LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 39: Penjelasan Loret


__ADS_3

Mereka bertiga menaiki tangga darurat yang masih berdiri kokoh, meski ada beberapa anak tangga yang ambruk ke bawah dan menimpa anak tangga yang ada di bawahnya.


Dalam perjalanan menuju tempat yang diajak oleh kedua pemuda di depannya, pikiran Rai berjalan dan memikirkan semua kemungkinan yang ada apabila dia sampai di tempat yang mereka bertiga tuju.


Melihat dari gelagat kedua pemuda yang asing ini, Rai tidak menemukan sesuatu yang janggal dari gerakan mereka.


Tak lama mereka berjalan menaiki tangga hingga melewati beberapa lantai, akhirnya Rai bersama dua Pemuda itu memasuki kamar yang ada di lantai sembilan pada gedung.


Terdapat tiga belas lantai pada gedung ini, yang berarti lantai sembilan terdapat di tengah-tengah gedung.


Mendorong pintu salah satu kamar, Flank dan Loret terlebih dahulu masuk ke dalam.


Rai tidak langsung masuk mengikuti mereka berdua, mata Rai bergerak memeriksa luar dari kamar ini, sebelum dia masuk ke dalam.


Tak ada yang mencurigakan penampilan kamar ini dari luar.


“Tidak perlu berwaspada seperti itu, Rai. Jika kita berniat ingin membunuhmu, sudah kami lakukan sejak tadi.“ Loret berkata dengan ekspresi yang biasa saja.


Tidak ada keseriusan pada nada ucapannya.


“Benar, santai saja.“ Flank duduk di atas kasur yang sebentar lagi akan roboh dan berkata pada Rai.


Loret berjalan ke sisi meja yang ada di kamar, dan dia mengambil beberapa kertas.


“Kau ingin mengetahui informasi apa, Rai?“ tanya Loret pada Rai yang berdiri di dekat pintu.


“Apa informasi yang kau punya? Apakah ada harga?“ Rai menjawab dengan nada yang dingin.


Sikap Rai masih hati-hati pada mereka berdua.


“Di sini aku memiliki beberapa informasi, bagaimana aku memberimu informasi tentang terjadinya dunia yang tiba-tiba seperti ini.“ Loret menawarkan informasi tentang dunia ini pada Rai. “Semestinya kau sudah tahu, tapi ini sedikit lebih rinci.“


Loret menambahkan kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Rai.


“Apakah ada harga untuk informasi ini?“ Rai bertanya tentang harag informasi yang akan diberikan oleh pemuda bernama Loret.


“Emm … ada bayaran harganya.“ Loret berpikir sebentar lalu mengangguk.


“Apa yang kamu punya, aku akan memilih sesuatu yang kamu miliki, sekiranya sepadan dengan informasi yang aku berikan,” ucap Loret memandang Rai.


“Kalau begitu, aku memiliki makanan di sini. Apakah ini sepadan.“ Rai memindahkan tasnya ke dadanya, lalu mengeluarkan sebungkus nasi goreng.


Sebuah bungkusan kertas nasi berwarna coklat dipegang oleh tangan Rai, lalu satu bungkusan kertas nasi lagi Rai keluarkan dari tasnya.


“Apa itu?“ Mata Loret langsung melebar saat melihat sesuatu yang ada di tangan Rai.


Flank pun juga tertarik dengan benda yang Rai pegang.


“Makanan, seperti yang aku bilang sebelumnya.“ Rai menjawab ringan pertanyaan Loret.


“Apakah itu bisa dimakan?“ tanya Loret untuk memastikan.


“Tentu saja,” balas Rai sambil mengangguk. “Tapi, sebelum aku memberikan makanan ini, lebih baik kau beritahu informasi tentang dunia ini kepadaku terlebih dahulu.“


Loret menoleh kepada Flank berisyarat untuk meminta pendapat dari Flank.


Melihat tatapan Loret kepadanya, Flank pun mengangguk sebagai tanda setuju.


“Baiklah.“ Loret setuju dengan kondisi tawaran Rai.


