LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 22: Jejak Sepatu


__ADS_3

Suara desingan pedang dan cahaya yang bersinar menghiasi ruangan yang minim pencahayaan ini.


Seakan tidak mau kalah, suara yang lain ikut meramaikan ruangan yaitu berbagai jeritan makhluk asing dan suara percikan air.


Bukan percikan air, melainkan percikan darah yang menyembur keluar.


“Bau busuk di ruangan ini semakin banyak dan mengental.“ Rai memperhatikan situasi sekitar ruangan yang telah diisi oleh asap berbau busuk. “Sepertinya aku harus memancing mereka untuk pindah ke tempat yang lain.“


Tempat pertarungan ini tak memungkinkan lagi untuk Rai membunuh mereka di tempat sempit dan gelap seperti ini, terlebih lagi ruangan ini hampir keseluruhan telah tersebar asap yang bau dan dapat melemahkan dia.


“Aku harus melakukan gerakan untuk memancing mereka supaya pindah dan keluar dari sini,” gumam Rai sambil menggerakkan kedua pedang untuk menebas Huuzer Crawler yang paling dia benci.


Mata Rai bergerak, dia melihat asap yang semakin menyebar ke arahnya, sepertinya sudah tidak memungkinkan untuk bertahan dan membunuh monster.


Kedua pedang itu berhenti memotong monster dan kembali kepada tangan Rai.


“Kuro, seperti biasa, ketika aku selesai berhitung mundur kau segera berlari secepat mungkin.“


Rai menoleh ke belakang dan berkata kepada Kuro yang berdiri beberapa langkah di belakang Rai.


'Miaw!'


Kuro mengeong dan mengangguk menanggapi suruhan Rai


Melihat Kuro yang mengerti, Rai membalas mengangguk dan kembali menatap ke arah kelompok monster yang belum Rai ketahui jumlah seluruhnya.


Rai melangkah ke depan mencoba untuk memancing mereka keluar dari asap yang bau ini.


“Ayolah makhluk bau! Datang ke sini dan makan aku!“ Rai berkata dengan nada tinggi namun tidak terlalu keras.


Dalam sekejap lampu hijau bermunculan dan terlihat menyala dari asap hijau.


Rai langsung memulai melakukan aba-aba dan menghitung mundur, “Tiga ….“


“Dua ….“ Rai menghitung mundur sembari melangkah mundur sedikit demi sedikit.


“Satu!“


Kuro dan Rai berlari cepat meninggalkan tempat ini, diikuti oleh monster hijau yang ternyata memiliki jumlah yang banyak.


Suara hentakan kaki yang ramai terdengar, seperti suara yang bergemuruh karena gedung yang akan runtuh.


Dengan kecepatan berlari yang cepat, Rai dan Kuro berhasil sampai di tempat awal mereka masuk.


Di belakangnya terdapat monster yang begitu banyak berkisar dua puluh ekor lebih.


Tidak menunggu lama, Rai mengerahkan serangannya.


Rai melempar kedua pedangnya ke depan, membidik dua monster yang paling depan dan mudah dijangkau.


Pedang itu terbang cepat di udara, melesat mengarah ke dua kepala monster.


Srat! Srat!


Bilah pedang itu menancap kuat hingga melubangi kedua kepala monster itu menembus ke bagian leher.


Seakan belum cukup, Rai mengendalikan kedua pedangnya dari jarak jauh dan membelah tubuh monster menjadi dua bagian.


Dua monster itu telah dipastikan mati, Rai tidak perlu memastikan lagi.


Asap hijau keluar dari potongan daging dan mulai mencemari udara di ruangan ini.


Karena masih banyak ruang yang belum terkena asap, Rai masih dapat bergerak secara leluasa untuk menyerang mereka.

__ADS_1


Rai tidak bisa menunggu lama, dia tidak akan menyia-nyiakan tempat dengan udara yang bersih dari asap bau, dia harus membunuh mereka dengan cepat.


Dalam sekejap kedua pedang itu semakin agresif bergerak, dengan cepat memotong monster yang ada. Namun, Rai merasakan pelemahan pada tubuhnya, efek samping menggunakan kekuatan telekinesis mulai terasa saat ini.


