LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 84: Lara Seorang Petualang


__ADS_3

“Kamu tidak terluka, kan?“ Lara berkata sambil menatap sekeliling tubuh Rai dengan khawatir.


Rai menoleh dan melihat wajah cantik Lara yang tampak begitu khawatir.


Reaksi Rai ketika melihat wajah khawatir Lara hanya merespons dengan tatapan yang mendalam yang tertuju ke manik mata Lara yang mengandung kekhawatiran, dan ia berpikir dalam hati, “Apakah dia mengkhawatirkan aku?“


“Anu~ ….” Pipi Lara memanas dan memerah akibat dipandang dengan intens oleh Rai.


“Aku tidak terluka sama sekali,“ Alseenio menjawab dengan lengkungan mulut yang samar -samar.


“Syukurlah kalau begitu …“ Lara menghela napas lega setelah mendengar jawaban Rai.


“Lebih baik kamu menepi ke tempat yang bersih, aku ingin mengambil daging-daging ini terlebih dahulu untuk Kuro makan nantu,” ujar Rai kepada Lara.


Lara mengangguk. “Baiklah, aku akan menunggumu di sana.“


“Oke.“


Rai melanjutkan lagi kegiatannya mengumpulkan potongan daging monster yang ada di atas tanah ke dalam tas.


Sementara itu, Lara berjalan menuju senjata besinya yang tertancap di sebuah batang pohon bersama satu ekor monster yang telah mati dengan tubuh yang rusak.


Tongkat besinya ditarik sampai terlepas dari batang pohon yang besar, tubuh monster yang telah mati itu jatuh ke bawah dan terbaring begitu saja.


“Pria itu (Rai) benar-benar tegas dalam membunuh musuh, bahkan monster ini dibantai habis-habisan sampai terdapat bekas luka yang parah,” Lara bergumam kecil sambil menatap mayat monster di tanah.


Kondisi mayat di bawah sangat menyedihkan, banyak luka sobekan yang tidak lain diakibatkan oleh besi tajam milik Lara.


Memerhatikan mayat monster ini dengan seksama membuat Lara sadar akan satu hal, akar tanaman dan dedaunan menjadi layu dan mati sehingga bentuk monster yang mati sangat berbeda sekali, tubuhnya menjadi kering layaknya dahan yang layu.


Tidak sama dengan ketika hidup, monster ini ketika disentuh tidak akan mengikat benda atau apapun yang menyentuhnya. Bagaimana bisa mengikat atau meraih benda yang datang jika akar dan tumbuhan di seluruh tubuhnya mati dan layu.


“Padahal monster ini cukup sulit dibunuh oleh pejuang pemula, bahkan aku sendiri sempat kesusahan beberapa tahun yang lalu.“


Lara menatap monster yang ada di bawah sambil mencoba menyentuh dan menusuk dengan batang besinya yang tajam.


Menurut Lara, monster yang bernama Huuzer Crawler Moss ini susah untuk dibunuh, sebab seperti yang sudah ia jelaskan sebelumnya, kemampuan monster yang satu ini sangat merepotkan.

__ADS_1


Apabila ingin menyerang monster ini dengan senjata serangan jarak pendek atau melee, itu tidak hanya tentang menghindar dan menyerang, tetapi harus tepat ketika menyerang dan harus berjaga jarak.


Keseluruhan harus lebih fokus dan melihat keadaan ketika bertempur melawan monster satu ini.


Maka dari itu, tidak sedikit pejuang yang telah gugur oleh monster ini.


Apalagi mengingat sistem penyerangan monster Huuzer Crawler Moss yang jenisnya berkelompok, jikalau ada satu monster yang muncul di penglihatan, itu sudah bisa dipastikan kelompoknya akan muncul ketika ada seorang pejuang yang ingin membunuhnya, terasa layaknya jebakan dan monster ini sedikit pintar.


Beruntungnya, pejuang sekarang sudah mengetahui hal ini dan mereka banyak yang berhati-hati ketika bertemu monster satu ini, memang monster ini memiliki sesuatu yang spesial.


“Aku masih bingung dengan asal-usul Rai, teknik pedangnya sangat lincah dan setara dengan teknik pedang keluarga 'itu' dan itu adalah hal yang tidak biasa.“ Lara merenung sesaat. “Apa mungkin Rai dari keluarga yang sudah hilang seperti 'dia'?“


Lara menggelengkan kepalanya, menyingkirkan pikiran tersebut dan fokus dengan apa yang ada di depan mata.


Lara berbalik badan menghadap ke arah Rai yang masih mengumpulkan daging monster, ia menyaksikan Rai dengan tenang.


Butuh waktu dua puluh menit untuk Rai mengumpulkan setengah daging monster yang ada, setengahnya lagi ia biarkan untuk Kuro makan.


