
Asap hitam mengepul dari tubuh Kuro, dan itu tidak terlalu kental dilihat.
Samar-samar asap hitam terus keluar menutupi tubuh Kuro. Bulu hitam pada tubuhnya itu seakan sedang berkobar oleh api hitam.
Sosok Kuro meluncur cepat meninggalkan jejak kaki yang tidak terlalu dalam pada ubin lantai.
Dia berlari dengan kecepatan yang cukup cepat, menjangkau Monster seperti kalajengking versi monster abstrak tidak jauh di depannya.
Roarr!
Dalam sesaat Kuro sudah dekat dengan monster dan melakukan persiapan membuat serangan.
Ekor monster itu terangkat dan bergoyang, juga ikut bersiap meluncur serangan yang akan menghancurkan Kuro.
Sosok Kuro menghilang di detik berikutnya, melintas beberapa meter di depan kepala Monster tersebut.
Cakar kanannya terangkat tinggi-tinggi, lalu dengan kekuatan penuhnya dia mengayunkan cakarnya menuju kepala monster.
Bertepatan dengan itu, ekor monster itu muncul di depan Kuro dan hendak menyerangnya juga.
Dengan hembuasan angin, dua pedang yang menyilang tiba-tiba muncul melayang tepat pada jalur serangan ekor monster ini.
Pedang Rai muncul mencoba menghalangi jalur serangan monster untuk mencoba melukai Kuro.
Tabrakan tak terhindarkan terjadi dan bentuan keras membuat lorong yang sunyi sedikit ramai. Bahkann percikan api terlihat di lorong yang remang-remang.
Ujung cakar monster ekor tertahan oleh pedang tanpa pengguna selama beberapa detik di udara.
Kesempatan itu tercipta, dan Kuro yang telah tahu bahwa ini akan terjadi, ia segera meningkatkan kekuatannya pada kedua cakarnya. Kemudian mencakar kepala jelek di depannya.
Srat!!
Suara robekan terdengar jelas di sepanjang lorong, diikuti dengan suara air yang keluar dan jatuh ke lantai.
Dari mata kepala Rai sendiri, dia melihat sosok monster itu terluka parah oleh ketajaman cakar Kuro.
Setengah tubuhnya dari kepala hingga pinggang itu terbelah menjadi empat bagian, itu nampak seperti bunga yang bermekaran.
Darah mengalir deras ke lantai, namun monster ini tidak jatuh atau pun terbaring. Monster berekor tangan ini masih mempertahankan posturnya yang berdiri merangkak dengan empat kakinya.
Kuro yang sekarang berada tidak jauh di belakang monster ini pun terkejut secara perlahan.
Meski begitu dia masih memasang kewaspadaan tinggi terhadap monster besar di depannya.
Ekor yang berhantaman dengan dua pedang Rai pelan-pelan bergerak, ekornya ditarik kembali oleh monster ini ke belakang, menandakan bahwa monster ini belumlah mati.
Rai yang berdiri jauh dari monster ini mulai mendekat, kedua pedangnya tetap melayang di sekitar monster untuk berjaga-jaga.
Berdiri di beberapa meter dari monster ekor tangan, Rai masih menatap monster yang telah terbelah setengah tubuh.
Wushh!
Sesuatu yang melesat cepat terdengar hembusan anginnya.
Sebuah ekor itu terbang cepat menuju Rai yang tidak jauh darinya.
Seketika Rai bereaksi terhadap serangan ini, kedua pedangnya bergerak berusaha menangkis dan memberhentikan ekor tangan ini.
Dang!
Pedang ini berhasil menahan, tetapi itu tidak bertahan lama, sepuluh detik pun tidak.
Senjata Rai terpental ke dua arah yang berbeda.
Sementara itu, ekor ini terus meluncur ke arah Rai tanpa mengurangi kecepatannya.
Sadar akan hal ini, Rai bereaksi menggunakan semua kecepatan gerakannya untuk memiringkan tubuhnya berharap berhasil menghindar.
Namun sayang, ekspektasi selalu mengecewakan, karena jarak terlalu dekat akhirnya bahu kiri Rai terkena serangan ekor ini.
Cakar itu merobek ujung bahu kirinya dan tangan kirinya di tubuhnya lumpuh seketika.
Ekor itu ditarik kembali dengan cepat oleh monster.
“Argh!!“ teriak Rai kesakitan.
Kuro yang berhenti berlari ketika serangan mendadak monster ini membidik Rai. Namun, karena adegan itu terlalu cepat, Kuro tidak dapat menyelamatkan Rai dari luka.
Mendengar jeritan Rai yang kesakitan, Kuro berlari lagi hendak ingin menyerang Monster ini.
Roarr!
Melancarkan serangan lagi, Kuro mengangkat cakarnya ke atas dan diayunkan pada monster di depannya.
