LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 108: Semuanya Tidak Menjadi Monster


__ADS_3

“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?“ jawab Rai sambil membersihkan darah busuk dari bilah pedangnya.


Lara sedang berada di atas salah satu mobil rusak di tengah jalan, ia menoleh ke arah Rai dan memberi tanda “oke” menggunakan tangan kanannya. “Aku juga sama, bagian depan sudah selesai.“


Mendengar ini, Rai melihat ke belakang jalan di mana itu adalah arah mereka berasal. Di belakang jalan banyak potongan daging dari pada monster yang aneh dan menjijikkan. Jenis monster ini berbeda dengan yang ada kota Talu, di sini lebih banyak monster yang berkaitan dengan tanah dan cocok dengan iklim di kota yang panas dan kering ini.


Kebanyakan monster di sini berupa hewan yang mirip dengan kadal, kalajengking raksasa ukuran hampir seperti singa normal, dan Meerkat si mamalia yang hidup di gurun dan memiliki kemampuan yang kebal dengan racun walaupun tidak 100% bisa menahan efek mematikan semua racun yang ada di dunia ini.


Monster yang memiliki jenis serupa dengan hewan Meerkat ini sangat merepotkan Rai. Pasalnya monster ini mirip dengan Lizeer Earth yang bisa menggali tanah dan kemampuan yang muncul tiba-tiba. Beruntungnya ukuran mereka hampir mirip dengan Rai, hanya sedikit lebih kecil darinya dan lebih besar dari Lara. Ukuran mereka tidak terlalu besar, jadi tidak begitu sulit untuk membunuh mereka semua saat bertepatan.


Mereka mempunyai kemampuan ketahanan racun, tetapi bukan berarti mereka tahan dengan tebasam perang Rai. Pertahanan mereka terhadap serangan fisik sangatlah lemah meskipun mereka kuat dalam membuat lubang di dalam tanah.


Kalajengking raksasa pun sama, Rai baru pertama kali melihat monster tersebut. Sebelumnya, Rai hanya melihat beberapa serangga raksasa, seperti nyamuk, kecoak, dan sejenisnya.


Oleh karena itu, Rai tidak tahu apa kemampuan monster satu ini dan secara tidak langsung harus berhati-hati. Namun, sekarang Rai tidak perlu berhati-hati karena Lara sudah memberi tahu kelemahannya dan trik menghadapinya.


Cuma perlu menghindari ekor mereka yang berbisa dan serang kepala monster sampai hancur. Kepala mereka sangat rentan dan rapuh, mudah untuk dihancurkan.


Secara keseluruhan monster-monster ini terasa lemah di hadapan Rai, terlebih sistem memberi mereka level di tingkat E+ yang memang lemah bagi Rai yang sekarang.


Sayangnya Rai belum naik level dalam tiga hari ini, ia masih ada di level 30, setengah pengalaman yang dibutuhkan telah dicapai, tersisa setengahnya lagi yang Rai butuhkan dan jumlahnya berkisar 2.100 Exp.


Jumlah monster yang Rai temui tidak sebanyak yang Rai inginkan, padahal Rai berusaha mencari-cari monster.


“Bagian belakang sudah aman. Kita bisa melanjutkan perjalanan setelah aku menyimpan setengah daging ini,” ujar Rai sambil berjalan mendekat ke potongan daging tidak jauh darinya.


“Kuro, makan setengah potongan daging monster yang ada di sini selagi aku memasukkan potongan daging,“ Rai menatap Kuro yang mengeluarkan air liur di sudut mulutnya dan memberikan instruksi.


'Miaw!' Kuro merespons bersemangat, kemudian ia berlari menuju daging-daging monster yang berserakan di jalan.

__ADS_1


Lara tidak diam ketika Rai sibuk memasukkan daging monster ke tas, ia melemparkan potongan daging yang ada di bagian depan jalan.


Rai dan Lara berbagi tugas sebelumnya saat monster-monster ingin menyerang mereka. Dikarenakan banyak sekali monster dari berasal dari arah belakang, Rai berinisiatif untuk menghadapinya, sedangkan Lara di bagian depan yang sedikit monster menyerang.


Kuro juga membantu Rai dalam memecahkan formasi musuh dan menyerang dari arah lain.


Satu jam berlalu, Rai telah selesai mengumpulkan daging yang disisihkan oleh Kuro untuk makannya nanti, dan Kuro pun sudah memakan potongan daging.


Kini anak kucing itu tengah berbaring di atas mobil rusak yang diinjak oleh Lara, sedangkan Rai berdiri bersandar di mobil yang hancur ini sambil melihat ponselnya yang menampilkan gambar kompas.


“Kita harus pergi sebelum hari makin menyengat panasnya,” kata Rai sambil mengangkat kepalanya melihat Lara di atas mobil.


