
“Sama-sama,” jawab Rai ringan dan singkat.
Wanita tersebut sedikit terkejut melihat sikap dingin Rai yang seolah tak peduli, tetapi ia yakin sebenarnya pemuda di depannya memiliki rasa kepedulian terhadapnya.
“Aku sedikit terkejut setelah melihat efek cairan merah muda yang lucu tadi, lukaku dalam beberapa detik langsung pulih dan sembuh, bahkan bekas luka pun tidak ada.“ Wanita itu langsung mengubah topik percakapan, ia berkata sembari menunjuk tangannya yang luka kini sudah halus dan bersih.
“Kamu mendapatkan obat itu dari mana?“ tambah Wanita tersebut bertanya pada Rai.
“Itu rahasia, kau tidak perlu tahu.“ Rai tidak berniat untuk memberi informasi mengenai cairan penyembuhan dari Sistem.
“Emm … oke.“ Wanita tersebut masih belum terbiasa dengan sikap Rai yang dingin, ia merespons dengan canggung.
Dari wajah wanita itu tertulis rasa kesal dan juga sedih yang tercampur aduk sehingga mengahasilkan kebingungan dalam menghadapi pria yang dingin di depannya.
Suasana menjadi sunyi agak aneh, Rai masih berdiri di depan wanita tersebut dan menatap wajah wanita itu tanpa malu dan tanpa ada maksud yang jelas.
Rai sepertinya sedang mengidentifikasi wanita ini berasal dari mana.
Sedangkan, wanita yang ditatapi oleh Rai sudah tersipu malu, tidak berani melihat mata Rai langsung dan ia menundukkan kepalanya.
Sebenarnya Rai sedang menunggu Kuro menghabiskan daging monster kadal, tetapi tindakannya agak kaku rasanya, berdiri di depan wanita dan menatapnya tanpa ada ekspresi apa pun, hanya sekadar melihat saja.
“Anu … perkenalkan namaku Lara Lin.“ Wanita tersebut mengangkat kepalanya dan memberanikan dirinya sendiri untuk menatap mata Rai yang masih melihat wajahnya.
'Pria ini aneh, dari awal melihat wajahku tidak jelas apa maksudnya, tetapi aku tak bisa merasakan tatapan aneh di matanya, seolah aku itu tidak menarik di matanya. Pria yang aneh!' batin Wanita bernama Lara Lin ini sambil tangannya terulur ke arah Rai.
Melihat tangan yang menjulur kepadanya, Rai tidak memegang tangan Lara Lin, akan tetapi membiarkannya di udara seperti itu, dan menjawab datar.
“Aku Rai Caelan.“
Setelah mengatakan itu, Rai berbalik badan dan melihat Kuro yang sedang makan daging monster di jalan.
“Rai?“
Lara mengulangi nama Rai dengan gumaman kecil seraya melihat punggung tinggi Rai yang terdapat tas ransel.
Pria di depannya benar-benar aneh sekaligus membuatnya tertarik, sama sekali berbeda dengan pria yang bernafsu ketika melihat tubuhnya.
Dari tingkah dan perilakunya, Lara sudah memastikan bahwa pria di depannya kaku dan tidak bisa mengekspresikan diri melalui mimik wajah dan tingkah laku.
Sungguh pria baja yang lurus.
Tidak lama kemudian, Kuro yang memakan daging monster akhir telah selesai dan segera berlari menghampiri Rai.
Tubuh besar Kuro secara bertahap berubah menjadi kecil dan tepat sampai di depan Rai, tubuh Kuro telah menjadi anak kucing yang imut menggemaskan.
“Apakah itu Catzer?!“ Lara baru sadar dengan monster yang ada di pelukan Rai.
Ia kira itu monster baru yang belum diketahui, ternyata itu Catzer yang memiliki perbedaan.
“Kau tahu?“ Rai melihat ke belakang dan bertanya pada Lara.
“Tentu aku tahu, aku sudah melihat banyak Catzer selama aku hidup.“
Lara menatap Kuro yang ada di tangan Rai dengan mata yang ingin merasakan keimutan dari Kuro.
