LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 67: Lara Mentzer


__ADS_3

“Iya, aku pejuang Mentzer.“


Lara mengakui identitasnya sebagai penuang dengan tipe kekuatan kebangkitan elemental. Terlebih lagi kekuatan kebangkitannya tampaknya berbeda, ada sesuatu yang spesial dari kemampuan kekuatannya.


Dengan kata lain, Lara memiliki kemampuan elemental api yang unik.


Pasti api yang dimiliki Lara memiliki kemampuan yang berbeda dengan api yang biasa.


“Kemampuan api?“ tanya Rai yang sedikit antusias dengan kekuatan Lara.


Tidak ada yang menyangka termasuk dirinya bahwa Lara yang ialah seorang wanita tidak sengaja ia tolong ternyata memiliki kemampuan elemental yang notabene atau identik dengan pejuang yang kuat.


Ada satu pertanyaan yang muncul di benak Rai. Mungkin ia akan menanyakannya ke Lara secara langsung di sini.


“Emm … kemampuan api yang berbeda dengan api yang kamu tahu,” ucap Lara dengan wajah yang rumit.


Di dalam hatinya ia bingung ingin mengatakan tentang kemampuannya atau tidak pada Rai.


“Apa keistimewaan dari api putihmu? Apakah itu—”


“Panas api putihku berbeda, karena suhu panasnya lebih tinggi daripada panas api yang biasa,” potong Lara sambil mengangguk.


Mendengar konfirmasi dari Lara mengenai kemampuannya yang istimewa, Rai terdiam sesaat untuk memikirkan hal ini.


Lara sepertinya menjadi keberadaan yang mengancam bagi Rai apabila ia menjadi musuhnya.


Kemampuannya terbilang kuat, Rai sendiri pun mengakui kekuatan api Lara di dalam hatinya. Jika keduanya suatu waktu bertarung, Rai tidak tahu apakah ia akan menang atau tidak melawan wanita tersebut.


Dilihat dari kemampuannya, tidak ada satu pun kemampuannya yang memiliki perlawanan terhadap api, mungkin ketahanan fisik dan sisik dari tangan kirinya mampu menahan panas dari api lara, sekarang tidak tahu karena belum mencoba.


“Kenapa kamu diam?“ Lara bertanya pada Rai dengan heran.


“Tidak ada.“


“Oke,” ucap Lara sembari mengangkat daging di tangannya dan memakannya dengan satu gigitan.


“Lalu … bagaimana dengan kemampuan yang kamu bangkitkan?“ Lara menatap Rai sambil mengunyah potongan daging.


Lara cukup penasaran dengan kemampuan Rai, tetapi dari pengamatannya hari ini ia menduga Rai memiliki kekuatan fisik yang melebihi orang normal, dan juga kemampuannya dalam memakai senjata.


Satu hari ini, Lara menyaksikan dengan cermat cara Rai membunuh monster yang ada, kebanyakan dari metode penyerangan Rai ialah menggunakan senjata pedangnya yang aneh.


“Beberapa kali lipat Kekuatan fisik manusia biasa.“


Rai menjawab ringan seolah tak peduli atas pengungkapan kekuatannya sendiri kepada orang lain.


“Pantas saja, aku lihat kamu seringkali menggunakan kekuatan fisik dan juga pedang anehmu.“ Lara menghembuskan napas ringan begitu mendengar jawaban Rai.


Ia kira Rai akan menjawab dengan kalimat 'Itu rahasia' ternyata Rai bisa menjawab pertanyaannya dengan normal.


“Pedangmu aneh, dari mana kamu mendapatkannya?“ Lara berkata sambil memakan makanannya secara bertahap.


Rai pun ikut memakan daging yang diberikan Lara, dan mencobanya sedikit demi sedikit.


Rasa daging yang Lara berikan cukup enak, ada sedikit rasa asin yang tidak tahu dari mana asal rasa asin ini.


“Aku buat sendiri.“ Rai menjawab acuh tak acuh dan masih menggigit daging di tangannya secara perlahan.


Lara terheran sejenak setelah mendengar jawaban Rai, dan ia bertanya lagi, “Di mana kamu membuat senjata itu?“


“Di tempat penempa yang sudah bobrok, sudah lama sekali aku membuat senjata ini.“


Mau tidak mau Rai harus berbohong dalam menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan Sistemnya.


