LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 44: Melewati Terowongan


__ADS_3

Sebuah tembok besar dan tinggi tampak sangat jelas dalam pandangan Rai dan dua pemuda lainnya.


Mereka bertiga berhenti di depan sebuah terowongan besar dan gelap, jalan layang ini masih berlanjut hingga ke dalam terowongan di depan mereka.


“Tembok ini rusak akibat dari penyerangan para monster yang berusaha menembus tembok dan ingin menyerang Kota Lhee Utara.“ Loret berkata sambil memandangi tembok yang besar di depannya.


Pandangannya mengikuti tembok besar yang melebar mengelilingi bagian utara kota, tampak tembok ini mengurung dan melindungi kota yang begitu luas.


Tapi, tembok ini sudah tidak lagi utuh, beberapa bagian hancur dan berlubang, retakan merambat dan meluas hingga hampir mencapai seluruh tembok yang mengelilingi kota.


Bekas yang ditinggalkan ini membuat Rai sedikit bisa membayangkan ketika kejadian penyerangan besar-besaran oleh monster terjadi.


“Kau tahu dari mana?“ Flank menoleh pada Loret yang tiba-tiba berbicara dan ia bertanya.


“Logika, aku bisa berspekulasi dengan cara menganalisis menggunakan logika dan observasi apa yang aku lihat sekarang.“


“Hmm … oke.“


Flank tidak ingin melanjutkan percakapan lagi, dan membalas dengan persetujuan terhadap spekulasi yang dibuat Loret.


Selama Flank melakukan perjalanan dengan Loret dalam jangka waktu yang lama, Flank kerap mendengar ucapan dari analisis yang dikeluarkan oleh Loret akan tentang suatu hal atau kejadian.


Sudah tidak aneh lagi apabila Loret berperilaku seperti itu, memang sudah wataknya.


“Kau yakin kita akan masuk?“ tanya Flank pada Loret.


Pertanyaan Flank tidak dijawab langsung oleh Loret, mata Loret memindai ke sekitar dan meihat kemungkinan.


“Tidak ada pilihan lain, lagi pula terowongan ini pendek jadi kita harus ke sana dan melewatinya.“


Menggelengkan kepalanya setelah melihat apakah ada kemungkinan untuk mencari jalan lain, ternyata menurut analisisnya itu nihil.


Terowongan ini pendek tidak begitu panjang, tembok pelindung kota hanya setebal beberapa meter saja tidak begitu tebal.


“Tembok ini tidak begitu tebal ketebalannya, jadi kemungkinan besar terowongan ini tidak panjang.“ Loret berkata kepada Rai dan Flank sembari melihat terowongan yang agak remang-remang minim pencahayaan.


“Ayo kita masuk.“


Flank yang menyetujui hasil pikiran Loret, melangkahkan kaki ke depan untuk yang pertama masuk ke dalam terowongan dan berkata mengajak yang lain.


“Jaga kewaspadaan, Flank.“ Loret tidak lupa mengingatkan temannya dan berkata sembari memegang senjata besi di tangannya.


“Oke-oke.“ Flank membuat tanda oke dengan tangannya dan dia segera masuk ke dalam terowongan.


Loret yang melihat ini langsung menyusul Flank dan juga ia mengajak Rai untuk masuk ke dalam.


“Ayo Rai kita masuk, kitar harus bergerak cepat sebelum matahari terbenam dan malam tiba.“


Menoleh ke belakang melihat Rai, Loret berkata dan mengajak Rai untuk cepat bergerak.


“Oke, aku akan masuk.“ Rai merespon dengan mengangguk dan berkata seadanya.


Mereka bertiga secara bergiliran masuk ke dalam terowongan tembok besar ini.


Sebuah terowongan yang gelap mereka langsung rasakan ketika mereka bertiga masuk ke dalamnya, pencahayaannya begitu sulit masuk, tapi untungnya Flank, Loret, dan Rai menemukan sumber cahaya tidak jauh di depannya.


Benar apa yang dikatakan Loret, terowongan ini tidak panjang karena panjang dari terowongan mengikuti ketebalan tembok yang berdiri kokoh mengurung kota.