“Bagaimana cara kamu menjinakkan Catzer ini? Aku belum pernah mendengar seseorang bisa memelihara seekor monster.“
Mengalihkan pandangannya pada Rai dan Lara bertanya dengan wajah yang penasaran dan antusias.
“Itu terjadi begitu saja.“ Rai membalas pertanyaan Lara dengan seadanya, seakan ia malas berbicara dengan wanita di depannya.
Lalu ia berbalik dan melangkah maju ke depan menuju gedung tempat yang ingin Rai jadikan tempat inap.
“Hei! Kamu mau ke mana?!“ Lara langsung memanggil begitu menyaksikan Rai pergi begitu saja.
“Dasar pria yang aneh! Hum!“
Berdiri dari bongkahan bangunan tempat ia duduki, pipi Lara menggembung menggemaskan dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, ia sekarang kesal dengan sikap acuh tak acuh Rai.
Kemudian Lara berlari mengejar sosok Rai yang ingin masuk ke dalam gedung.
Selama berlari pun dua boba itu terlalu mengguncang, jikalau ada pria yang melihat pasti pria itu sudah mimisan deras hingga membuat kota Talu banjir darah.
Rai terus berjalan dan masuk ke dalam gedung tanpa memedulikan Lara yang berlari mengikutinya.
Pada akhirnya Rai sampai di lantai atas bersama Lara yang membuntutinya dari belakang.
Sejujurnya Rai memiliki kesan aneh terhadap wanita ini, entah kenapa ia tidak merasakan niat jahat pada wanita tersebut.
__ADS_1
Selama ia amati raut wajah wanita tersebut beberapa saat, Rai tidak menemukan kepalsuan pada wajah wanita ini, melainkan sebaliknya, Rai merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan di wajah cantik wanita itu, sesuatu yang belum diketahui ini menjorok ke hal yang baik.
Ketika proses Rai mengamati inilah yang membuat Lara tersipu malu karena ditatap sekian lama oleh Rai.
Oleh karena itu, Rai berani membiarkan wanita tersebut untuk mengikutinya. Seolah-olah Rai bisa mempercayai wanita itu.
“Mengapa kamu pergi ke atas sini?“
Lara bertanya dengan bingung dan sedikit curiga pada Rai.
“Karena saatnya istirahat.“ Rai menjawab dengan ringkas dan apa adanya.
Kaki Rai berhenti bergerak dan ia duduk di pinggian atap gedung yang sebagian rusak.
Setelah Lara mendengar jawaban singkat Rai, ia mengerti maksud Rai pergi ke atas sini.
Dan kemudian ia ikut duduk di sebelah Rai sambil memandangi langit malam kota.
Merasakan Lara duduk di sampingnya, Rai sedikit menjauh agar tidak terlalu dekat, ia masih risih dengan adanya orang lain, bahkan dengan Loret dan Flank saja ia begitu berjauhan.
Lara yang melirik Rai bergerak sedikit menjauh darinya, ia tidak tahu harus tertawa atau sedih.
Sebab, ia sedih karena merasa bahwa sosoknya tidak menarik lagi, dan tertawa akibat tingkah laku Rai yang menurut Lara sesuatu hal yang lucu.
Namun, Lara yakin bahwa sosoknya masih cantik, memang pria di dekatnya ini sedikit aneh.
Keanehan inilah yang membuat Lara makin penasaran dengan Rai.
“Aku ingin tahu, dari mana asalmu?“ Lara menoleh pada Rai dan bertanya.
“Aku dari Lhee Pusat.“ Rai menjawab tanpa melihat Lara.
“Cukup jauh juga, Kota Lhee Pusat yang didominasi oleh monster Huuzer Crawler, kan?“
“Bagaimana kau bisa tahu?“
Seketika Rai terperanjat terkejut dan segera menoleh memandang Lara dengan penuh keingintahuan.
Bagaiman wanita ini bisa tahu? Apakah ia pernah ke sana?
“Aku tahu karena aku sempat melewati Kota itu dalam perjalanan dari kota Lhee Barat.“ Lara mengungkapkan alasannya.
