
Rai menatap Monster Kera Raksasa dengan sorot mata yang main-main, wajah tampak sedang meremehkan monster besar di depannya ini, hanya tubuhnya saja yang besar, tetapi energi dan staminanya yang dimilikinya kecil.
Graaahh!
Amarah meledak dengan dahsyat di dalam diri Monster Kera Raksasa, teriakan yang mengandung kemarahan tersebut ditujukan ke arah Rai.
Di detik berikutnya, sosok monster tersebut berlari dengan dua kakinya menuju Rai, matanya telah penuh warna merah sebagai tanda bahwa dirinya sedang marah besar.
Tinju besar meluncur cepat ke arah Rai bagai meteor besar yang jatuh dari langit ke Bumi.
Rai yang memiliki reaksi lebih cepat dari serangan monster dengan mudah menghindari pukulan dengan satu gerakan.
Tubuhnnya menghilang ketika jarak tinju dan Rai tinggal beberapa sentimeter.
Bang!
Suara nyaring dan kumpulan asap tercipta dari benturan tinju besar dengan tanah.
Di belakang monster yang sedang berpose meninju tanah dengan satu tangan muncul sosok Rai yang sedang mengangkat tinju kirinya.
Kemudian tinju tersebut melayang cepat dan menabrak punggung monster dengan keras.
Bugh!
Pukulan Rai membuat bunyi tumpul ketika mendarat di punggung monster tersebut.
Namun, adegan selanjutnya membuat Lara yang menyaksikan dari kejauhan terpana.
Tubuh besar monster tersebut terpental beberapa meter hingga menabrak beberapa pohon di dekatnya, dan kemudia berhenti.
Monster tersebut berteriak kesakitakn akibat pukulan yang Rai luncurkan, monster tersebut merasa organ dalamnya bergetar dan tulang punggungnya hampir patah.
Rai tidak memberikan kesempatan pada monster tersebut untuk bangkit dan ia segera melakukan serangan selanjutnya.
Kaki Rai melangkah mundur ke arah senjatanya berada sebelum monster tersebut berhasil bangkit.
Tombak yang menancap di salah satu batang pohon yang besar perlahan bergetar seiring dekatnya jarak Rai dengan senjata tersebut.
Tidak lama kemudian tombak Rai tercabut dan terbang ke arah Rai berlari.
Melihat ini Rai segera menangkap tombaknya yang terbang dan segera meluncurkan serangannya yang kedua.
Begitu tombaknya digenggam, Rai langsung melemparkan tombak tersebut dengan seluruh kekuatannya.
Segera, tombak yang diberkati kekuatan telekinesisnya melesat dengan sangat cepat menuju tempat monster raksasa ingin berdiri.
Ketika Monster Raksasa berbalik untuk mencari keberadaan Rai, tombak tersebut menusuk perut monster hingga menembusnya.
__ADS_1
Tidak sampai di situ, tombak Rai terbang kembali dari arah sebaliknya dan menembus tangan kiri monster sampai membuat lubang yang mulus.
Tombak Rai kembali lagi ke tangan Rai setelah melakukan operasi tersebut.
Graaahh!!
Monster Kera Raksasa memekik begitu menyedihkan setelah mendapatkan luka dari tombak Rai, ia jatuh berlutut satu kaki sembari memegang tangan kirinya untuk menutupi luka yang ada.
Roarr!!
Tiba-tiba, suara auman Kuro terdengar di antara keduanya, dan pada detik berikutnya sekelebat siluet hitam datang menuju tempat monster tersebut berada.
Siluet hitam tersebut adalah Kuro yang kembali menyerang Monster Kera Raksasa ini.
Gigi taring di mulutnya menancap kuat dada kokoh monster kera, dua cakarnya pun ikut menyerang monster dengan mencabik-cabik perut monster kera.
Pada kesempatan ini, Rai segera membantu Kuro agar tidak terkena pukulan telak dari monster tersebut lagi.
Majestic of Mind diaktifkan dan segera mengekang kebebasan gerak monster tersebut.
Posisi monster kini berbaring telentang di tanah sembari dicabik-cabik dan digigit dagingnya oleh Kuro.
Monster Kera ini tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya, ia merasa dengan ditekan oleh sesuatu benda yang besar dan sangat berat di atas tubuhnya.
Lambat laun luka di tubuh monster tersebut makin banyak, Rai yang berdiri di atas dada monster ikut menebas sekujur tubuh monster dengan ribuan ayunan pedang.
Jeritan terus menerus keluar dari mulut monster ini, tetapi jeritan tersebut menghilang secara lambat.
Dan kemudian pedang tersebut diangkat tinggi-tinggi oleh Rai, selanjutnya pedang itu menebas sangat cepat serta jatuh tepat di antara leher monster tersebut.
Bilah tajam pedang Rai memotong leher monster begitu halus bagai pisau saat memotong tahu kuning.