“Oke, aku mengerti.“ Lara menjawab dan fokus kepada makanannya yang sedang ia makan.


Saat mendengar jawaban Rai, Lara sudah tahu dari sikap Rai yang tidak ingin memberi jawaban yang spesifik dan inti.


Untuk sementara waktu, ruangan menjadi sunyi hanya suara kunyahan seseorang yang sedang makan.


“Bagaimana makananku? Apakah itu enak?“ Lara bertanya dengan wajah yang menunggu pujian.


Matanya yang berharap begitu jelas diarahkan kepada Rai, hal ini membuat Rai bingung dan ia pun menjawab dengan jujur, “Lumayan enak.“


“Mmm … terima kasih~” Lara mengucapkan terima kasih dengan wajah yang merona.


Melihat reaksinya Lara yang memerah membuat Rai bingung karena tidak mengerti maksud ucapan terima kasih Lara. Rasanya ada sesuatu yang berbeda.


“Oke.“

__ADS_1


….


Di waktu bersamaan, tiga sosok manusia sedang berjalan di suatu daerah di dalam kota Talu Utara.


Mereka bertiga sedang menelusuri sebuah jalan dan berjalan masuk ke sebuah gedung tinggi yang telah rusak.


“Kita belum menemukan wanita itu sama sekali dalam beberapa hari ini, ke mana kita akan pergi untuk mencarinya?“ Seorang pria muda dengan tubuh yang bulat karena lemak bertanya pada dua pria lainnya yang sedang berjalan bersamanya.


Pertanyaan yang dilontarkan oleh pria gemuk tersebut secara langsung didengar oleh keduany.


“Aku memiliki firasat wanita itu akan pergi ke kota yang ada di utara, bukan karena aku asal-asalan menebak, tetapi ada satu alasan yang membuatku berasumsi seperti itu.“


Teman pria gemuk yang memiliki tubuh yang rasanya berbanding terbalik dengan tubuh gemuknya, yaitu tubuh yang kurus. Pria kurus itu berkata dengan wajah yang tenang.


“Apa itu?! Coba kau beri tahu aku.“ Temannya yang lain pun merespons ucapan pria kurus yang sempat berasumsi dengan nada yang sedang kesal.


“Tenang, kau tidak perlu berkata dengan marah.“ Pria kurus itu berbicara pada Pria berotot yang sedang marah-marah.


“Coba kau jelaskan apa dari asumsimu yang seperti kotoran itu, Carlof!“


Pria berotot berhenti di depan pintu tangga darurat gedung yang mereka masuki dan tangan kanannya refleks memukul pintu stainless steel tangga darurat tersebut sampai terlepas dari engselnya.


“Sebaiknya kau santai, Garol. Sabar, aku akan menjelaskannya.“


Pria kurus tersebut bernama Carlof dan Pria berotot yang marah bernama Garol.


Carlof berkata dengan wajah yang santai dan mencoba meredakan kemarahan Garol.


Pria gemuk yang membuka pembicaraan pun membantu Carlof untuk menenangkan Garol.


“Ya, santai, Garol. Aku tahu kau lelah karena misi ini, aku pun juga sama, apalagi aku membawa beban tubuhku yang jauh lebih berat darimu.“ Pria gemuk itu berkata dengan wajah yang lesu dan sedih, terdapat rasa kesedihan dalam kalimatnya.


“Itu deritamu, Haris. Aku tak peduli! Hanya ada satu yang aku pedulikan, yakni wanita itu harus kita tangkap dan kita bawa hidup-hidup kepada komandan kita!“


Sifat keras kepala dan pemarah sedang ditampilkan oleh Garol. Kedua temannya kini kewalahan menghadapi kedua sifat Garol yang menyusahkan, mereka berdua ingin sekali memberi pelajaran kepada Garol, tetapi itu tidak mungkin dilakukan.


Pasalnya, mereka bertiga adalah tim yang dikerahkan oleh Komandannya untuk menangkap seorang wanita yang sudah menjadi buronan bagi Komandannya.


“Asumsiku wanita itu pergi ke Kota yang ada di utara karena atas dasar landasan pikiranku bahwa orang-orang pada akhirnya akan pergi ke Kota Tujuah,” kata Carlof dengan tenang tanpa ada perasaan takut terhadap amarah Garol.


