
Carlof menjadi panik melihat Rai yang memegang senjata, ekspresi yang tidak percaya ditunjukkan olehnya detik ini.
Kakinya bergerak mundur perlahan, mencoba menjauh dari sosok Rai secara diam-diam dan halus.
Namun sayang, Rai memerhatikan gerakan halus Carlof dan segera serangan kejutan diluncurkan oleh Rai.
Salah satu pedang di tangannya melesat dengan cepat bagaikan kilat.
Mata Carlof tidak bisa mengikuti kecepatan pedang Rai dan membuatnya terlambat untuk bereaksi menghindar.
Cratt!
Darah terciprat ke jalan yang terbuat dari beton, bau darah segar makin timbul dan tercium.
“Arghh!“ teriak Carlof yang merasakan sakit yang begitu hebat di paha kirinya.
Pedang hitam Rai menancap sampai menembus paha Carlof. Darah merah segar mengalir dari bilah pedang yang masih menancap dan jatuh ke bawah.
Kaki Carlof terasa kaku akibat dari tusukan pedang ini dan membuat Carlof kehilangan kemampuannya untuk berjalan secara normal.
“Kau tidak bisa kabur dariku, sekarang kau sudah menjadi target makhluk selain monster yang harus aku bunuh.“
Ucapan Rai yang keluar sangat terasa dingin sampai tubuh Carlof membeku dan terdiam ketakutan.
Rai melangkah perlahan sambil membunuh monster yang mulai berdatangan ke arahnya.
Lara pun kembali menyerang monster yang mulai berdatangan kembali yang sebelumnya sempat berhenti.
Langkah kaki Rai makin cepat seiring dirinya berjalan, jarak di antara Rai dan Carlof mengecil.
Whooshhh!
Sosok Rai menghilang begitu saja, dan dalam satu kedipan mata Rai muncul di depan Carlof dengan postur tubuhnya yang ingin menebas Carlof.
Cahaya hitam melesat sangat cepat, dan membuat kilatan hitam di terangnya siang. Cahaya dingin tersebut melintas di antara tubuh Carlof yang sedang berdiri memegangi kaki kirinya.
Tubuh Carlof membeku total, dan ia tidak bergerak sama sekali bahkan napasnya pun ikut berhenti selama beberapa detik.
Di detik berikutnya, tubuh Carlof terpotong halus layaknya sebuah daging sapi yang dipotong oleh pisau daging yang tajam. Beberapa potongan daging tersebut jatuh secara perlahan dan berserakan di atas jalan.
Rai mengabaikan potongan daging ini, dan mengambil pedangnya yang tajam, lalu menyatukannya menjadi Methuragon Double Bladed Sword.
Tidak berhenti di situ, Rai langsung bergerak lagi membunuh monster yang masih saja berdatang mencoba membunuh Lara dan dirinya.
Dengan teknik pedang Double Bladed Methuragon dan tubuhnya yang sudah lebih cepat, ia dengan mudah menghabisi monster yang bagaikan remehan makanan.
Rai bergabung dengan Lara untuk membunuh monster sampai akhirnya monster-monster yang datang habis dan suasana menjadi sunyi.
[Ding! Bunuh 34 Roachzer (F+). Dapatkan +136 Exp, +136 Koin!]
[Bunuh 29 Quitozer (F+). Dapatkan +116 Exp, +116 Koin!]
[Bunuh 25 Huuzer Licker (F+). Dapatkan +125 Exp, +125 Koin!]
[Bunuh 11 Weak Lizeer (E+). Dapatkan +385 Exp, +385 Koin!]
__ADS_1
Serangkaian pengingat dari Sistem berdering di benaknya. Alih-alih merespon Sistem, Rai menyeka pedang Methuragonnya yang terciprat oleh darah.
“Kamu tidak apa-apa, Rai?“ Lara menoleh ke arah Rai dan berkata dengan wajah yang khawatir.
“Tidak apa-apa, hanya sedikit luka.“
Rai menggelengkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Lara.
Pandangan matanya jatuh pada luka gores dan tusukan dangkal di sekujur tubuhnya, cedera yang dialaminya kini cukup banyak dan hampir menyentuh tingkat sedang atau medium.
Tubuh Rai yang berotot kini dipenuhi luka, terlihat menyeramkan dan mengerikan.
Namun, bagi Lara luka ini menambah ketampanan visual Rai yang luar biasa.
Pada saat ini Lara melihat sangat jelas ketampanan wajah Rai tanpa ada yang menutupinya lagi.
Masker pun ikut dilepaskan oleh Rai di saat pertarungan terjadi.
Di luar dari itu semua, Lara khawatir dengan Rai dan ia pun berniat untuk mengobatinya.
“Rai, ayo kita istirahat sebentar, aku akan mengobati lukamu dengan metode tradis—”
“Tidak perlu, aku menghargai niatmu.“
Rai langsung menolak ajakan Lara dan mengambil cairan penyembuhan ringan dari tasnya yang telah pulih layaknya tidak pernah rusak.