“Dari mana kita mulai … sebentar.“ Loret melihat kertas yang dia pegang saat ini, lalu berkata, “Dunia ini adalah dunia yang cukup besar.“

__ADS_1


“Ada beberapa kota besar yang ada di dunia ini. Setiap kota ada yang memimpin, pemimpin itu adalah Presiden dan kerajaan.


Beberapa kota yang ada di dunia biasanya dipimpin oleh pemerintahan atau Kepresidenan. Ada satu kota yang dipimpin oleh bentuk kekuasaan kerajaan yang aku tahu, itu adalah Kota Loro, atau nama lainnya Kerajaan Quinnland.


Pada mula ….“ Loret menahan penjelasan yang ingin disampaikan karena Rai tiba-tiba bertanya kepadanya.


“Maaf aku potong sebentar. Apakah di sini tidak negara?“ tanya Rai pada Loret.


“Negara? Aku tidak tahu itu. Tapi yang aku tahu ada tiga belas kota di dunia ini, atau tiga belas daerah.“ Loret menjawab sambil menatap kertas sobek di tangannya.


“Oke-oke.“ Rai mengangguk mengerti.


Flank sudah berubah posisi menjadi tertidur di tempat tidur yang dia duduki tadi, ia juga mendengarkan penjelasan Loret dengan seksama.


“Oke, aku lanjutkan lagi.“ Loret pegal karena telah berdiri terus menerus, jadi dia duduk di lantai dan melanjutkan ceritanya.


“Mulanya dunia ini baik-baik saja. Tidak ada yang aneh, dan semuanya berjalan dengan seharusnya.


Dunia ini damai dan tentram, meskipun ada saja percikan pertikaian dari beberapa daerah yang hampir membuat dunia ingin memulai kembali peperangan yang kedua kalinya.


Masuk ke awal 2022, lebih tepatnya pada malam tahun baru, sesuatu yang tak terduga terjadi.


Ilmuwan telah mengumumkan bahwa ada sebuah meteorit raksasa yang akan melintasi planet ini di malam tahun baru, tapi sangat kecil kemungkinannya untuk menabrak planet kita ini.


Namun sayangnya apa yang diprediksi oleh para ilmuwan astronomi itu salah, sebuah meteorit itu terjun ke planet ini dan terbakar di atmosfer, meteorit itu tidak habis terbakar, dan akhirnya jatuh menabrak planet ini.


Meteorit itu jatuh di hutan selatan yang ada di kota Lhee Selatan. Beruntungnya meteorit itu berukuran kecil saat sampai di hutan selatan.“


Loret terus menjelaskan ini pada Rai yang terus menyimak ucapannya.


“Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?“ Rai mulai penasaran dengan cerita awal mula peristiwa akhir dunia ini terjadi.


“Meteorit yang berhasil jatuh itu membawa virus dari luar angkasa. Ilmuwan sangat tertarik dengan batuan meteorit ini, tapi sebelum ilmuwan itu ingin melakukan penelitian, bencana yang sangat menghancurkan terlebih dahulu terjadi.


Seekor monster yang diduga berasal dari hewan di dalam hutan menyerang kota Lhee Barat dan Selatan hampir secara bersamaan.


Berita ini menyebar dengan cepat ke seluruh daerah, namun pergerakan kota-kota dunia ini terlalu lambat, hingga akhirnya kota Lhee Barat hancur lebih dulu sebelum bantuan datang.


Disusul oleh Kota Lhee Selatan, sampai akhirnya semua daerah di dunia ini, terkena dampak dari monster mutan yang dihasilkan dari virus meteorit.“


Menghela nafas panjang, Loret melihat Rai yang masih berdiri di dekat pintu masuk kamar.


“Informasi ini hanya sampai di situ.“ Loret berkata dengan jujur pada Rai.


“Oke, terima kasih atas informasi yang telah kau berikan padaku.“ Rai membalas ucapan Loret dan berterima kasih, meski masih terdengar dingin.


Mendengar cerita yang dijelaskan oleh Loret memang sinkron dengan informasi yang dimiliki Rai, seperti penyerangan kota Lhee barat, dan peta berisi kota atau daerah.


“Ini bayaranmu.“ Rai melemparkan dua nasi goreng yang dibungkus oleh kertas nasi dengan karet merah untuk pengikat.


Dengan cepat mereka menangkap bungkusan yang dilemparkan oleh Rai dan membukanya.


