
“Ayo, kita pergi, hari akan memasuki sore sebentar lagi.“ Lara menoleh ke arah Rai.
Rai menanggapi ucapan Lara dengan anggukan kecil. Keduanya berjalan menuju jalan utama untuk keluar masuk kota.
Jalan untuk keluar dari kota Talu berbeda dengan jalan utama di kota yang lain. Jalan ini sangat lebar dan tidak membentuk terowongan, melainkan tembok tinggi memberi ruang untuk japan lebar tersebut sehingga tidak membentuk terowongan.
Apabila melihat ke atas saat kita berada di jalan tersebut, kita langsung bisa melihat langit.
Ketika Rai dan Lara melewati jalan tersebut, mereka berdua bisa melihat beberapa bangunan hancur yang berbeda dengan yang ada di dalam kota, dan ada tembok tinggi lagi yang mengurung bangunan tersebut.
“Ini adalah bangunan yang sama dengan bangunan di dalam kota, hanya saja di sini bangunan tersebut sedikit bergabung dengan bangunan milik pemerintah.
“Pemerintah membangun beberapa gedung atau markas bagi tentara yang menjaga kota. Gedung tersebut itu tersebar rata di setiap sisi kota. Bangunan komersial dan penduduk juga berdiri di sini.
“Tembok ini adalah pertahanan dan perlindungan pertama kota dari serangan berbagai hewan buas atau pun musuh jika berperang,” ucap Lara dengan kompleks dan cukup panjang.
Berjalan ke depan sambil mata Rai memandangi gedung yang hancur di sisi jalan yang cukup lebar.
Ia mendengar semua penjelasan dari Lara dan juga menyinkronkan apa yang dikatakan oleh Lara dengan apa yang ia lihat.
Benar dengan apa yang dikatakan Lara, ia masih bisa melihat pondasi dan bentuk dasar dari bangunan tempat latihan para tentara militer, juga terdapat beberapa karung pasir berlumut yang masih mempertahankan posisinya.
Rai juga melihat terdapat tiang yang roboh di tengah sebuah ruang yang luas penuh dengan tanaman rumput dan sejenisnya.
Diduga oleh Rai itu adalah sebuah lapangan tempat para anggota militer berkumpul untuk suatu acara. Rai menemukan sebuah setengah kepala yang seharusnya dari sebuah patung yang tergeletak begitu saja di bahu jalan.
“Namun sayang, tentara yang berjaga di sini tidak bisa menahan serangan para monster yang datang dari segala arah.“ Lara menggelengkan kepala dan menghembuskan napas, tampaknya Lara menyesal dan kecewa.
“Andai saja Kota Talu bisa menahan para monster, mungkin penghentian wabah bisa diwujudkan,” kata Lara dengan matanya yang melemah dan menurun.
“Monster yang telah menginvasi beberapa kota akan sulit dikalahkan oleh satu kota. Terlebih kamu bilang ada sebuah monster yang kuat di awal tahun terjadinya bencana yang merusak dunia,” tutur Rai pada Lara untuk menghentikan khayalannya agar tidak kecewa lagi.
Lara menoleh ketika Rai berkata begitu panjang dengannya. “Benar apa katamu, Rai. Hal tersebut memang sulit terjadi.“
__ADS_1
“Tidak ada gunanya bersedih. Apa yang sudah terjadi biarlah terjadi, kita hanya perlu mengambil pelajaran dari setiap kejadian,” ucap Rai yang masih berjalan di samping Lara dengan pandangan fokus ke depan.
“Iya, aku mengerti.“ Lara mengangguk dan menatap sesaat wajah Rai, lalu kembali melihat ke depan.
Tidak terasa mereka ingin melewati tembok kedua. Jalannya masihlah sama dan tidak bercabang atau pun berganti, ini jalan tunggal yang begitu besar serupa dengan jalan Tol di Indonesia, tetapi sedikit lebih besar.
Temboknya pun sama, jalan ini tidak dilindungi oleh terowongan dan konstruksi temboknya masih sama dengan tembok sebelumnya.
Akan tetapi, Rai berasumsi bahwa tembok ini memiliki gerbang untuk menutup jalan yang dipijaknya.
