LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 65: Lara Lahir di Kota Talu


__ADS_3

Ketika mendengar penjelasan yang diterangkan oleh Lara, Rai terkejut sekaligus penasaran dan tanpa sadar memotong kata-kata Lara.


“Benar, ada manusia yang membangkitkan kemampuan perpaduan antara Malzer dan Mentzer.


Rata-rata dari mereka adalah pejuang yang kuat. Meskipun begitu, mereka juga ada yang cukup lemah dan bisa dikalahkan oleh pejuang Malzer dan Mentzer.“


Lara memberikan informasi tentang pejuang tersebut dengan serius sehingga ia melupakan sedikit rasa lapar di perutnya.


“Artinya pejuang gabungan dua jenis atau tipe itu tidak semuanya kuat walaupun rata-rata dari mereka sangat kuat. Aku mengerti,” gumam Rai kecil dan merenung untuk mencerna informasi di kepalanya.


“Betul, pejuang tidak bisa disebut mutlak tak terkalahkan, sebab pejuang dengan tipe yang menurut kita lemah juga bisa berpotensi mengalahkan dua tipe yang teratas ini.


Aku akan memberikan contohnya dari satu tipe terkuat ini—”


“Tahan di situ, dan ambil ini.“


Rai lagi-lagi menginterupsikan penjelasan Lara, tetapi kali ini ia menyuruh Lara makan secara tidak langsung dengan menyerahkan nasi uduk yang sudah dibungkus.


“Emm … terima kasih.“ Lara mengucapkan rasa terima kasihnya dan mengambil nasi bungkus yang diberikan oleh Rai.


Tanpa menunggu lama lagi, Lara membuka nasi yang dibungkus tersebut untuk melihat isiannya.


Rai juga memberikan sendok plastik yang sepaket dengan nasinya.


“Ayo, kita makan!“ Lara mengajak Rai untuk memulai sarapan, berkata dengan senyum yang lembut di wajahnya.


“Oke,” jawab Rai dengan datar lalu ia mulai menggerakkan sendoknya.


Keduanya sarapan pagi bersama, tidak lupa juga Kuro yang sedang makan daging di dekat Rai, ia juga sudah memulai makannya lebih dahulu.


Beberapa menit berselang keduanya sudah menghabiskan makanan. Tangan Rai sedang mengepalkan kertas bekas nasi uduknya sehingga membuatnya menjadi bola kertas, Lara pun sama.


Menurutnya, makanan pagi ini sangat lezat, ayam yang digoreng dengan bumbu yang gurih dan tidak ia ketahui, lalu nasinya pun enak dan memiliki aroma yang nikmat, secara keseluruhan makanan ini adalah makanan yang lezat dan mengenyangkan karena porsinya cukup banyak.


Sekarang ada sesuatu yang ingin ditanyakan oleh Lara kepada Rai, tetapi mengingat pertanyaan yang pernah ia sampaikan dijawab dengan kata “rahasia” tampaknya itu juga akan dibalas dengan kata yang sama.


Lara menyimpan kembali niatnya untuk bertanya kepada Rai untuk saat ini, mungkin di perjalanan nanti ia akan bertanya.


Semoga saja ia mendapatkan jawaban dari Rai yang sebenarnya.


Sebelum melanjutkan lagi penjelasan informasinya, Lara meminum air mineralnya yang sisa semalam terlebih dahulu.


“Oke, aku akan menerangkan lagi informasi sebelumnya.“ Lara berkata kepada Rai dan ia memasang wajah yang serius.


“Contoh dari pejuang tersebut, seperti pejuang yang memiliki kemampuan untuk berubah menjadi hewan badak yang kulitnya terbuat dari batu.


Kamu pasti sudah mengerti apa yang aku jelaskan. Pejuang yang seperti itu memang kuat, tetapi dapat dikalahkan.“


“Oh, aku paham.“ Rai mengangguk menampilkan bahwa ia paham inti dari informasi yang Lara berikan.


