LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 104: Monster Tikus Tanah


__ADS_3

Tanah berguncang hebat membuat Rai yang ada di atasnya bergoyang, secara tidak langsung Lara yang digendong oleh Rai merasa tubuhnya bergetar.


“Ada ap — Aaa!“


Rai yang sedang menggendong Lara segera mundur dengan kecepatan yang sangat cepat, hanya dalam dua lompatan Rai telah melintas puluhan meter dari tanah yang bergetar kuat.


Tanpa sengaja Rai memotong perkataan Lara pertama kali dikeluarkan setelah bangun dari tidurnya.


“Kamu sudah bangun?“ Rai melihat bahwa Lara sudah bangun dari tidurnya dan ia bertanya.


“Umm … sudah,” jawab Lara dengan nada yang malu. “Emm, ada apa ini, Rai?“


“Kamu lihat saja sendiri,” sahut Rai dan segera menurunkan Lara.


Begitu Lara berbalik badan dan melirik ke depan, ia menemukan sesuatu makhluk yang besar keluar dari tanah di kejauhan, di sana juga ada Kuro yang perlahan menjadi seekor kucing besar.


Monster ini memiliki penampilan yang mirip dengan makhluk pengerat yang menjijikkan, yaitu tikus.


Namun, tikus ini tampak seperti tikus tanah atau mole karena memiliki kaki depan yang besar layaknya tangan.


Selain itu, monster besar ini memilik moncong yang berbentuk seperti tentakel gurita, benda panjang itu meliuk-liuk layaknya ular di udara, sangat menjijikkan.


Cit! Cit!


Suara cicit seekor tikus keluar dari mulut di bawah moncong yang mengerikan ini.


Saat berikutny, monster ini berlari dengan keempat kakinya dengan sangat cepat menuju Rai dan Lara.


Bang!


Dengan cepat sesosok bayangan hitam menabrak monster tikus ini yang sedang berlari mendekati Rai dan Lara berada.


Grrr ….


Bayang hitam ini adalah Kuro, sejak munculnya monster ini Kuro telah siap siaga apabila monster ini mengambil pergerakan penyerangan.


Tubuh monster tikus yang tidak besar dari tubuh Kuro ditekan ke bawah oleh Kaki depan Kuro.


Tikus besar ini terlentang meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri dari tekanan kaki Kuro.


Kedua kaki depan yang memiliki cakar besar diayunkan oleh monster ini ke arah kaki Kuro dengan cepat.


Kuro langsung bereaksi, ia melompat ke belakang melepaskan tubuh tikus ini yang sebelumnya ia tekan.


Siuu!


Cakar besar monster tikus sayangnya tidak mengenai sasaran kaki Kuro dan ia menebas angin di depannya membuat suara siulan di udara.


Selanjutnya, monstee ini bergegas cepat menggali lubang di tanah untuk dirinya masuk.


Kuro dengan cepat bergerak dan meraih tikus ini, tetapi sayangnya tikus itu telah masuk lebih dahulu ke dalam lubang.


Tanah sekali lagi bergetar, tetapi kali ini berbeda, benjolan di tanah terlihat dan itu timbul di permukaan tanah yang ditumbuhi rumput dekat lubang besar yang digali oleh monster tikus tadi.


Kemudian, tanah yang timbul menggembung itu bergerak menuju ke arah Rai.


Di bawah tanah, monster ini menggali sangat cepat bagaikan mesin bor yang menembus tanah. Benjolan pada tanah bergerak cepat mendekati Rai dan Lara, Kuro berkali mencoba untuk menghentikan ini dengan cara menendang tanah yang timbul, tetapi itu tidak berguna.


Rai dan Lara mundur selangkah demi selangkah. Tangan Rai yang memegang tombak menjadi lebih erat, tatapannya terkunci pada monster tikus tanah yang bergerak di dalam tanah.


Sembari mundur menjauh, Rai memberi kode kepada Kuro dan Lara untuk menjauhinya, pasalnya Rai perhatikan monster ini bergerak mengincarnya, tidak tahu kenapa monster ini suka sekali dengannya.


Lara melihat kode Rai dan segera menjauh dari Rai, benar saja dugaannya, monster ini menargetkan Rai untuk dimangsa.


