
Tak lama kemudian, Rai dan Lara sampai di depan gedung yang memiliki halaman yang sedikit besar untuk menyimpan belasan mobil.
Di depan keduanya terdapat sebuah bangunan tinggi yang memiliki kerusakan pada bagian tembok atau dinding luar. Beberapa ruangan dari bangunan ini terekspos karena dindingnya runtuh dan berjatuhan menimpa mobil- mobil rusak yang terparkir di halaman ini.
Dinding ini mungkin dimakan usia lantaran tidak pernah dirawat bertahun-tahun lamanya, ditambah ada kerusakan yang disebabkan oleh monster ketika menghabisi penduduk kota, tanpa sadar mereka merusak fasilitas yang ada di kota ini.
Bangunan ini sangat-sangat kering, hujan sudah lama tak mengguyur kota yang membuat tanaman merambat sulit untuk tumbuh menyelubungi bangunan kota. Secara tidak langsung ini menyebabkan kota lebih gersang dan panas. Sama sekali tidak ada tumbuhan ataupun poho yang tumbuh, padahal tumbuhan bisa meminimalisir kegersangan suatu tempat.
Lambat laun panas di kota makin menjadi-jadi, seperti mereka sedang berada di gurun pasir pada saat matahari terik di atas kepala.
Bangunan di sini saja terasa hangat, Rai bisa merasakan tembok di sini teramat kering dan penuh debu.
Begitu Rai menyentuh dinding bangunan ketika masuk ke dalam lantai dasar bangunan, ujung jarinya terasa hangat seperti.
Di dalam bangunan ini pun sangat gerah dan membuat tubuh berkeringat bagaikan sedang berada di oven kue. Lara saja menyeka butiran keringat di keningnya beberapa kali saking panasnya di dalam bangunan ini.
Rai melihat bentuk bangunan ini seperti gedung perkantoran yang disewa untuk beberapa perusahaan. Lobi di sini cukup luas dengan dilengkapi beberapa tempat duduk sofa yang hancur tak bisa lagi dipakai, juga beberapa perabotan atau furnitur yang rusak.
Barang-barang di sini sudah hancur menjadi potongan sampah tak berguna yang hanya menutupi lantai untuk keduanya berjalan.
Selain itu, di dalam sini ada beberapa tembok yang hancur jatuh ke lantai dan menutupi lorong ataupun koridor jalan, mereka berdua butuh waktu agar bisa lewat jalan yang mengarah ke tangga darurat dalam gedung.
Lantai di paling dasar ini sudah mereka periksa dan hasilnya adalah kosong alisa tak mendapatkan apa pun. Oleh karena itu, mereka langsung bergegas ke lantai selanjutnya untuk diperiksa.
“Di sini sangat panas, Rai. Bolehkah aku meminta minum?“ Lara berkata kepada Rai yang ada di sebelahnya.
Mereka berdua sedang ada di sebuah ruangan besar seperti tempat karyawan kantorang yang ada pada lantai tiga bangunan. Beberapa komponen perangkat keras komputer yang hancur ada di bawah lantai, komputer yang rusak dan tak utuh banyak sekali di lantai tiga ini. Benar dugaan Rai, ini adalah bangunan sebuah perkantoran.
__ADS_1
“Ini, minumlah.“ Rai mengeluarkan sebotol air minum dari dalam tasnya dan memberinya kepada Lara.
Segera, Lara meminum air yang ada di dalam botol sampai habis hanya dalam satu tarikan napas. Air yang ada di dalam botol hilang tanpa menyisakan satu tetes air pun. Lara meminumnya sampai bersih.
“Fiuh~ akhirnya aku tidak kehausan lagi,” Lara menghela napas ringan dan berkata pelan.
“Taruh bekas air minum itu di tasmu terlebih dahulu, nanti aku akan membuangnya ke dalam tasku,” ujar Rai mengingatkan Lara tentang bekas minumnya.
Lara mengangguk dan mengikuti ucapan Rai, ia memasukkan botol plastik kosong ke dalam tasnya sendiri.
“Di sini sangat panas, Rai. Kita harus bergerak cepat dan segera meninggalkan kota yang tandus ini,” kata Lara seraya menatap Rai dengan wajah yang gelisah.
“Baiklah,” Rai mengangguk setuju.
Benar apa yang dikatakan Lara, mereka berdua harus pergi dari kota ini dan melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya, yakni kota Sawelas yang berada di sebelah bagian timur danau besar.
Karena itu, tiga hari ini mereka berdua tidur di dalam tenda kemah selalu. Rai dan Lara tidak mau tidur di luar secara langsung, gerah membuat baju mereka basah setiap menitnya. Sungguh malas untuk sering berganti pakaian, terlebih kota ini jauh dari sumber air bersih.