Tang!
__ADS_1
Ekor itu dengan cepat menyambar Kuro dan dengan tepat menabrak cakar tajam Kuro.
Dua cakar bertemu dan menghasilkan bunyi seperti pedang yang saling bertabrakan.
Tak lama kedua cakar itu berpisah dan menjauh, Monster itu menarik ekornya dan meliuk-liuk di udara.
Kuro mundur beberapa meter dengan satu lompatan dan berdiri menatap monster ini.
“Sistem, aku beli cairan penyembuh sedang sekarang.“ Rai yang berdiri di tanah sambil menutup luka di tangan kirinya yang telah mengeluarkan banyak darah.
Tulang bahunya setengah terpotong dan ini sangat-sangat menyakitkan.
Ding!
[Selamat Pembelian Berhasil!]
[Koin Dikurangi 2000, Tersisa 361.]
Botol berisi cairan muncul di tangan depan Rai, dan dia segera mengambilnya dengan tangan berlumur darah.
Tanpa menunggu lama, Rai menggigit tutup botol dengan giginya, dan membukanya.
Melirik sebentar, lalu dia menenggak dan menyesap isi cairan botol dalam satu nafas.
Aliran sejuk dan nyaman mengalir dari tenggorokannya dan menuju ke seluruh tubuh.
Semua luka goresan hilang dalam sekejap mata, dan luka di bahunya pulih secara bertahap.
Sembari menunggu proses penyembuhan selesai, Rai berencana untuk menambahkan statistik atributnya, karena dia takut akan kalah jika pertarungan berlangsung seperti ini.
Monster ini memiliki kecepatan serangan ekor yang cepat, reaksinya pun tidak kalah dengan Rai.
Kekuatan, Kecepatan, Mana dia tambahkan satu poin dan itu dikalikan beberapa poin dari kemampuan kebangkitannya. Ketahanan dia tambahkan tiga poin karena dia merasa bahwa pertahanannya tidak berarti.
Enam poin yang ada telah dia pakai semua untuk kondisi sekarang ini.
Bersamaan dengan aliran sejuk, gelombang hangat nan nyaman bergabung di tubuhnya. Dua aliran ini menempa dan memperbaiki tubuhnya untuk menjadi lebih baik.
Rasa hangat dan sejuk terasa bersamaan saat ini, Rai sedikit merasa aneh dan asing.
Tak sampai dari satu menit, aliran ini menghilang dari tubuhnya, dan Rai telah sembuh dan semakin kuat dari sebelumnya.
Bam! Bam!
Kuro dan Monster ekor tangan ini telah saling beradu serangan semenjak Rai memulihkan kondisi tubuhnya.
Benturan menciptakan bunyi nyaring yang membuat bising lantai ini untuk sementara waktu.
Ekor itu bergerak sangat cepat, menusuk bagaikan peluru yang keluar dari senapan. Akan tetapi, Kuro selalu bisa menangkis dan menghindar serangan itu dan masih tanpa luka.
Rai merasa sedikit lega karena Kuro tidak terluka seperti dirinya.
Selama pertarungan mereka berdua berlangsung, Rai langsung sadar tentang sesuatu saat melihat mereka berdua.
Tubuh monster yang terbelah itu perlahan menyatu setiap detiknya, kini tubuhnya hampir pulih seperti semula.
“Monster ini ternyata memiliki kemampuan regenerasi, meski tidak begitu kuat seperti Big Huuzer Crawler.“ Rai berkata dengan suara yang kecil sambil mengawasi monster yang sibuk beradu kekuatan dengan Kuro.
Pertarungan di antara mereka nampak seimbang satu sama lain, jika seperti ini terus akan sulit untuk menentukan siapa yang menang dan terbunuh. Hanya waktu yang menentukan siapa pemenangnya.
Membungkuk setengah badan, Rai pergi mendekat pada monster, sambil memegang satu pedang di tangan kanannya.
Rai diam-diam mengendalikan salah satu pedangnya menghampiri tubuh monster ini.
Monster ini teralihkan fokusnya oleh Kuro yang secara intensif menyerang, dan tubuh monster ini menghadap Kuro.
Titik buta monster ini sudah di depan mata, namun dia tidak bisa menyerangnya secara maksimal dengan jarak sejauh ini.
Satu langkah perlahan bergerak maju tanpa membuat suara sedikit pun. Sembari memegang satu longsword di tanganya yang digenggamnya erat untuk berwaspada.
Pedangnya yang melayang telah sampai di atas monster, hampir menyentuh langit lantai ini, dan itu siap untuk menyerang monster ini.
Monster berekor masih sibuk bertarung dengan Kuro, dan tidak sadar hal ini, konsentrasinya dipusatkan pada Kuro.