“Bisa disebut hybrida.“


Rai memiliki pemikiran yang sama tentang kemampuan ini yang diasumsikan memang sangat kuat.


Bayangkan saja jika seseorang memiliki kemampuan berubah menjadi harimau yang memiliki cakar api di setiap kakinya, bukankah itu sangat kuat?


Namun, jikalau Rai bandingkan dengan kekuatannya, ia masih memiliki kepercayaan diri untuk menang melawan pejuang seperti itu, sebab Rai sendiri memiliki kemampuan yang terlalu kuat.


Sejak saat ini, Rai masih bingung dengan jenis kekuatannya, apakah ia masuk ke dalam jenis Malzer atau Mentzer.


Apakah telekinesis itu termasuk ke dalam elemen alam?


Jawabannya sepertinya tidak.


“Benar, bisa dikatakan itu Hybrida dari kedua jenis kemampuan.“ Lara pun setuju dengan kata Rai.


“Emm … ayo kita pergi, pagi sudah mulai berjalan ke arah siang.“


Bangkit dari lantai dan Lara mengajak Rai untuk pergi dan melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


“Oke.“


Rai berdiri dan membersihkan noda debu yang masih menempel sedikit di celananya.


Lara dan Rai membuang kertas nasi di tempatnyang tersembunyi di atap ini.


Mereka berdua bersama Kuro mulai menuruni gedung, Lara tanpa berkata apa pun mulai memimpin perjalanan, Rai setuju saja karena wanita di depannya ini sudah melakukan perjalanan walaupun Rai sendiri tidak tahu kebenarannya.


Dari ceritanya yang Rai dengar, wanita ini dapat menyebutkan bagaimana keadaan Kota Lhee Pusat yang bisa membuktikan bahwa Lara memang melakukan perjalanan tersebut.


Dalam perjalanan ini Rai tidak akan mengeksplorasi sebagaimana di saat ia sedang sendiri. Dikarenakan ada anggota tambahan Rai tidak akan mencari informasi lagi, dan fokus pada jalan dan rute, tidak lupa juga untuk membunuh monster yang ditemui.


Lara membawa Rai ke rute yang benar-benar tak bisa diduga, awalnya Rai diarahkan ke gedung yang hancur, lalu memasuki lubang yang tercipta dari tumpukan banyak puing bangunan, melewati berbagai bangunan yang kosong dan sunyi, bahkan Rai melewati bangunan yang mirip dengan ada yang di permainan konsol yang terkenal, bangunan itu memiliki beberapa lantai, tetapi di lantai dasar sudah menjadi rawa yang ada di hutan, banyak tanaman dan genangan air hujan.


Atmosfer tempat tersebut sangat luar biasa, seakan Rai masuk ke tempat yang ada di dalam permainan karena sangat menyerupai tempat yang ia maksud.


Di kota Talu Utara ini Rai sering menemukan monster Weak Lizeer, ada beberapa Huuzer Licker yang memiliki mutasi pada kakinya yang berselaput.


Monster-monster di sini beradaptasi dengan lingkungan kota Talu Utara yang memang cenderung ke lembab dan basah.


Rai yang banyak membunuh monster yang menyerang dirinya dan Lara, tetapi bukan berarti Lara menjadi beban dan tidak membantu, wanita ini ternyata cakap dalam bertarung, bermodalkan besi yang panjangnya puluhan sentimeter ia sudah bisa membunuh monster Weak Lizeer.


Wanita ini memiliki teknik membunuh dengan cepat, dan Rai juga mempelajarinya secara diam-diam hanya dengan memperhatikan.


Sama seperti yang dijelaskan oleh Lara, bahwa setiap monster memiliki batu bulat atau oval yang berwarna cokelat di bagian dadanya, batu itu pernah Rai temukan setelah membunuh Bos Huuzer Crawler, tetapi kondisinya sudah terpecah belah.


