LINEUSS ATTACK (SYSTEM)

LINEUSS ATTACK (SYSTEM)
Bab 53: Bertarung Santai Licker


__ADS_3

“Poin Atribut yang tersisa masih banyak, sebaiknya aku menggunakan sedikit poin,” gumam Rai sambil menatap kolom Poin Atribut di layar antarmuka Sistem.


Tidak sadar Poin Atribut milikinya telah terkumpul banyak, jika disimpan saja sungguh sangat disayangkan, lebih baik Rai menggunakan beberapa Poin Atribut yang ada untuk ditambahkan ke salah satu atributnya.


“Mental masih kurang tinggi atributnya, aku pikir cukup oke untuk meningkatkan atribut mental.“


Memikirkan hal ini sebentar, Rai akhirnya memutuskan untuk menambahkan beberapa poin atribut pada atribut mentalnya.


“Sistem, tolong tambahkan empat Poin Atribut ke atribut mental,” pinta Rai pada Sistem.


[Ding! Atribut telah ditingkatkan!]


[Mental: 184 (+92) (+)]


Setelah melihat atribut mentalnya yang sekarang menjadi lebih banyak, rasa puas dan sedikit lega datang pada Rai. Pada dasarnya, kemampuan Majestic of Mind itu sangat kuat, untuk mengaktifkan kemampuan tersebut hingga semaksimal mungkin harus memiliki atribut mental yang tinggi, intinya makin kuat atribut mental makin aman keberadaannya di dunia yang berbahaya ini.


“Tampaknya masih ada kemampuan yang belum terbangun dari diriku, aku penasaran dengan kemampuan selanjutnya.“


Pandangan Rai beralih ke kolom kemampuan kebangkitan yang dimilikinya, di sana terdapat satu kolom di bawah kemampuan yang tidak lama ini telah dibangkitkan, yaitu kemampuan Hand of ???.


Satu kolom di bawah kemampuannya tersebut adalah kemampuan yang belum dibangkitkan. Melihat kemampuan yang terakhir Rai bangkitkan itu termasuk kemampuan yang kuat, dan kemampuan sebelumnya pun sama, dugaan Rai kemampuan keempat ini pasti kuat, tidak kalah dengan kemampuan yang dibangkitkan pertama kali.


“Semoga saja kemampuan kebangkitan selanjutnya ialah kemampuan elemental.“


Ia berharap kemampuan yang akan dibangkitkan berjenis kemampuan elemental, sebab mengingat informasi yang didapatkan dari Loret bahwa kemampuan elemental itu termasuk kemampuan terkuat, selain kemampuan transformasi menjadi hewan buas.


Kemampuan elemental baginya memang sesuatu yang sangat keren dan kuat, bayangkan saja jika dirinya mengendalikan kemampuan tanah, atau kemampuan es yang seperti di dalam mimpinya terakhir kali di Bumi.


Cukup dengan bongkahan es kecil yang ia keluarkan untuk membunuh seekor monster, kemampuan elemental sangatlah kuat dan cukup simpel.


Apalagi kemampuan elemental yang dibangkitkan lebih dari satu, elemental es dan api sepertinya cukup keren untuk memilikinya, membunuh musuh dengan cepat dan tidak perlu gerakan yang merepotkan seperti halnya menyerang musuh dengan pedang, butuh usaha lebih dari segi fleksibel tubuh juga tenaga yang digunakan.


Ketika Rai membayangkan memiliki kemampuan elemental, ia mengeluarkan air liurnya dari mulutnya tanpa sadar.


Tersadar dari khayalannya yang luar biasa, tangannya menyeka sudut mulutnya yang basah dan berkata, “Meski aku tidak membangunkan kemampuan elemental itu juga tidak apa-apa, kemampuan yang aku miliki sekarang tampaknya sudah kuat untuk bertahan hidup di dunia, hanya butuh peningkatan di setiap kemampuan milikku untuk menjadi lebih kuat sehingga tidak merasa kesulitan saat menghadapi monster yang lebih kuat.“


Kemampuan Body of ???, Majestic of Mind, dan Hand of ??? sudah cukup kuat, hanya perlu eskalasi atau pengembangan dalam waktu yang relatif singkat.


Benar, secepat mungkin ia harus kuat agar tidak tertinggal dengan para Evolver yang lain, kembali lagi dengan hukum dasar dunia ini, individu yang kuat akan menekan yang lemah, bahkan bisa lebih dari sekadar menekan, tidak menutup kemungkinan untuk membunuh, mengendalikan, dan dijadikan barang bagi para individu yang kuat ini, tidak lain dan tidak bukan adalah para Evolver yang kuat.