Semerbak wangi akan rempah dan sedikit wangi makanan pedas tercium oleh lubang hidung mereka berdua.


Suhu hangat masih bisa mereka rasakan dari makanan ini, juga dia belum pernah melihat makanan nasi yang digoreng seperti ini.


“I-ini? Kenapa makanan ini masih hangat? Apakah kau memasaknya? Dari mana kertas ini didapatkan, juga karet ini?“


Beberapa pertanyaan dilontarkan dari mulut Loret yang ditujukan pada Rai.


“Rahasia,” ucap Rai dengan ringan.

__ADS_1


“Oke.“ Loret memandang Flank sekilas lalu mulai memakan nasi gorengnya.


Rai tak lupa memberikan sendok plastik pada mereka berdua untuk bisa memakannya.


“Kau ada informasi lagi yang lain?“ Agler bertanya kepada mereka berdua yang sedang memakan makanannya.


“Ada, tentang organisasi The Bunmuri. Apakah kau tertarik?“ tanya Loret sambil menggigit kerupuk yang garing dan renyah.


“Ya,” kata Agler sambil mengangguk.


“Oke, tunggu aku menyelesaikan makananku.“


Loret dan Flank menikmati makanannya, tanpa mereka sadari, air mata keluar dari kelopak matanya.


Nampaknya mereka terharu sekali dengan makanan ini.


Seiring mereka berdua makan, matahari telah terbenam hingga akhirnya kamar ini menjadi gelap dan remang-remang.


Hanya ada penerangan alami dari bulan yang berbentuk sabit.


“Bolehkah aku meminta bayarannya terlebih dahulu?“ Loret meminta tawaran pada Rai yang duduk di lantai dekat pintu.


“Tapi kau harus berjanji,” jawab Rai dengan tatapan yang serius pada Loret.


“Tenang saja.“ Loret melambaikan tangannya dan berkata dengan nada yang ringan.


“Apa yang kau minta sebagai bayaran?“ tanya Rai.


“Kalau ada, aku ingin minuman yang bersih.“ Tanpa berpikir panjang, Loret berkata pada Rai tentang bayaran informasi yang dia berikan nanti.


“Oke.“


Rai mengorek tasnya lagi, lalu dia mengeluarkan dua botol berisikan air minum dari tasnya.


“Ambil ini.“ Sama seperti sebelumnya, dia melemparkan barangnya tepat ke arah mereka berdua.


“Woah!“ Flank tak bisa menahan untuk tidak berseru saat melihat air yang ada di dalam botol yang diberikan Rai.


“Kau, dari mana mengambil air ini? Jernih sekali.“ Loret bertanya dengan rasa keingintahuan yang begitu besar.


“Beri tahu aku mengenai organisasi The Bunmuri.“


Rai mengabaikan pertanyaan Loret, dan langsung mengalihkan topik pembicaraan.


“Oh, oke.“ Loret melihat Flank yang juga menatap dirinya, sepertinya dia meminta persetujuan lagi dari Flank.


Flank tersenyum pada Loret, isyarat setuju pada Loret.


Melihat ini, Rai masih tidak merasakan ada yang aneh dengan mereka, lagi pula Rai tidak merasakan ancaman dari mereka berdua.


“Mari kita mulai dari apa itu organisasi The Bunmuri.“ Loret meletakkan botol air minumnya di sebelahnya, lalu memegang kertas berisikan informasi yang telah mereka berdua temui.


“The Bunmuri adalah Organisasi yang memiliki tujuan yang buruk.


Organisasi ini dicap buruk oleh semua orang di dunia ini, karena tindakan mereka merugikan kota Tujuah ….“ Perkataan Loret berhenti sesaat, lalu dia bertanya pada Rai, “Kau tahu kota Tujuah?“


“Kota yang menjadi tujuan semua orang di dunia ini, kan?“ jawab Rai dengan spontan.


“Ya … benar. Kota yang makmur dan sejahtera.“ Loret menatap serius pada Rai dan mulai melanjutkan lagi penjelasannya.


“The Bunmuri banyak melakukan teror pada orang-orang di kota Tujuah, lalu mereka pun …."

__ADS_1


__ADS_2