Atribut mental sangat diperlukan di situasi sekarang, jadi Rai dengan cekatan mengalokasikan sebagian poin atribut yang didapatkan kemarin dari kenaikan level ke atribut mentalnya dan sisa poin atribut tersebut ditambahkan ke atribut ketahanan.


Segera Rai merasakan kepalanya menjadi lebih jernih dari sebelumnya, kontrol telekinesisnya pun menjadi lebih baik dan kuat, membuat kedua pedangnya semakin cepat dalam bergerak untuk menebas dan memotong para monster.


Slash!


Slash!


Monster yang berupaya mendekati Rai langsung dipotong oleh kedua pedang itu, bahkan mereka tidak sempat untuk berteriak, apalagi menghindar.


Kendali kedua pedangnya semakin handal dan lihai, bagaikan Rai yang mengendalikan secara langsung dari tangannya.


Beberapa menit berlalu, bilah pedang Rai memotong monster bau yang terakhir dengan mulus tanpa hambatan.


Ding!


[Bunuh 30 Reek Huuzer Crawler (F+). Dapatkan +90 Exp, +90 Koin!]


Rai mengabaikan notifikasi sistem, dia mengambil Kuro dan pergi dari pusat lantai dasar ke bagian timur lantai dasar.


Terlalu bau, Rai tidak kuat jika dia tetap ada di sana. Oleh karena itu dia bergegas pergi menuju ke arah timur lantai paling bawah ini.


Asap itu akan menghilang dengan sendirinya tetapi membutuhkan waktu yang lama. Mungkin beberapa jam sebelum menghilang.


Sebenarnya Kuro bisa saja membunuh Reek Huuzer Crawler ini, akan tetapi Rai tidak memperbolehkan, pasalnya bau yang dikeluarkan oleh monster itu terlalu kuat, Rai tidak ingin Kuro mencium bau yang bahkan dia tidak kuat untuk menahan. Bau kakinya jauh lebih baik dari bau monster itu.


Ia takut kejadian yang tidak diinginkan terjadi, dan membuat Rai di posisi yang dirugikan.


“Tidak ada yang berbeda di bagian sini. Serupa dengan bagian barat tadi.“


Metode pemeriksaan juga dilakukan serupa dengan sebelumnya, dia mengintip dari luar toko tersebut, jika ada sesuatu yang menarik barulah dia masuk ke dalam dan mengambilnya.


Karena tidak ada apapun di lantai ini, juga Rai telah memeriksa hampir semua ruangan dan toko, Rai berjalan kembali ke pusat lantai dasar yang terdapat banyak eskalator yang mengarah ke lantai atas.


Eskalator ini sudah pasti tidak berfungsi, besi pegangan dan kerangka eskalator telah berkarat, bahkan anak tangga telah diisi oleh tanah dan tumbuhan kecil.


Rai melangkah naik bersama Kuro yang meloncat kecil menaiki tangga eskalator.


Melihat interior bangunan, seharusnya ini akan menjadi mewah dan meriah jika tidak rusak seperti ini.


Rai sampai di lantai kedua atau setelah lantai dasar. Pada umumnya sehabis lantai dasar itu lantai satu tetapi Rai menganggapnya lantai dua. Lagipula tidak tanda yang menunjukkan bahwa ini lantai satu.


Di lantai ini Rai mendapatkan petunjuk yaitu jejak kaki dan tulang kecil di permukaan lantai dekat eskalator.


“Jejak kaki?“


Rai berjongkok dan melihat lebih dekat jejak kaki pada permukaan lantai ini.


Jejak kaki ini bukanlah jejak kaki secara harfiah, akan tetapi jejak sepatu seseorang yang pernah melewati jalan ini.


Bentuk jejak sepatu ini terkesan seperti tanah basah yang diinjak lalu meninggalkan bekas tapak sepatu.


Melihat dengan lekat, jejak sepatu ini sedikit basah, tandanya ini tidak lama terjadi.


“Tulang apa ini?“ Rai mengambil sepotong tulang kecil tidak jauh dari jejak sepatu.


