LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 66: Sapi di Dunia


__ADS_3

Melihat bungkus makanan yang masih sama demgan yang sebelum-sebelumnya, Lara memandang sedikit bingung dengan sosok Rai.


Dari mana pria ini mendapatkan makanan yang masih hangat ini?


Bungkus makanan yang Lara pegang saat ini masih memiliki suhu yang hangat, padahal ia sendiri tahu pria yang tampan ini ada di dekatnya tanpa pernah menjauh untuk melakukan sesuatu.


Lara perhatikan selama seharian ini Rai tak pernah melakukan kegiatan yang berhubungan dengan masak dan makanan, hal tersebut yang membuatnya bingung dan curiga dengan Rai.


Ada sesuatu yang salah dengan pria ini.


Di dalam hatinya, Lara amat berniat untuk bertanya mengenai hal satu ini, tentunya menunggu waktu dan kondisi yang tepat.


Ia harap Rai tidak menjawab dengan kata “Itu rahasia” lagi.


“Woah …! Makanan ini sangat lezat aku menyukainya!“


Begitu Lara mengambil nasi dengan lauk rendang menggunakan sendok dan memasukkannya ke dalam mulut, rasa yang teramat kaya dan melimpah itu meledak di dalam mulutnya.


Wajah Lara berubah menjadi ekspresi yang penuh kenikmatan, matanya terpejam dan kepalanya menghadap langit kamar.


Sehabis bereaksi yang berlebihan seperti itu, Lara dengan lahap memakan nasi padang yang diberikan Rai.


Saking lahapnya, Rai memandang Lara bagaikan seekor singa yang sedang melahap daging mangsanya.


Tidak heran Lara begitu ganas, nasi padang termasuk makanan yang rasanya sangat enak, terlebih daging rendangnya.


Sangat berbeda dengan Lara, cara makanan Rai penuh penghayatan dan gerakannya sopan tidak tergesa-gesa.


10 menit berselang setelah mereka mulai memakan makanannya masing-masing, Rai berdiri dan berjalan untuk menyimpan bekas makannya ke tempat yang sulit dilihat orang.


Lara pun sama, ia bangkit dan berjalan ke tempat bungkus nasi bekas yang Rai simpan dan menyimpan bekas makannya di sana.


Rai duduk di lantai dan Lara duduk di atas kasur yang sudah sangat renta dan berbunyi.


“Para monster di dunia ini rasanya mustahil untuk dihilangkan,” ujar Lara yang tiba-tiba membuka pembicaraan.


“Banyak manusia yang sudah berubah menjadi monster, hewan pun sama nasibnya, dunia ini sudah dipenuhi dengan banyak monster.“


“Terkadang aku berpikir, apakah kita bisa membalikkan ini semua dan menormalkan dunia?“


Lara berkata dengan wajahnya yang penuh kerumitan dan tanda tanya.


Sebenarnya Lara kerap kali memikirkan hal ini, pertanyaan tersebut muncul tiba-tiba di dalam kepalanya ketika ia sedang melamun dan santai.


Tidak tahu alasan ia bisa berpikir sejauh itu dengan pertanyaan yang sulit untuk dijawab.


Rai yang mendengar perkataan Lara pun ikut berpikir.


Berpikir mengenai tujuan dikirimnya dirinya ke dunia ini.


Apakah Rai datang ke sini untuk menjadi penyelamat sebuah planet dari monster mengerikan?


Mungkin saja, tetapi itu masihlah tanda tanya, tidak ada yang tahu, bahkan Rai sendiri.


Namun, Rai cukup skeptis terhadap dirinya sendiri, apakah ia bisa menyelamatkan dunia dan membangun lagi dunia ke arah lebih baik.


Sekarang saja ia belum yakin dengan dirinya yang bisa bertahan hidup atau tidak di dunia yang berbahaya ini.


Oleh karena itu, selagi ada punya waktu, Rai akan terus berusaha dan berupaya keras untuk bisa menjadi yang paling kuat, sedikitnya masih bisa bertahan hidup tanpa kesulitan yang berarti.


“Mungkin saja, kita tidak tahu bagaimana ke depannya.“ Rai menjawab dengan mata tertutup dan sambil memeluk Kuro yang meringkuk tertidur.


Lara memusatkan pandangannya pada wajah Rai yang masih mengenakan masker hitam.


Mata Rai memiliki bulu mata yang lentik dan panjang, alisnya pun begitu rapih dan tegas, Lara mengagumi visual mata dan alis Rai.


Akan tetapi, sekarang Lara penasaran dan ingin tahu wajah Rai seluruhnya dengan jelas, saat makan tadi ia tidak begitu memperhatikan wajah Rai sama sekali.


Kalau sudah makan ia akan fokus ke makanannya dan sulit untuk mengalihkan perhatiannya ke sesuatu yang lain.


