
“Kapan kita sampai di kota?“ tanya Rai yang berjalan menuruni dataran yang menukik ke bawah.
Lara tidak langsung menjawab, ia masih fokus untuk menuruni dataran yang menurun.
“Mungkin, dua sampai tiga hari kita bisa sampai di sana.“
Kaki Lara dengan hati-hati melangkah ke bawah, tanah di hutan yang agak menurun ini cukup basah karena semalam terdapat hujan yang cukup besar, melangkah dengan hati-hati jangan sampai terpeleset jatuh.
Sementara itu, Kuro santai duduk di atas bahu Rai, ia memejamkan matanya menikmati angin dingin sehabis hujan.
Tiga hari mereka melakukan perjalanan sejak kejadian Big Apezer yang dibunuh oleh Rai.
Dalam tiga hari itu mereka berhasil menaiki pegunungan, dan hari ini mereka sedang menuruni pegunungan.
Mulanya mereka berjalan terasa berat karena menanjak, kini langkah kaki mereka terasa ringan karena tanah menurun.
Banyak sekali rintangan dan kendala yang mereka alami, masalah utama yang membuat menghambat mereka dalam perjalanan tentunya itu adalah para monster.
Monster selalu ada di mana-mana, desa yang mereka alami pasti memiliki penunggu monsternya dan itu berbeda jenisnya.
Oleh sebab itu, Rai dapat menaikkan levelnya satu tingkat, sekarang Rai berada di level 29 yang di mana satu level lagi adalah level 30.
Rai menduga bahwa level 30 akan ada sebuah kejutan seperti sebelum-sebelumnya dari sistem, entah itu kenaikan kemampuan kebangkitan atau pun kebangkitan kemampuan baru.
Rai menantikan itu.
Monster-monster yang mereka berdua hadapi cukup banyak variasinya, tetapi kebanyakan dari mereka berasal dari jenis serangga dan itu memiliki nilai Exp dan Koin yang sama dengan monster kecoak dan nyamuk, kalaupun ada perbedaan itu hanya beberapa poin saja.
Seperti pola yang sebelumnya, Rai akan memesan kepada Lara untuk dirinya yang membunuh banyak monster. Bersyukur Lara mengiakan dan tidak mempermasalahkan hal itu, setiap ada pertempuran Lara tidak begitu banyak gerak dan sedikit membunuh, itu sudah sesuai dengan pesanan Rai.
Apabila tidak seperti itu, Rai akan sulit untuk memanen koin dan pengalaman yang otomatis itu membuat levelnya lama untuk naik.
Tidak hanya Rai yang naik level, Kuro pun juga mengalami kenaikan level.
Level Kuro yang sebelumnya ada di tingkat D- menjadi D+.
Terdapat efek dari kenaikan kali ini walaupun tidak signifikan, yakni kedua kemampuannya yang ada sedikit ditingkatkan.
Seperti tubuhnya yang benar-benar besar sekarang, tinggi Kuro sudah melewati 4 meter dengan panjang 9 meter.
Dark Fume atau Asap Gelap yang membungkus seluruh tubuh Kuro menjadi lebih pekat layaknya malam yang sangat gelap, apabila kemampuan itu diaktifkan wujud Kuro hanya terlihat seperti bayangan yang berbentuk Sabertooth atau Smilodon yang berukuran raksasa.
Kemampuan Dark Fume hanya sedikit ditingkatkan, kecepatan Kuro melebihi kecepatan Rai apabila berlari dalam jarak yang jauh, sedangkan untuk reaksi bertarung sedikit di bawah Rai.
Itu semua adalah kemajuan.
__ADS_1
Omong-omong, hubungan Rai dan Lara makin dekat, saat ini Lara tidak lagi malu ketika bercanda dengan Rai.
Meskipun respons Rai masih dingin, setidaknya tidak dingin seperti pertama kali bertemu.
Perlahan Rai terbuka untuk berinteraksi dengan Lara, tidak begitu berjaga jarak.
Jangan salah, Rai sedikit terbuka bukan berarti ia akana lengah, di dalam hatinya ia masih memiliki sedikit prasangka buruk terhadap Lara.
Pasalnya, ia masih tidak tahu apakah Lara benar anggota timnya atau hanya mata-mata dan orang yang memanfaatkannya bagaikan Loret dan Flank yang sudah tiada.
Namun, sampai detik ini Rai tidak menemukan sesuatu yang janggal, keanehan dan kecurigaan pun tidak Rai rasakan selama bertualang dengan Lara.
Ia tidak merasakan kebencian pada Lara, semuanya terasa tulus berteman dengannya, seakan Lara tidak terkena kutukannya.
Berbagai desa dan suatu pemukiman yang kecil mereka singgahi dan periksa, kebanyakan dari tempat tersebut tak menyimpan sesuatu yang penting, tetapi setidaknya Rai dan Lara menemukan daging sapi yang banyak.