Kendaran juga banyak sekali yang tertahan di sini, nampaknya semua penduduk kota ketika peristiwa itu terjadi banyak yang berbondong-bondong untuk pergi dari kota, tapi tidak semuanya lolos dan keluar dari Kota Lhee Pusat ini, mereka tertahan akibat tersedak akan keramaian yang terlalu berlebih-lebihan akibatnya macet dan tak bisa keluar.


Alhasil mereka semua mati dan terkena serangan dari beberapa monster yang datang masuk ke dalam terowongan.


Mereka bertiga harus memanjat naik ke atas kendaraan-kendaraan untuk sampai ke ujung terowongan yang terang.


“Penduduk di sini sudah dipastikan terlalu panik saat peristiwa penyerangan monster datang.“ Loret yang berdiri di atas bus sekolah yang hancur tiba-tiba saja berbicara.


“Kenapa kau bisa berbicara seperti itu?“ Flank yang ada di atas mobil sedan depan bus sekolah menyahut.


“Kau lihat saja kendaraan-kendaraan yang kacau di sini.“


Loret berkata sambil menunjuk ke semua kendaraan yang ada di dalam terowongan.


“Aku mengerti.“


Setelah mengangguk merespon jawaban Loret, kaki Flank menendang pijakan atap mobil dan melompat ke mobil yang lain.


“Mereka pasti sangat sulit diarahkan dan ditertibkan, jika tidak, kendaraan ini tidak akan ada di sini.“ Loret berkata sembari menggelengkan kepalanya, dengan wajahnya yang tak berdaya.


Sangat disayangkan peristiwa ini terjadi, mereka yang ingin pergi dari kematian yang datang, tetapi malah kematian menjemputnya lebih cepat.


Penyerangan monster ini terjadi secara mendadak, orang-orang penduduk berpikir bahwa kotanya tidak akan terkena oleh penyerangan.

__ADS_1


Mereka terlalu percaya dengan keamanan kota hingga membuat mereka kalap dan kurang persiapan.


Saat musibah terjadi mereka hanya bisa panik dalam melarikan diri dan akhirnya membuat kacau-balau.


Ucapan Loret dan Flank barusan didengar oleh Rai, ia menyimak dan mengangguk sesekali sambil melihat area sekitarnya.


Apa yang diucapkan oleh Loret ada benarnya.


Pemuda ini terlalu berpikir dan terlalu analisis keadaan sekitar. Tipe pria yang jika apa-apa harus berpikir dan menimbang sesuatu.


Cukup bagus karakter seperti itu, biasanya orang seperti pemuda inilah yang sangat dibutuhkan oleh tim.


Tidak terasa mereka sibuk memanjat kendaraan, akhir sampai di ujung terowongan.


Sinar matahari masih menyilaukan, membuat tubuh ketiganya sedikit hangat.


Apa yang pertama kali mereka lihat adalah jalan lanjutan dari jalan layang yang mereka lalui sebelumnya, namun lingkungannya sangat berbeda.


Pohon besar dengan daun yang lebar tumbuh dengan baik di samping jalan yang rusak.


Semua pohon ini tumbuh di samping jalan yang ada. Sama sekali tidak ada yang tumbang, semuanya tumbuh dengan baik.


Meski begitu, cahaya matahari masih bisa masuk dan menerangi mereka.


Kicauan burung yang melengkapi suara daun yang bergesekkan, suara alam yang indah dan menenangkan.


“Kenapa di sini banyak burung?“


Rai berkata dengan spontan saat mendengar beberapa kicauan burung yang banyak variasi dan jenis suaranya.


Pertanyaan yang Rai lontarkan langsung membuat Loret sigap menjawabnya.


“Karena sebagian burung … sebagian besar burung tidak terinfeksi oleh virus ini, entah kenapa mereka bisa seperti itu.“


Melihat pohon dengan batang yang begitu lebar, Loret memiliki keinginan untuk mencoba menyentuh pohon ini.


“Pohon juga tidak terkontaminasi oleh virus ini, tapi aku belum tahu pasti,” tambah Loret saat menyentuh batang kasar pada salah satu pohon.


Flank dan Loret sudah berhenti saat melihat Loret mencoba bersentuhan dengan salah satu pohon yang tinggi juga besar di samping jalan.