Lagi pula Lara tidak mengangkat kepalanya sama sekali ketika kegiatan makan malam terjadi.


Ingin sekali dirinya membuka masker hitam itu dari wajah Rai. Dipikir lagi hal itu sulit dilakukan karena tidak sopan di saat beristirahat seperti ini.


Mungkin jika ada kesempatan dan waktu yang mendukung, Lara akan membukanya secara paksa dengan alibi tidak sengaja.


“Kamu ingin tidur?“ Lara bertanya sambil membersihkan kasur yang kotor oleh debu dan tanah.


“Tidak tahu.“ Rai menjawab tanpa berpikir terlebih dahulu.

__ADS_1


“Tidak tahu? Kamu ingin begadang lagi? Kamu belum tidur seharian ini.“ Lara berhenti membersihkan kasur dan menoleh untuk menatap Rai yang masih menutup matanya.


“Tidak apa-apa, aku sudah biasa.“


“Tidak boleh seperti itu, kamu tidur saja, aku akan yang menjaga malam ini. Kamu ingat? Kita sudah menjadi tim mulai hari ini.“ Lara berkata dengan serius dan tidak ingin Rai begadang tanpa tidur malam ini.


“Ya.“


Rai merespons dengan kata yang singkat, terkesan dingin dan tidak peduli, tetapi di dalam hatinya sebaliknya.


Hatinya sedikit merasa hangat ketika mendengar ucapan Lara yang ditujukan padanya.


“Aku akan mengawasimu, jangan berbohong padaku.“ Lara melototi Rai tidak sungguh-sungguh.


Wanita ini benar-benar bawel dan banyak berbicara, tidak tahu kenapa Lara seperti ini.


Diingat lagi, memang Lara orangnya banyak bicara dan juga perpaduan antara pemalu dan pemberani.


Pemalu dan pemberani di kondisi dan situasi tertentu.


“Oke.“


Rai masih tidak bergerak dan matanya tetap terpejam seolah sedang tidur dalam posisi duduk bersandar.


Melihat sikap Rai yang dingin, Lara hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa daya, pria yang dingin kadang-kadang bisa membuat kesal.


Bukan kadang-kadang, melainkan sering kali.


Daripada dirinya diam seperti ini tanpa melakukan apa-apa, lebih baik ia pergi ke jendela untuk melihat pemandangan kota.


Lara menghembuskan napas panjang ketika melihat pemandangan yang ada di balik kaca jendela. Sorot matanya penuh kerinduan dan emosional.


Tampaknya wanita ini sedang memikirkan suatu hal seraya memandang kota.


Rai yang sedang menutup matanya pun bisa merasakan aura sedih yang terpancar dari tubuh Lara.


Merasakan hal ini, Rai berpikir di dalam hatinya, “Wanita ini memiliki banyak cerita di dalamnya. Sosoknya berbeda dengan orang yang aku temui kemarin-kemarin, kesan yang aku lihat darinya, wanita ini begitu semangat, ceria, dan aktif. Orang yang seperti itu biasanya menyimpan pengalaman yang tak terduga.“


Tidak ada hal yang Rai lakukan untuk menghibur Lara, ia sendiri pun tidak bisa menghibur dirinya di kala sedih sedih.


Mereka berdua tidak menggangu satu sama lain sampai pagi pun keluar dari ufuk timur.


Lara membuka matanya, dan terbangun dari kasur.


“Apakah aku tertidur?“ Lara yang pulih dan sadar segera bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Semalam ia ingat sedang duduk sambil memperhatikan sosok Rai setelah puas memandangi panorama kota.


Namun, kenapa dia bangun di atas kasur dengan posisi tidur?


“Ya, kau ketiduran semalam,” celetuk Rai yang masih posisi duduk di tempat yang tanpa sedikitpun berpindah tempat.


Rai membuka matanya dan segera menatap sosok Lara yang ada di atas kasur dengan keadaan pakaiannya yang berantakan.


“Apakah itu benar? Bagaimana mungkin?! Aku sudah bilang aku yang manjaga malam ini, Lara tidak akan pernah mengingkari perkataannya—”


“Lebih baik kau benarkan pakaianmu,” potong Rai lalu kembali menutup mata.


“Pakaian?“ Mata Lara perlahan menurun dan melihat sosoknya saat ini.


Benar saja ucapan Rai, kemejanya berantakan dan kancing kemeja hampir terbuka semuanya, perut atasnya yang putih dan mulus terlihat jelas dan bahkan belahan boba yang bening tanpa noda itu terpampang secara terang-terangan.


Sadar akan hal ini, secara alami Lara merasa malu yang tak terlukiskan dan segera menutup kembali kemejanya dengan cepat.


“Jangan buka matamu! Awas saja!“ Lara berbalik dan memunggungi Rai yang matanya masih tertutup, wajahnya telah merah semerah kepiting yang direbus.


