LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 110: Santai Sebelum Pergi


__ADS_3

Lara duduk di bangku makan sambil melihat Rai tengah mengeluarkan makanan. Pada kesempatan makan malam ini, Rai mengeluarkan makanan baru untuk Lara, yakni sup-makanan hotpot dari negeri panda.


Makanan ini merupakan makanan yang direbus atau makanan kuah, memiliki banyak isian yang variatif.


Oleh karena itu, Lara terpana melihat Rai meletakkan banyak makanan di atas meja. Di atas meja sekarang banyak sekali piring dengan berbagai isi makanan, dimulai dari piring berisi daging-dagingan hewan ternak, bakso, makanan laut, dan berbagai sayuran.


Meja kini dipenuhi oleh oleh banyak makanan.


Di tengah meja terdapat wajan atau panci yang ditaruh di atas kompor yang menyala, di dalam panci terdapat kuah sup merah menggelegak yang mengeluarkan aroma gurih dan sedikit pedas, dari penampilannya saja kuah ini terlihat sangat enak.


“Makanan apa ini, Rai?“ tanya Lara yang penasaran sambil melirik kuah sup merah di dalam panci.


“Hotpot, makanan sup yang cukup pedas,” kata Rai yang tengah mencuci tangan. “Cuci tanganmu dahulu sebelum makan.“


Lara mengangguk dan berjalan menuju wastafel tempat membersihkan tangan. Air keran di wastafel ini berfungsi, bisa mengeluarkan air bersih dalam kapasitas yang banyak. Mereka tak perlu menggunakan air minum untuk mencuci tangan.


Namun, anehnya di tenda ini tidak tersedia kamar mandi, padahal di kamar tenda ini memiliki wastafel yang dapat mengeluarkan air bersih entah dari mana.


Mungkin nanti Rai mempertanyakan perihal ini kepada sistem.


“Ambil sumpitmu, lalu jepit seperti ini,” Rai tanpa basa-basi langsung mengajarkan Lara cara memakai sumpit yang benar sebelum Lara bertanya.


“Sumpit?“ Lara menatap dua buah batang kayu kecil yang sama panjang dan terdapat corak bunga yang cantik di kayu ini.


Ia segera mengambil sumpit dan menirukan apa yang ditunjukan Rai kepadanya. Dua sumpit diletakkan di antara ibu jari, jari tengah, dan jari telunjuk, salah satu batang kayu dijepit antara jari telunjuk dan jari telunjuk, sedangkan batang kayu satunya lagi dijepit menggunakan ibu jari, sumpit atas digerakkan ke bawah dan ke atas oleh jari telunjuk dan jari tengah.


Dalam tiga kali percobaan, Lara berhasil mecapit daging sapi yang dipotong tipis.


“Cara memakannya adalah kamu hanya perlu mencelupkan beberapa saat daging dan makanan yang ada di piring ke dalam kuah sup yang mendidih, kemudian kamu boleh memakannya,” jelas Rai sambil mempraktekkan apa yang ia katakan.


Lar dengan seksama memperhatikan gerakan Rai dan mencoba mengikuti tata cara makan Rai. Dalam sekejap ia langsung bisa menggunakan tata cara makan hotpot yang baik dan benar.


“Lezat!“ Lara tersenyum lebar sambil mengunyah daging sapi yang dibalut kuah hotpot.

__ADS_1


Rasa gurih dan pedasnya sangat terasa, makanan ini lezat ketika dimakan di musim dingin. Namun, mereka berdua sedang berada di kota yang memiliki suhu panas. Bukan masalah, yang terpenting mereka bisa makan dan tak perlu bingung dalam mencari makanan.


Di sepanjang makan malam, Lara berseru gembira tiap kali ia menggigit daging rebusan kuah dari makanan hotpot ini.


Menghadapi perilaku imut Lara, Rai sudah tak lagi merasa risih lantara setiap makan malam wanita ini akan bereaksi sama. Rai membiarkannya saja, lagi pula tidak begitu mengganggunya saat makan.


Beberapa menit berselang, keduanya telah menghabiskan semua makanan yang ada di piring-piring ini.


Antara keduanya yang paling banyak memakan isian hotpot adalah Rai. Meskipun terlihat santai ketika makan, porsi yang dihabiskan oleh Rai lebih banyak ketimbang Lara. Hanya saja Lara memakan terlalu cepat sehingga tampak dirinya yang makan paling banyak.


“Udang paling enak di antara yang lain. Kuah sup ini sangat enak!“ Lara berseru sembari bersandar di atas kursi, perutnya terlihat sedikit membesar. Ia kelihatan kekenyangan.


“Inti dari makanan ini memang supnya, tanpa sup makanan ini tak ada artinya,” ucap Rai yang sedang menumpukkan piring yang kosong.


Melihat ini, Lara berhenti bersandar dan mulai membantu Rai membersihkan bekas makan malam mereka berdua.


Setelah itu, Lara dan Rai duduk di sofa hendak menonton film di ponsel.


