
“Tempat apa ini?“
Rai berdiri sambil melirik ke sekelilingnya sambil mengarahkan lampu senternya pada arah pandangannya.
Sebuah ruangan luas yang gelap dengan pencahayaan yang bisa dikatakan tidak ada, namun di ruangan ini terdapat banyak kendaraan yang terparkir rapi di sisi sepanjang ruangan.
Tidak salah lagi ini adalah tempat parkir kendaraan bawah tanah.
Tapi kenapa seseorang membuat lubang menuju tempat ini?.
Pasti ada tujuan dari pembuatan lubang ini, dan juga ada lokasi yang harus melewati jalan ini untuk bisa mencapai ke sana.
Melihat lebih jelas lagi, Rai dapat melihat bahwa di sini tidak pernah dijajah oleh para monster merangkak itu.
Di sini masih bersih, tidak ada goresan atau pun bekas pertarungan, apalagi darah, tidak ada di sini.
Hanya saja, mobil-mobil yang terparkir di tempat ini telah menjadi bangkai besi yang dihinggapi tanah beserta tanaman merambat berukuran kecil.
Lantai beton di sini juga telah tertutupi banyak tanah yang lembab dan dingin, serta dinding dan tiang beton yang menyangga dan menopang telah retak dan celahnya diisi oleh tanaman menggantung.
Suhu di ruangan ini cukup dingin, bisa disebabkan dari tempatnya yang tertutup tidak terkena hangatnya sinar mentari.
Ditambah lagi dengan tanah lembab yang dapat mengubah suhu udara di sini.
Sekali lagi Rai menoleh ke belakang untuk memastikan ruangan, dia langsung dihadapkan dengan tembok yang kotor dan berlumut, tempat dia berdiri tampaknya ujung dari tempak parkir kendaraan ini, tidak ada jalan lagi selain maju ke depan.
“Tidak ada jalan, kita memang diharuskan ke depan untuk berjalan menelusuri ruangan,” gumam Rai kecil sambil melihat ke arah depan.
Merenung sebentar, ia menganggukkan kepala dan menunduk melihat Kuro yang sedang duduk dengan kaki belakang ditekuk.
“Kita lanjutkan lagi perjalanan kita, Kuro,” ucap Rai pada Kuro dengan ekspresi wajah yang semangat.
'Miaw!'
Kuro berdiri dengan empat kakinya yang kecil, melirik Rai yang tinggi dan mengeong penuh semangat.
Senyum kecil muncul di wajah Rai, dan kemudian dia mengangguk ke arah Kuro, dan mengambil langkah pertama, berjalan ke depan.
Petualangan ini tidak begitu sepi karena adanya Kuro. Rai tidak merasakan rasa kesepian di sini, ia sangat menikmati bertualang di kota ini bersama Kuro.
Sama sekali Rai tidak pernah menduga atau pun berharap bahwa dia akan mendapatkan teman kecil di dunia yang aneh ini.
Rasa syukur timbul dari hati Rai, ia sangat senang bertemu dengan Kuro si anak kucing yang imut dan bertingkah layaknya seorang manusia.
“Apa ini?“
Secarik kertas dari sobekan selembar kertas tergeletak di atas lantai yang bertanah, dekat dengan salah satu ban mobil.
Mengambil kertas ini, lalu Rai memeriksa apa yang tercantum pada kertas.
2 Maret 2039
Hari ini kita memutuskan untuk pergi ke kota Tujuah.
Semoga saja apa yang dikatakan oleh orang-orang itu adalah benar.
Kota Tujuah yang disebutkan sebagai kota damai dan sejahtera karena di sana ada kelompok yang menjaga dan mengayomi orang-orang dengan baik.
The Linzation, jika boleh, aku ingin masuk ke dalam kelompok itu.
26 Maret 2039
Hari ini kita sampai di kota Lhee Pusat.
Aku tidak menyangka kota di sini sangat sepi, tetapi banyak sekali monster merangkak, kita semua tidak bisa menghadapi mereka semua sekaligus.
Akhirnya kita bersembunyi dan menghindari mereka semua untuk sampai ke Kota Tujuah.
Semoga besok kita tidak bertemu dengan banyak dari mereka.
29 Maret 2039
Sial! Kita terjebak di sini! Aku ti-
Tulisan pada secarik kertas ini berhenti pada kalimat yang belum selesai.
Terpotong oleh sobekan kertas.
“???“
Wajah Rai berubah seketika, dia membalik-balikkan kertas ini dan mencari kelanjutan dari apa yang terjadi di tanggal dua pulu sembilan maret.