“Bukan, aku berasal dari Kota ini.“ Lara menjawab seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“Hah?“ Rai tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Wanita ini.
Menurut peta yang Rai punya, Kota Lhee Barat itu letaknya ada di barat wilayah Lhee, dan itu sangat jauh dari Kota Talu. Jangankan Kota Talu, Kota Lhee Utara dengan Kota Lhee Barat saja sudah jauh jaraknya.
Namun, dari perkataan wanita di depannya, Rai secara kasar menangkap arti dalam ceritanya yang di mana wanita bernama Lara ini pernah melakukan perjalanan dari Kota Lhee Barat menuju entah ke mana, dan sempat melewati Kota Lhee Pusat.
“Sini aku akan ceritakan pengalamanku dengan ringkas dan jelas agar kau mengerti.“ Lara berkata dengan senyumannya yang indah bagaikan lukisan yang diciptakan oleh ratusan seniman terkenal.
Respons Rai hanya mengangguk dan menatap sepasang mata besar Lara, dan sorot matanya tampak serius.
“Emm … dua atau tiga tahun lalu aku sempat memulai perjalanan ke Kota Lhee Barat untuk melakukan petualangan, sebenarnya aku ini seorang penjelajah yang ke mana-mana. Itu aku melakukan perjalanan ke kota Lhee Barat dimulai dari Kota Talu Selatan lalu menyebrang ke kota Lhee Selatan dan Langsung menuju Kota Lhee barat.
Aku tidak melalui Kota Lhee Pusat untuk sampai ke Kota Lhee Barat.
Selepas aku sampai di Lhee Barat, aku melalui jalur yang berbeda, yakni melalui jalur Kota Lhee Pusat lalu dilanjutkan ke Kota Lhee Utara dan pada akhirnya sampai di Kota Talu Utara.“
Lara menjelaskan rute ia melakukan petualangan.
Dari penjelasannya Rai bisa menangkap sesuatu hal, wanita ini memanglah pemberani dan juga beruntung karena masih hidup.
Pantas saja Rai saat memerhatikan wajah Lara saat dikejar oleh puluhan monster kadal tampak tidak begitu panik dan takut, ia terlihat gigih meski nyawa berada di ujung jari.
“Kau memutar jadinya.“
“Benar, aku mengelilingi daerah Lhee dengan memutar melewati jalur selatan.“ Lara mengangguk setuju dengan tanggapan Rai.
“Seharusnya kau sudah tahu banyak mengenai dunia ini. Apakah ada informasi yang penting yang bisa kau jelaskan padaku? Tenang saja, itu ada bayarannya.“
Rai tiba-tiba berkata pada Lara, dan bertanya mengenai informasi yang didapatkan oleh Lara.
Ia benar-benar penasaran dengan dunia ini, ingin banyak tahu masalah dan apa sebenarnya yang ada di dunia ini.
“Eh? Sebentar aku ingat dahulu.“
Lara yang mendengar kata-kata Rai, langsung tertarik dengan tawaran Rai, dan ia segera mengingat dan memilah informasi yang cocok untuk diberikan oleh Rai.
__ADS_1
“Kau tahu tentang virus yang membuat dunia ini menjadi seperti ini?“ Lara bertanya dahulu apakah Rai sudah mengetahui informasi tersebut atau tidak.
“Yang kutahu hanya asal virus.“ Rai merenung seraya memegang dagunya dan melihat ke jalan yang ada di bawahnya.
“Oh … berarti sudah tidak perlu kuberi tahu lagi,” kata Lara.
“Tetapi, aku belum tahu nama dan bagaimana cara virus bekerja.“
Kini Rai menoleh memandang wajah cantik Lara yang sedikit memiliki noda debu dan kotoran tanah.
“Aha! Aku tahu memiliki sedikit informasi mengenai itu!“ Mata Lara langsung bersemangat dan segera ia menjelaskan informasi tersebut.
“Nama virus itu menurut seseorang yang pernah memberitahukan padaku, bernama Neuss Virus.