Nafsu makan dan kapasitas makan Kuro makin lam makin besar, di samping itu tubuh Kuro pun menjadi lebih besar dari sebelumnya.


Tingginya berkisar 3 meter dan panjang tubuhnya ke belakang 7 meter, bisa dibayangkan betapa besarnya Kuro jika memasuki mode bertarung.


Taringnya saja jauh lebih besar dari taring Smilodon, taring gigi Kuro yang mengarah ke bawah memiliki panjang 75 sentimeter, apabila Kuro menggigit monster itu akan merobek daging monster dengan mudahnya.


“Kamu masih tahu jalur menuju Kota Mopulu dengan jelas, kan?“ Rai yang baru saja tiba di depan Lara langsung bertanya.


Lara mengangguk dan menjawab, “Ya, aku masih ingat jalurnya, memangnya kenapa, Rai?“


“Tidak apa-apa, takut kamu lupa.“ Rai menggelengkan kepalanya lalu berdiri di sebelah Lara.


“Pastinya aku tidak akan lupa, aku sudah pernah beberapa kali melakukan perjalanan ke Kota Mopulu, asal kamu tahu saja,” Lara berkata dengan sikap sedikit bangga.


“Beberapa kali?“ tanya Rai dan menoleh kepada Lara. “Untuk acara dan tujuan apa?“


“Sudah aku bilang dari awal, aku itu seorang petualang dan merangkap sebagai seorang pejuang, aku melakukan apa yang harus seorang petualang lakukan. Bepergian ke sana kemari dan kembali lagi ke kota Talu, tetapi itu tidak terlalu sering aku lakukan,” kata Lara yang mulai menjelaskan tentang dirinya, “Ya ... kamu sendiri sudah tahu kenapa aku tidak bisa sering melakukan petualangan. Kamu juga seorang petualang, harusnya kamu tahu alasannya.“


Rai mengangguk memahami maksud Lara.

__ADS_1


Tujuannya memanglah berpetualang dari awal ia muncul di dunia yang tidak dikenal ini, Rai sudah bisa disebut seorang petualang.


Melakukan perjalanan memang sangat butuh waktu yang lama, bahkan waktu yang telah dihabiskan untuk melakukan perjalanan dari kota Lhee Pusat ke Talu Utara butuh 2 bulan 1 minggu, dan itu bukanlah waktu yang singkat.


Rai rasa pun ia melakukan perjalanan terlalu cepat, seharusnya orang-orang tidak secepat dirinya, terlebih yang melakukan perjalanan secara berkelompok.


Pasalnya, Rai pernah beberapa kali menyingkat waktu dengan cara menunggangi Kuro yang larinya begitu cepat, terlebih mengingat ia kerap kali melewati gedung dan tidak memeriksanya.


Selain itu juga, tidak pernah Rai menetap di suatu tempat hingga berhari-hari, ia hanya menetap dan tinggal semalam di suatu tempat dan kembali melanjutkan perjalanan jauhnya.


Mungkin orang-orang di sini tidak seperti itu, mereka pasti harus mencari makan dan itu memakan waktu lagi dan perjalanan semakin lama dan terhambat. Berbeda sekali dengan Rai yang tidak memikirkan soal makanan.


'Miaw!'


Kuro selesai makan dan mendatangi mereka berdua yang saling mengobrol ringan.


“Kamu sudah selesai, Kuro? Bagaimana kamu sudah kenyang, kan?“ Lara menyambut Kuro dengan perhatian khasnya.


Kuro merespons dengan anggukan kecil.


“Syukurlah. Ayo kita pergi, Kuro. Kami berdua sudah menunggumu lama,” kata Lara yang mengangkat Kuro dengan kedua tangannya.


'Miaw!'


Kuro menjawab dengan semangat.


Lara meletakkan Kuro ke tempat kesukaannya, yaitu bahu lebar Rai.


Melihat ini, Rai menatap wajah Lara dan mengangguk ke arah Lara.


Lara membalasnya dengan anggukan, dan kemudian keduanya berjalan menuju arah utara dari perkampungan.


Mereka meninggalkan perkampungan tempat sarang Huuzer Crawler Moss dengan santainya sambil sesekali mengobrol bersama.


Dilihat-lihat, keduanya terasa seperti sedang melakukan pariwisata atau liburan, sebab keduanya keluar dan berjalan tanpa adanya rasa takut terhadap monster yang menguasai dunia.


Sosok tinggi dan pendek dari keduanya secara bertahap menjadi kabur dan pada akhirnya menghilang.

__ADS_1


Mereka berdua fokus dengan tujuan tanpa melihat ke arah belakang.


__ADS_2