__ADS_1
“Kenapa berhenti di sini? Apa yang terjadi selanjutnya kepada orang yang membuat ini?“
Kekecewaan dan rasa penasaran tercampur pada ekspresi Rai sekarang. Kecewa karena cerita di kertas berhenti begitu saja tanpa ada keterangan selanjutnya, dan penasaran karena apa yang terjadi pada orang yang membuat catatan ini.
“The Linzation? Kelompok yang menjaga orang-orang?“ Rai terdiam sesaat dan melanjutkan, “Mungkin The Linzation adalah kelompok itu?“
Di dalam kepala Rai sekarang dipenuhi dengan banyak pertanyaan, secarik kertas ini memiliki informasi penting.
Kini Rai tahu bahwa ada sekelompok orang yang menjaga manusia di keadaan dunia yang seperti ini.
Ternyata rasa kemanusiaan belum punah di dunia ini, masih ada orang baik yang berkumpul bersama menuju kemenangan akan kebahagiaan semuanya.
“Menarik! Aku telah memutuskan tujuan utamaku di dunia ini yaitu pergi ke Kota Tujuah.“ Memandangi kertas robek dan sedikit kotor di tangannya, Rai bertekad untuk pergi ke sana.
“Kita berhenti di sini dahulu, Kuro,” ucap Rai, berjongkok sambil mengelus kepala kecil Kuro.
'Miaw!'
Kuro mengangguk dan menutup mata menikmati sentuhan tangan Rai.
“Jangan di sini. Ayo kita duduk di balik mobil sejenak.“
Rai bangkit dan berjalan ke samping mobil sedan berwarna hitam yang berdebu dan kotor dengan tanah.
Menyeka tanah dengan kakinya, Rai duduk di lantai dengan kaki disilangkan.
Rai membuka tas, dan mengambil kertas yang berisikan map tidak lengkap yang sebelumnya dia ambil.
Kertas itu Rai letakkan di pahanya untuk memudahkan dia untuk melihat isi kertas.
“Kota Tujuah?“
Ujung jari telunjuk Rai bergerak bersamaan dengan arah pandangan yang dituju oleh matanya.
Pencahayaan senter menerangi Rai untuk bisa melihat dengan jelas.
Pandangan Rai terus bergerak hingga akhirnya menemukan letak kota Tujuah pada map.
Sisi paling kanan terdapat satu benua atau pulau besar yang ditempati enam kota, yaitu Kota Tujuah, Kota Karua, Kota Salasaro, Kota Hiji, Kota Kutus, dan Kota Piliman.
Kota Tujuah, Karua, dan Piliman adalah kota paling sisi timur dari entah pulau atau benua ini.
Namun, Rai tidak melihat kota Lhee, juga terdapat sobekan pada kertas ini.
“Nampaknya perjalanan masih sangat jauh, bahkan kota Lhee tidak di satu daerah dengan kota yang ada di sobekan peta ini.“ Rai melipat kembali kertas berisi peta dan kertas berisi catatan perjalanan seseorang.
Dua kertas itu Rai masukkan ke dalam tas ransel, lalu dia menggendong tasnya lagi.
“Kota Tujuah ….“ Rai berbicara sambil merenung, menopang dagunya dengan tangannya.
Rai menggelengkan kepalanya setelah puluhan detik terdiam, dan bangkit dari posisi duduk di atas lantai.
Menepuk celananya, membersihkan tanah yang sempat menempel di celananya.
“Kuro?“
Rai tidak melihat sosok Kuro di lantai, dan melihat ke semua arah dengan wajah panik.
'Miaw'
Suara Kuro terdengar sangat dekat di samping tubuhnya, refleks Rai menoleh ke arah kanan dan ternyata Kuro sedang berdiri di bahu kanannya.
“Ternyata kau ada di situ, Kuro.“ Rai menepuk dahinya dan menggelengkan kepala, “Kau membuatku panik, tiba-tiba menghilang begitu saja.“
Kuro memiringkan kepalanya dan menatap Rai dari samping, “Miaw.“
Sebagai permintaan maafnya, Kuro menggesekkan kepalanya ke pipi Rai dengan lembut, tak sengaja dia pun mendengkur.
“Hahaha! Geli, Kuro.“
Bulu halus milik Kuro membuat Rai kegelian saat menyentuh kulit di pipinya dan juga lehernya, ia pun tertawa.
'Miaw~'
Kuro meliuk-liukan tubuhnya semakin banyak, nampak semakin manja.
“Hahaha! Sudah-sudah, Kuro.“ Tawa Rai semakin menjadi-jadi, dan dia berusaha untuk menghentikan Kuro.