Darah merah kehitam-hitaman mengalir keluar dari leher monster tersebut, tetapi tubuh monster masih memberontak ingin dilepaskan.
Rai tidak memberikan kesempatan ini dan terus menekan tubuh monster dengan kekuatan telekinesisnya, sesekali Rai menginjak tubuh monster agar berhenti bergerak.
Tak lama setelah kepala monster terputus, tubuh monster berhenti melawan dan berusaha lepas dari genggamannya.
“Apakah sudah mati?“ Rai bertanya-tanya sembari melihat kondisi sekujur tubuh monster besar ini.
Kuro pun membantu Rai untik menekan monster sambil sesekali mencabut daging dan kulit monster kera ini.
“Belum, Rai!“ Lara berlari dengan membawa tas milik Rai. “Coba kamu tusuk dan bedah di bagian antara bawah dada dan atas perut monster itu!“
Lara melompat ke atas tubuh monster yang besar dan menyerahkan tas Rai ke tangan Rai dan menginstruksikan Rai untuk melakukan apa yang dikatakan olehnya.
“Oke!“
__ADS_1
Setelah mendengar saran Lara, Rai menusuk bagian bawah dada monster menggunakan pedangnya yang berbilah bercabang dan merobeknya dari tengah ke kanan dan ke kiri.
Crack!
Tiba-tiba suara pecahan kaca terdengar di telinga mereka semua, dan Rai segera membuka robekan untuk melihat benda yang pecah tersebut.
“Itu Tick Stone monster ini, sekarang monsternya sudah mati,” Lara berkata sambil melihat benda yang bercahaya cokelat di tangan Rai.
[Ding! Bunuh 261 Apezer (F+). Dapatkan +2.088 Exp +2.088 Koin!]
[Bunuh 1 Big Apezer (D-). Dapatkan +105 Exp +105 Koin!]
Tepat ketika Lara mengucapkan kata-kata itu suara mekanis Sistem berbunyi di kepala Rai dan memberi tahu peringatan tentang hasil pembunuhan monsternya.
“Tampaknya monster ini lebih kuat dari Huuzer Spizer.“ Lara tiba-tiba menganalisis mengenai kekuatan monster ini.
Rai mengangguk setuju dengan apanyang dikatakan Lara.
Kuro yang berada di level D- saja masih kewalahan dengan monster wujud kera yang besar ini.
Dari segi kekuatan Kuro memanglah kalah, tetapi dari segi kelincahan dan kecepatan Kuro sedikit unggul.
Ketahan tubuh di antara keduanya tidak beda jauh, mungkin monster bernama Apezer ini sedikit lebih tinggi.
“Kuro, kamu makan monster ini segera, kita akan menunggumu di sini sembari beristirahat,” perintah Rai kepada Kuro yang tak sabar ingin melahap daging besar monster.
Kuro berseru layaknya seekor serigala begitu mendengar isi perintah Rai, dengan cepat ia menggigit potongan daging monster dengan nafsu makan yang besar.
Melihat kerakusan Kuro, Rai hanya bisa menggelengkan kepalanya dan membiarkannya makan. Ia dan Lara berjalan ke arah depan dan duduk di batang pohon yang roboh akibat pertempuran yang baru saja terjadi.
Pohon di sekitar tempat terjadinya pertempuran banyak sekali yang roboh dan jatuh ke jalan setapak ini, terlihat berantakan dan ceroboh.
“Aku masih tidak menyangka dengan kekuatanmu, Rai.“
Ketika Lara duduk di atas batang pohon, ia menoleh ke arah Rai. Ia mengeluarkan keheranannya terhadap Rai di sini.
“Kekuatanku? Kenapa dengan kekuatanku?“ Rai bertanya.
“Kamu begitu kuat, hanya sekali pukul dapat merobohkan monster kera tersebut,” kata Lara dengan takjub. “Kamu tahu? Saat aku menahan monster itu aku merasa kewalahan.“
Memang benar, Lara ketika bertabrakan dengan monster Apezer terlihat kesulitan dan hanya bisa bertahan dan jarang sekali menyerang.
“Bukannya api milikmu itu kuat? Kenapa tidak membakarnya langsung?“
Rai baru sadar dengan hal ini, seharusnya Lara bisa membakar monster kera dengan apinya, tetapi kenapa dia tidak mengeksekusinya langsung dan apinha hanya digunakan sebagai pertahanan diri.
“Itu karena kamu, Rai. Kamu bilang kamu yang akan membunuh dan menghadapinya, tetapi aku juga tidak yakin bisa membunuh Monster itu, sebab kecepatannya begitu cepat dan reaksiku ada di bawah kecepatannya,” terang Lara sambil menatap Rai dengan serius.
__ADS_1
“Aku lupa,” balas Rai yang baru ingat bahwa di awal pertempuran dirinya memesan ingin menghadapai monster raksasa ini.
“Dasar kamu, suka pelupa!“ Mulut Lara menyungging dan menepuk pelan pundak Rai.