Dua hari yang lalu, ketika Rai dan Lara sampai di sebuah pemukiman yang datarannya cukup rata tidak menurun maupun menanjak, terlebih banyak rumput yang tumbuh di sana, semuanya tampak asri dan cocok dengan habitat sapi untuk hidup.
Benar saja, keduanya menemukan kawanan sapi yang sedang memakan rumput.
Tanpa berpikir lagi, Rai dan Lara memburu mereka, dengan kemampuan keduanya memburu sapi sangatlah mudah, apalagi Rai yang memburu sapi ibarat membunuh semut yang ada di dalam rumah.
Tidak ada kesulitan sama sekali, semua dilakukan dengan ringan tanpa terlihat sulit.
Dengan demikian, stok daging sapi untuk mereka berdua makan dan ingin memasak sendiri telah banyak.
Beberapa menit berselang keduanya menuruni dataran yang menurun ke bawah, Rai tiba-tiba mendengar suara air yang mengalir deras dari arah timur.
Seketika Rai berhenti bergerak dan berdiri untuk mendengarkan dengan jelas suara tersebut.
Pada awalnya Lara heran dengan tindakan tiba-tiba Rai, tetapi perlahan Lara mengerti bahwa ada suara air yang mengalir seperti air sungai.
“Sepertinya itu dari arah sana.“ Rai menunjuk ke arah timur hutan rindang ini.
“Mau ke sana?“ tanya Lara.
“Bagaimana denganmu?“ Alih-alih menjawab Rai balik bertanya.
Lara menatap wajah Rai yang tertutupi masker hitam di bagian mulut dan hidungnya, Lara menjawab, “Terserahmu, aku ikut saja.“
“Baiklah, kita ke sana,” kata Rai dan mulai berjalan ke arah timur hutan. “Tetap jaga kewaspadaan.“
“Siap, Kapten!“ seru Lara sambil tertawa kecil.
Rai hanya bisa membiarkan Lara tertawa, tanpa ada rasa marah ataupun senang.
__ADS_1
Kurang dari 10 menit mereka mengganti arah perjalanan untuk sementara ke arah timur, mereka menemukan sesuatu yang indah.
Sebuah air terjun berjenis tiered atau memiliki tingkatan, bentuknya pun bukan meninggi melainkan melebar dan tingginya sangat rendah.
Mata Lara melebar ketika melihat ini, seketika rasa ingin mandi muncul di dalam hatinya, Lara seperti terpancing untuk berendam di sana.
Rai berdiri di samping air terjun dan mengamati lingkungan sekitar.
Sebelum bertindak alangkah baiknya mengobservasi terlebih dahulu.
Rai bisa melihat ada beberapa ikan kecil di sini, dan sepertinya air dari air terjun ini tidak terkontaminasi oleh virus ataupun racun.
Ikan-ikan kecil berbagai jenis masih bisa hidup dengan aman di air terjun ini.
“Lara.“
“Ya. Ada apa, Rai?“ Lara yang sedang menikmati kesejukan air terjun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Rai.
Kedekatan inilah yang dihasilkan dalam tiga hari, Rai berani memanggil Lara walaupun jarang dan tidak sering, paling tidak ini sebuah kemajuan bagi hubungan keduanya.
Jika diamati, Rai tidak pernah memanggil nama orang lain selain Kuro.
Bahkan Loret dan Flank tidak pernah ia panggil namanya.
“Apakah kamu tahu kenapa ikan-ikan ini tidak terkena virus Neuss?“ tanya Rai yang penasaran.
Lara berhenti di sebelah Rai, dan berpikir sesaat.
Ia mengingat informasi yang terkait yang pernah ia dapatkan.
Tidak butuh waktu lama, Lara mengingat informasi tersebut dan mulai menjelaskan.
“Menurut yang aku tahu, ikan-ikan ini adalah bukan pemangsa hewan darat. Sehingga virus yang tidak dapat mengkontaminasi mereka. Hanya hewan laut yang memangsa hewan darat seperti hiu dan sejenisnya yang dapat terkontaminasi.
“Hewan kecil yang tidak memangsa hewan darat dan hanya memakan plankton kemungkinan untuk terkontaminasi dan terkena wabah sangat-sangat kecil. Mungkin ada, tetapi hanya segelintir.“
Mendengar penjelasan ini, Rai pun mengangguk dan menyimpan informasi ini di dalam ingatannya.
“Kamu mau berenang?“ tanya Rai.
“Emm … nanti saja.“ Lara menggelengkan kepalanya.
Ia tidak bisa berenang bersama pria, terlalu malu untuk berenang bersama.
“Baiklah, ayo kita cari tempat untuk singgah di sini terlebih dahulu.“
__ADS_1
“Oke, Kapten!“