Kaki Rai berhenti melangkah, ia berdiri tegak sembari mengangkat tombaknya.


Pupil mata Rai bergerak mengikuti tanah timbul yang terus menjalar menuju Rai.

__ADS_1


Di detik berikutnya, tanah di depan Rai meledak, menerbangkan bongkahan tanah kecil ke segala arah


Boom!


Bersamaan dengan itu, sosok tikus besar keluar dari tanah sembari mencakar sosok Rai di depannya.


Namun sayang, tombak Rai lebih dahulu meluncur sebelum cakar tersebut bergerak.


Swooshh!


Kilatan dingin cahaya hitam di bawah terangnya cahaya matahari melintas menembus tubuh besar monster tikus, setelah itu kilatan tersebut kembali lagi dan menebus tubuh monster dari belakang.


Darah merah kehitam-hitaman menyembur keluar dari lubang yang diciptakan oleh kilatan hitam.


Tubuh monster tikus ini membeku tak bergerak, cakarnya yang diayunkan ke depan terhenti di udara beberapa sentimeter dari wajah Rai.


Dengan tusukan tombak Rai, daging monster tersebut terkoyak membuat dua lubang yang cukup besar.


Tombak Rai dengan cepat kembali ke tangan Rai, dan senjatanya berubah dari tombak menjadi dua pedang Longsword.


Slash! Slash!


Rai menebas dengan kejam dan secepat kilat, cahaya dingin itu seolah-olah merobek udara di depannya.


Berikutnya, tubuh monster yang diam kaku berubah menjadi potongan daging balok dan berjatuhan ke tanah.


[Ding! Bunuh 1 Molezer (E+). Dapatkan + 50 Exp, + 50 Koin!]


“Makanlah, Kuro.“


Rai menyeka darah di pedangnya ke rumput di dekatnya, kemudian ia berjalan menuju Lara yang berdiri menyaksikan penampilannya melawan monster tikus menjijikkan ini.


“Di sini banyak sekali monster yang berkaitan dengan tanah,” celetuk Lara yang memikirkan hal ini.


“Benar.“


Mengingat level kadal tanah yang kemarin memiliki level yang lebih tinggi, monster itu lebih kuat dari tikus moncong tentakel.


Meskipun demikian, beruntungnya Rai masih cukup mudah melawan monster-monster aneh ini, tidak mengalami kesulitan yang berarti.


“Apakah setiap wilayah memiliki monster yang berbeda?“ tanya Rai yang baru menyadari bahwa kota atau wilayah yang dilewati memiliki monster yang berbeda.


“Ya, itu benar.“ Lara bersandar pada batang pohon dan menatap Rai dengan serius. “Setiap daerah memang memiliki monster yang jenisnya berbeda-beda, seperti yang kita tahu sekarang ini, wilayah Mopulu banyak bermunculan monster yang memiliki hubungan dengan tanah.“


“Oke, aku paham. Berarti itu masih berhubungan dengan lingkungan dan faktor wilayahnya,” gumam Rai menundukkan kepalanya seraya merenung.


Mendengar ucapan Rai, Lara mengangguk setuju dengan pemikiran Rai. “Benar. Oleh sebab itu, tidak heran jika banyak monster yang berhubungan dengan tanah, itu tidak jauh karena faktor alam di sini.“


“Sudah siang, kamu mau makan?“ tanya Rai pada Lara.


“Boleh. Makan apa siang hari ini?“


“Apa ada permintaan?“ Rai menoleh ke Lara sambil menarik ritsleting tas.


“Aku ikut kamu saja, Rai.“


Rai mengeluarkan dua kursi lipat dan diberikan kepada Lara. “Baiklah.“


Tangan Lara mengambil dua kursi lipat, lalu ia meletakkan dua kursi di bawah pohon tempat mereka berdua sekarang berdiri.


“Ambillah.“


Sebuah makanan yang dibungkus oleh kertas berbentuk agak membulat diserahkan oleh Rai kepada Lara.


“Terima kasih,” ujar Lara sambil tersenyum manis, ia perlahan membuka bungkusan makanan di tangannya. “Makanan apa ini, Rai?“


“Hamburger, kamu belum pernah memakannya?“ tanya Rai yang duduk di salah kursi lipat sambil melihat Lara di depannya.