Dalam tiga hari ini, Lara terkena adiktif terhadap film romantis, setiap malam pasti Lara mengajak Rai untuk menonton film.


Pada mulanya Rai risih dengan Lara yang mencoba mendekatinya, tetapi lama kelamaan Rai memakluminya, membiarkan Lara duduk bersamping-sampingan dengannya.


Wanita satu ini keras kepala dan sulit untuk melarang tingkahnya. Pastinya Lara akan mengeluarkan jurus memohon dengan wajah yang sulit dikatakan buruk. Rai tidak tahu bagaimana cara menghadapi permintaan Lara, satu-satunya cara menghadapinya adalah membiarkan, tetapi Lara menganggap jawaban Rai adalah iya atau menerima, padahal membiarkan berbeda dengan menerima.


Pada akhirnya, Rai dipaksa Lara untuk menonton film romantis.


Malam ini, Lara dan Rai menonton fil bergenre romantis dari perfilman Indonesia. Ketika mencari film yang cocok, Lara tertarik dengan judul film yang terdapat kata “Rock n Roll” di daftar film yang ada di ponsel Rai.


Tanpa banyak menunggu lagi, Lara memilih untuk menonton film tersebut pada malam hari ini, film tersebut akhirnya dimulai.


Pada permulaan film, Rai dan Lara diperlihatkan dua sosok remaja yang nakal, mereka berdua sedang mengendarai mobil di malam hari di sebuah kota besar, itu kota Jakarta tahun lalu.


“Ini kota mana, Rai? Aku belum pernah melihat ada kota yang seperti ini sebelumnya,“ Lara ingin mempertanyakan hal ini semenjak menonton film di ponsel Rai.

__ADS_1


Kota yang menjadi latar tempat film sama sekali tak pernah Lara ketahui. Makan dari itu ia bertanya kepada Rai persoalan ini.


“Mungkin di kota Lhee, aku juga tidak tahu, pasalnya ini film dahulu, mungkin kita berdua masih kecil atau belum ada saat film ini dibuat. Jadi, kita tak tahu jelas latar tempatnya,” jawab Rai dengan tenang.


Mendengar jawaban Rai yang begitu meyakinkan, Lara merasa apa yang dikatakan masuk akal, untuk sementara waktu ia menerima alasan ini, ia kembali menonton film yang ada di layar ponsel.


Di layar ponsel, adegan terus berjalan sampai ke sebuah percakapan antara dua pria yang adalah protagonis ini membicarakan sesuatu yang aneh.


“Besar bola daripada tiang? Apa maksudnya, Rai?“ Lara tak mengerti pembicaraan antara dua tokoh pria yang ada di film dan Lara bertanya.


Rai ragu-ragu untuk menjawab, tetapi demi pengetahuan Lara, ia akhirnya memberitahukan artinya. “Mereka sedang berbicara tentang alat kelamin mereka sendiri.“


Kalimat jawaban Rai membuat Lara tertegun sejenak, noda merah perlahan muncul di pipinya.


Tak sengaja, Lara melirik sesuatu yang ada pada di antara kedua kaki Rai, di dalam otaknya ia berpikir apakah milik Rai juga besar atau tidak seperti yang dibicarakan di dalam film, tetapi pemikiran tersebut disingkirkan oleh Lara dengan cepat.


Lara menggelengkan kepalanya dan berteriak dalam hati, “Apa yang kamu pikirkan Lara?! Kamu tidak boleh mesum seperti itu?! Eh! Aku ingat punya Rai sangat besar ketika berendam di air terjun kecil waktu itu … tidak-tidak! Jangan berpikir seperti itu lagi, Lara!“


Melihat tingkah aneh Lara yang datang kembali, Rai menggelengkan kepalanya dan terus menonton film.


Pada akhir film, salah satu protagonis pria ini mendapatkan hati protagonis wanita meskipun kedua protagonis ini sempat berkelahi untuk menjadi pasangan protagonis wanita, di akhir cerita satu protagonis pria mengalah dan menyetujui hubungan protagonis satunya bersama dengan protagonis wanita.


Kedua protagonis pria ini tetap bersahabat tanpa harus cekcok masalah percintaan dengan protagonis wanita.


Lara bertepuk tangan dan tertawa melihat akhir cerita ini, sebab ia salut dengan persahabatan kedua protagonis pria, tertawa karena tingkah ketiga protagonis ini yang nyeleneh.


“Akhir yang bahagia walaupun sedikit jorok.“ Lara menatap kredit film dengan wajah yang senang. “Film ini tak layak ditonton anak-anak akan berbahaya bagi pikiran mereka.“


“Memang tak ditujukan untuk anak-anak, film ini mengandung kata kasar dan perilaku yang kasar,” kata Rai memberi tahu kepada Lara.


“Memang benar.“ Lara mengangguk setuju.


Usai menonton film, keduanya berjalan menuju tempat tidur dan segera tidur untuk istirahat. Mereka harus mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang esok hari.

__ADS_1


Mereka berdua berencana untuk pergi dari kota gersang, kering, dan tandus ini secepat mungkin.


__ADS_2