“Kenapa seperti itu?“ Rai bertanya lagi karena ingin mencari tahu alasan kenapa pohon ini dan beberapa burung tidak menjadi monster.


Pada dasarnya keduanya adalah makhluk hidup di dunia ini, tetapi kenapa mereka tidak seperti yang lain, menjadi monster dan menginfeksi yang lain.


“Jawabannya sederhana, kita belum tahu. Belum ada penelitian yang berjalan, teknologi kita runtuh dan alat-alat canggih tidak berfungsi lagi.“


Loret berjalan menuju mereka berdua dan berkata dengan wajah yang rumit.


Di dunia ini teknologi canggih telah hancur dan tak bisa digunakan, umat manusia kembali lagi ke jaman senjata dingin digunakan.


Karena runtuhnya teknologi, membuat orang-orang sulit untuk meneliti dan mencari obat penawar virus ini.


Rai seketika merenung saat mendengarkan jawaban yang Loret keluarkan.


Pantas saja dunia ini masih seperti ini dan tak berubah, teknologi telah musnah sehingga manusia kesulitan untuk bangkit.


“Ayo, kita kembali berjalan.“ Flank melambaikan tangannya ke arah depan jalan dan berkata.


Loret dan Rai ikut berjalan di belakang Flank, dan mengikuti jalan yang ada di depan mereka.


Mereka terus menyusuri jalan, tidak tahu jalan ini membawa mereka ke mana.


Menurut apa yang dikatakan Loret di gedung tempat bertemunya Rai dan mereka berdua kemarin, ia bilang bahwa jalan inilah rute untuk sampai ke Kota Lhee Utara.


Jalan ini sudah sesuai dengan apa yang Loret katakan, tapi mereka tidak tahu pasti, apakah ini jalan yang benar atau bukan.


Selang beberapa jam mereka berjalan hingga matahari sudah turun dan malam sudah lama tiba, mereka bertiga masih belum menemukan ujung jalan ini.


Belokan tajam, belokan beberapa derajat, naik menanjak dan turunan sudah mereka lalui, tetapi apa yang ada di sekitar masihlah pepohonan tingi dan besar beserta daun yang rindang.


“Sepertinya kita beruntung tidak bertemu dengan monster hari ini di sini.“


Flank duduk bersandar di bawah pohon sambil memandangi api tanah yang ada di depannya.


Mereka bertiga duduk di tanah yang lapang tidak jauh dari jalan utama.


Setelah beberapa jam mereka mengikuti jalan, akhirnya memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan lagi perjalanan di esok hari.


Di jalan ini mereka belum menemukan satu monster pun yang muncul menemui mereka dan mencoba menyerang.


“Benar, kita nampaknya sedang beruntung tidak mengalami kendala yang begitu berarti hari ini.“

__ADS_1


Loret duduk di atas pohon di mana Flank sedang duduk bersandar di pohon yang sama.


“Seharusnya hutan seperti ini yang disukai oleh banyak monster, karena mereka berasal dari hutan seperti ini.“


Mata Loret memindai area sekitar dari atas, tapi tidak ada hal yang mencurigakan di sekitar mereka berdua.


Rai yang duduk di sebuah batu dekat mereka bertiga hanya bisa menyimak dan mendengarkan.


Sesekali dia mengangguk dan berpikir tentang apa yang mereka berdua katakan.


“Rai, apakah kau ingin sebuah informasi lagi?“


Loret tiba-tiba saja berkata pada Rai yang ada di bawah.


Ia menawarkan sebuah informasi pada Rai, tentu tujuannya sudah dapat ditebak, Loret ingin sesuatu dari Rai.


“Ada satu informasi yang ingin aku tahu,” ucap Rai sambil mendongak untuk melihat Loret yang duduk di atas ranting besar.


“Apa itu?“


“Evolver atau Pejuang yang telah membangkitkan kemampuan.“


Pikiran Rai disarangi oleh pertanyaan mengenai Evolver atau pejuang yang membangkitkan kemampuan.


Seperti apa yang diperlihatkan oleh mereka berdua, Rai masih penasaran dengan hal ini, kenapa mereka berdua bisa seperti itu.