Keduanya dengan lekas memeriksa lantai bangunan yang berjumlah 25 lantai. Metode pemeriksaannya adalah pemeriksaan cepat dan tepat, mereka hanya memeriksa ruangan yang terlihat berpotensi menyimpan barang-barang yang penting dan memiliki fungsi.
Sekian lama mereka lakukan pengecekan bangunan ini, hasilnya mereka hanya mendapatkan capek dan keringat yang banyak.
Tidak apa-apa, setidaknya Rai mendapatkan poin pengalaman dari monster yang ternyata tinggal di bangunan hangat ini. Monster berjenis Huuzer Crawler yang memiliki fitur yang berbeda dengan Huuzer yang Rai temui sebelumnya, Huuzer ini memiliki kulit keras karena terdapat tanah kering di sekujur tubuhnya.
Monster satu ini kemungkinan besar bermutasi dan menyesuaikan dengan lingkungan. Senjata alami tetap sama, yaitu tidak lain cakar panjang dan gigi bervirus mereka. Selain ituz Huuzer satu ini memiliki kemampuan unik, kemampuan yang bisa menembakkan peluru duri kecil yang sepenuhnya dari tanah kering. Cukup merepotkan karena duri itu ketika hancur langsung berubah menjadi butiran lasir yang meledak, bila terkena mata itu akan berakibat fatal.
Jadi, Rai tetap harus fokus dan serius ketika menghadapi mereka semua. Jika tidak, ia bisa saja terkena debu pasir dari peluru duri dan membuat matanya perih, ini sebuah kecelakaan yang fata kalau mata tak bisa melihat atau terganggu.
__ADS_1
Tanpa mata, akan sulit menyerang dan membidik lawan, kecuali memiliki indra pengganti yang bisa fungsinya setara dengan mata, seperti pendengaran yang kuat dan bisa memvisualisasikan pemandangan di sekitarnya di dalam otak. Rai teringat pahlawan super memiliki mata yang buta juga memiliki kekuatan supranatural yang serupa.
Sebenarnya, Rai memiliki pendengaran yang baik karena peningkatan keempat atribut, ditambah dengan kemampuan Majestic of Mind, ia tak masalah apabila buta, tetapi kekurangannya Rai tak bisa meihat tampilan pada layar ponsel.
Mereka berdua turun dari bangunan ini dan kembali pergi ke bangunan selanjutnya yang masih berdiri.
Kali ini mereka tidak melalui jalan, alasannya sudah pasti tahu apa. Mereka berjalan melalui tempat yang teduh, dari satu tempat ke tempat yang lain, menggunakan cara pemberhentian ibarat kereta api yang berhenti di tiap-tiap stasiun.
Jarak bangunan yang masih bisa berdiri dengan bangunan yang serupa sangat jauh. Waktu cukup lumayan dihabiskan dalam perjalanan saat ini. Bukan masalah yang terpenting pasti bisa keluar dari kota tandus dan gersang tanpa ada air.
Beberapa bangunan telah mereka periksa, bahkan sampai hari sudah malam, panasnya sudah tidak lagi menusuk kulit, sudah jinak dan tak buas. Meskipun tidak ada cahaya matahari, kota masih terasa hangat walaupun tak separah siang dan sore hari.
Apabila ditanya hasil, pemeriksaan-pemeriksaan gedung ini masih sama hasilnya, hampa sekali tanpa ada satu barang berguna yang keduanya dapatkan.
Di kota ini sangat hancur sehingga sulit menemukan barang berharga. Kalaupun ada, itu tidak lengkap, lebih mendekati hancur daripada tak lengkap.
Rai hanya bisa menanggapi dengan sabar dan tabah, sudah biasa hal seperti ini Rai alami, memang sudah menjadi makanan sehari-hari.
“Sampai juga di tenda …. Ruangan dingin aku membutuhkannya sekali!“ Lara berlari menuju kasur sambil membawa tas dk tangannya.
Lara melemparkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk sambil memeluk guling lembut, ia tak tahan lagi dengan suhu kota ini dan ingin segera masuk ke dalam tenda kemah.
Hari ini tidak buruk, terlepas suhu panas kota dan tak menemukan barang berharga dan berguna, setidaknya Rai bisa memperoleh pengalaman dan koin sistem. Lumayan, sebentar lagi Rai akan naik level. Cuma perlu kurang dari seribu Exp poin untuk naik ke level berikutnya.
“Cuci tanganmu segera, kita akan makan malam,” ucap Rai yang tengah mengeluarkan makanan dan potongan daging monster.
Lara bangun dari kasur dan berjalan ke meja makan tempat Rai berdiri sekarang. “Baik, aku akan mencuci tangan."
__ADS_1