Rai mengambil tubuh Kuro yang kecil ini dengan tangan kirinya, dan mengangkatnya ke atas menggunakan kedua tangannya.
Membungkukkan badannya ia menempatkan Kuro di atas lantai. “Ayo kita lanjutkan lagi perjalanan.“
__ADS_1
'Miaw'
Kuro mengangguk setuju dan siap untuk berjalan lagi.
Keduanya berjalan dengan kecepatan yang tidak cepat dan lambat. Keluar dari balik mobil yang rusak, mereka melanjutkan menyusuri jalan.
Kiri dan kanan di samping jalan, benar-benar dipenuhi oleh mobil, tidak seratus persen ada beberapa tempat yang kosong.
Tidak tahu jenis mereknya atau pun jenis mobilnya, dia belum pernah melihat logo merek yang sama di Bumi.
Terdapat semua ukuran dan bentuk di sini dengan kondisi yang pastinya tidak akan bisa berfungsi.
Melihat karat dan ban yang kempis sudah tidak mungkin untuk bisa berjalan lagi.
Dalam waktu kurang dari lima menit keduanya berjalan di ruangan ini, akhirnya Rai sampai di ujung tempat parkir.
Namun, jalan keluar dan masuk mobil ditahan oleh beberapa mobil yang ditumpuk tidak karuan.
Nampak disumbat, tapi dia tidak tahu apakah ini alami atau ada orang yang dengan sengaja membuatnya seperti ini.
“Kita tidak bisa keluar dari sini melewati jalan ini, Kuro,” ujar Rai pada Kuro yang berdiri di depannya. “Kita harus mencari jalan lain.“
'Miaw' Kuro menanggapi ucapan Rai, lalu dia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu.
Rai ikut mencari jalan keluar, dia mengarahkan sinar senter ke sebelah kirinya dengan hati-hati agar tidak ada yang terlewati.
Tidak sengaja Rai menyoroti sebuah pintu yang menempel di samping kiri ruangan.
“Kuro, ke sini aku menemukan pintu,“ kata Rai meminta Kuro untuk pergi ke tempatnya.
Mendengar suara Rai, Kuro berlari ke tempat Rai setelah berinisiatif mencari jalan keluar. Untungnya dia tidak terlalu jauh dengan Rai.
'Miaw?'
Kuro mengeong ke arah Rai seolah bertanya.
“Ada jalan di depan sana, kita berdua harus memeriksanya.“ Tangan Rai menunjuk ke tempat pintu berada dan berkata kepada Kuro.
'Miaw'
“Ayo berjalan bersama Kuro, jangan jauh-jauh dariku.“
Rai yang pertama berjalan, keduanya mendekati pintu terbuat dari besi tipis ini, dan berhenti di depannya.
Tangan Rai menjangkau gagang pintu, dan mencoba untuk membukanya.
Ceklek!
Bunyi pintu terbuka terdengar, Rai perlahan mendorong pintu dengan hati-hati dan waspada.
Tangan kirinya menggenggam erat pedang yang telah digabungkan.
Kriekk …!
Pintu besi ini mengeluarkan banyak suara, ketika dia mendorongnya engsel yang karatan itu mengeluarkan bunyi.
Setelah terbuka setengah, Rai mengintip ke dalam dari balik pintu.
Ia melihat sebuah ruangan yang gelap dan sepi, tetapi di sini ada beberapa bangku dan meja yang tertata dengan rapi dan teratur.
Terlihat seperti seseorang telah menggunakan ruangan ini untuk menetap.
Keduanya memasuki ruangan yang tidak besar seperti ruangan pada kamar apartemen, tetapi dengan isian berbeda.
Jika dilihat dengan seksama, sebelumnya ruangan ini pasti tempat penjaga parkir untuk beristirahat atau menyimpan barang.
Barang-barang di sini tidak memiliki unsur kamar apartemen sama sekali.
“Apa ini?“
Rai berjalan menghampiri kertas yang melekat pada di dinding.
“Surat kabar? Berita?“
Kertas yang menempel tersebut adalah sebuah koran yang memberitakan sesuatu kejadian.
“Ini ….“ Mata Rai membesar perlahan ketika membaca sekilas isi koran.
Tangan Rai dengan cepat mengambil sobekan koran yang menempel di dinding, dan membacanya dengan teliti.
"Apakah itu sumber dari semua ini?"
__ADS_1
Sesuatu yang dicantumkan di koran membuat Rai terkejut dan penasaran.
Di koran ini memberitahunya sesuatu informasi yang penting.