“Kita bertiga tahu bahwa semua orang menjadi kota Tujuah sebagai tujuan akhir mereka perjalanan.“


Carlof menjelaskan tentang asumsinya yang ia lontarkan tadi kepada Garol dan Haris si Pria Gemuk.


Keduanya langsung terdiam dan merenung setelah mendengar penjelasan asumsi Carlof mengenai wanita yang target misi mereka.


Apa yang dijelaskan tentang asumsi Carlof cukup masuk akal.


“Kau tidak perlu berpikir serius seperti itu, Haris. Biasanya juga kau selalu berpikiran mengenai kekuranganmu.“ Carlof yang melihat Haris merenung sambil memegang dagunya langsung berkomentar.


Carlof yang adalah teman dekat Haris, sudah paham betul dengan Haris yang tidak pernah serius dengan masalah yang datang kepada mereka tim mereka. Haris selalu mengeluh tentang kondisinya, entah itu fisik atau pengalaman yang lain.


“Aku memang penuh kekurangan, lihat lipatan lemak di leherku! Kekuranganku lebih banyak dari lipatan lemak yang aku punya.“


Haris merespons dengan wajah yang sedih sambil menunjukkan lemak yang menumpuk di bagian lehernya.


“Kau ada benarnya, Carlof. Tetapi … bagaimana kita bisa menangkap wanita ****** itu!“ Garol melotot pada Carlof yang ada di depannya, wajahnya yang beringas dan mengerikan ditujukan terang-terangan.


Sementara itu, Carlof yang dipelototi oleh Garol hanya bereaksi dengan tampilan yang biasa saja tanpa ada perasaan takut dan ciut sedikit pun.


Orang ini benar-benar tenang dan santai dalam menghadapi amarah pria berotot yang menyeramkan.


“Hanya ada satu cara, yaitu kita bergegas pergi ke jalan keluar kota Talu yang ada di ujung utara. Sampai di sana sebelum wanita itu sampai, kita mencegat wanita itu di sana.“


Carlof memberikan solusi untuk masalah ini kepada Garol dan Haris.


Seketika Garol berhenti untuk melanjutkan amarahnya dan ia mengangkat kepalanya untuk memikirkan solusi yang dikeluarkan oleh Carlof, dan Haris pun ikut berpikir.


Setelah beberapa saat mereka terdiam untuk berpikir, akhirnya Garol memutuskan untuk mengikuti saran solusi dari Carlof.


“Baiklah, aku setuju dengan caramu. Untuk itu kita harus bergerak cepat. Malam ini waktu tidur dikurangi, kalian berdua tidak bisa menolak karena ini perintah.“


Pada saat Haris dan Carlof mendengar keputusan Garol, keduanya merasa lemah pada tubuhnya, dan pasrah tidak berbuat apa-apa.


“Kita hanya ada waktu empat jam untuk tidur, ayo kita cepat menuju jalan keluar kota Talu dan kita harus mencari perbekalan di dalam gedung ini!“ Garol berbalik dan mulai menaiki anak tangga dengan kecepatan yang begitu cepat.


Carlof dan Haris segera mengikuti Garol dengan wajah yang lemas.


Di sisi lain, Rai dan Lara sedang mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan setelah memakan daging yang diberikan Lara.

__ADS_1


Lara berkata pada Rai bahwa malam ini ia berjanji untuk menjaga, Rai yang mendengar hanya bisa setuju saja.


Biarkan wanita ini ingin berbuat apa pun selagi itu tidak merugikan dirinya secara langsung.


Begitu keduanya selesai mempersiapkan diri dan siap rohani serta jasmani, Lara memimpin perjalanan sekali lagi dan bergegas pergi untuk sampai ke Kota berikutnya.


[Ding! Bunuh +36 Huuzer Licker (F+). Dapatkan +180 Exp, +180 Koin!]


[Ding! Bunuh + 16 Roachzer (F+). Dapatkan +64 Exp, +64 Koin!]


[Ding! Bunuh +11 Huuzer Licker (F+). Dapatkan +55 Exp, +55 Koin!]


[Ding! Bunuh + 3 Weaker Lizeer (E+). Dapatkan +105 Exp, +105 Koin!]