Tangan Rai memegang botol penyembuhan dan hendak menyesapnya, tetapi sebelum itu ia menanyakan kondisi Lara.
“Kau tidak terluka, kan?“
Melihat tubuh dan wajah Rai, Lara malu dan cukup canggung sehingga ia bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Syukurlah, aku kira kau terluka.“ Rai mengangguk dan menghela napas ringan.
Reaksi Rai terlihat jelas oleh Lara, wajah Lara makin merona, dan ia berpikir di dalam hati, “Apakah Rai mengkhawatirkan aku? Aku tidak salah melihatnya, bukan? Apa hanya perasaanku saja? Tetapi aku melihatnya dengan jelas bahwa Rai menghembuskan napas lega.“
Ketika memikirkan hal ini, Lara menundukkan wajahnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Kuro yang masih hingga di antara boba kenyal tersebut membuka mata dan memerhatikan tingkah aneh Lara.
“Sangat manis.“
Suara dingin dan magnetis khas Rai terdengar di telinga Lara dan wajahnya terpegun.
“Kenapa Rai berkata seperti itu? Apakah pujian itu untukku? Apakah dia memujikan saat ini? Apakah aku berhalusinasi sekarang? Sial! Aku menjadi bimbang! Emm … lebih baik aku bertanya sekarang untuk memastikan.“
Lara membuka wajahnya dan mendongak untuk menatap Rai.
“Rai, kamu bilang apa tadi?“ tanya Lara yang penasaran dan masih merona.
“Apa? Bilang apa?“ Rai bertanya sebagai ganti jawaban, ia belum mengerti.
“Kamu berkata apa sebelumnya?“
“Syukurlah, kamu tidak terluka?“
__ADS_1
“Bukan-bukan, setelah kalimat itu.“ Lara menggelengkan kepala dengan cepat.
“Oh, kalimat itu ….“ Rai sadar dengan katanya yang diucapkan tadi.
“Iya, beritahu aku kamu berkata apa?“ tanya Lara begitu antusias dan wajah yang tidak sabaran.
“Sangat manis?“ ucap Rai dengan polos.
“Umm … terima kasih~” Lara makin memerah karena maluu setelah mendengar pujian dari Rai.
“Terima kasih? Kenapa kamu berterima kasih padaku?“ tanya Rai yang berekspresi bingung.
“Umm … te–terima kasih atas pujiannya.“ Lara masih tersipu.
“Pujian? Aku bilang sangat manis karena cairan penyembuhan ini memiliki rasa yang terlalu kemanisan,” kata Rai ringan.
“Eh?“ Wajah Lara membeku dan ia menoleh ke arah Rai dengan kaku.
“Ap–apakah benar be–begitu?“
“Ya!“ Rai mengangguk tegas.
Lara mengubah wajahnya dan mulai menekuk, matanya menjadi tajam serta tangannya mengepal kuat.
“Sialan kamu, Rai!“
Lara hendak memukul Rai dengan pukulannya, tetapi peristiwa tak terduga pun terjadi.
Kaki Lara tersandung potongan daging besar di jalan, dan ia kehilangan keseimbangannya dan terjatuh menabrak tubuh Rai.
Rai yang mempunyai refleks yang cepat, langsung menangkap tubuh Lara dan menopangnya agar tidak terjatuh.
Lara terkejut dengan apa yang terjadi dan menutup matanya saat menabrak tubuh Rai.
Setelah menunggu rasa sakit akibat benturan beberapa saat dan tak kunjung datang, Lara merasakan sesuatu yang kokoh di pipinya dan harum yang asing tercium oleh lubang hidungnya.
Perlahan matanya terbuka dan segera ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat dengan jarak yang dekat.
Sebuah lekukan otot dada yang terbungkus kulit putih yang lembut ditampilkan di depan matanya, aroma maskulin terpancar keluar dari kulit ini.
Dalam beberapa menit Lara terkesima sebelum akhirnya tersadar.
“Kamu kenapa?“
Suara Rai terdengar oleh Lara dan ia mengangkat kepalanya ke atas.
Wajah tampan Rai terlihat begitu dekat dari sini, garis rahang yang kuat dan tegas yang terkesan menawan pun tampak jelas.
Saat ini Lara sedang bersandar di tubuh atas Rai yang tanpa pakaian apa pun. Kepalanya ada di dada Rai yang kokoh dan tangannya menyentuh garis otot perut milik Rai.
Lara langsung mundur beberapa langkah dengan panik.
“Anu, aku tidak apa-apa!“ Lara menjawab dengan keras dan sambil membungkuk.
Sekarang Lara benar-benar merasa malu tidak terlukiskan, peristiwa yang dialaminya hari ini benar-benar memalukan dan luar biasa.
__ADS_1