Seharusnya dengan sistem, Rai bisa meningkatkan kekuatannya lebih cepat daripada pejuang kebangkitan di dunia ini.


Kemampuannya juga ia rasa bukan kemampuan yang biasa, Rai lupa tidak menanyakan mengenai kemampuannya.


Majestic of Mind atau Rai anggap kemampuan telekinesis, kemampuan ini yang Rai ingin ditanyakan, tetapi ia selalu lupa akibat terlalu sibuk menaikkan level dan membantai monster.


Bahkan hari ini sudah masuk ke waktu sore hari lagi, tak terasa olehnya waktu begitu cepat berlalu.


Terlalu menikmati perasaan ketika memeriksa gedung yang ada sehingga ia tidak begitu memperhatikan jam.


“Kita ke atap gedung ini, Kuro. Sama dengan hari sebelumnya, kita istirahat di atas sana.“ Rai menundukkan kepalanya dan melirik Kuro yang ada di bawahnya sedang menjilati kaki depannya sendiri.

__ADS_1


'Miaw!'


Kuro berhenti menjilat kakinya dan mengangkat kepalanya untuk melihat Rai.


“Ayo kita pergi.“


Rai berjalan menuju tangga darurat yang terdapat di dalam bangunan lagi, bangunan yang Rai masuki dan periksa memiliki banyak lantai bangunan, tidak tahu pastinya, Rai menduga sekitar 20 lantai dengan ruang setiap lantai yang luas.


Tepat ketika Rai menginjakkan kakinya di lantai sembilan, tangga darurat telah mentok di lantai selanjutnya, karena di lantai berikutnya terdapat pintu roof top atau atap paling atas.


Berdiri di depan pintu tangga darurat di lantai 19, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, mengorek-ngorek saku lalu ia mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya, selanjutnya Rai menyalakan ponselnya, dan melirik jam yang ada di dalam layar ponsel dan menghela napas lega, masih ada waktu.


Namun, saat ia melihat ke ruang di seberang pintu, dirinya langsung tersentak terkejut, belasan bayangan hitam yang berdesis muncul keluar dari ruangan tersebut dan mengelilingi Rai, mereka adalah makhluk yang berjalan merangkak dengan empat kaki dan memiliki lidah panjang yanh menjulur keluar bagaikan ular.


“Sekumpulan Huuzer Licker mulai mengepungku?“


Dengan sedikit kejutan, Rai segera memasang postur bertarungnya, matanya bergerak mengawasi monster yang mengepungnya.


Dalam mata mereka, Rai adalah mangsa dan makanan untuk malam ini, tapi di dalam pandangan Rai mereka adalah poin yang harus diambil sesegera mungkin.


Tangan kirinya bertranformasi menjadi tangan yang bersisik dan berekor dua, lima cakar yang tajam sedikit berkilau saat terkena cahaya.


Kraahh!


Berubahnya tangan Rai membuat para monster menjadi aktif dan langsung meluncurkan serangannya ke arah Rai.


Belasan lidah panjang yang memiliki zat asam terbang sangat cepat membidik Rai yang berdiri di tengah-tengah kepungan.


Semua lidah itu melesat, menabrak lantai hingga membuat lubang kecil yang dangkal, mereka gagal untuk melukai Rai.


Cahaya dingin melintasi ruang yang gelap seolah membelah kegelapan yang ada.


“Satu.“


Sebuah suara yang sedang menghitung dapat didengar tiap kali cahaya putih muncul.


Rai dengan santainya menebas monster ini dengan Methuragon mode double blade, kecepatan tubuhnya yang jauh lebih cepat memudahkannya berakselerasi saat menyerang monster yang ada di tempat sempit dan terbatas ini.


“Tujuh.“


Sebuah kepala monster menjadi terbelah menjadi puluhan bagian setelah kata-kata itu jatuh.


“Delapan.“


Cahaya dingin merobek salah seekor monster hingga terpotong menjadi kubus kecil.


“Sembilan.“ Kepala monster yang jelek tiba-tiba tertusuk oleh sebuah ekor yang tajam sampai lidah yang keluar dari mulutnya terkoyak hancur menjadi bubur.


Belasan monster yang ada dalam sekejap berkurang menjadi dua ekor saja, monster-monster ini terbantai dengan perlawanan yang sia-sia.