Staminanya belum berkurang banyak dan dia hanya sedikit memperlihatkan kelelahan.
Tidak seperti Kuro, Kuro semakin lama bertarung semakin menjadi lemah dan kelelehan karena staminanya terkonsumsi banyak.
Tentu akan bahaya jika seperti ini tanpa dihentikan.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, Rai menatap sosok monster yang telah dekat di hadapannya, dan ingin menyerangnya.
Tatapannya terus terpaku pada ekor yang bergerak cepat menyerang Kuro.
Niat membunuh keluar dari tubuhnya, tangannya mengencang hingga urat hijau timbul dan terlihat di bawah kulit putihnya.
__ADS_1
Wushh!
Sosok Rai meluncur sangat cepat menuju monster ini.
Dalam satu kedipan Rai tiba di depan ekor yang masih sibuk menyerang dan bergerak cepat.
Tangan kanannya mengayunkan pedangnya secara horizontal dengan cepat.
Swooshh!
Pedang itu menebas ekor monster dengan tepat, memotong halus hingga terputus di bagian tengah ekor, dan jatuh ke bawah lantai.
Bagian yang terpotong menyemprot darah segar, mengguyur lantai.
Tidak memberikan kesempatan untuk monster itu berteriak, satu pedang Rai yang melayang bergerak meluncur ke arah monster.
Pedang Rai menusuk dengan tepat kepala monster itu hingga terpaku di lantai.
Kaki Rai yang baru sesaat menapak di lantai langsung bergerak lagi.
Dia melompat tinggi untuk mengeksekusi monster ini dengan serangan terakhir.
Brak!
Rai mendarat di atas tubuh monster yang merangkak ini dengan keras.
Sehingga tubuh monster jatuh dan menyentuh lantai.
Tanpa memberikan waktu untuk monster beregenerasi, Rai menggerakkan pedangnya dengan seluruh kekuatannya.
“Mati!“
Swooshh! Swooshh! Swooshh!
Pedang itu berayun-ayun sangat cepat, membuat bayangan samar menebas tubuh monster.
Monster ini bergerak ke sana kemari untuk menyingkirkan Rai dari tubuhnya, namun Rai sudah terlebih dahulu memotong keempat kaki monster ekor ini.
Sekuat apapun monster ini berusaha, hasilnya akan sia-sia.
Darah terciprat keluar di setiap ayunan pedang, dan Rai tidak berhenti hingga akhirnya tubuh monster ini terbelas menjadi bagian terkecil berukuran kubus rubik.
[Ding! Bunuh Huuzer Crawler Hail (E+). Dapatkan + 50 Koin, +50 Exp!]
Bam!
Rai berlutut dengan kedua kakinya ditekuk di atas lantai yang dibasahi darah kental dengan daging kecil.
Nafasnya menjadi berat, dadanya naik-turun dengan cepat, Rai kelelahan saat ini.
Pedangnya saling menyambung membentuk Double Bladed Sword dan jatuh di depan lutut Rai.
Kuro yang berdiri kelelahan mulai melangkah mendekati Rai.
Kejadian tadi di luar rencana awal, Kuro tidak bereaksi saat Rai menyerang hingga membunuh Huuzer Crawler Hail.
Staminanya hampir habis, untunganya telah dieksekusi mati oleh Rai.
Berdiri di sebelah Rai, tubuh Kuro mengecil dan menyusut menjadi anak kucing hitam yang lucu.
Kuro berjalan kecil dan naik ke lutut Rai, mata besarnya menatap wajah Rai yang sedang menutup matanya.
Hembusan nafasnya bahkan menerpa bulu halus Kuro.
Serangan tadi sangat melelahkan, pasalnya dia mengeluarkan seluruh kekuatan fisiknya.
'Miaw?'
Kuro mencoba memanggil Rai yang masih memejamkan matanya tak terbuka.
“Sebentar, Kuro. Aku masih le-lelah.“ Rai menjawab dengan sedikit gemetar.
'Miaw!'
Melompat dari lutut Rai, Kuro berjalan menuju potongan daging kecil ini, lalu dia mulai memakannya.
Beberapa menit berlalu, Rai akhirnya bergerak, dia bangkit dan berdiri di genangan darah.
Telapak tangan kirinya membuka dan membidik Double Bladed Sword yang tergeletak ditutupi darah.
Senjata itu bergetar dan terbang ke tangan kiri Rai.
Rai menangkap pedang itu dan memegangnya di tangannya.
Menoleh ke samping, Rai melihat Kuro yang sibuk memakan potongan daging kecil yang berserakan ke segala arah.
__ADS_1
Membiarkan Kuro memakan makanan malamnya, Rai berjalan ke tas pemuda yang berubah menjadi Huuzer Crawler, tergeletak tidak jauh di depannya.