Setelah mengancingkan kemejanya, Lara berbalik dan melototi Rai dengan wajah yang marah dan sedikit rasa malu yang tersisa.


“Rai, jawab aku dengan jujur.“


Seketika ruangan menjadi dingin begitu ucapan Lara terlontarkan.


Rai pun merasakan sangat jelas tatapan mata tajam yang mengarah kepadanya, dan ia perlahan membuka matanya.


“Ya, ada apa?“


Wajah Rai masih sama dan tidai berubah, ekspresi datar tanpa ada perasaan ketakutan.


“Apakah kamu melihat ITU tadi?“ tanya Lara dengan wajah yang marah tampak ingin memakan orang.

__ADS_1


“Itu? Tidak, aku tidak melihatnya.“ Rai menjawab apa adanya tidak ada kebohongan di antara kalimatnya.


“Apakah itu benar?“ Lara masih menatap Rai dengan matanya yang tajam dan terkandung niat membunuh yang samar-samar.


“Ya, itu benar.“


Rai menatap mata Lara tanpa takut dan terus terang.


Seketika itu Lara terdiam dan membalas tatapan sepasang mata Rai yang menawan.


Mereka berdua saling memandang satu sama lain selama beberapa saat.


Lara tidak kuat dengan tatapan mata Rai dan ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


“Oke, untuk kali ini aku percaya padamu.“


Lara kalah dalam pertandingan beradu mata dengan Rai, dan ia berkata dengan pipi yang sedikit memerah.


“Emm … kamu masih punya makanan?“ Lara tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dan bertanya.


“Ada apa?“ Rai bertanya sebagai pengganti jawaban.


“Tidak apa-apa, kalau makanan kamu sudah habis, aku masih ada daging sapi yang aku buru di tasku. Hanya perlu membakarnya sesaat.“


“Kau punya daging sapi?“ tanya Rai yang heran.


“Aku punya, itu hasil buruanku beberapa hari yang lalu.“ Lara mengangguk.


“Di mana kau memburu sapi?“ Rai bertanya dengan rasa ingin tahu.


Selama melakukan perjalanan sampai ke kota Talu ini, ia tidak pernah melihat seekor sapi pun.


Rai heran karena itu, kenapa wanita ini bisa memburu seekor sapi, sedangkan sapi jarang ditemui.


“Di hutan, biasanya mereka hidup berkelompok untuk mencari makan, cari hutan yang memiliki banyak rumput karena umumnya mereka suka dengan tempat seperti itu.“ Lara berkata sambil membuka tasnya untuk mengeluarkan daging sapi yang dia punya.


“Oke, aku mengerti.“ Rai mengangguk paham dengan kata-kata Lara.


Wajar saja ia belum pernah melihat sapi, sebab jalan yang Rai lalui selalu jalan yang berpohon besar dan jarang rumput bertumbuh.


“Kau mau?“ Lara menyodorkan daging di tangannya ke arah Rai.


Melihat daging yang dibungkus kain yang terdapat bercak darah, Rai menimbang-nimbang keputusan apakah ingin menerima atau tidak.


Mata Rai tepaku pada daging itu dan akhirnya ia memutuskan untuk menerimanya.


“Tangkap ini.“


Daging di tangan Lara dilemparkan olehnya.


Rai dengan tanggap mengambil daging itu dengan satu tangan.


“Bakar dagingnya bagaimana?“


“Kamu tidak punya alat bakar dari kayu?“


“Tidak.“


“Kenapa bisa? Lalu dari mana makananmu tetap hangat seperti itu?“ Lara memandang Rai dengan wajah yang bingung.


“Itu rahasia.“


Lagi-lagi Rai tidak ingin memberitahukan tentang makanannya berasal kepada Lara. Kalian sudah tahu apa alasannya.


“Ya-ya terserahmu, sini dagingnya aku akan membakarnya.“


“Oke,” kata Rai lalu melemparkan kembali dagingnya ke Lara.


Begitu memegang dua daging di tangannya Lara menatap daging itu dengan konsentrasi yang tinggi.


Blarr!


Sebuah pemandangan yang luar biasa terjadi pada Lara, kedua tangannya tiba-tiba mengeluarkan api putih yang panas dan membungkus kedua daging dengan merata.


Dalam beberapa detik saja api itu muncul dan perlahan menghilang.


“Ambil ini.“ Lara menyerahkan daging sapi yang telah matang sepenuhnya kepada Rai.


“Kau? Pejuang Mentzer?“ Rai berkata sedikit terkejut setelah melihat Lara yang mengeluarkan api putih yang berkobar besar.

__ADS_1


Tidak disangka Lara adalah seorang pejuang bertipe Mentzer yang digadang-gadang sebagai pejuang salah-satu terkuat di dunia.


__ADS_2