“Kau masih ada barang yang bisa dijadikan bayaran?“ Loret bertanya sebagai pengganti jawaban.


Sama halnya sebelumnya, harus ada bayaran pada setiap informasi yang diinginkan, tidak ada yang gratis bahkan di dunia yang telah hancur ini.


“Masih,” jawab Rai dengan santai.


“Oke.“ Loret mengangguk lalu dia melompat ke bawah tepat di depan Rai.


Sebelum dia berbicara pada Rai untuk memberi informasi, ia meminta Flank untuk berganti mengawasi mereka dari atas pohon.


Flank menerima permintaan Flank, dan dia memanjat ke atas pohon dan duduk di atas ranting tempat Loret duduk sebelumnya.


“Pertama aku akan menjelaskan mengenai apa itu Evolver.“


Loret berdiri dan berjalan mencari batu yang besar untuk dirinya bisa duduk dengan nyaman, setelah mendapatkan dia kembali ke depan Rai untuk mulai memberi informasi terkait.


“Evolver adalah orang yang telah mengalami kebangkitan, orang ini membangkitkan satu kemampuan super untuk satu orang, jadi setiap orang memiliki satu kemampuan super saat dibangkitkan.


Kemampuan ini bermacam-macam jenisnya, ada yang membangkitkan sebuah kemampuan lari cepat seperti mobil, motor, pesawat, lalu tubuh kuat yang setara beberapa kali manusia normal, kemampuan berubah menjadi sebuat senjata pada tangannya, dan masih banyak lagi.


Di antara yang aku sebutkan, kemampuan itu tidak begitu kuat. Evolver yang kuat biasanya berasal dari pejuang yang membangkitkan kemampuan berubah menjadi seekor hewan, kita menyebutnya Malzer.


Evolver Malzer ini memiliki banyak jenis juga, ada seorang pejuang yang dapat berubah menjadi kucing, anjing, burung, dan lainnya, tapi di Malzer juga ada klasifikasi Evolver yang kuat.“ Loret terdiam sejenak untuk mengambil tas yang ada di punggungnya ditaruh di atas kakinya.


“Evolver Malzer yang kuat yaitu Evolver yang memiliki perubahan mutasi menjadi hewan buas, seperti buaya, singa, macan, dan sejenisnya.


Selain itu, ada juga Evolver yang kuat yang lainnya, yakni Evolver yang membangkitkan kekuatan elemental.


Kau pastinya tahu apa itu kekuatan elemental.“ Loret menatap Rai dan berkata.


“Ya, aku tahu.“


Rai mengetahui apa itu kekuatan elemental jadi dia menjawab dan membenarkan perkataan yang ditujukan pada dirinya.


“Seorang Evolver ini sangat disegani oleh orang-orang, karena rata-rata dari mereka itu sangat kuat.


Pengendali angin dan sejenisnya begitu mendominasi, kekuatan mereka banyak diinginkan semua orang, termasuk aku.


Tapi, Malzer dan Mentzer ini selalu bersaing siapa yang terkuat di antara jenis mereka, hasil dari pengamatan keduanya sama kuatnya, banyak monster yang dibunuh oleh kelompok dua ini.“


Loret mengambil botol air mineral dalam tasnya dan menengguk meminumnya.


Melihat Loret yang berhenti melanjutkan memberi penjelasan, Rai melontarkan pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya.


“Bagaimana cara mereka membangkitkan kekuatan?“


Mendengar ini, Loret segera berhenti meminum, dan menutup botol yang ada di tangannya.


“Memakan batu, maksud menelan sebuah batu khusus.“


“Batu khusus?“


Kata Batu khusus ini membuat Rai teringat dengan batu yang membangkitkan pedangnya.


“Apakah batu itu bernama Rist Stone?“ Rai sontak bertanya saat mengingat lagi batu yang telah lama ia temui sebelumnya.

__ADS_1


“Dari mana kau tahu? Aku belum memberi tahu padamu nama baru khusus itu.“


Loret sedikit terkejut saat Rai bertanya seperti itu. Pasalnya dia belum memberitahukan sedikit pun nama dari batu khusus.


__ADS_2