Setiap monster berlidah panjang ini menyerang, tubuh Rai dengan cekatannya dan licinnya menghindar seolah-olah Rai itu adala seekor belut yang sangat sulit ditangkap dengan tangan kosong.

__ADS_1


Dua ekor yang tumbuh di sikut tangan kirinya tidak kalah cepat dengan lidah para monster ini, bahkan bisa dibilang lebih kuat dibanding lidah monster tersebut, kerap kali ekornya berbenturan secara masif.


Hasil benturan hebat itu dimenangkan oleh ekor tangan kirinya, lidah monster seketika hancur, zat asamnya tidak berarti apa-apa bagi sisik yang menyelimuti ekor dan tangan kiri Rai, kemampuan kebangkitan ini terlalu overpower dan terlalu kuat.


Berdiri di antara mayat monster dan menghadap monster yang ada di depannya, Rai bersikap santai dengan tatapannya yang melirik keduanya dengan tenang tanpa ada fluktuasi ketakutan atau antusiasme untuk membunuh.


Jikalau ia merokok mungkin saja visual Rai bertambah kerena dengan rokok yang hinggap di sudut mulutnya bersamaan dengan asap rokok yang terbang di depan wajahnya.


“Serang aku.“ Rai menunjuk kepada dua monster di depannya dengan senjata pedangnya.


Melihat Rai yang berperilaku seperti itu, keduanya merasa ditantang dan mereka secara serempak melancarkan serangan lidah dengan secepat kilat.


Namun di bidang penglihatan Rai, lidah ini masih belum cukup cepat untuk menyentuh ujung jaketnya sekalipun.


Dua ekor yang melambai-lambai langsung melaju pesat menjangkau dua lidah itu.


Percikan darah hitam tercipta akibat dari tabrakan tersebut, dan suara jeritan yang nyaring terdengar sesaat sebelum akhirnya diberhentikan paksa oleh sesuatu.


“Berisik!“ Rai berkata dengan tidak senang dan berdecak kesal.


Senjata Methuragon double bladenya berubah menjadi dua longsword dan menusuk mulut monster sampai membuat mulut itu tertutup.


Lidah monster itu hancur tak terbentuk, rasa sakit yang monster rasakan begitu hebat dan mereka melampiaskan kesakitannya dengan jeritan yang keras.


Jeritan yang keluar dari kedua monster begitu bising, telinga Rai sakit karena ini, dengan cekatan ia langsung menutup paksa.


Whoosh!


Setelah mengatakan satu kata itu, sosok Rai telah berpindah ke depan dua monster, dan cakar kirinya merobek dengan cepat tubuh kedua monster hingga menjadi daging cincang berlumuran darah hitam.


[Ding! Bunuh 13 Huuzer Licker (F+). Dapatkan +65 Exp, +65 Koin!]


Sisik ungu gelap di tangan kiri Rai menghilang seiring dengan ekornya yang berubah menjadi kain putih yang membalut tangan kirinya.


Rai berdiri di depan tumpukan mayat sambil mengibaskan pedangnya agara darah yang menempel menghilang, ia malas untuk mencari barang berbahan kain sebagai alat membersihkan pedangnya.


“Kau mau makan daging ini, Kuro?“ tanya Rai pada Kuro yang berbaring di depan pintu tangga darurat tak jauh di belakangnya.


'Miaw!'


Kuro bangun dari depan pintu tangga darurat dan mulai berjalan menghampiri daging yang paling dekat darinya.


Mengendus aroma daging beberapa kali, lalu ia memakan sepotong demi sepotong daging tersebut.


Jawaban Kuro sudah tak perlu ditanyakan lagi, anak kucing ini pasti akan memakan daging monster, tapi terkadang ia tidak memakan daging monster di beberapa kondisi, jika daging kotor atau sudah lumuri kotoran tanah, kemungkinan Kuro tak akan memakan daging monster itu, juga tipe daging lama tidak akan dimakan olehnya.


Menonton Rai makan beberapa saat, dia berkata pada Kuro untuk menunggunya di sini sampai ia kembali lagi dari memeriksa lantai ini.


Kuro mengeong sebagai tanda setuju lalu melanjutkan lagi makannya, begitu mendengar ini Rai pun berjalan memulai memeriksa lantai.


Ia berharap ada beberapa kertas yang berisi sesuatu informasi yang penting, paling tidak barang yang berguna yang dapat dijadikan petunjuk dari sesuatu hal yang terjadi di Kota Lhee Utara ini.

__ADS_1


“Kita mulai dari ruang yang besar ini.“


__ADS_2