Awal mulanya virus ini hanya masuk ke dalam satu hewan, sebagian peneliti yang sudah menghilang entah ke mana sekarang, percaya bahwa virus dimulai dari satu hewan.
Satu hewan inilah yang menginfeksi hewan lain dengan cara menggigit dan menaruhnya di daging juga darah korban tersebut.
Hanya satu cara untuk mengkontaminasi korban yaitu menggigit, sebab virus pusatnya berada di mulut saja.
Korban yang telah digigit atau dimakan akan berubah menjadi Lineuss, Lineuss adalah nama konvensional untuk monster di dunia ini.
Virus yang tersebar akan menggumpal dan membentuk jantung baru yang akan mengontrol tubuh barunya. Jantung baru ini berada dada kiri atau tempat jantung makhluk hidup berada. Jantung baru ini berbentuk batu bulat sempurna berwarna cokelat yang disebut Tick Stone.
Virus ini dapat menghilangkan kesadaran makhluk hidup itu dan virus itu mengontrol tubuh inangnya sepenuhnya.“ Lara menjelaskan dalam beberapa napas dan dengan nada yang nyaman saat didengar.
“Oke, aku mengerti. Informasi yang kau berikan dapat menjamin fakta dan kebenarannya, kan?“ ucap Rai sambil menatap serius Lara.
“Iya, aku jamin. Aku bukan orang yang denial.“ Lara mengangguk tegas, dan berani menjamin kebenaran atas informasinya.
Rai memerhatikan raut wajah Lara dengan cermat, lalu berkata, “Oke, kau ingin apa untuk imbalan dari informasi yang kau jual?“
“Emm—aduh!“
Gooo …!
Perut wanita yang ramping tersebut berbunyi keras, Rai pun dapat mendengarnya.
Seketika itu Lara menutupi perutnya dengan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya tak berani saling menatap dengan Rai.
'Aaa! Ini memalukan!' Lara berteriak dalam hati sembari memejam matanya.
Rona merah sudah timbul di pipinya, Lara sangat malu dengan kejadian yang memalukan ini.
“Aku punya makanan, mungkin kau suka.“
Rai tidak peduli dengan suara aneh yang berasal dari perut Lara.
Ia membuka tasnya dan mengambil sesuatu makanan di tangannya, lalu menyerahkannya kepada Lara.
Melihat sesuatu yang disodorkan oleh Rai, Lara langsung tertarik dengan apa yang ada di tangan Rai, dan perlahan ia mengambil.
Aroma bumbu kacang tercium jelas oleh lubang hidungnya.
Lara membuka bungkus nasi yang diikat karet dan meletakkannya di pahanya yang mulus.
Pertama yang dilihat oleh Lara adalah berbagai sayuran yang dipotong dan diberi bumbu kacang yang wangi. Karena dorongan rasa lapar, ia hendak memakan dengan tangan kosong tanpa alat.
Tetapi, saat tangan yang kotor itu akan mengambil salah satu sayuran berlumur bumbu kacang, tangan Rai menyambar dan menahan tangan Lara.
Belum sempat Lara bereaksi, Rai menaruh garpu plastik di tangan kanan Lara.
“Jorok, pakai itu!” Rai berkata dengan datar dan agak terkesan jijik pada Lara yang ingin memakan makanan begitu saja.
“Emm … maaf.“ Lara menundukkan kepalanya merasa malu dan bersalah.
Lalu ia mengambil mengambil sayuran menggunakan garpu berbahan plastik dan memakan sayurannya.
“Mmm … enak sekali!“ Mata Lara langsung bercahaya dan berbintang.
Bumbu kacang yang lezat langsung lumer di dalam mulutnya.
Dalam sekejap Lara memakan gado-gado dengan lahap dan tergesa-gesa.
Kurang salam tiga menit makanan yang ada di bungkus nasi seketika habis dan lenyap, bahkan Lara mengais bumbu kacang yang menempel di bungkus nasi dengan garpu.
Rai yang di dekatnya hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikan betapa buasnya Lara saat makan.
Melihat Lara makan terbayang Kuro yang sedang makan, keduanya lucu dan imut.
__ADS_1
“Emm … kau punya minum?“