[Ding! Bunuh +22 Huuzer Licker (F+). Dapatkan +110 Exp, +110 Koin!]


[Anda Telah Naik Level!]


[Ding! Bunuh +21 Huuzer Licker (F+). Dapatkan +105 Exp, +105 Koin!]


Rai menghabiskan satu hari dengan membunuh banyak monster di tempat yang telah dilewati.


Levelnya telah naik satu level tanpa disadari olehnya seiring banyaknya monster yang dibunuh.


Hari ini banyak sekali monster yang datang untuk menyerang keduanya. Lara banyak membantu dalam perjalanan ini, tetapi ia tetap membiarkan Rai untuk membunuh banyak monster.


Tidak tahu kenapa Lara bersikap seperti itu kepada Rai, tetapi selain itu juga Lara jarang memakai api putihnya, kerap kali ia menggunakan senjata besinya dan masih memakai gaya bertarungnya yang sederhana namun mematikan.


“Kamu begitu bersemangat ketika membunuh monster-monster itu, Rai. Kenapa kamu bisa begitu semangat membunuh mereka?“ Lara duduk di sebelah Rai dengan beberapa meter jaraknya.


“Karena membunuh monster sama dengan menyelamatkan manusia.“ Rai memandangi langit malam yang gelap dengan beberapa cahaya kecil yang berkelap-kelip dan berkata.


Setelah mendengar jawaban Rai, Lara tertegun sejenak dan mulutnya melengkung tersenyum.


Tidak menyangka pria yang begitu dingin ini bisa menjawab pertanyaannya sebagus itu.


“Jawaban yang bagus, Rai.“ Lara menoleh dengan tersenyum manis pada Rai.


Rai juga menoleh ketika mendengar Lara berkata seperti itu.


Mereka berdua saling berpandangan satu sama lain beberapa saat dan kemudian Lara membuang wajahnya untuk melihat ke arah yang lain.


Wajahnya sangat memerah setelah saling memandang dan ia bergumam di dalam hatinya, “Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku harus malu hanya dengan melihat matanya. Kamu kenapa Lara? Kamu itu wanita yang kuat, tidak boleh kalah dengan pria di sebelahmu, dan bersikaplah biasa saja.“


Lara menyemangati dan mendorong dirinya agar tidak terlena oleh perasaan aneh yang baru pertama ia alami sekarang ini.


Tidak tahu alasannya ia bisa seperti ini, padahal Lara sudah bertemu beberapa kali dalam hidupnya, dan tidak pernah sekalipun mengalami perasaan aneh di dalam hatinya ini.


Gooo~


Suara aneh terdengar di antara keduanya, Lara yang tahu suara ini, wajahnya langsung memerah seperti apel.


“Emm … maaf.“ Lara berkata pada Rai dengan wajah yang malu seraya mencengkeram perutnya.


Sepertinya Lara lapar.


Bekal dagingnya telah habis tadi pagi, dan itu pun ia berikan sisa bekalnya pada Rai.


Dengan demikian, saat ini Lara tidak memiliki pasokan makanan sehari-hari, semua makanannya sudah habis.


“Ambil ini. Makanlah.“ Rai mengeluarkan bungkusan nasi yang sudah beberapa kali ia keluarkan dengan bentuk yang serupa.


Makanan itu Lara tangkap dengan cekatan, dan hidungnya mencium aroma makanan yang lezat.


Bungkusan makanan ini masih hangat, bagaikan makanan di dalamnya baru diangkat dari penggorengan.


Tanpa berlama-lama, Lara membuka bungkus nasi tersebut dan ia melihat nasi berwarna kecokelatan dan telur mata sapi yang mengeluarkan asap karena suhu makanan yang hangat.


Makanan yang diberikan Rai adalah nasi goreng asli Indonesia.


Sendok sudah Rai berikan, Lara hanya perlu memakan makanannya.


“Selamat makan!“


Lara langung mengambil beberapa suapan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya tergesa-gesa.


Di sebelahnya, Rai yang melihat aksi Lara yang sedang makan secara ekstrim hanya bisa menggelengkan kepalanya dan fokus dengan makanannya.

__ADS_1


Rai pun makan dengan perlahan dan normal tanpa terburu-buru.


__ADS_2