__ADS_1


Mereka berdua duduk saling berhadapan langsung.


“Tidak tahu, aku lupa. Banyak sekali makanan baru yang diberikan olehmu dan itu hampir semua belum pernah aku makan sebelumnya.“


Lara sampai lupa ia pernah memakan makanan satu ini atau tidak. Pasalnya Lara terlalu banyak mencoba makanan yang diberi oleh Rai sehingga ia tidak mengingat makanan yang pernah dicobanya.


“Makan saja, jangan pikirkan itu,” saran Rai kepada Lara, ia membuka mulutnya dan menggigit hamburger di tangannya.


“Oke.“


Sesuai dengan saran Rai, Lara langsung menggigit makanannya dengan lahap.


Keduanya makan siang di tengah hutan yang dipenuhi dengan banyak rumput yang cukup tinggi.


Diiringi dengan suara gemeresik rumput yang saling bergesekkan karena semilir angin yang tenang.


Namun, perasaan santai keduanya diganggu oleh tanah yang kembali bergetar.


Rai seketika berdiri dan menunda untuk menghabiskan makanannya.


“Sepertinya masih belum selesai,” ujar Lara sambil berwaspada.


Rai mengangguk setuju, tangan Rai mengambil tombak yang ditancapkan ke tanah, perlahan senjatanya berubah menjadi dua pedang di kedua tangannya.


Kali ini Rai tidak menunggu, melainkan ia pergi menjauh dari tempat mereka berdua makan dan berjalan ke tengah tanah yang lapang dipenuhi rumput panjang.


Dari jauh Lara bisa melihat bahwa ada lima gundukan tanah yang bergerak menuju tempat Rai yang berasal dari segala arah.


Lara sama sekali tidak diincar, Kuro yang tengah makan pun dilewati oleh salah satu gundukan yang bergerak tersebut.


“Kenapa selalu Rai yang diincar?“ Lara bingung dengan perilaku para monster ini.


Tidak biasanya monster-monster memiliki tingkah perilaku yang mengincar target. Normalnya, monster-monster ini akan membabi-buta makhluk yang belum terkontaminasi tanpa pandang pandang bulu, tidak seperti ini yang memilih-milih mangsa.


Duar! Duar! Duar!


Satu per satu ledakan tercipta di sekeliling Rai, total lima ledakan tanah yang berkumpul di Rai sebagai pusatnya.


Saat berikutnya, lima tikus tanah muncul dari bawah tanah sambil menyerang Rai dengan kedua cakarnya yang besar dan panjang.


Rai menunggu adegan ini, ia langsung bereaksi dengan cepat dengan melompat tinggi ke atas.


Pedang di tangannya dilambaikan secepat kilat menebas ke lima monster ini tanpa keraguan.


Cahaya dingin berwarna hitam terus melintas di antara lima monster selema 1 menit lamanya.


Jeritan monster meramaikan penyerangan Rai yang terlihat epik, darah dan daging berjatuhan mewarnai tempat pembantaian.


Dalam sekejap, suasana menjadi sunyi dan sepi, teriakan penuh rasa sakit menghilang, hanya suara gemeresik daun yang terdengar.


Di tengah potongan daging dan darah yang terkoyak berhamburan, sosok tanpa cedera Fai berdiri dengan tenang sambil mengelap pedangnya pada rumput yang masih bersih.


“Lebih bagus apabila monster-monster seperti ini.“


[Ding! Bunuh 5 Molezer (E+). Dapatkan + 250 Exp, +250 Koin!]


Prompt sistem terdengar di kepalanya, dan Rai berjalan kembali menuju Lara yang masih berdiri di depan tempat mereka makan sebelumnya.


“Kuro, sisakan setengah dari daging monster ini untukmu makan nanti,” ujar Rai pada Kuro yang mengintruksikan untuk menyisakan setengah daging monster yang ada.


Roarr!


Kuro mengaum yang menandakan setuju.


“Masalah sudah selesai. Ayo kita lanjutkan lagi makannya!“ ajak Rai kepada Lara.


Lara menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Baiklah, Rai.“

__ADS_1


__ADS_2