Rai menyipitkan matanya untuk melihat dengan rinci tulang tersebut.


Semakin dia lihat, semakin tahu tulang tersebut. Rai pernah melihat tulang ini sebelumnya.

__ADS_1


Mungkin dia sering menjumpai tulang ini di Bumi.


“Tulang ayam? Bagian paha?“


Tulang ini sangat mirip dengan tulang ayam bagian paha, Rai merasa familiar dengan tulang ini.


“Tapi, kenapa ada di sini? Apakah orang yang memiliki jejak kaki ini yang membuang tulang ayam di sini?“


Rai meletakkan kembali tulang ayam itu, dan bergumam sambil menatap petunjuk dari seseorang.


“Nampaknya pemilik petunjuk ini masih ada di sini, setidaknya tidak jauh dari gedung ini.“


Rai berasumsi orang ini tidak akan jauh dari tempat dirinya berada sekarang.


Jejak yang tertinggal masih terbilang cukup baru, peluang untuk bertemu dengan orang itu masih memungkinkan.


“Tapi, aku tidak harus bertemu langsung dengan orang ini. Aku tidak tahu orang ini memiliki niat buruk atau baik ketika bertemu denganku.“ Rai menundukkan kepalanya, menatap jejak sepatu dan tulang ayam.


“Hati manusia lebih dalam dibandingkan laut. Seseorang mungkin akan tahu ada apa di kedalaman dasar laut ….“ Rai mengangkat kepalanya, alisnya bertaut sambil melihat ke arah depan. “Tetapi, seseorang tidak akan pernah tahu seperti apa di relung hati manusia yang paling dalam.“


“Pada dasarnya kita tidak bisa menebak seperti apa dan bagaimana hati seseorang …. Apakah dia baik atau tidak.“


Rai menghembuskan nafas ringan, lalu menggelengkan kepala.


Mengambil langkah ke depan, ia kembali melanjutkan perjalanan dengan mengikuti jejak sepatu yang masih terlihat, sepertinya itu menuju ke suatu tempat.


Berjalan dengan hati-hati, terus memperhatikan jejak sepatu dan jangan sampai kehilangan jejak itu.


“Ya?“


Kaki Rai berhenti melangkah, wajah Rai terlihat kebingungan saat ini.


Dia telah sampai di jejak sepatu terakhir, namun tempat yang dituju tidaklah jelas.


“Tempat permainan anak? Apa ini?“ Rai berdiri dan mengangkat kepalanya melihat sesuatu yang ada di hadapannya.


Di depan Rai terdapat pintu masuk yang lebar dan tinggi dengan tulisan yang semestinya nama dari tempat ini.


Samping pintu masuk terdapat patung dari karakter yang tidak Rai kenali, nampak seperti karakter dari sebuah film atau game.


Entahlah Rai tidak tahu pastinya.


“Jejak sepatu berhenti tepat di depan ruang ini. Apakah orang itu ada di sini?“


Tatapan Rai tertuju ke dalam ruangan di depannya ini. Pencahayaan pada ruangan sangatlah kurang, membuatnya hanya dapat melihat sesuatu di dalamnya dengan samar-samar.


“Bagaimana pendapatmu, Kuro?“ Rai memandang Kuro yang ada di sampingnya, meminta pendapat.


'Miaw?'


Kuro mengangkat kepalanya menatap kembali Rai seolah sedang bertanya.


“Menurutmu bagaimana? Apa kita harus masuk atau tidak?“ Rai bertanya lebih spesifik apa yang ditanyakan pada Kuro.


Kuro tidak langsung menjawab, ia melirik sesuatu yang ada di dalam ruangan, lalu menoleh kembali kepada Rai.


'Miaw!' Kuro mengeong sembari menganggukkan kepalanya satu kali.


“Baiklah kalau begitu. Ayo kita masuk!“


Rai pertama melangkah masuk dan kemudian diikuti oleh Kuro di belakangnya.


Mereka berdua berjalan semakin dalam hingga tidak terlihat lagi sosok mereka dari luar

__ADS_1


__ADS_2