Dari situlah Lara bisa membunuh monster hanya dengan tongkat besi yang sedikit tajam pada ujungnya. Ia menyerang titik vital monster yang di mana kalau kita menghancurkan batu cokelat tersebut maka monster itu akan mati.


Wanita ini sudah tahu di mana letak batu tersebut pada monster, ia memang memiliki banyak pengalaman, Rai memiliki perasaan kagum di dalam hatinya terhadap Lara.


Akan tetapi, Rai berusaha untuk membunuh lebih banyak monster daripada Lara, lantaran ia tidak mau pengalaman dan koin pembeliannya dikurangi.


“Aku memiliki informasi mengenai monster yang kuat, apa kamu tertarik?“ ujar Lara tiba-tiba sembari menoleh ke arah Rai yang ada di sisi kanannya.


Mereka berdua sedang berjalan di sebuah lorong panjang yang di dalam sebuah bangunan berlantai 25. Konstruksi bangunan ini memanjang ke samping dan di dalamnya terdapat ruangan yang sejajar lurus. Mudah sekali ditebak bangunan apa yang mereka berdua lalui, bangunan ini adalah salah satu mall dari banyaknya mall di kota Talu Utara.


“Oke. Makanan saja untuk makan malam,” kata Lara yang sudah mempersiapkan jawaban dari pertanyaan Rai.


“Baiklah.“ Rai setuju dengan bayaran yang diinginkan oleh Laran


“Aku akan memulai menjelaskan informasinya.“ Lara mengambil napas ringan dan mulai memberikan informasinya.


“Sebuah infomasi ini aku dapatkan dari beberapa orang yang pernah bertemu denganku hanya dalam sekilas. Informasi ini mengenai monster yang kuat, tetapi aku belum dapat memverifikasikan makhluk itu benar adanya atau tidak, sebab aku belum pernah melihatnya secara langsung.


Monster itu muncul di beberapa minggu sejak kejadian penyebaran virus dimulai. Monster yang digadang-gadang memiliki ukuran yang besar dan mirip dengan ular atau makhluk yang melata tanpa kaki.


Dari informasi yang aku dapatkan tersebut, setiap orang memiliki persepsi dan asumsinya masing-masing terhadap monster kuat itu. Ada yang bilang monster itu berupa ular dan juga ada yang bilang itu lebih mirip cacing.


Pada intinya, monster ini sangat kuat hingga bisa menghancurkan sebuah kerajaan.“


Lara berkata sambil melihat ke depan lorong yang mereja berdua lewati.


Setelah mendengar informasi ini, wajah Rai segera berubah dan merenung.


Awalnya ia tebak monster tersebut adalah monster yang disebutkan di dalam salah satu catatan yang ia temui di kota Lhee Pusat.


Monster humanoid yang besar dan kuat. Rai tidak menganggap Boss Huuzer Crawler adalah sosok yang dimaksud oleh catatan tersebut, karena hanya ada satu kemiripan yang sesuai dengan ciri-ciri yang tercantum di secarik kertas catatan tersebut.


Monster melata yang besar dan bisa menghancurkan sebuah kerajaan, itu definisi monster yang kuat.


“Berapa persen informasi ini bisa dipercaya?“


“Mungkin 80% karena aku hanya melihat jejak monster itu muncul.“ Lara berkata sesuai dengan apa yang ia alami.


“Artinya kau pernah ke reruntuhan kerajaan itu?“ Rai menaikkan salah satu alisnya dan bertanya.


Jikalau Lara pernah melihat jejak monster tersebut artinya ia pernah ke kerajaan yang sudah hancur.


“Pernah, aku pernah ke berbagai tempat, tetapi aku pasti akan kembali lagi ke Kota Talu Utara karena ini tempat aku lahir.“

__ADS_1


Lara menoleh dan menjawab pertanyaa Rai dengan senyuman yang manis.


Rai tersentak karena terkejut, ia tidak tahu bahwa Lara berasal dari kota ini. Pantas saja ia selalu kembali lagi ke Kota Talu begitu menjelajahi kota-kota di wilayah Lhee.