Pasalnya, ketika ia melewati tembok terluar ia melihat beberapa pasang engsel yang masih terpaku di tembok besar yang telah rusak.
“Kulihat kamu melihat engsel raksasa tersebut.“ Lara menoleh pada Rai dan tersenyum. “Aku akan memberi tahu masalah ini, tembok pertama ini memang terpasang pintu gerbang yang sangat besar, dan pintu akan tertutup pada saat tertentu.“
Rai mengangguk sebagai tanda dirinya mengerti.
“Pada saat monster keparat menyerang, pintu gerbang ini sempat tertutup. Saking banyaknya monster yang menyerang, pintu ini tak dapat menahan serangan dan akhirnya hancur berantakan,” kata Lara menerangkan pada Rai.
Tangan Lara terulur dan ia menunjuk ke beberapa arah. “Beberapa besi penyok yang tergeletak di sana adalah bagian dari pintu gerbang ini.“
“Sudah cukup berwisatanya, kita harus cepat keluar dari kota Talu Utara dan pergi ke desa yang ada di utara,” kata Lara sambil meningkatkan kecepatan berjalannya.
“Oke.“
Rai mencepatkan jalannya dan mengikuti Lara berjalan.
Mereka tidak tahu bahwa jauh di belakangnya, lebih tepatnya tempat ketiga pria yang Rai eksekusi sampai mati terdapat belasan orang yang sedang berdiri melihat tas yang rusak dipegang oleh salah satu orang dari belasan orang yang ada.
“Tas ini … aku yakin milik Garol,” ucap orang yang memegang tas Garol.
“Aku juga familiar dengan tas ini, terlebih lagi tas Carlof. Aku pernah melihat secarik kertas majalah yang langka yang dimiliki Carlof,” tambah seseorang pria muda yang juga kurus.
Sniff!
__ADS_1
Salah satu orang lagi mengendus-endus udara di sekitar. “Tercium bau darah, dan noda merah yang kita pijak tampaknya milik Garol dan kedua temannya.“
“Tidak salah lagi, mereka bertiga gagal dalam mengemban misi Komandan,” ucap pria yang kurus di antara mereka.
“Kautahu? Mereka bertiga terkenal cukup kuat di antara tingkatannya, seharusnya mereka akan sulit dikalahkan.“ Pria yang lain berbicara dan memberi tanggapan.
Sebelas pria ini semuanya pria, dan mereka mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh pria sebelumnya.
“Kita harus waspada. Kemungkinan besar wanita yang diinginkan oleh komandan memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat di antara kita atau mungkin wanita itu memiliki seseorang yang membantunya.“
“Benar, kita harus hati-hati, mereka bertiga yang kuat saja bisa dikalahkan, apalagi kita.“
“Sudah-sudah, lebih baik kita ambil tas-tas ini dan melaporkan kejadian ini kepada kapten.“
“Ayo, kita pergi!“
Semua pria tersebut berbalik dan berjalan ke arah berlawanan dari Rai dan Lara. Mereka semuanya ingin pergi ke pusat dari Kota Talu Utara, markas mereka ada di sekitar daerah tersebut.
Sementara itu, Rai dan Lara menyusuri jalan yang makin diikuti makin hilang.
Jalan yang lebar sudah tidak ada lagi, hanya ada jalan setapak yang sempit dipenuhi oleh rumput dan tanaman hijau.
Beberapa pohon besar pun tumbuh di sekitar jalan yang keduanya lalui. Namun, tidak sebanyak pohon yang ada di jalan dari Lhee Utara ke Talur Utara.
Rai perhatikan sepanjang jalan, lingkungan alam di wilayah Talu Utara tidak begitu asri, banyak tanah kosong yang tidak ditumbuhi tanaman.
Rai mengabaikan hal ini, dan terus berjalan dengan mengikuti arahan Lara.
….
Dua hari berlalu begitu saja setelah Rai dan Lara pergi dari Talu Utara.
Kini keduanya sedang berdiri di depan sebuah pemukiman dengan banyak bangunan sederhana yang terlihat kosong.
__ADS_1
Mata mereka bergerak menelusuri dan memantau daerah ini dengan teliti dan cermat.