1


Pada saat ini, Rai tengah berdiri di atas tumpukan monster aneh. Dilihat di sekelilingnya, tampaknya pertempuran sempat terjadi di sini.


“Rai, apakah kamu tidak apa-apa?"


__ADS_2