Lara mengangguk dan mengambil Kuro yang sibuk berbaring menjilati perutnya. “Baiklah, ayo kita pergi anak kucing yang lucu!“


Senyum lebar tercetak di wajah Lara dan ia menggendong Kuro seperti menggendong bayi di tangannya. Kuro yang diperlakukan seperti ini hanya bisa diam dan memandang Lara dengan wajah masam. Tampaknya Kuro tidak suka, tetapi ia tidak memberontak dan diam.


Turun dari atas mobil, Lara berjalan bersama Rai di jalan yang penuh dengan kendaraan rusak yang berkarat.


Para tentara dan yang bertugas menjaga kota sudah memberikan waktu kepada warganya untuk pergi, tetapi pertahanan tidak seperti yang diperkirakan sehingga monster menjebol pertahanan lebih cepat dari waktu yang diperkirakan oleh para tentara ini.


Rai bisa melihat ada banyak tulang belulang di dalam mobil. Sedih sekali kalau memang mereka semua terjebak di jalanan dan tak bisa ke mana-mana, hanya menunggu kematian datang kepadanya.


“Apa mereka ini terjebak di sini?“ tanya Rai yang tiba-tiba berhenti sambil menatap ke arah bawah.


Ujung tombak Methuragon yang dipegang Rai diarahkan untuk menyentuh salah satu tulang belulang manusia yang tergeletak begitu saja di tanah dekat salah satu mobil yang rusak.


“Aku duga juga begitu, mereka terjebak di jalan ini,” jawab Lara menatap tulang di dekat sepatunya. “Mobil di sini sangat ramai, hal ini menjadi alasan kemungkinan besar mereka terjebak.“


Beberapa saat setelah melihat tulang belulang di tanah, mereka berdua lanjut berjalan dan menyisir jalanan padat ini.

__ADS_1


“Mengapa di sini ada banyak tulang, apakah mereka mati tanpa terkena serangan dari monster yang menginvasi?“ Rai bertanya dengan heran begitu melihat banyak tulang manusia di sepanjang jalan.


Lara menoleh melihat wajah Rai yang tidak mengenakan masker mulut, kemudian ia berkata, “Aku rasa mereka mati karena terkena serangan monster, tetapi mereka mati dan tak sempat menjadi monster karena jantung mereka telah hancur terlebih dahulu.“


“Jantung?“ Rai masih belum paham dengan cara kerja virus ini. “Apakah harus ada jantung untuk virus bisa bekerja?“


“Benar, butuh jantung dari tubuh target yang utuh untuk virus ini membuat jantung baru yang memiliki fungsi untuk mengontrol tubuh manusia tersebut.


“Apabila hancur jantung dari target tersebut, target itu tidak bisa menjadi monster walaupun sudah tergigit dan virusnya menyebar ke seluruh tubuh.“


Lara menjelaskan dengan singkat dan jelas kepada Rai mengenai virus Neuss yang berbahaya ini. Ternyata virus ini tidak semata-mata mengendalikan tubuh yang dijadikan sebagai inangnya begitu saja tanpa proses. Butuh syarat dan ketentuan agar target yang digigit atau terkontaminasi oleh virus berhasil menjadi monster.


Dengan ini Rai bisa tahu, bahwa tulang belulang manusia ini adalah korban yang gagal menjadi monster dan mati di tempat akibat serangan monster.


“Sebagai kesimpulan, mereka ini saat masih hidup menjadi manusia merupakan korban dari kejamnya pembantaian satu pihak yang dilakukan oleh monster,” ucap Rai yang menyimpulkan dugaannya berdasarkan penjelasan Lara.


Pernyataan Rai sesuai dengan apa yang Lara pikirkan dan ia menjawab, “Kemungkinan besar seperti itu. Lihat saja ini!“


Tangan Lara menunjuk kepada tulang-tulang yang berserakan di dekat ban mobil salah satu mobil. Tulang ini tidak jelas membentuk bagian yang mana dari tubuh manusia, abstrak sekali, seperti tulang ayam bekas makan seseorang yang disebarkan ke jalan raya.


“Tulang-tulang ini tidak utuh, pastinya saat peristiwa pembantaian terjadi, orang-orang ini tubuhnya terputus dan terpisah-pisah ke segala arah,” lanjut Lara sambil menatap Rai yang bermuka serius.


Apa yang dikatakan oleh Lara masuk akal, Rai pun melihat tulang manusia ini tidak utuh, banyak bagian tulang yang sama dan hilang, tidak bisa membentuk keseluruhan tubuh manusia.


“Aku mengerti,” Rai mengangguk menyatakan pemahamannya. “Jangan berhenti di sini, ayo kita pergi ke gedung di depan untuk berganti metode menjelaja!“


“Baik, Kapten!“ Lara memberi hormat kepada Rai sambil tertawa kecil.


Melihat tingkah Lara yang meniru adegan yang ada di film, Rai tidak tahu harus menanggapinya bagaimana, ia hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan ke arah timur.

__ADS_1


Lara berlari sambil menggendong Kuro dan mengikuti Rai dari belakang.


Keduanya pergi ke arah sebuah bangunan tinggi yang masih berdiri tidak jauh di depan mereka.


__ADS_2