“Kerajaan itu, kerajaan di wilayah Loro, kan?“


Rai kebetulan mendapatkan informasi ini dari Loret, dan disebutkan bahwa sistem kekuasaan kerajaan hanya ada di Kota Loro.


“Benar, itu Kota Loro. Kamu pernah ke sana?“


“Tidak, aku selama belasan tahun hanya di daerah Lhee tidak pernah keluar.“ Rai mengarang cerita tentang dirinya sendiri.


“Kenapa aku tidak bertemu denganmu saat itu?“ Lara berkata dengan aneh.


“Mungkin aku tidak ada di jalur yang kau lalui.“


“Mungkin saja,” ucap Lara yang sedang berpikir.


“Oh iya, jejak itu sangat besar kamu tahu? Itu mirip seperti gedung tinggi yang ditidurkan miring di tanah layaknya sebuah kereta.“ Lara berkata denga heboh sambil tangannya bergerak membantu ia menjelaskan betapa besarnya jejak monster tersebut.


Mendengar penggambaran yang Lara ucapkan menurutnya sangat sulit dipercaya, sebab itu terlalu berlebihan.


Monster itu terlalu besar, jika itu ada seharusnya manusia sudah punah saat ini.


“Dari wajahmu jelas sekali terlihat bahwa kamu tidak percaya apa yang aku bilang, kan?“ Lara memperhatikan mata Rai yang mengandung rasa tidak percaya.


“Ya, karena aku tidak pernah melihatnya.“


“Dasar, kamu tidak akan percaya jika kamu tidak pernah mengalaminya, kan?“


“Ya, mungkin.“


“….“


“….“


….


Mereka berdua terus berbicara sehingga waktu pun tidak terasa berjalan begitu cepat.


Dalam gedung ini tidak ada monster sama sekali, Lara menjelaskan bahwa ia sudah membersihkan monster yang ada di sini.


Jadi, mereka tidak perlu bingung untuk beristirahat malam sekarang.


Ternyata Lara sudah pernah menjelajahi daerah Kota Talu Utara banyak tempat yang ia jadikan tempat inap. Maka dari itu, Lara membawanya ke berbagai tempat yang sangat tersembunyi bagaikan jalan tikus, ia sudah ingat jalan-jalan yang ada di Kota Talu.


“Kita istirahat di sini saja. Aku sudah membersihkan tempat ini beberapa hari yang lalu.“ Lara menutup pintu kamar dan berbalik menghadap Rai.


Rai yang dibawa ke kamar oleh Lara saat ini sedang melihat ke sekeliling dalam kamar.


Kamar ini cukup bersih meskipun masih ada beberapa spot yang terdapat noda tanah dan debu. Ruangannya juga cukup luas untuk ditempati.


Namun … apakah Lara sungguh-sungguh membiarkan Rai tidur satu kamar dengan dirinya?


Pria dan wanita dalam satu kamar?


“Kau yakin membolehkan aku tidur di sini?“ Rai menoleh ke Lara dan berkata dengan wajah yang serius.


“Emm … boleh. Tetapi kamu tidak boleh macam-macam kepadaku! Awas saja! Aku akan membakarmu nanti!“


Di awal kalimat Lara berkata dengan sangat lembut, tetapi ketika di akhir kalimat ia berkata dengan nada yang kencang dan wajahnya yang memerah.


“Oke,“ jawab Rai yang tidak peduli nada keras Lara.


Penampilan Lara tidak menyeramkan, lebih ke imut menurut Rai, sama sekali tidak merasa terancam dengan ancaman Lara.


Keduanya berjalan ke tempat yang diinginkan oleh masing-masing, Rai memilih yang ke tempat yang dekat dengan pintu masuk, sedangkan Lara memilih tempat di bagian ruangan yang paling belakang.


Rai bukan pria yang ingkar akan janji, dengan inisiatifnya sendiri Rai memberi makanan untuk makan malam Lara.

__ADS_1


__ADS_2